
Puas berjalan-jalan di destinasi wisata kota Semarang, akhirnya Kirana pulang ke rumah diantar Afwa. Sampai di rumah keduanya disambut hangat oleh Raka namun tidak dengan Dinda, ia terkesan cuek, entah setan apa yang merasukinya, padahal Afwa adalah putra dari sahabatnya sendiri.
"Assalamualaikum, Om, Tante," ucap Afwa sopan sambil mencium tangan kedua paruh baya yang ada di depannya itu.
"Waalaikumsalam, ucap Raka.
"Maaf, Om saya mengantar Kirana kesorean," ucap Afwa tak enak dengan Raka.
"Nggak apa-apa baru juga jam lima."
"Om, Tante, karena ini sudah sore saya harus kembali ke asrama, dan maaf saya tidak bisa mampir, insyaAllah lain kali," pamit Afwa.
"Tidak apa-apa, om mengerti posisi kamu, karena om pun pernah mengalami seperti kamu," ucap Raka yang selalu mengajak bicara Afwa berbeda dengan Dinda yang sedari tadi menutup mulutnya rapat.
"Kalau begitu, saya pamit, Om, Tante, dan Kirana kakak pulang dulu, Assalamualaikum," pamit Afwa.
"Waalaikumsalam."
"Hati-hati, Kak Afwa," ucap Kirana yang membuat Afwa yang sudah berjalan memunggungi Kirana, menoleh ke arah gadis pujaannya sambil tersenyum dan mengangguk.
Sepeninggal Afwa, Kirana langsung masuk ke dalam rumah, ia tak mau ambil pusing sikap ibunya yang cuek pada Afwa, sedangkan Raka menatap kesal sang istri.
"Ibu ini maunya apa sih?, bisa nggak bersikap ramah pada Afwa, dia kan anak sahabat kamu sendiri!" ketus Raka saat menegur Dinda
"Mau aku, Kirana tidak menikah dengan Afwa atau laki-laki manapun yang berprofesi seperti ayah!" ucap Dinda tak kalah ketus.
"Kau benar-benar keterlaluan, kau lebih percaya pada anak temanmu yang baru kenal kemarin sore daripada anak sahabatmu sendiri yang kamu kenal sedari kecil, kurang baik apa Yasmin sama kamu. Kau pikir berapa biaya kamu di ICU selama satu bulan setelah melahirkan Kirana, hah?, bahkan gajiku di sebagai tentara tak akan sanggup membiayai perawatanmu, dan kau tahu siapa yang membantu kita, itu semua Yudha dan dokter Fahmi, aku benar-benar malu punya persit sepertimu, dan kalau sampai terjadi apa-apa pada Kirana karena keegoisanmu maka bersipalah aku kembalikan kamu pada orang tuamu!" hardik Raka kemudian berlalu dari hadapan istrinya.
Mendengar kenyataan yang baru saja ia dengar, Dinda terhenyak, tubuhnya terhuyung ke belakang, Dinda memang sering melihat suaminya marah baik padanya maupun pada anggotanya namun kemarahan suaminya kali ini benar-benar membuat dadanya sesak, ketakutan yang berlebihan membuatnya Dinda kehilangan logikanya, tak semua istri tentara mengalami hal seperti dirinya.
"Kenapa semua jadi begini," batin Dinda sambil menitikkan air matanya.
Di dalam rumah, Raka mengusap wajahnya kasar, seumur hidupnya baru kali ini ia berkata sangat kasar pada istrinya, ia sudah tak tahan lagi melihat kesedihan putri sulungnya. Sepanjang hidupnya Kirana tak pernah menuntut apapun, ia sangat patuh pada kedua orang tuanya kecuali satu hal, Kirana tak mau melepas Afwa hanya demi alasan konyol yang di buat sang ibu. Kirana putri seorang prajurit sedari kecil ia sudah merasakan LDR dengan sang ayah, banyak moment indahnya yang ia lalui tanpa seorang ayah, meski begitu ia tak pernah marah dengan sang ayah, ia sangat mengerti pekerjaan ayahnya, jadi jika suatu saat dia menikah dengan seorang prajurit ia tidak akan kaget karena ia terlahir dan besar di dunia militer.
Raka melihat Kirana sedang mengambil minum di dapur, ia lalu mendekati sang putri dan membelai kepala Kirana penuh sayang.
__ADS_1
"Ayah, bikin kaget saja, ah," ucap Kirana karena tiba-tiba ada yang menyentuh kepalanya.
"Duduk lah, ayah ingin bicara!"
"Ada apa, Yah?"
"Apa kamu benar-benar cinta sama Afwa?"
"Kenapa ayah bertanya seperti itu, apa ayah tidak tahu kesunguhanku menanti kak Afwa lulus pebdidikan?"
