
"Apa benar om akan meminangku saat aku lulus SMA?" tanya Aryana.
"Iya, kenapa?, kamu keberatan?" tanya Fahmi.
"Ehm, bukan begitu, aku hanya takut ayah tak menyetujui hubungan kita, aku masih terlalu muda, aku tak yakin bisa meluluhkan hatinya semdah itu," jawab Aryana sedikit takut.
"Aryana, lihat mata Om!, kamu harus percaya pada Om, kita akan lalui ini bersama-sama, meski Om tahu masih ada keraguan dalam hatimu, namun Om bisa mengerti, semua butuh proses," ucap Fahmi mencoba meyakinkan Aryana yang dibalas dengan senyuman oleh Aryana.
"Besok Om jemput ya di sekolah, Om ingin menghabiskan waktu denganmu sebelum Om pulang ke Singapura, Om tidak bisa lama-lama disini," ucap Fahmi.
"Iya, Om, tapi bilang bunda dulu," ucap Aryana.
"Baiiklah, mana bundamu, Om mau pamit sekalian bilang besok Om mau njak kamu jalan," ucap Fahmi.
Aryana lalu mencari keberadaan bundanya di dalam rumah karena Fahmi akan pamit pulang, ternyata sang bunda sedang berada di dapur bersama bik Imah.
"Bunda, disini?, dicari kemana-mana ternyata di dapur," ucap Aryana sedikit kesal.
"Ada apa cari bunda?, om Fahmi sudah pulang?" tanya Yasmin.
"Om Fahmi mau pulang tuh, tapi mau ngomong sesuatu sama Bunda," jawab Aryana.
Setelah diberitahu Aryana, Yasmin bergegas ke ruang tamu menemui Fahmi.
"Mas Fahmi sudah mau pulang?" tanya Yasmin setelah berada di ruang tamu.
"Iya, Yas, sudah sore, kasihan juga Aryana ia juga baru pulang tadi," jawab Fahmi.
"Oh, iya Yas, aku cuma dua hari di Indonesia jadi, besok aku yang akan jemput Aryana ke sekolah, aku ingin ajak dia jalan-jalan sebentar sebelum aku pulang ke Singapura.
"Baiklah, boleh tapi aku minta mas tahu batasan mas!" pinta Yasmin.
"Aku, mengerti, Yasmin. Kalau aku mau sudah sejak dulu aku bawa kabur putrimu sampai kamu dan Yudha tak akan pernah menemukan kami, jangan lupakan siapa aku," ucap Fahmi.
"Aku percaya sama Mas Fahmi, aku hanya mengingatkan, Aryana putri kami satu-satunya," ucap Yasmin.
"Dan Aryana juga satu-satunya ratu di hatiku," ucap Fahmi dengan penuh ketulusan dan cinta.
Aryana yang melihat dan mendengar percakapan sang bunda dengan om Fahmi menjadi terharu, dia berharap dan berdoa semoga pilihan hatinya tidak salah.
"Ana, Om pulang dulu, sampai jumpa besok, ya," ucap Fahmi pada Aryana, lalu ia segera menaiki mobilnya meninggalkan kediaman Yudha.
Pada saat mobil Fahmi keluar halaman rumah Yudha, mobil yang ditumpangi hanya berjarak sepuluh meter jadi Yudha bisa melihat ada sebuah mobil asing yang keluar dari halaman rumahnya membuat ia bertanya-tanya dalam hati, siapa yang ada di dalam mobil tersebut.
Tak lama mobil Yudha memasuki halaman rumahnya, Yasmin yang hendak masuk ke dalam rumahnya mengurungkan niatnya karena melihat mobil suaminya datang.
__ADS_1
"Assalamualaikum," ucap Yudha.
"Waalaikumsalam," jawab Yasmin.
"Bund, tadi ayah lihat ada mobil sport keluaran terbaru keluar dari halaman rumah kita, siapa tamunya, Bund?" tanya Yudha sambil melangkah masuk ke dalam rumah bersama Yasmin.
"Oh itu tadi mas Fahmi mampir kesini, to say hallo aja sama keluarga kita," jawab Yasmin.
