Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode.188. Villa


__ADS_3

Senin sore Afwi dan Nayla sudah berada di Bandung, sesuai rencana setelah sampai di bandara mereka di jemput supir yang sudah ditugaskan oleh Revanda, dan sekarang sepasang pengantin baru itu sudah berada di villa milik dokter Fahmi. Memang yang gratis itu selalu enak. Sebenarnya opa Dimas juga memiliki villa di Bandung tapi letak villa opa Dimas jauh dari destinasi wisata yang akan dituju oleh Afwi dan Nayla.


"Masyaallah, bagus banget ya mas villanya, pantes Aryana mau nikah muda sama dokter Fahmi," komentar Nayla saat sudah sampai di halaman villa.


"Nggak gitu juga konsep pemikiran adikku, Aryana bukanlah cewek matre, ia nikah muda karena dokter pedofil itu yang kebelet nikah, baginya Aryana seperti NKRI," ucap Afwi tak terima seolah Nayla mengira kalau Aryana mau menikah muda dengan Fahmi karena harta.


"Maksud aku nggak begitu, Bang, tapi apa tadi cinta dokter Fahmi sama Aryana seperti NKRI maksudnya?"


"Aduh, Dek masa istri polisi gitu aja nggak tau, NKRI itu artinya cintanya harga mati, nggak bisa ditawar berapapun dan dengan apapun."


"Iih, Abang suka aneh deh masa istilah pakai begitu."


"Lha memang begitu, kamu kan pernah tinggal di rumah dokter Fahmi yang ada di Singapura, pasti tahu dong bucinnya si Fahmi seperti apa sama Aryana, bisa bikin yang lihat dan para readers sakit mata, iya kan?"


"Iya juga sih, mesra banget mereka aku jadi iri."


"Nggak usah iri, aku juga bisa bucin seperti dokter Fahmi, ayo masuk sampai kapan mau mengagumi villa ini!" ajak Afwi pada Nayla untuk segera masuk ke dalam villa.


Waktu memasuki bagian dalam villa, Nayla makin dibuat kagum, desain interiornya perpaduan beberapa daerah di Indonesia dan juga mancanegara. Kombes Mahendra adalah polisi yang tak pernah aneh-aneh, jadi bisa dipastikan kehidupan Nayla biasa saja, kalaupun rumah Nayla besar itu karena almarhum mamanya anak seorang pengusaha meski tak sekaya keluarga Dewantara. Sejak SMA, Nayla lebih banyak menghabiskan waktunya di panti asuhan yang pastinya jauh dari kata mewah.


"Kau suka?" tanya Afwi


"Suka, tapi sayang bukan punya kita."


"Doakan ya suatu saat kita juga bisa beli villa seperti ini, abang cuma polisi biasa kalau tiba-tiba punya villa seperti ini bisa terciduk dikira abang polisi nggak benar."


"Iya, Bang, lagipula aku nggak terlalu pingin, kita hidup semampunya aja, Bang, mahar dari abang sudah cukup banyak buatku, aku nggak nyangka abang kepikiran kasih aku ruko."


"Aku tahu hobby kamu, aku pingin kamu juga bisa mandiri, pekerjaan yang diawali dari hobby pasti akan lebih mengasyikan."


"Makasih ya, Abang jadi makin cinta deh," ucap Nayla lalu memeluk sang suami.


Afwi membalas pelukan sang istri dengan hangat, ia merasa sangat bahagia pemberiannya sangat dihargai dan dibutuhkan sang istri.


"Anything for you my wife," ucap Afwi kemudian mendaratkan ciuman mesra di bibir sang istri, Nayla juga membalasnya dengan penuh cinta.


Sampai akhirnya Afwi melepaskan bibirnya dari bibir Nayla setelah sang istri terlihat kehabisan nafas.


"Maaf, Sayang, habisnya kalau dekat kamu aku jadi nggak tahan, ayo kita bereskan barang kita lalu kita keluar makan tapi shalat dulu ya!" ajak Afwi kemudian mereka membereskan barang-barang mereka, membersihkan diri, shalat jamaah bersama kemudian mereka keluar villa untuk jalan-jalan sambil mencari makan.


"Kita mau cari makan dimana, Bang?" tanya Nayla.


"Ke kedai xx, kata Revanda disitu makanannya enak," jawab Afwi sambil fokus menatap ke depan karena saat ini mereka sedang berponcengan menggunakan motor.


