Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 48


__ADS_3

Sesuai apa yang di katakan Fahmi di telpon, Fahmi mengunjungi rumah Aryana. Pukul setengah delapan malam mobil sport Fahmi sudah terpakir di halaman rumah Aryana.


"Assalamualaikum," ucap Fahmi


"Waalaikumsalam," jawab sebuah suara dari dalam rumah.


Ceklek


"Malam bik, Aryana ada?" tanya Fahmi pada bi Imah.


"Ada, Den, mari silahkan masuk!" pinta bik Imah


Belum lagi Fahmi duduk sebuah suara mengejutkan mereka.


"Siapa tamunya bik?" tanya Yudha yang sedang berjalan menuju ruang tamu.


"Den Fahmi, Pak, cari non Aryana" jawab bik Imah.


"Ya sudah bik Imah tolong panggil Aryana dan sekalian buatkan minum buat tamu!" pinta Yudha.


Melihat ternyata tadi suara Yudha, Fahmi memaksakan diri untuk tersenyum, hatinya masih kesal dengan perkataan Aryana tadi siang bahwa Yudha akan mengenalkan salah satu anak buahnya di kesatuan dengan Aryana.


"Oh ternyata calon mantuku yang datang," canda Yudha


"Iya, Pak Yudha calon mantu anda, boleh saya bertemu Aryana?" tanya Fahmi.


"Tentu saja boleh, duduklah biar lebih santai, sepertinya kau banyak pikiran," ucap Yudha sambil mempersilahkan Fahmi untuk duduk.


"Tentu saja aku banyak pikiran, kau seenaknya saja mau mencari menantu cadangan untuk gadisku," gerutu Fahmi dalam hati.


Tak lama kemudian bik Imah datang menyuguhkan minuman dan makanan ringan berbarengan dengan Aryana.


"Malam Om apa kabar?" sapa Aryana.


"Kabar baik, Sayang," jawab Fahmi dengan senyum termanisnya membuat Yudha memutar bola matanya jengah.


"Nggak usah lebay, ingat umur!" seloroh Yudha.


"Ayah, apaan sih, ingat umur, ayah sendiri masih sering panggil bunda Sayang, dan melakukan hal yang menodai mataku," ucap Aryana membuat Yudha akhirnya diam, tak lama muncul Yasmin dari ruang tengah.


"Eh, ada mas Fahmi," ucap Yasmin yang kemudian langsung duduk di sebelah suaminya.


"Apa perusahaan dan rumah sakitmu sangat sibuk akhir-akhir ini?" tanya Yudha sambil menyesap teh buatan bik Imah.


"Ya begitulah, aku sangat sibuk untuk pembangunan proyek hotel di daerah ini, banyak yang harus di revisi ulang," jawab Fahmi.


"Iya, sampai satu bulan Om nggak kesini," ucap Aryana sambil cemberut.

__ADS_1


"Maafkan Om, Sayang, karena terlalu fokus pada kerjaan, Om jadi tidak sempat mengunjungimu," ucap Fahmi dengan raut wajah menyesal.


"Fahmi, aku tak melarangmu bekerja keras karena kamu anak tunggal yang akan bertanggung jawab atas semua milik orang tuamu nantinya, tapi belajarlah membagi waktu, apalagi Aryana masih terlalu muda untuk memahami semua itu, kadang dia kekanak-kanakan namun ia pandai menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya, aku harap kamu mengerti apa yang aku maksudkan," ucap Yudha.


Mendengar penuturan Yudha, Fahmi semakin merasa bersalah atas sikapnya akhir-akhir ini pada Aryana namun Fahmi melakukan itu bukan tanpa alasan. Fahmi ingin segera merampungkan proyek hotelnya di Bandung sebelum hari kelulusan Aryana nanti karena hotel yang ia sedang bangun sekarang rencananya akan ia jadikan salah satu mahar pernikahannya dengan Aryana nantinya tapi ia masih merahasiakan hal ini dari siapapun termasuk orang tuanya sendiri.


"Maaf, Yud, atas kesibukanku akhir-akhir ini, besok-besok akan aku usahakan sering mengunjungi calon istriku ini," ucap Fahmi.


"Aku pegang omonganmu sebagai laki-laki," ucap Yudha tegas.


"Kenapa suasananya jadi tegang sih?" tanya Yasmin mencairkan suasana.


"Iya, nih ayah, lebay deh, akunya aja nggak apa-apa," seloroh Aryana memprotes ucapan sang ayah yang sepertinya memojokkan Omnya.


"Ayah nggak lebay, Na, ayah hanya tidak ingin kamu sedih, kamu putri ayah satu-satunya, ayah harus pastikan kamu bahagia dengan orang yang akan mengantikan ayah bertanggung jawab kepadamu, agar kelak jika Allah lebih dulu memanggil Ayah untuk pulang, ayah akan pergi dengan tenang karena putri ayah satu-satunya sudah berada pada orang yang tepat," ucap Yudha serius namun santai, hati dan jiwanya sebagai seorang militer membuatnya bisa mengatur emosi dan suasana hatinya.


Mendengar perkataan ayahnya, hati Aryana merasa sesak, matanya berkaca-kaca, betapa sang ayah sangat menyayangi dirinya dan mengkhawatirkan kebahagiaannya. Aryana langsung berdiri dan memeluk ayahnya. Yudha hanya mengusap usap punggung Aryana berusaha memberikan ketenangan padanya. Yasmin yang duduk di samping Yudha juga ikut membelai kepala putrinya, matanya pun berkaca-kaca mendengar penuturan sang suami.


