Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode.178


__ADS_3

Jagong dulu ya ke tempat Kirana


Semingu setelah lamaran, Raka benar-benar menepati janjinya, ia memberi tahu tanggal pernikahan Kirana dan Afwa. Pernikahan mereka akan di lakukan sekitar tiga bulan lagi, karena kesibukan Raka sebagai seorang anggota TNI, ia tak bisa menemui keluarga Yudha secara langsung. Raka memberi tahu Yudha melalui via vc dan Yudha memaklumi keadaan Raka. Setelah mendapatkan tanggal pernikahan Afwa, Yudha segera memberi tahu putra keduanya, agar bisa menyesuaikan tanggal pernikahannya juga.


Setelah Afwi di beritahu tanggal pernikahan sang kakak, ia segera memberitahu pihak Nayla, untuk menentukan hari baik untuk pernikahan. Baik keluarga Yudha, keluarga Raka dan keluarga Nayla memiliki adat istiadat yang hampir sama, jadi menentukan hari baik untuk acara pernikahan dianggap sangat penting. Setelah keluarga Nayla diberitahu tanggal pernikahan Afwa, keluarga Nayla segera mencari hari baik, dan ternyata tanggal pernikahan Afwi dan Nayla, jatuh dua minggu setelah pernikahan Afwa, karena tanggal pernikahan Afwa dan Afwi sudah di tentukan maka Yudha menentukan ngunduh mantu kedua putra kembarnya akan di laksanakan seminggu setelah pernikahan Afwi dan Nayla. Yudha mengambil hari Minggu agar semua keluarga dan sahabat bisa hadir tanpa menganggu aktivitas bekerja mereka.


Waktu terus bergulir hari pernikahan Afwa dan Kirana akhirnya di langsungkan setelah pengajuan nikah mereka di setujui dan juga berkas pernikahan mereka selesai. Raka mengadakan resepsi pernikahan di kota Semarang tanah kelahirannya selain itu karena Raka juga memiliki rumah sendiri di daerah Semarang. Gedung pernikahan Kirana cukup megah tentu saja semua itu ada campur tangan calon menantunya. Ijab kabul di lakukan hari ini satu hari sebelum resepsi pernikahan. Namun tempat ijab qobul dilangsungkan pada malam hari di kediaman Raka. Afwa terlihat gagah dengan setelan jas pengantin warna putih sedangkan Kirana memakai kebaya muslim warna putih tulang dengan bawahan jarik sido mukti, jarik batik khusus pengantin.


Di meja ijab qobul sudah duduk Raka dan penghulu, di hadapan Raka sudah duduk Afwa di dampingi om nya Andre dan Dika, sedangkan Kirana duduk di ruang terpisah.


"Nggak usah grogi gitu, ntar kelihatan jelek!" bisik Dika yang punya sifat jahil.


"Pakdhe apaan sih, siapa yang grogi," ucap Afwa sebal.


"Kak Dika sudah jangan godain Afwa ntar hafalan ijab qobulnya ambyar?" ucap Andre.


Tak lama kemudian penghulu sudah siap, ia memeriksa berkas nikah untuk di cocokkan dengan Afwa langsung.


"Sudah siap mas Afwa?" tanya pak penghulu.


"Siap, Pak!" jawab Afwa tegas tanpa ragu.


"Waduh gini nih ya kalau mempelainya tentara, jawab pertanyaan saya seperti jawab perintah komandan," kelakar pak penghulu karena melihat Afwa yang sepertinya begitu tegang.


Mendengar ucapan pak penghulu membuat keluarga yang juga menyaksikan prosesi ijab qobul jadi tertawa. Ternyata mengucap ijab qobul itu rasanya lebih berat daripada pertama kali belajar terjun payung dengan melompat dari ketinggian sekian ribu kaki.


"Sudah siap mas Afwa?" tanya penghulu sekali lagi.


"Siap, Pak!" jawab Afwa dengan tegas tapi tidak sekaku tadi.


"Mas Afwa, ketika nanti mas Afwa sudah mengucap ijab qobul untuk menghalalkan mbak Kirana, maka saat itu juga tanggung jawab pak Raka sebagai ayah dari mbak Kirana sudah sepenuhnya beralih kepada mas Afwa," ucap pak penghulu.


Setelah itu pak pak penghulu kemudian meminta pada Afwa menjabat tangan Raka untuk memulai ijab qobul.


"Ananda, Afwa Shakti Yudhatama bin Yudha Tama Dewantara Aku nikahkan dan kawinkan Engkau dengan anak kandungku Kirana Septiana Wulansari binti Raka Septian Saputra dengan mas kawin seperangkat alat sholat, satu set perhiasan emas, uang tunai seratus lima puluh juta rupiah berserta satu unit rumah dibayar tunai," ucap Raka sambil sedikit menghentakkan jabatan tangannya dengan Afwa.


