
Pagi menjelang, alarm di ponsel Aryana berbunyi cukup keras sehingga membangunkan sang suami yang masih terlelap sambil memeluk sang istri. Aryana memang selalu menyetel alarm untuk bangun pagi karena di Singapura jarang sekali terdengar suara adzan seperti di Indonesia.
"Aduh berisik banget ponsel siapa sih," ucap Fahmi dengan mata yang masih terpejam sambil tangannya meraba nakas untuk mencari sumber suara yang menganggu tidurnya.
Setelah menemukan sumber suara, Fahmi berusaha membuka matanya, ia menajamkan pandangan ke arah benda pipih yang menganggu tidurnya.
"Kebiasaan, steel alarm tapi pas bunyi malah nggak dengar," gumam Fahmi saat mendapati suara berisik berasal dari ponsel istri kesayangannya.
Fahmi melihat jama di ponsel Aryana yang berisik tadi, ternyata sudah menunjukkan pukul empat pagi. Entah kenapa semenjak hamil, Aryana jarang langsung bangun saat jam weker atau alarm di ponselnya berbunyi padahal sebelum hamil sang istri selalu rajin bangun pagi. Fahmi perlahan bangun dari tidurnya, ia merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku setelah bangun tidur, perlahan ia mendekati tubuh sang istri yang masih tertidur lelap, sebenarnya ia tak tega tapi mengingatkan bumil nya untuk segera beribadah harus di laksanakan.
"Sayang, ayo bangun sudah pagi, kita shalat subuh dulu!" ajak Fahmi sambil mengusap pelan kepala Aryana.
Aryana yang merasa ada yang menganggu tidurnya berusaha membuka matanya meski sangat berat.
"Honey, ada apa membangunkan aku?, aku masih mengantuk" ucap Aryana dengan mata yang masih terpejam.
"Sudah subuh, Sayang, ayo jamaah shalat subuh dulu, bumil nggak boleh malas, katanya pingin punya anak hafidz Al-Quran!" ajak Fahmi lembut dengan membelai kepala Aryana.
Mendengar ucapan suaminya yang begitu lembut dan penuh sayang, Aryana berusaha membuka matanya, mengumpulkan seluruh nyawanya kemudian segera bangun dari tempat tidur.
"Makasih, Honey sudah membangunkan dan mengingatkan aku," ucap Aryana sambil tersenyum setelah ia berhasil bangun dari tidurnya.
"Sama-sama, Sayang, sudah kewajiban ku sebagai imam kamu, aku bukan hanya imam shalat tapi juga imam yang harus bisa membuat kamu dan anak-anak kita nanti berkumpul di surganya Allah bersama para nabi dan rasul, dan untuk itu butuh kerjasama yang baik denganmu istriku, cup," ucap Fahmi sambil mendaratkan ciuman di kening Aryana.
Setelah sedikit drama dalam membangunkan sang istri, Fahmi bersama-sama mengambil wudhu kemudian mereka melaksanakan shalat subuh berjamaah. Selesai shalat subuh Fahmi dan Aryana mengaji sebentar, saat melipat sajadahnya Aryana mengatakan sesuatu pada Fahmi yang membuat ceo Pratama group itu tersenyum bahagia.
"Honey, bagaimana kalau malam ini kita ajak papi dan mami makan malam di luar sambil jalan-jalan menikmati suasana malam di Singapura, nanti aku akan bilang pada bibi Mey agar masak makan malam saja untuk para maid," usul Aryana yang membuat sang suami menyunggingkan senyum bahagia dan langsung mendaratkan ciuman di seluruh wajah istrinya dengan gemas.
"Iih kok malah cium-cium sih," ucap Aryana kesal karena risih sang suami tidak menangapi ucapannya tapi malah menghujani wajahnya dengan ciuman.
"Aku gemas sekali sama kamu, Sayang, selalu punya pemikiran dan ide yang cemerlang, apalagi untuk membuat keluargamu bahagia, nanti pas sarapan kita beri tahu papi dan mami mereka pasti senang. Aku bangga sama kamu bidadari surgaku, tetaplah seperti ini, stay with me, sampai maut memisahkan kita," ucap Fahmi sambil merengkuh tubuh istri kecilnya sehingga wajah mereka saling berhadapan.
