Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 145


__ADS_3

Nayla menyampaikan tawaran kenalan barunya yang bernama Afwi yang menawarkan kerjasama dengannya. Pak Mahendra mendengarkan apa yang Nayla katakan, namun ia berusaha mencerna semua perkataan Nayla dan pak Mahendra tak percaya begitu saja pada sosok Afwi yang menawarkan kerjasama dengan putrinya.


"Pa, bagaimana dengan tawaran kerjasama dengan cowok pelanggan lumpiaku yang bernama Afwi itu, papa setuju nggak?" tanya Nayla meminta pendapat papanya.


"Sebentar, Nay, pada dasarnya sih papa setuju kamu ingin mengembangkan bisnis lumpiamu, papa juga senang kamu punya jiwa enterpreneur, tapi papa harus cari tahu dulu siapa sebenarnya sosok Afwi ini," ucap pak Mahendra.


"Baiklah, aku tunggu penyelidikan papaku yang over protective ini, gini amat punya papa polisi," keluh Nayla sambil merenggut membuat pak Mahendra tersenyum, ia tau putrinya ini sedang melayangkan aksi protes namun ia harus melakukan penyelidikan tentang. Afwi.


"Begini aja, deh, kamu ajak siapa itu cowok namanya?"


"Afwi, Pa," sahut Nayla gemas.


"Iya, Afwi, tapi nanti jangan bilang kamu mau datang sama papa."


"Iya besok, Nay akan ajak bang Afwi buat ketemu."


Nayla dan pak Mahendra meneruskan perbincangan sampai terdengar adzan magrib, paka Mahendra kemudian bersiap-siap untuk ke masjid bersama Dio, sedangkan Nayla shalat di rumah.


Setelah berunding dengan papanya kemarin, Nayla janjian dengan Afwi, namun Afwi hanya bisa di temui di hari Minggu, dan Nayla pun juga mengiyakan. Nayla juga paham kesibukan Afwi yang bekerja di hotel, itulah pemikiran Nayla, ia tidak tahu bahwa Afwi berprofesi sebagai anggota kepolisian.


Hari Minggu yang di nantipun tiba, Nayla janjian dengan Afwi di sebuah cafe, pak Mahendra ikut dengan Nayla namun ia akan menampakkan diri setelah Nayla bertemu dengan Afwi.


"Assalamualaikum, Dek maaf membuatmu menunggu," ucap Afwi.


"Waalaikumsalam, Bang, tidak apa-apa, silahkan duduk, Bang!"


"Abang mau pesan apa?"


"Abang pesan green tea sama snack saja."


Nayla lalu memanggil pelayan untuk memesan makanan, setelah pelayan pergi mereka memulai pembicaraan.


"Abang beneran mau mengajakku kerjasama?"


"Serius, Dek, lagipula ini kesempatan bagus untuk mengembangkan usaha lumpiamu."


"Kalau boleh tahu, abang di situ sebagai apa?"


"Sebagai asisten pemilik hotel, kan yang punya hotel adik perempuanku yang sekarang tinggal di Singapura sama suaminya, mana sempat ngurus hotel segede itu, apalagi sekarang adikku sudah punya baby kembar tiga plus satu anak angkat."


"Hah!, kembar tiga kok bisa?" pekik Nayla kaget mendemgar cerita Afwi.


"Ya bisa lah, Dek, aku kan lahir kembar tiga juga," ucap Afwi yang membuat Nayla makin terkejut.

__ADS_1


"Jadi abang kembar bersaudara?"


"Ya, aku punya kakak laki-laki yang menjadi perwira di angkatan darat, sedangkan adik kembar ku yang perempuan kuliah kedokteran setelah menikah di usia sembilan belas tahun."


"Apa, adik abang menikah di usia sembilan belas tahun, oh my God, adik abang menikah dengan siapa?"


"Adikku menikah dengan cowok sultan, hotel permata itu salah satu mahar pernikahannya, beruntung bener adikku itu, kalau aku mana bisa kasih mahar segede itu," ucap Afwi sok miskin.


"Abang jangan ngomong gitu, berdoa saja nanti abang dapat istri yang minta maharnya ngga banyak," ucap Nayla sambil terkekeh.