"Saya terima nikah dan kawinnya Kirana Septiana Wulansari bubti Raka Septian Saputra dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Afwa lantang dengan satu tarikan nafas.


" Bagaimana saksi?, sah...?" tanya penghulu.

__ADS_1


"Sah...," ucap para saksi.


"Alhamdulillah," ucap semua orang termasuk Afwa yang merasa sangat lega bisa mengucapkan ijab qobul tanpa kesalahan dan dengan satu tarikan nafas.


Setelah Afwa selesai mengucap ijab qobul, Kirana berjalan mendekat pada Afwa dengan di dampingi Kiara dan salah seorang budhenya. Kirana duduk.di sebelah Afwa, setelah Kirana duduk, Kirana mencium tangan Afwa sebagai tanda bakti seorang istri pada suaminya dan Afwa membalas dengan mencim kening Kirana agak lama karena ada proses pengambilan gambar moment tersebut. Hati Kirana berdesir hebat, meski sudah menjalin hubungan selama sepuluh tahun tetapi ia selalu menjaga kontak fisik dengan Afwa, dan kini saat bibir manis milik Afwa mendarat lembut penuh cinta di kening Kirana teriring doa dari Afwa agar rumah tangganya kelak bisa sakinah mawadah dan waramah. Rasanya hati Kirana diguyur air yang menyejukkan, mungkin inilah yang di katakan nikmatnya setelah halal, baru cium kening sudah bikin serrr...di hati.


Afwa dan Kirana kemudian menandatangani berkas pernikahan dari KUA termasuk buku nikah. Setelah semua prosesi ijab qobul selesai, kini kedua mempelai meminta restu pada orang tua. Tangis haru karena bahagia tak bisa di bendung oleh para wanita, Yasmin dan Dinda tak bisa membendung air mata lagi. sedikit nasehat diberikan Dinda maupun Yasmin pada Kirana saat meminta doa.


Sedangkan Afwa, meski tak di warnai tangis haru namun, ada kesedihan tersendiri bagi Raka karena mulai sekarang putri sulungnya, yang menjadikan dirinya cinta pertama sudah terlepas darinya. Tanggung jawabnya sebagai ayah pada Kirana akan berpindah kepada menantunya yaitu Afwa. Raka dan Yudha pun juga tak mau ketinggalan memberikan sedikit wejangan pada Afwa.


"Ayah Raka, aku meminta doa restumu untuk ku dan Kirana karena tanpa doa ayah dan ibu kami bukanlah apa-apa, dan aku janji akan menyayangi Kirana sepenuh hatiku dan akan menjaganya dengan nyawaku," ucap Afwa dengan suara yang sedikit bergetar.


"Anakku Afwa, ayah sudah mengenalmu sejak kau masih bayi, ayah sangat menyayangimu seperti anak kandung ayah sendiri, ayah percayakan putri kesayangan ayah padamu, cintai dan sayangi dia seperti kami mencintai dan menyayanginya, berikanlah kebahagiaan padanya, dan ingat lah satu hal ini Afwa, seandainya rasa cintamu pada Kirana sudah tak ada lagi, dan kau sudah tak menginginkannya lagi, ayah mohon jangan sakiti fisik dan hatinya cukup beritahu aku, kembalikan Kirana baik-baik kepadaku dengan keadaan yang baik," ucap Raka dengan lembut namun ada nada penegasan di sana, dan saat selesai mengatakan itu pada Afwa, sebulir bening keluar dari sudut matanya.


Mendengar perkataan sahabat sang ayah yang sekarang menjadi ayah mertuanya, Afwa langsung terhenyak, ada sebersit rasa sesak.di hatinya. Inikah perasaan seorang ayah yang menikahkan putri yang amat di sayanginya, rasa bahagia dan kehilangan yang datang bersamaan. Satu hal yang terlintas dalam pikiran Afwa adalah seperti inilah perasaan ayahnya dulu saat harus melepas Aryana menikah dengan Fahmi, dan untuk puluhan tahun ke depan jika ia di beri umur panjang dan di karuniai seorang putri maka Afwa juga akan merasakan hal yang sama seperti ayah Yudha dan ayah Raka.