Afwi memang memilih menggunakan motor agar lebih romantis, Afwi dari dulu memang lebih suka naik motor daripada naik mobil, padahal beberapa mobil mewah terparkir di garasi rumahnya. Setelah sekitar dua puluh menit mereka sampai di kedai xx.


"Ini Bang tempatnya?"


"Iya, ayo masuk abang sudah lapar!"


Afwi dan Nayla kemudian memilih tempat duduk lalu memesan makanan yang menjadi menu favorit di kedai tersebut. Tak lama pesanan merekapun datang, Nayla hampir meneteskan air liurnya melihat hidangan di depannya dengan menu ayam goreng dan lalapan yang menggugah selera.


"Jangan di liatin sampai ngiler gitu, Dek, ayo dimakan!" ajak Afwi yang melihat sang istri justru menatap kagum pada menu makanan di hadapan mereka.

__ADS_1


"Eh iya, Abang, ngeliatnya aja sudah ngiler, apalagi rasanya."


Nayla segera mengambil nasi dan ayam tersebut lengkap dengan lalapannya, namun sebelum makan tak lupa mereka berdoa terlebih dahulu. Satu suap nasi dan ayam sudah mampir di mulut Nayla, dari eskpresi wajahnya rasa ayamnya sesuai ekspektasinya.


"Ayam ini enak banget, Bang, sumpah," puji Nayla sampai pakai kata sumpah sungguh lebay.


"Alhamdulillah kalau kamu suka, abang senang."


"Padahal kedainya hanya biasa aja ya, Abang, tapi rasanya sekelas restoran mahal, Revanda sepertinya suka blusukan sampai tau tempat makan seenak ini dan harganya nggak mahal."


"Revanda suka touring naik moge juga kalau lagi suntuk dengan kerjaan, mungkin karena itu dia tahu makanan enak di beberapa tempat."


Nayla hanya mangut-mangut mendengar penjelasan suaminya sambil meneruskan makannya.


"Alhamdulillah kenyang juga, Bang, jarang lho Nay makan banyak begini."


"Mau dibungkus nggak buat di villa, jaga-jaga kalau nanti kamu lapar, kan nanti malam kita akan kerja keras."


"Ih, Abang nih mesum aja pikirannya, tapi nggak apa-apa sih pesen buat di villa tapi nasinya gimana kalau nggak hangat nggak enak."


"Ada magic com di villa, ada oven juga, semua peralatan masak komplit, adik iparku itu nggak kaleng-kaleng soal perlengkapan villa."


Fahmi memang melengkapi villanya dengan semua fasilitas termasuk kamar kesehatan lengkap seperti fasilitas kamar rawat inap.


"Iya ya, Bang, gila ya dokter Fahmi buat villa lengkap gitu."


"Namanya juga anak sultan, Dek."


"Tapi bedalah, dokter Fahmi anak tunggal, sedangkan aku empat bersaudara, ayah dan bunda meski harta melimpah selalu mendidik sederhana, kalau mau kaya harus usaha sendiri agar bisa lebih menghargai uang. Dokter Fahmi itu cerdas plus tajir di sandingkan dengan adikku yang juga cerdas meski ia punya kelainan jantung dari lahir, lihat saja bisnis mereka maju pesat sekarang ini."


"Ya, Alhamdulillah adik abang jatuh ke orang yang tepat, seorang wanita akan menjadi ratu di tangan pria yang tepat, yang hanya meratukan dirinya lahir dan batin."


"Abang juga akan meratukan dirimu lahir dan batin."


"Sungguhkah?"


"Sungguh, kau tak percaya?"


"Aku butuh bukti abang bukan hanya sekedar kata-kata atau pencitraan."


"Insyaallah, selalu dukung dan doakan abang ya, Dek, karena doa istri sholehah lah yang bisa membuat rezeki suaminya lapang dan barokah!"


"Iya, Bang, nggak usah abang minta, Nay selalu doakan abang, tapi nanti kalau sudah sukses abang jangan seperti polisi sebelah, meniti karir sama siapa, menikmatinya sama siapa!"


"Hadeww, mulai nggak jelas nih, adek jangan kebanyakan lihat berita medsos yang seperti itu, nanti malah parno sendiri, husnudzon, Dek, karena "Allah itu sesuai prasangka hamba-Nya, jadi positif thinking, oke?" ucap Afwi menasehati sang istri yang selalu saja khawatir atas kesetiaannya.


