Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 156


__ADS_3

Alarm Afwi berbunyi pukul tiga pagi, seperti biasa ia melakukan shalat tahajud, setelah melaksanakan qiyamul lail, ia memeriksa laptop yang menampilkan semu aktivitas dan pergerakan di rumah Adiguna. Sejauh ini belum nampak pergerakan yang mencurigakan, meski begitu ia dan tim tetap harus waspada.


Tak terasa adzan subuh menjelang, karena semua tim adalah muslim, maka Afwi menjadwalkan semua tim shalat jamaah subuh di dalam rumah dengan Afwi yang menjadi imam. Medina yang terbiasa bangun agak siang terbangun saat mendengar suara seperti orang mengaji, ia pun turun dari peraduan menuju lantai bawah, saat memasuki ruang tengah ia tertegun hatinya berdesir saat mendengar Afwi membaca surat dalam Al-Quran saat mengimami shalat. Ada rasa sesak menyeruak di dalam dadanya, kemana saja dirinya selama ini sampai bisa melupakan siapa yang menciptakannya.


Setelah shalat tak lupa Afwi berdzikir dan membaca shalawat sebentar kemudian berdoa. Ia selalu mengingat dan melaksanakan pesan sang ibu, sebaik-baik penjagaan adalah penjagaan dari Allah, maka dari itu jangan pernah tinggalkan shalat dan berdoa juga shalawat nabi. Ada shalawat yang diajarkan sang bunda yang harus dibaca bada magrib dan bada subuh, apalagi pekerjaan Afwi memiliki resiko yang tinggi terhadap keselamatan nyawa. Maka salah satu cara agar tetap tenang menghadapi semua masalah adalah dengan sabar dan shalat.


Saat semua selesai menunaikan shalat subuh, Kikan melihat Medina berdiri di bawah tangga dengan tatapan sendu membuat Kikan heran, ia lalu mendekati Medina.


"Nona Medina, kenapa anda berdiri di sini?" tanya Kikan, membuat Afwi, Samsul dan Denis menoleh pada Kikan.


"Saya baru bangun tidur terus aku melihat kalian sedang shalat berjamaah, aku jadi terharu melihatnya.


"Nona sudah shalat subuh?" tanya Kikan.


"Belum," jawab Medina sambil menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu nona harus segera shalat sebelum waktu subuh habis, saya akan menyiapkan sarapan untuk nona, pak Adi, juga pak Afwi dan teman-teman," ucap Kikan.


"Iya, mbak Kikan eh mbak Inah, saya akan ke atas dulu," ucap Medina kemudian naik ke lantai dua dimana kamarnya berada.


Kikan yang mendengar panggilan barunya mendelik sebal, tapi ia hanya mengumpat dalam hati pada perwira polisi ganteng yang sudah menyematkan nama kebesaran itu padanya demi tugas negara.


Setelah shalat subuh semua anggota tim termasuk Afwi melakukan tugasnya masing-masing. Selama penyamaran semua anggota memakai alat kecil tersembunyi yang menghubungkan satu sama lain.


Di dalam rumah Kikan sudah selesai memasak, ia memberitahukan Medina dan pak Adi untuk sarapan.


"Pak Adi, nona, sarapan sudah siap!" ucap Kikan.


"Baik, terima kasih mbak Inah, panggilkan yang lain untuk sarapan bersama!" pinta Medina.


"Maaf nona, pak Anan dan yang lain akan sarapan belakangan, mereka sedang mengadakan pengecekan penting," ucap Kikan yang otomatis membuat Medina sedikit kecewa.


"Apa tak bisa di tinggal?" tanya Medina.


"Maaf, tadi setelah subuh pak Anan sudah memberi perintah tersebut," jawab Kikan.


"Sudahlah, Nak, Anan sedang melakukan tugasnya, jangan mengangu semua demi keselamatannmu, ayo segera sarapan, nanti kamu terlambat masuk kuliah!" ucap pak Adi menimpali dengan memberi pengertian pada putrinya.


Mendengar nasehat papanya, Medina akhirnya menurut, setelah menyelesaikan sarapannya ia memanggil Anan alias Afwi untuk mengantarnya ke kampus.


"Mas Anan!" panggil Medina pada Anan yang sedang berbicara dengan Samsul alias Samino memberi arahan tentang pengamanan rumah pak Adi.


"Ya, Nona."


Afwi mendekat pada Medina yang berdiri d teras rumah dengan pakaian yang sudah siap pergi ke kampus.


