
Pukul tujuh pagi Fahmi berangkat ke kota Bandung untuk meninjau lokasi pembangunan proyek hotel," yang bermasalah. Sampai di sana Fahmi di sambut oleh koordinator lapangan yang bertanggung jawab untuk pembangunan proyek.
"Selamat siang pak Fahmi!" sapa koordinator proyek yang bernama pak Dadang.
"Siang, sekarang katakan apa masalahnya?" tanya Fahmi datar dan tegas tak ada raut persahabatan di sana.
"Begini pak sistem AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) kita sedikit menganggu beberapa rumah warga juga sebuah sekolah SMA," jawab pak Dadang.
"Huh, siapa tim perencanaan bagian AMDAL?" tanya Fahmi.
"Pak Deny,.Pak," jawab pak Dadang.
"Suruh dia dan tim menghadapku sekarang di kantor!" perintah Fahmi.
Pak Dadang lalu memanggil pak Deny dan timnya untuk menghadap Fahmi. Di ruangan kantor Fahmi menatap jauh hamparan kebun teh dari kaca jendela ruangnya, tak lama pintu kantor diketuk.
Tok tok
"Masuk!" pinta Fahmi dari dalam
Lalu masuklah tiga orang pria ke dalam ruangan kerja Fahmi.
"Katakan apa kendala di AMDAL pembuatan hotel?" tanya Fahmi.
Pak Deny lalu menjelaskan apa kendala yang dihadapi oleh sistem AMDAL juga protes beberapa warga dan pihak sekolah SMA yang merasa dirugikan dengan sistem AMDAL yang digunakan oleh perusahaan untuk pembuatan hotel. Setelah berembug, Fahmi meminta ketiga orang tim AMDAL untuk keluar, Fahmi akan meneliti dan mempelajari lebih detai tentang sistem AMDAL yang bermasalah. Bagaimanapun dia juga seorang dokter yang mengerti bagaimana pentingnya kesehatan dan berharganya setiap nyawa manusia, maka untuk masalah AMDAL ini dia akan mempelajari baik-baik. Tiba-tiba ponsel Fahmi berbunyi tertera nama pak Dadang di sana.
"Hallo, pak Fahmi ini Dadang."
"Ya ada apa?"
"Begini pak, pihak sekolah SMA yang merasa di rugikan dengan sistem AMDAL kita minta bertemu dengan penanggungjawab, pak Fahmi ingin menemui sendiri atau diwakilkan oleh pak Deny?"
"Aku akan temui sendiri pihak sekolah, jadwalkan kapan kami bisa bertemu dan carikan restoran yang bagus di daerah ini!"
"Baik!"
Setelah menutup telponnya, Fahmi duduk di kursi kerjanya, entah kenapa hatinya berdesir dan tiba-tiba teringat dengan gadis kecil yang akan menjadi calon istrinya, Fahmi merasa di tempat ini ia merasa ada kehadiran Aryana.
Sedangkan di SMA tempat Aryana dan Afwi belajar, kepala sekolah dan beberapa guru sedang mengadakan rapat guna membahas pertemuan dengan pihak pembagunan hotel.
"Pak Wawan bagiamana kesiapan materi pertemuan dengan pihak pembagunan hotel?" tanya kepala sekolah.
"Sudah delapan puluh persen," jawab pak Wawan.
"Apa perlu kita nanti menghadirkan Aryana, karena dia yang mengetahui tentang kebocoran sistem AMDAL di pembagunan hotel yang membahayakan sekolah kita, Aryana juga yang merancang sistem AMDAL untuk merevisi sistem AMDAL dari pembangunan hotel tersebut?" tanya bu Disti selaku wakil kepala sekolah.
__ADS_1
"Saya rasa tidak perlu, kehadiran Aryana bisa diwakilkan oleh ibu Renata, beliau mengampu mapel geografi beliau pasti bisa menerangkan hasil analisa kita," jawab kepala sekolah.
"Baiklah kita putuskan begitu saja, tadi pihak proyek memberitahukan bahwa besok jam sebelas kita diundang di resto Sunda untuk membicarakan masalah ini, saya harap bapak ibu yang saya tugaskan mendampingi saya salam pertemuan nanti bisa menyiapkan semuanya, katanya Direktur perusahaan sendiri yang akan datang di pertemuan besok," ucap kepala sekolah.
Akhirnya hari pertemuan dengan pihak sekolah tiba, pihak sekolah berjumlah empat orang dan pihak pembagunan hotel juga berjumlah empat orang termasuk Fahmi. Mereka bertemu di tempat yang sudah disepakati.
"Selamat siang pak kepala sekolah, perkenalakan saya Dadang koordinator pembangunan pabrik dan ini pak Fahmi Direktur Pratama group yang membawahi pembangunan hotel," ucap pak Dadang memperkenalkan Fahmi. mereka pun saling berjabat tangan.
Kedua belah pihak membicarakan masalah Amdal dengan serius, sampai pada saat kepala sekolah mengatakan bahwa salah seorang yang memprotes Amdal pembangunan hotel bermasalah adalah salah satu siswanya yang justru berasal dari kelas IPA sedangkan masalah Amdal ada di mata pelajaran kelas IPS, membuat Fahmi tertarik.
"Oh, ternyata di sekolah bapak ada siswa yang sangat jenius, di usia muda sudah mengerti tentang Amdal, padahal bukan jurusannya," ucap Fahmi kagum.
"Iya, pak meski masih sangat mudan Aryana adalah sangat pintar hampir di semua mata pelajaran," ucap bu Disti yang membuat jantung Fahmi berhenti berdetak.
Deg
"Aryana, apa dia gadisku?" gumam Fahmi dalam hati.