"Ya semoga aja, Dek, bisa dapat istri yang nggak hanya mau di ajak seneng aja, tapi diajak kerjasama meraih sukses bersama," ucap Afwi memelas.


"Semoga ya, Bang, tapi kita kok jadi bahas mahar sih," ucap Nayla sambil tertawa kecil, dan hal itu membuat Afwi bahagia, tapi apa kabar jika Nayla tau dia seorang polisi, mungkin kursi cafe bisa melayang ke arahnya.


"Kalau kau tahu aku seorang polisi seperti papamu apa masih bisa aku sedekat ini denganmu dan melihat tawa ceriamu, Dek," batin Afwi nelangsa.


Afwi dan Nayla berbincang tentang kerjasama yang akan mereka jalin sembari di selingi cerita tentang keluarga mereka masing-masing. Kemudian pak Mahendra muncul di meja yang di tempati Afwi dan Nayla.


"Apa papa menganggu, Nay?" ucap pak Mahendra yang membuat kedua sejoli langsung mengarahkan pandangan pada sosok yang tiba-tiba berada di samping mereka.


"Papa!" panggil Nayla yang langsung berdiri menyambut kedatangan sang papa dan tentu saja hal ini membuat Afwi terkejut.


"Pa, kenalin ini bang Afwi yang mau mengajak Nay kerjasama," ucap Nayla mengenalkan papanya.


"Apa kabar, Om," sapa Afwi sopan.


Afwi sedikit gugup karena takut jika pak Mahendra mengenalinya sebagai anggota kepolisian karena beberapa kali mereka berjumpa meski tak dekat hanya sekedar berpapasan dan menyapa.


"Sepertinya aku kenal dengan laki-laki ini dan aku merasa pernah bertemu dengannya, tapi dimana ya?" tanya pak Mahendra dalam hati.


"Nak Afwi bekerja dimana kalau boleh tahu?" tanya pak Mahendra.


"Saya bekerja di Hotel Aryana, makanya saya menawarkan kerjasama di bidang kuliner dengan Dek Nayla," jawab Afwi.


"Oh begitu, ya semoga kalian bisa bekerjasama dengan baik, dan bisa saling menjaga kepercayaan karena dalam kehidupan ini semuanya harus berdasarkan bisa saling menjaga amanah. Nayla adalah putriku satu-satunya kalau sampai kau berniat menipunya jangan harapa kau bisa lepas dariku!" ucap pak Mahendra sedikit mengintimidasi.


"Papa jangan buat bang Afwi takut, ah," tegur Nayla pada sang papa.


"Tidak apa-apa, Dek, itu artinya papa Dek Nayla sayang sama Dek Nayla, aku juga punya adik perempuan dan ayah menguji calon suami adikku habis-habisan karea adikku Aryana adalah satu-satunya princess di keluarga kami setelah bunda," ucap Afwi.


"Kalau boleh tahu siapa nama orang tuamu?" tanya pak Mahendra.


Afwi sempat ragu mengatakan siapa nama sang ayah, namun ia harus jujur, dan semoga paka Mahendra tak terlalu tahu kehidupan keluarganya.

__ADS_1


"Nama ayah saya Yudhatama Dewantara dan bunda saya bernama Yasmin Kusuma Putri."


Uhuk...uhuk


Pak Mahendra tersedak tatkala Afwi menyebutkan nama keuda orang tuanya. Siapa yang tak kenal dengan putra mahkota Dewantara group yang pernah menjadi bagian dari anggota pasukan elite angkatan darat.


"Ya Allah, ternyata Afwi putra pak Yudha," batin pak Mahendra.


"Papa kenapa kok sampai tersedak?" tanya Nayla khawatir.


"Papa nggak apa-apa, Nay," jawab pak Mahendra sambil mengatur nafasnya.


Mereka melanjutkan perbincangan dan tak lama kemudian Nayla dan papanya pamit untuk pulang. Dalam hati Afwi ketar ketir jika pak Mahendra tahu ia seorang polisi, sedangkan pak Mahendra masih berfirkir keras, ada rasa yang menganjal di hati, ia merasa ada yang di sembunyikan Afwi tapi apa, pak Mahendra belum bisa menduganya.