"Saya mau berangkat ke kampus sekarang, mas Anan bisa antar saya kan?"

__ADS_1


"Baik saya siapkan mobil dulu," ucap Anan menuju garasi mobil, setelah mobil keluar garasi, Anan membukakan pintu mobil di bagian penumpang, namun Medina malah membuka pintu sebelah kemudi, tentu saja hal itu membuat Anan terkejut.


"Nona kenapa duduk di depan?" tanya Anan dengan perasaan sedikit kesal namun berusaha ia tahan. Anan adalah laki-laki cerdas ia bukannya tak tahu modus Medina, tapi demi tugas negara ia berusaha mengendalikan dirinya, seandainya ia tidak sedang dalam sebuah misi pengamanan, ia sudah mengirim Medina ke samudra hindia.


"Aku merasa lebih aman jika duduk di dekat mas Anan," jawab Medina beralasan.


Anan langsung masuk ke mobil begitu mendengar jawaban Medina, ia lebih memilih mengalah dari pada harus berdebat. Anan kemudian melajukan mobil meninggalkan kediaman Adiguna, namun baru beberapa meter mobil yang di kendarai Anan keluar rumah, Anan melihat ada sebuah mobil yang sepertinya mengikutinya. Anan berusaha tenang, ia tak mengatakan kecurigaannya pada Medina. Anan akan memastikan bahwa mobil tersebut mengikutinya, jika benar mobil yang ia curigai mengikutinya maka ia akan segera mengubungi timnya.


Mobil Anan sudah masuk di jalan yang cukup ramai, namun mobil yang dicurigainya masih berada terlihat dibelakangnya, setelah yakin mobil tersebut mengikutinya, Anan langsung berkoordinasi dengan timnya melalui alat yang sudah terpasang di tubuhnya.


"Lion dua, segera lacak mobil dengan nomor polisi xxxx, posisi lion satu berada di jalan zzz!" perintah Afwi pada tim.


Medina yang mendengar perkataan Anan merasa heran namun sekaligus kagum, Afwi alias Anan sangat keren saat sedang bertugas, pantas saja teman-temannya banyak mengincar posisi menjadi ibu Bhayangkari, selain bisa mendapat kehidupan terjamin karena suami bisa mendapt pensiun namun juga punya suami polisi bisa di katakan keren. Di tambah pola pikir sebagian masyarakat ada yang masih sangat banga jika anak atau menantunya bekerja sebagai abdi negara sekelas, tentara, polisi atau pengawai negeri sipil atau PNS baik dari guru PNS maupun pegawai pemerintahan.


"Mas, apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Medina penasaran.


"Iya, ada mobil yang kelihatannya mengikuti kita sejak keluar dari rumah," jawab Anan tenang tanpa terlihat panik.


"Oh my God, yang benar, Mas, lalu kita harus bagaimana?" tanya Medina yang berubah panik, kilasan percobaan penculikan terhadap dirinya beberapa bulan yang lalu kembali muncul dalam ingatannya.


"Nona tenanglah, jangan terlihat panik, bersikap tenang dan biasa saja seolah-olah nona tidak mengetahui keberadaan mereka!" jawab Anan dengan sebuah perintah.


Mendengar instruksi dari Anan, Medina berusaha menenangkan hatinya, dia tak boleh jadi cengeng dan penakut, ia tak mau polisi ganteng yang duduk di sebelahnya itu tambah ilfil padanya. Tak lama kemudian mereka sudah sampai di halaman kampus, Anan pun ikut turun karena ingin tahu dimana letak kelas Medina.


"Saya akan antar nona sampai kelas, karena saya juga harus tahu dimana kelas nona dan seluk beluk progdi anda," ucap Afwi sebelum keluar dari mobil dan tentu saja itu membuat Medina makin berbunga.


Mereka berdua akhirnya berjalan beriringan berjalan menuju kelas Medina, sepanjang jalan menuju kelas, hampir semua mata mahasiswi menatap heran dengan kehadiran mahkluk ganteng yang entah turun dari planet mana, bahkan banyak tatapan kagum dari para mahasiswi dan hal itu membuat Medina kesal.


"Dasar cewek-cewek genit, seperti nggak pernah lihat cowok ganteng aja, apalagi kan ada aku disebelah mas Anan, masih aja lihat mas Anan dengan tatapan lapar seperti itu," umpat Medin dalam hati, padahal Anan tak punya hubungan spesial dengannya.


Andai Anan tahu isi Medina sekarang maka ia akan berteriak kamu bukan siapa-siapaku jadi jangan bersikap seolah-olah aku adalah pacar atau suamimu.