"Aku hanya ingin berdamai dengan keadaan, bagaimanapun papi dan mami orang tuaku juga, itu adalah kenyataan yang tidak bisa aku ingkari," ucap Aryana sambil membelai wajah suaminya.
__ADS_1
"Kau memang yang terbaik, Sayang, ayo kamu mandi dulu aku mau ke ruang gym sebentar," ucap Fahmi kemudian melepaskan pelukannya pada tubuh sang istri.
Fahmi keluar kamar lebih dulu menuju ruang gym, Aryana yang masih di dalam kamar tidak langsung mandi sesuai permintaan suaminya keluar kamar menuju dapur, di sana ia melihat bibi Mey dan dua orang maid sedang berkutat di dapur kelihatannya sedang memasak untuk sarapan pagi.
"Pagi bibi Mey!" sapa Aryana ramah.
"Pagi Nyonya, apa anda butuh sesuatu?" tanya bibi Mey.
"Tidak, aku hanya ingin membantu bibi menyiapkan sarapan," jawab Aryana.
"Saya rasa tidak perlu Nyonya, tuan Fahmi sudah memerintahkan kami untuk melayani semua kebutuhan Nyonya, nanti kalau Nyonya membatu tuan akan marah," ucap bibi Mey sedikit takut, pasalnya semenjak mengetahui Aryana positif hamil, Fahmi meminta semua maid melayani Aryana dengan baik, jangan sampai Aryana ikut dalam mengurus rumah termasuk memasak.
"Honey, kau benar-benar keterlaluan, aku ini hanya hamil buka sekarat, bisa-bisanya memerintahkan bibi Mey dan para maid seperti itu," gerutu Aryana dalam hati.
"Bibi sekarang aku lagi ingin sekali ikut memasak untuk sarapan, anak-anakku ingin ikut menyiapkan makanan untuk papa mamanya juga oma dan opanya, jadi ijinkan aku ikut memasak ya, soal tuan biar nanti menjadi urusanku!" ucap Aryana.
Melihat nyonya mudanya berkata seperti itu, bibi Mey jadi tidak tega, dengan terpaksa ia mengijinkan sang nyonya membantunya di dapur. Tak banyak yang dilakukan Aryana di dapur ia hanya mencicipi nasi goreng untuk memastikan taste nya, dan meminta maid menambahkan sayuran di nasi goreng tersebut, daging ayam dan sosis.
"Sayang!, kamu di sini?" ucap Fahmi yang membuat Aryana, bibi Mey dan dua maid menoleh ke belakang.
Bibi Mey dan dua maid sangat terkejut sekaligus takut karena membiarkan nyonya muda mereka berkutat di dapur, mereka menunduk tak berani menatap Fahmi, namun beda dengan Aryana yang langsung melengkungkan bibirnya membentuk senyuman sambil menghampiri dimana sang suami berdiri.
"Pagi, Honey, sudah selesai gymnya?" tanya Aryana.
"Sudah, tapi kenapa kamu di dapur?" jawab Fahmi namun juga balik bertanya pada Aryana.
"Honey, Sayang, yang namanya orang di dapur ya masaklah masa menulis, aku hanya bantu bibi Mey sedikit," jawab Aryana.
"Sayang, aku tahu kamu orangnya tidak bisa diam, tapi ingat kamu sedang mengandung tiga bayi kembar, aku tak mau kamu kenapa-napa, kau dan tiga calon anak kita ini sangat berharga untukku," ucap Fahmi sambil mengelus perut Aryana yang masih rata.
"Pak dokterku Sayang, aku hanya hamil bukan sekarat jadi berhentilah mengkhawatirkan aku berlebihan, lagi pula aku hanya membantu memotong sedikit sayuran dan mencicipi masakannya untuk memastikan taste rasanya, aku ingin rasa nasi goreng itu bisa mirip dengan masakan bunda," ucap Ayana yang membuat Fahmi mengerti dan tidak jadi mengomel panjang lebar, jika sang istri sudah menyebut orang tuanya dan berhubungan dengan keluarganya di Indonesia, Fahmi tidak akan marah justru ia merasa bersalah pada istrinya yang di usia muda harus berpisah dari orang tuanya dan saudara-saudaranya karena memtuskan menerima pinangannya dan bersedia mendampinginya hidup di negeri orang.