Sampai di rumah pak Mahendra langsung masuk ke kamarnya, ia menghubungi seseorang untuk mencari tahu tentang sosok Afwi. Pak Mahendra merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, pandangannya menerawang ke langit-langit kamar, pak Mahendra masih penasaran dengan Afwi dan berusaha mengingatnya, namun pikirannya buntu, ia tak berhasil mengingat sosok Afwi. Akhirnya karena lelah pak Mahendra terlelap, ia akan menunggu informasi dari orang suruhannya.


Keesokan harinya, pak Mahendra sudah menerima informasi dari orang suruhannya, betapa terkejutnya ia ketika meliahat hasil laporan orang suruhannya.


"Pantas, aku pernah melihatnya ternyata dia seorang perwira polisi, bahkan salah satu lulusan terbaik Akademi Kepolisian, tapi kenapa ia mengaku karyawan hotel Aryana?, apa dia sedang menyamar?, tapi dalam rangka misi apa sampai ia mendekati Nayla?, apa Nayla terlibat suatu kasus?" tanya pak Mahendra dalam hati, ia berencana akan menemui Afwi secara pribadi untuk menanyakan motifnya mendekati putrinya.


Beberapa hari kemudian setelah mendapatkan informasi tentang Afwi, pak Mahendra menemui Afwi di kantornya setelah mendapatkan info bahwa Afwi hari itu lembur di kantor polisi. Pak Mahendra melajukan mobilnya tanpa ajudan karena ia ingin privacy saat menemui Afwi. Pukul empat sore pak Mahendra sampai di kantor polisi tempat Acwi berdinas. Beberapa orang cukup terkejut dengan kehadiran Kombes Mahendra yang tiba-tiba, berbagai pertanyaan berada di pikiran beberapa anggota polisi yang melihat kedatangan Kombes Mahendra.


"Apa anda sedang sibuk Ipda Afwi? ucap pak Mahendra yang langsung masuk ke ruangan Afwi tentu saja sudah dengan ijin atasan Afwi.


"Pak Mahendra," ucap Afwi terkejut.


"Sudahlah jangan terlalu formal, kau sudah lepas dinas, aku ke sini ingin bicara denganmu empat mata, tapi tak di sini, bisa kita keluar sebentar?" pinta pak Mahendra yang di iyakan oleh Afwi.


Pak Mahendra dan Afwi keluar ruangan bersama-sama, dan tentu saja itu menjadi pemandangan aneh di kantor Afwi. Pak Mahendra membawa Afwi ke suatu taman dengan danau buatan di tengahnya, tempatnya cukup sepi.


"Apa motif mu mendekati putriku dan menyamr sebagai karyawan hotel Aryana?" tanya pak Mahendra tanpa basa-basi.


"Motif saya hanya satu, karena cinta," jawab Afwi lugas yang membuat pak Mahendra membulatkan matanya tak percaya.


"Kau mencintai putriku?, sejak kapan? bahkan Nayla tak pernah cerita apa-apa tentangmu."


"Nayla tak akan mungkin cerita tentang saya, karena saya mencintainya dalam diam dan doa, dan jika bapak bertanya sejak kapan maka jawabannya adalah sejak sekitar empat tahun yang lalu saat saya masih menempuh pendidikan di Akpol Semarang, dan ternyata setelah sekian lama penantian saya yang tak pasti, Allah mempertemukan kami di kota Bandung, dan kenapa saya menyamar karena saya tahu Nayla tak suka punya pendamping seorang polisi atau tentara."


"Lalu bagaimana jika Nayla tahu profesimu yang sebenarnya?, bukankah jika Nayla tahu profesimu yang sebenarnya ia akan marah dan mungkin membencimu," ujar pak Mahendra.


"Saya tahu itu, saya sudah mempertimbangkan semua apa yang saya lakukan dan segala resikonya, tapi dalam lubuk hati saya yang paling dalam, Nayla bisa mengerti profesi seorang polisi dan bisa menerima saya dan profesi saya sebagai bagian dari hidupnya," ucap Afwi penuh optimisme.


__________________________________________

__ADS_1


Please, Like, Vote, Komentar, Rate bintang 5 and Favorit.


Thank You


__ADS_2