Prosesi sungkeman meminta pada orang tua setelah ijab qobul telah selesai, kedua mempelai kemudian berfoto bersama, setelah itu di lanjutkan dengan makan malam. Afwa dan Kirana duduk di kursi khusus pengantin yang sederhana namun terlihat sangat elegan. Beberapa tamu yang hadir di acara ijab qobul memberikan ucapan selamat pada Afwa dan Kirana, para tamu yang hadir adalah dari teman-teman dan anggota keluarga Raka dan Dinda, juga beberapa tetangga. Untuk ijab qobul memang Raka tak mengundang banyak orang, hanya keluarga dekat, tetangga dekat dan sahabat. Untuk yang lainnya Raka mengundangnya di acara resepsi yang akan di langsungkan esok hari di gedung pernikahan yang sudah ia sewa.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, sebagian besar tamu sudah pamit pulang, hanya tinggal beberapa saja yang masih di rumah Raka. Keluarga Yudha juga sudah pamit untuk kembali ke hotel karen besok pagi mereka harus bersiap untuk acara resepsi Afwa dan Kirana.


"Kak kepalaku agak pusing, boleh nggak aku ke kamar duluan?" tanya Kirana meminta ijin.


"Kakak nggak disini dulu, temani ayah berbincang dengan keluarga yang masih tinggal?"


"Nggak, mereka pasti ngerti, apalagi istri lagi sakit begini masa suaminya malah ngobrol," ucap Afwa lalu membantu Kirana berdiri dari duduk lalu mengandeng Kirana masuk ke dalam rumah.


"Kirana kenapa, Afwa?" tanya Raka yang melihat Kirana sedikit pucat dan memegangi kepalanya.


"Kiran sedikit pusing, Yah, mungkin kelelahan," jawab Afwa.


"Ya sudah, sana bawa Kirana ke kamar, dan bilang sama ibunya Kiran untuk buatkan teh jahe buat Kirana!" ucap Raka.


"Baik, Yah," ucap Afwa kemudian melanjutkan membawa Kirana ke kamar.


Sampai di kamar, Afwa mendudukkan Kirana ke tepi ranjang. Kamar Kirana sudah di sulap menjadi kamar pengantin yang indah, tempat tidur Kirana pun juga baru dengan ukuran king size.


"Kak, bisa tolongin lepas jilbab dan segala pernak perniknya ini, kepalaku rasanya di beri beban berat!" pinta Kirana memelas.


"Duh kasihan istriku, cantik tapi tersiksa karena riasan, ayo duduk di depan meja rias biar lebih gampang lepasnya!"

__ADS_1


Setelah Kirana duduk di depan meja rias, Afwa lalu membantu Kirana melepas satu persatu hiasan hijab dan jarum pentul yang digunakan untuk menghias hijab pengantin.


"Ya Allah, Kiran, pantas kamu pusing, jarum yang ada hijabmu lebih dari sepuluh, belum lagi pernak perniknya ini."


"Bukan karena itu juga, Kak, akunya juga kurang fit, biasanya kalau lagi hajatan keluarga di dandani seperti ini aku nggak apa-apa, tapi ini kepalaku jadi pusing."


Perlahan Afwa melepas kain hijab yang dipakai Kirana setelah melepas semua hiasan dan jarum pentul di hijab tersebut.


"Nah sekarang sudah enakan 'kan?" tanya Afwa.


"Alhamdulillah sudah, tapi masih pusing, Kak," keluh Kirana sambil memijit pelipisnya.


"Sini aku pijitin kepalanya," ucap Afwa.


Kirana merasa di jadikan ratu oleh Afwa, didikan Yudha dan Yasmin benar-benar hebat. Dalam keluarga Yudha tak ada satupun anak laki-lakinya yang tak menghormati wanita, apalagi wanita-wanita di dalam keluarganya. Madrasah pertama bagi seorang anak adalah kedua orang tuanya terutama seorang ibu. Ibu yang baik dan sholehah insyaallah akan bisa mengantarkan anak-anaknya menjadi anak yang shaleh dan sholehah.


"Kak Afwa punya nomor telponya dokter Fahmi?" tanya Kirana membuat Afwa menghentikan aktivitasnya memijit kepala Kirana.


"Punya, tapi buat apa kamu menanyakannya?"


"Aku mau konsultasi."


"Konsultasi apa, Kirana?"


"Konsultasi jantung."


Deg


"Kamu sakit jantung? sejak kapan? kenapa nggak kasih tahu aku, bukankah hasil pemeriksaan kesehatanmu saat di RS Angkatan Darat bagus?"


"Ehmm...aku mau konsultasi kenapa menjelang hari pernikahan kita dan sampai hari ini jantungku terus berdebar lebih cepat, apalagi saat kita sedekat ini," jawab Kirana polos tanpa dosa.


"Hah?"


________________________________________


Tulis bab ini aku sedikit nangis lho, pas acara sungkeman


Please, Like, Vote, Komentar, Rate and Favorit

__ADS_1


Thank You.


__ADS_2