"Ayah tahu, ayah hanya ingin mematiskan saja, kalau kamu kalian serius segera bilang Afwa agar segera melamar kamu!" pinta Raka yang membuat Kirana sangat terkejut.
"Lalu ibu bagaimana, Yah, meski aku mencintai kak Afwa tapi aku tak bisa menikah tanpa restu ibu."
"Soal ibumu itu biar menjadi urusan ayah, toh yang akan jadi wali nikahmu adalah ayah."
"Apa ayah sungguh-sungguh dalam hal ini?" tanya Kirana dengan perasaan tak percaya lalu di jawab angukan oleh sang ayah.
"Terima kasih, ayah, terima kasih," ucap Kirana yang langsung memeluk sang ayah, sedangkan Dinda yang diam-diam mendengar pembicdaan Raka dan Kirana merasa kesal karena suaminya mengambil keputusan sephak tanpa meminta pertimbangannya.
"Yah, Kirana takut sama ibu," ucap Kirana setelah melihat sikap ibunya yang dingin dam cuek.
"Sudah tak usah di pikirkan, sekarang lebih baik kamu mandi dan persiapan shalat magrib," ucap Raka.
Kirana lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena seharian jalan-jalan bersama sang kekasih sekalian ia bersiap untuk menuanaikan shalar magrib.
Di kamar, Raka mendapati istrinya sedang merapikan tempat tidur tapi dengan muka yang di lipat tujuh. Perlahan Raka mendekati sang istri yang sudah berubah menjadi singa.
"Kamu masih marah?, sampai kapan kamu akan begini?, mudahkanlah urusan orang lain maka Allah akan mempermudah urusanmu," ucap Raka sambil mendekat pada Dinda.
"Ayah masih tanya aku marah apa tidak, ayah pikir istri mana yang nggak marah di marahi seperti itu, dan tadi apa meminta Afwa melamar Kirana tanpa meminta pendaptku?" tanya Dinda kesal.
"Buat apa meminta pendapat, toh sama saja hasilnya, aku nggak peduli kamu setuju atau tidak dengan hubungan Afwa dan Kirana tapi aku akan tetap membuat menikah meski tanpa restu dari kamu. Aku bisa tahan dengan istri yang tidak peka tapi aku tak bisa tahan dengan seorang ibu yang tidak peka dan egois," ucap Raka lalu masuk ke kamar mandi dan membanting pintu kamar mandi dengan keras membuat Dinda terlpnjak kaget.
.
__ADS_1
.
Di Semarang Afwa dan Kirana berjuang untuk cintanya dan di Bandung Afwi juga tak kalah rempong mengatur strategi bagaimana mendekati Nayla. Papa Nayla ternyata dipindah tugaskan di daerah Subang jadi Afwi punya kesempatan pdkt dengan Nayla. Semesta seolah mendukung perasaannya pada gadis penjual lumpia yang ternyata putri seorang perwira polisi.
"Om Felix, apa anak buah om sudah menemukan tempat di dekat rumah Nayla, eh maksudku rumah Kombes Mahendra yang ada di Subang?" tanya Afwi pada Felix, hecker andalan DW group lewat sambungan telepon.
"Sudah, tuan muda," jawab Felix.
"Ck, nggak usah pakai tuan muda geli saya dengernya, panggil nama saja, Om Felik kan lebih tua dari saya jadi jangan panggil tuan muda!" pinta Afwi.
"Baik Afwi, Agung sudah menemukan tempat yang tepat, tapi sewanya mahal," ucap Felix.
"Astaga, Om Felix, kenapa sewa sih, beli saja rumah itu!"
"Baik nanti Om akan bilang sama ayah kamu."
"Hadew, jangan bilang ayah, bisa berabe, nanti aku kasih nomor temanku untuk membantu proses jual belinya!"
"Baiklah jika itu maumu, Om nurut aja,"
"Lalu bagaimana dengan Nayla apa dia serong ke rumah di Subang?"
"Kadang-kadang, karena nona Nayla masih menyelesaikan kuliahnya di Semarang, tapi tenang saja aku sudah membereskan rumah calon mertuamu agar kau tak galau lagi."
"Baik makasih banyak Om Felix," ucap Afwi kemudian menutup paggilan teleponnya dengan Felik.
Sedangkan di seberang telepon Felix mengumpat kesal pada putra big bosnya itu.
"Untuk anak pak Yudha, kalau nggak ku retas dia juga, heh, benar-benar manusia kulkas menyebalkan, " umpat Felik setelah sambungan telpon dengan Afwi terputus.
___________________________________
Maaf ya kalau dikit yang penting istiqomah up setiap hari ya di bulan Ramadhan ini.
Tetap kasih dukungannya ya Like, Vote, Comemt, Rate and Hadiah
__ADS_1
Thank You