"Kenapa bunda nggak ngabarin ayah, kalau si Fahmi mau kesini?"
"Bunda nggak tahu kalau mas Fahmi mau kesini, tiba-tiba aja nongol di halaman rumah bersamaan dengan Afwi dan Aryana pulang dari sekolah."
"Setidaknya telpon ayah lah."
"He...he...,maaf lupa Yah, soalnya tadi mas Fahmi juga cuma sebentar, kenapa ?, ayah masih cemburu?"
"Nggak ngapain cemburu sama dia."
"Sudahlah, ini sudah mau magrib, ayah segera mandi!" pinta Yasmin.
"Ok, Sayang," ucap Yudha yang segera masuk ke kamar mandi setelah semua atribut seragamnya dilepas oleh Yasmin.
Setelah shalat magrib, seperti biasa Yudha dan keluarganya makan malam bersama, seusai makan malam, Aryana dan Afwi ijin untuk belajar di kamar masing-masing. Yasmin lalu mengajak suaminya pergi ke ruang keluarga karena ada yang ingin ia bicarakan.
"Yah, yuk ruang tengah, bunda mau bicara sesuatu dengan ayah!" ajak Yasmin.
"Ayo, nanti juga ayah tahu," jawab Yasmin.
Setelah di ruang tengah, Yasmin mengajak suaminya duduk santai disebelahnya.
"Bunda mau bicara apa sih kelihatannya serius banget?"
"Ini soal anak-anak kita, Yah."
"Soal anak-anak?, maksudnya?"
Yasmin lalu menceritakan apa yang terjadi dengan anak-anak mereka, termasuk persoalan Aryana, yang berkaitan dengan permintaan Yudha pada Afwa dan Afwi.
"Ayah tak larang mereka jadi apapun, hanya meminta mereka membantu di perusahaan dengan kuliah bisnis agar saat ayah dan opa sudah tua dan ingin istirahat mereka mendapatkan bekal ilmu yang matang, meski bisnis itu bisa dipelajari dengan otodidak tak perlu harus kuliah juga," ucap Yudha.
"Tapi sepertinya permintaan ayah jadi beban pikiran mereka, disisi lain mereka ingin meraih cita-cita mereka yang keluar jalur dari dunia bisnis, di sisi lain mereka juga ingin membantu ayah di perusahaan. Hal itu menjadi dilema untuk mereka, tolong mas putuskan sesuatu!" pinta Yasmin.
"Baiklah, aku akan serahkan keputusan pada anak-anak, toh aku masih bisa menjalankan perusahaan tanpa anak-anak, tapi jika aku sudah tak sanggup maka, anak-anak kita mau tidak mau harus turun tangan, meski sudah ada Arjuna dan Syakila, anak-anak kita juga harus ikut bertanggung jawab pada DW group," ucap Yudha.
"Jika itu keputusan mas, secepatnya mas ajak bicara ketiga anak kembar kita!" ucap Yasmin.
__ADS_1
"Aryana juga?" tanya Yudha.
"Iya, Aryana juga harus tahu apa yang ayah putuskan, mereka tiga serangkai, jangan tinggalkan Aryana dalam masalah ini," jawab Yasmin.
"Ayah bukannya tak mau melibatkan Aryana tetapi ayah hanya tak ingin ia banyak fikiran dan membuat kesehatannya terganggu," ucap Yudha.
"Apa ayah tahu, gara-gara Aryana tidak ayah ajak diskusi masalah ini, Aryana menjadi sedih dan merasa tidak berguna, maksud kita baik tapi cara kita salah, apa ayah lupa jika dari ketiga anak kembar kita Aryanalah yang paling cerdas meski ia mempunyai kelainan jantung, sejak sekolah dasar sampai SMA dia nggak pernah mendapat nilai tujuh, kebanyakan nilainya sembilan dan sepuluh, apalagi untuk pelajaran hitungan dan bahasa Inggris hampir nilainya mendekati sempurna bahkan nilai ujian nasional matematikanya waktu SD dan SMP nilainya sepuluh, bahkan Arjuna waktu SD sering minta bantuan Aryana buat ngajarin dia matematika, padahal kelas Arjuna lebih tinggi, aneh kan," ujar Yasmin menjelaskan.