"Apa boleh tahu siapa nama panjang siswa ini?" tanya Fahmi.
"Kalau tidak salah namanya Aryana Maira," jawab bu Disti.
Sekali lagi Fahmi terhenyak, nama yang membuat hatinya berdebar hebat hanya dengan mendengar nama Aryana Maira.
"Bapak, Ibu apa saya bisa bertemu dengan siswa bapak yang bernama Aryana Maira?" tanya Fahmi dengan tatapan memohon membuat pak Dadang dan tim Amdal melongo sejak datang ke lokasi proyek sang bos pasang wajah datar dan dingin tapi hari ini dengan mendengar nama seorang siswa SMA bernama Aryana Maira sikapnya langsung berubah hangat.
"Baiklah kami akan mempertemukan bapak dengan siswa kami yang jenius ini, tapi bapak yang harus ke sekolah!" pinta bapak kepala sekolah.
"Baiklah, tak masalah," ucap Fahmi.
Setelah berembug secara kekeluargaan, pihak Fahmi akan mengkaji ulang sistem Amdal yang akan dipakai dalam proyek hotel Pratama group.
Setelah dari resto Fahmi langsung menuju villa pribadinya, ia masuk ke kamarnya merebahkan tubuhnya yang rasanya sangat lelah. Matanya memandang langit-langit kamar ia mengingat pertemuannya dengan pihak sekolah tadi, mengingat nama Aryana disebut oleh pihak sekolah.
"Ya Allah, jika benar Aryana yang dimaksud itu adalah Aryanaku, aku mohon jangan pisahkan kami lagi, aku sudah tak sanggup," doa Fahmi dalam hati, matanya lama-kelamaan terasa berat dan akhirnya ia terlelap.
Sedangkan di rumah Aryana, Yasmin sedang menyiram tanaman sayuran di belakang rumah, ya agar tak bosan, Yudha menyiapkan kebun sayur kecil di belakang rumah, juga beberapa tanaman hias.
"Bunda...!" terdengar teriakan Aryana memanggil sang bunda.
"Nyonya ada di taman belakang non," sahut bik Imah.
"Makasih bik," ucap Aryana dan langsung menyusul bundanya ke taman belakang.
"Bunda...!"panggil Aryana
__ADS_1
Merasa ada yang memanggilnya, Yasmin menoleh ke asal suara, setelah tahu siapa yang memanggilnya Yasmin tersenyum, Aryana yang melihat senyum sang bunda segera berjalan mendekat pada sang bunda.
"Bunda sedang apa disini?" tanya Aryana.
"Oh, ini bunda sedang menyiram beberapa tananam sama memeriksa apa sudah ada sayuran yang siap dipetik," jawab Yasmin.
"Memang sudah ada yang siap di petik?" tanya Aryana.
"Sudah, tuh cabe sama daun selada," jawab Yasmin.
"Yaa..., cabe sama daun selada," ucap Aryana kecewa.
Melihat ekspresi Aryana Yasmin tersenyum
"Huh dasar ya kamu," ucap Yasmin gemas.
"Eh kakakmu Afwi mana kok nggak kelihatan?" tanya Yasmin.
"Kak Afwi sedang main ke tempat temannya," jawab Aryana.
"Teman yang mana, kok nggak cerita ke bunda ia punya teman akrab disini?" tanya bunda.
"Nggak tau lah, namanya juga cowok bund gampang akrab sama siapapun terutama teman cowok," jawab Aryana.
"Ya sudahlah yang penting kakakmu nggak macam-macam dan salah pergaulan,* ucap bunda.
"Bund, kapan kak Afwa kesini, aku dah kangen," ucap Aryana.
"Belum tahu, kan baru bulan kemarin kakakmu pulang, masa sudah kangen," goda sang bunda.
"Ya kangen aja sama kakak sendiri nggak boleh, bete bund disini, pemandangannya bagus hawanya sejuk tapi kalau nggak bisa menikmati dengan orang yang spesial hiduo rasanya hambar," ucap Aryana sendu membuat sang bunda terdiam, ada sesuatu yang begitu menusuk hatinya, ia tahu siapa yang dimaksud orang yang spesial oleh putrinya.
"Sayang..., bunda tahu apa yang kamu rasakan, ayah hanya ingin yang terbaik untuk keluarga kita terutama untukmu, percayalah jika kalian bejodoh sekuat apapun masalah yang membuat kalian terpisah maka kalian akan bertemu, jodoh tak akan pernah tertukar, apa yang menimpa manusia sudah tertulis di lauh mahfuzh seribu juta tahun sebelum bumi ini diciptakan, "agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan jangan pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu" (Qs. Al-Hadid.23). Jadi bunda mohon bersabarlah dan berdoa agar Allah memberimu jalan dan jodoh terbaik menurut versinya Allah bukan versi kamu," ucap bunda menasehati Aryana panjang lebar sambil membelai sayang kepala Aryana.
"Semoga Om Fahmi yang terbaik untuk Aryana ya Bund, Ana kangen Om," ucap Aryana parau sambil memeluk sang bunda.
Dari jarak yang agak dekat ada sepasang mata yang menatap dua wanita beda usia dengan penuh haru, dalam hati semoga Aryana segera mendapatkan cinta sejatinya juga mendapatkan donor jantung.
___________________________________________
Kira-kira Aryana ketemu nggak ya sama om kesayangannya?
Maaf author mungkin tidak bisa setiap hari up, mau menulis episode ini sempat stuck karena beberapa hal, jadi nggak bisa cepat up.
Please, Like, Vote, Coment, Rate and Favorit
__ADS_1
Thank You
Bersambung....