Dalam hati Afwi mengumpat rekan-rekan seprofesinya yang menggunakan seragamnya untuk tepe-tepe pada para cewek-cewek, kalau posisi masih singel masih bisa ditolelir asal yang jadi target bukan istri atau kekasih orang, tapi kalau sudah nikah masih tepe-tepe apa lagi jajan diluar wah bisa tambah turun kredibilitas institusinya.


"Ayo, Sayang kita pulang sudah mau magrib, mendung lagi!"


"Iya, Bang, bentar ya, Nay, ambil pesanan dulu."


Setelah membayar makanannya, Afwi dan Nayla segera meninggalkan kedai, namun mata Afwi menemukan sosok laki-laki yang sangat ia kenal sedang bermesraan dengan seorang wanita di parkiran kedai dan Afwi meyakini bahwa perempuan itu bukanlah istri sah dari laki-laki itu.

__ADS_1


"Bang!, lihat apaan sih?"


"Nggak kok, Yang itu aku tadi seperti lihat temanku tapi aku nggak yakin."


"Laki-laki apa perempuan!" tanya Nayla sewot


"Nah kan cembokur lagi, hadew," batin Afwi.


"Laki-laki, Yang, jangan curigaan ah, ayo pulang, sepertinya otak kamu perlu segera istirahat!" ajak Afwi sambil merangkul pundak sang istri berjalan menuju parkiran.


Afwi dan Nayla sampai kemabali di villa bersamaan dengan adzan magrib berkumandang, karena tadi mereka sudah mandi Afwi mengajak Nayla langsung shalat magrib berjamaah. Setelah shalat mereka bersantai di ruang tengah sambil menonton TV. Memang honeymoon mereka sederhana padahal Afwi anak sultan, tapi karena masih banyak rangkaian acara yang padat maka bulan madu ke luar negeri di tunda sampai nanti ada waktu yang lebih longgar.


"Dek, kamu nggak apa-apa kan bulan madunya cuma di Bandung saja nggak ke luar negeri?" tanya Afwi sambil memainkan anak rambut Nayla.


"Ya nggak apa-apa, Bang, bulan madu di mana aja aku senang asal sama abang, di luar sana banyak pengantin baru yang nggak pakai bulan madu karena nggak ada dana untuk itu, bisa nikah dan bisa mengundang keluarga dan sahabat saja mereka sudah sangat bahagia, termasuk yang nulis juga nggak pakai acara bulan madu, kasihan lho, Bang."


"Alhamdulillah kamu pengertian banget sih, Sayang, abang jadi makin cinta," ucap Afwi lalu mencium pipi Nayla dengan gemas.


Nayla yang diperlakukan begitu oleh suaminya hanya tertawa sambil ganti mencubit pipi suaminya.


"Abang ih pintar gombal juga, ya, ha..ha..."


"Nggak gombal, sayang, itu beneran, lagian gombalin istri dan istri senang bisa dapat pahala lho."


"Memang kenapa abang tanya Nay begitu?"


"Abang hanya nggak mau kamu berfikiran abang pelit nggak mau ngajak kamu bulan madu ke luar negeri padahal keluarga abang kaya."


"Abang kok punya pemikiran gitu sih? yang kaya kan orang tua dan opa, aku nggak ingin terlena bang, aku ini istri polisi bukan istri anak pengusaha, jadi aku ingin hidup dengan kemampuan abang sendiri, berusaha hidup di bawah kaki kita sendiri karena kita tak akan ada yang tahu nasib kita esok."


"Masyaallah sholehahnya istriku belajar dari mana sih?"


"Dari kehidupan selama tinggal di panti sama bunda Nana dan adik-adik di sana."


Mendengar perkataan istrinya, Afwi langsung memeluk erat sang istri, dalam hati ia sangat bersyukur memiliki istri yang sangat pengertian.


"Terima kasih ya Allah, Engkau beri hamba istri seperti Nayla, ingatkan selalu hamba agar selalu membagiakannya, dan jagalah Nayla jika ia jauh dari penjagaanku," doa Afwi dalam hati dengan mata terpejam dengan posisi masih memeluk sang istri tercinta.


_________________________________________


Berusaha up untuk hari ini untuk merayakan Teacher's Day


...SELAMAT HARI GURU NASIONAL...


...💐🌷🌹🌺 KE 77 💐🌷🌹🌺...


Semoga guru-guru kita selalu di beri kesehatan dan rezeki berlimpah yang barokah dan buat semua reader yang menjadi seorang guru, author ucapkan Happy Teacher's Day.



Please Like, Vote, Komentar, Rate and Hadiah


Thank You

__ADS_1


__ADS_2