"Ayah tak menyangka perlakuan kita jika tak melibatkan dia dalam masalah apapun membuat Ana tersakiti," ucap Yudha menyesal.
"Aku juga merasa menjadi ibu tak berguna, tak peka dengan perasaan putriku sendiri, malah mas Fahmi yang bukan orang tuanya justru lebih bisa memahami Ana, mengerti apa yang dirasakan Ana," ucap Yasmin yang juga menyesal tak peka dengan putrinya, diamnya Aryana ia anggap keadaan baik-baik saja ternyata putrinya memendam semuanya sendiri.
"Yah, satu hal lagi yang ingin bunda sampaikan pada ayah, tapi aku harap ayah jangan marah," ucap Yasmin.
"Apa itu?" tanya Yudha.
"Mas Fahmi tadi kesini selain karena ingin melihat perusahaan papinya yang di Indonesia, dia mengutarakan niatnya untuk meminang Aryana setelah Aryana lulus SMA," ucap Yasmin sedikit takut.
"Apa!, meminang Aryana?, dasar dokter pedofil, kenapa dia memilih anak kita?, dasar," umpat Yudha.
"Mas jangan marah!, sekarang mas merestui mereka atau tidak?" tanya Yasmin.
"Aku belum bisa memutuskan, Aryana masih terlalu muda, jalannya masih panjang," ucap Yudha.
"Mas Fahmi janji ia akan tetap membiarkan Aryana kuliah dan mengejar mimpinya, mungkin karena mas Fahmi usianya tak muda lagi, kalau nunggu Aryana lulus kuliah akan lama," ujar Yasmin.
"Aku tak habis pikir dengan manusia satu itu, dia bisa memilih wanita dewasa manapun yang dia inginkan, kenapa malah memilih anak kita yang masih abg," ucap Yudha.
"Karena mas Fahmi sudah berjanji pada Tuhan sewaktu menyematkan nama Aryana saat kelahirannnya, mas Fahmi berjanji bahwa nama Aryana Maira Yudhatama itulah yang akan ia sebut saat ijab qobul," ucap Yasmin membuat Yudha terkejut.
"Fahmi benar-benar konyol," ucap Yudha.
"Dan kekonyolan itu lah membuat ia setia menunggu Aryana sampai dewasa, apa mas tega membuat penantian mas Fahmi selama tujuh belas tahun berakhir sia-sia, dan selama tujuh belas tahun mas Fahmi dengan setia merawat Aryana, menjaga Aryana meski dari jauh. Tidak ada pria lain yang bisa mencintai putri kita sebaik mas Fahmi, aku mohon ayah mengerti dan merestui mereka!" ucap Yasmin memohon.
"Aku akan memikirkannya dulu, aku perlu bicara dengan Fahmi dan tuan Pratama tentang masalah ini, apa keluarga Pratama bisa menerima kekurangan Aryana. Bunda sendiri kan yang dulu pernah bilang kalau menikah itu kita tak hanya menikah dengan orang yang kita cintai namun juga menikahi keluarganya juga. Aku hanya ingin memastikan tuan Pratama dan istrinya juga menerima Aryana dengan tulus seperti Fahmi. Jika sampai keluarga Pratama tak menerima putri kita, aku tak akan merestui Aryana menikah dengan Fahmi, bunda mengerti maksud ayah kan," ucap Yudha.
Yasmin pun mengerti kenapa suaminya selama ini terkesan tak menerima Fahmi jika Fahmi mempunyai hubungan dengan putri mereka. Dalam hati Yasmin berharap dan berdoa semoga keluarga Pratama bisa menerima Aryana sebagai menantu mereka dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
___________________________________________
Doakan ya readers semoga keluarga Pratama mau menerima Aryana dengan tulus
Please Like, Vote, Coment, Rate and Favorit
Thank You
__ADS_1
Bersambung....