"Sudah jangan cengeng, kamu adalah anak seorang tentara jadi harus kuat dan tegar apalagi sebentar lagi kamu akan menjadi seorang istri," ucap Yudha sambil melepaskan pelukan putrinya.


"Iya, Nak, kamu harus belajar berfikir dewasa, kamu sudah memilih menikah dengan Om Fahmi di usia muda jadi kamu juga harus berani menanggung segala konsekwensinya, menyatukan dua perbedaan itu bukan hal yang mudah tetapi jika kita berusaha saling mengerti, saling memahami dan saling percaya juga sabar maka perbedaan itu akan terasa indah," tutur Yasmin sambil membelai kepala Aryana yang duduk diantara dirinya dan Yudha.


Melihat pemandangan di depannya ini, hati Fahmi menghangat namun, ia merasa memikul.tanggung jawab seorang Aryana rasanya akan lebih berat daripada memikul tanggung jawab memimpin Pratama group.


"Aku berjanji akan sabar membimbing Aryana, karena aku pun juga paham tentang konsekwensinya, jangan khawatir, kumohon percayalah padaku, putri kesayangan kalian akan baik-baik saja," ucap Fahmi setelah melihat drama keluarga di depannya barusan.


"Mas Fahmi, saya tinggal dulu sebentar mau lihat Azka belajar, kalau nggak dikontrol anak itu nggak belajar malah main game!" ucap Yasmin pada Fahmi.


Yudha dan Yasmin memang sengaja meninggalkan Fahmi dan Aryana berdua, karena mereka tau pasti akan ada banyak yang ingin di bicarakan Fahmi dan Aryana. Namun Yudha tak begitu saja meninggalkan Fahmi dan Aryana bicara berdua, Yudha memantau pergerakan dua sejoli yang lagi kasmaran itu lewat CCTV yang terhubung dengan komputer di ruang kerjanya.


"Sayang, apa benar yang kau katakan di telpon kalau ayahmu akan mengenalkan mu pada salah satu anak buahnya di kesatuan?" tanya Fahmi serius.


Mendengar pertanyaan Om nya Aryana malah tertawa cekikikan, melihat reaksi Aryana Fahmi baru sadar kalau apa yang dikatakan Aryana hanya bohongan.


"Kamu berani ya bohongin Om!" ucap Fahmi sedikit kesal.


"Habis Om ngeselin, masa sebulan lebih nggak kesini, cuma telpon atau vc aja," ucap Aryana.


"Maafkan Om, Sayang, Om benar-benar sibuk dan harus bolak balik Bandung Jakarta, karena perusahaan Om yang di sana juga terjadi beberapa masalah dan Om sendiri yang harus menyelesaikannya," ucap Fahmi.


"Ya sudah nggak apa-apa, kali ini aku kasih toleransi," ucap Aryana.


"Makasih ya Sayang. Yang besok kalau hasil revisi sistem Amdal sudah selesai, kita periksa sama-sama ya biar cepat selesai pembagunan hotelku!" pinta Fahmi.


"Baiklah, tapi setelah perancangan sistem Amdalnya selesai harus diuji cobakan dulu Om, setelah tidak ada masalah lagi terutama dari masyarakat sekitar baru sistem Amdal tersebut diterapkan di hotel yang Om bangun itu," ucap Aryana.


Fahmi lalu menggeser duduknya agar bersebelahan dengan Aryana, Fahmi memegang tangan Aryana dan mengecupnya penuh cinta.

__ADS_1


"Sayang, bagaimana kalau kamu rubah panggilan kamu ke aku!" pinta Fahmi.


"Maksudnya?"


"Jangan panggil Om, panggil abang, mas, honey gitu," jawab Fahmi.


"Tapi aku lebih suka dengan panggilan Om," ucap Aryana.


"Yang lain dong sayang, jangan Om!" pinta Fahmi lagi!" pinta Fahmi sambil masih memegang tangan Aryana.


"Oke, oke, aku panggil honey saja," ucap Aryana pasrah karena sedari tadi Om kece yang berstatus suaminya merengek seperti balita minta susu.


"Makasih, Sayang seterusnya panggil aku honey ya," ucap Fahmi tersenyum puas permintaannya dikabulkan oleh pujaan hatinya.


Sedangkan Yudha yang memantau pergerakan Fahmi dan Aryana dari layar komputernya yang terhubung dengan CCTV hanya menghembuskan nafas kasar dan mengumpat di dalam ruang kerjanya.


"Dasar dokter pedofil, nggak ingat umur apa, minta di panggil honey, rasanya aku pingin muntah mendengar putriku memanggilnya begitu," umpat Yudha sambil menahan kesal di wajahnya.


Tok tok


Sebuah ketukan pintu membuat ia menghentikan umpatnya pada dokter Fahmi.


"Siapa?"


"Bunda, Yah."


"Masuk saja, Bund!"


"Ayah sedang apa, katanya tadi terima telpon?"


"Terima telponnya sudah dari tadi selesai."


"lha sekarang ayah ngapain di depan komputer, lembur?"


"Nggak, cuma mengawasi pergerakan calon mantu kita."


"What!, ayah memantau cctv yang ada di ruang tamu?"


Yudha hanya mengangguk menjawab pertanyaan istrinya, Yasmin yang kepo juga akhirnya melihat layar komputer sang suami. Di layar Yasmin hanya melihat Fahmi dan Aryana mengobrol dan sesekali Fahmi memegang tangan Aryana tapi kenapa sang suami terlihat kesal.


___________________________________________


Segini dulu ya maaf lagi baru bisa up soalnya bocil-bocilku pada rewel seperi Om Fahmi


Please, Like, Vote, Coment, Rate and Favorit


Thank You

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2