Medina masuk ke dalam kelasnya, di dalam kelas ia sudah di sambut dengan berondongan pertanyaan dari para bestienya.


"Dina siapa tuh cakepnya kebangetan?" tanya Reni bestie yang paling kepo.


"Oh dia anaknya teman papa aku, baru dari luar kota," jawab Medina asal karena dia bingung harus menjawab apa.


"Ih, teman apa teman, jangan-jangan teman tapi mesra," ledek Vera


"Doakan ya bestie bisa ke jenjang yang serius," ucap Medina dengan wajah merona.


"Wuih jadi bener nih, punya hubungan special?" ucap Vera.


"Nggak gitu juga, aku dan dia hanya teman, tapi aku berharap bisa lebih dekat dengannya," jawab Medina.


Tak lama dosen datang sehingga para mahasiswa yang sedang mengobrol segera membubarkan diri menempati kursi mereka masing-masing, termasuk Medina dan dua sohibnya.

__ADS_1


Pukul sebelas siang Medina baru selesai dengan kuliahnya, ia bergegas mendekati Anan yang sedang berjaga di teras depan kelasnya.


"Mas Anan!"


Anan pun menoleh ke sumber suara yang memanggil namanya, seketika muka Anan berubah datar. Ya, karena waktu di panggil Medinna, Anan sedang membalas chat dari Nayla sang kekasih, hampir seminggu lebih Anan jarang sekali berkomunikasi dengan Nayla, apalagi setelah ia diberi tugas pengamanan saksi kunci suatu kasus pembunuhan.


"Sudah selesai kuliahnya?" tanya Anan datar.


"Sudah, ayo mas kita makan dulu, tadi pagi mas belum sarapan kan, aku nggak mau mas sakit," ucap Medina yang berusaha menunjukkan kekhawatirannya pada Anan, namun sayang hal itu tak membuat Anan terkesan.


"Terima kasih perhatiannya, tapi nona tak perlu mengkhawatirkan saya, hanya menahan lapar saya sudah biasa," ucap Anan.


"Maaf, aku hanya ingin mas Anan tak lupa makan karena menjagaku."


"Baiklah kita cari makan, tapi di area kampus saja, setelah itu kita pulang," putus Anan tak ingin berdebat dengan sang nona.


"Terserah mas, aku ngikut aja," ucap Medina kemudian ia menunjukkan pada Anan di mana kantin kampusnya berada.


Anan dan Medina sampai di kantin, Anan langsung memesan menu yaitu nasi pecel dengan telur dadar sedangkan Medina hanya memesan membeli minuman air mineral.


"Kamu tak makan?" tanya Anan.


"Maaf mas, aku tak terbiasa makan di kantin kampus," jawab Medina sambil menunduk.


"Kenapa?"


"Ya nggak terbiasa saja,"


"Apa karena tempatnya seperti ini?, ini kategori kantin keren, menunya juga enak dan komplit, aku rasa masakannya juga higeinis," ucap Afwi memberi penilaian.


"Memangnya nona biasanya makan di mana?"


"Biasanya kalau di luar aku makan di Lavender resto, atau Diamond cafe," jawab Medina yang membuat Anan tersedak.


Uhuk uhuk


"Minum dulu, Mas!" ucap Medina sambil mendekatkan gelas Anan.


Anan segera meraih gelas tersebut dan meminumnya, setelah minum, Anan melanjutkan makannya sambil menahan kesal karena jawaban Medina, karena ia tahu berapa harga satu porsi makanan di dua tempat makan yang disebutkan oleh Medina.


"Dasar, sok cantik aje, suruh makan di kantin sebagus ini malah kelihatannya jijik, ingin rasanya aku titipkan dia sama om Raka biar di ajak masuk hutan hujan tropis biar tahu rasanya bagaimana bertahan hidup dengan alam dan bersahabat baik dengan anacoda di sana," umpat Anan dalam hati.


_________________________________________


Hutan hujan tropis adalah surga dunianya flora dan fauna, karena memiliki sumber mata air yang tak akan kering di musim kemarau, juga sumber makanan yang melimpah dan negara kita memiliki hutan hujan tropis terbesar ke 2 setelah Kanada, makanya hewan disana gak akan kekurangan makanan, termasuk anacoda yang menjadi dijadikan Afwi teman Media, hii...hii..


Please, Like, Vote, Komentar, rate star 5 and hadiah.

__ADS_1


Thank You


__ADS_2