"Baiklah, tapi sekarang sudah selesai kan?, kalau sudah selesai ayo mandi, kamu nanti kamu telat ke kampus!" ucap Fahmi sambil merangkul pundak sang istri dan memaksanya untuk berjalan bersamanya menuju kamar. Mendapat perlakuan yang super protektif itu Aryana hanya bisa menurut, ia tak mau ada perdebatan di pagi hari karena bisa merusak moodnya, apalagi ada mertuanya yang menginap di rumah mereka.
__ADS_1
Sampai di kamar Fahmi melepaskan rangkulannya, ia melepas handuk kecil dan kaos yang ia gunakan untuk gym tadi, lalu menaruhnya di keranjang kotor. Melihat tubuh atletis suaminya membuat Aryana menelan salivananya. Saat Fahmi akan berjalan menuju kamar mandi tak sengaja ia melihat ekspresi istri kecilnya saat melihat tubuh atletisnya, Fahmi pun menyunggingkan senyuman menyeringai, ia perlahan mendekati tepi ranjang dimana istrinya duduk, dan hal itu membuat Aryana salah tingkah.
"Sayang, jangan memandang tubuhku seperti itu, kalau kamu mau pegang-pegang saja, karena semua ini milikmu," ucap Fahmi sambil meraih tangan Aryana untuk menyentuh perutnya yang masih sipex di usia diatas kepala empat.
"Iihhh, nggak ya mana ada aku memandangmu seperti itu," elak Aryana saat ia ketahuan oleh Fahmk sedang memandang tubuh suaminya penuh minat.
"Beneran nggak pinggin?" tanya Fahmi sambil semakin merapatkan tubuhnya pada sang istri yang tengah merona.
"Kamu ini selalu saja mesum pikirannnya," ucap Aryana mencebikan bibirnya membuat Fahmi semakin gemas.
"Setiap hari lihat setiap hari pegang kenapa masih gugup sih? bikin aku gemas saja, bagaimana kalau kita mandi bersama, pasti menyenangkan dan hemat waktu juga hemat air?" tawar Fahmi dengan senyuman jahilnya. Kalau seperti ini setiap hari umur Fahmi pasti akan turun menjadi dua puluh tahun.
"Honey, kamu itu ya selalu pikirannya mesum kalau lihat aku," ucap Aryana sambil memalingkan mukanya agar tak melihat bentuk tubuh suaminya.
"Sayang, kalau laki-laki tidak mesum tidak akan jadi bayi, lagian mesum sama istri sendiri 'kan nggak dosa," ucap Fahmi sambil terus menggoda istrinya.
"Tapi nggak gini juga kali, seharusnya kamu itu ambil obygn bukan spesialis jantung," sungut Aryana.
"Ah, iya seharusnya aku dulu ambil obygn biar bisa ketemua sama ibu-ibu muda, kenapa malah pilih spesialis jantung ya ketemunya kebanyakan sama opa-opa dan oma-oma," ucap Fahmi semakin semangat mengoda istrinya di pagi hari rasanya sangat menyenangkan seolah ia kemabali menjadi abg yang tukang gombal.
"Sana-sana, omongan kamu makin lama bikin aku kesal!" ucap Aryana sambil mendorong tubuh suaminya sehingga membuat tubuh Fahmi hampir terjengkang ke belakang.
"Ya Allah, ternyata kekuatan seorang wanita ketika hamil bisa naik berkali-kali lipat, dorongannya sungguh kuat sekali," gumam Fahmi mengelus dadanya sambil melihat sang istri masuk ke dalam kamar mandi.
__________________________________________
Maaf ya readers baru bisa up, semoga suka di episode ini, sebenarnya ide alur di episode ini bukan ini, entah kenapa pas nulis di draft naskah keluarnya malah begitu, otak author mungkin lagi gesrek bayangin tubuhnya Om Fahmi yang habis nge gym, hii...hi....ðŸ¤
Please Like, Vote, Coment, Rate and Favorit
Thank You
Bersambung....
__ADS_1