Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 32


__ADS_3

"Om kok malah nangis sih?" tanya Aryana heran.


"Kamu santai banget ngomongnya tapi nggak tahu perasaan Om seperti apa, Om sakit banget dengar kamu ngomong gitu Yaang," jawab Fahmi setelah mengurai pelukannya.


"Maaf, bukannya aku mau buat Om nangis dan sakit, aku hanya ingin jujur pada diriku sendiri dan Om, biar Om bisa ngambil keputusan yang tepat jika takdir kita tak sesuatu dengan apa yang kita harapkan," ucap Aryana sambil mengusap sisa tetesan air mata di wajah Om kece kesayangannya.


"Kamu, benar-benar sangat dewasa dari umur kamu yang sebenarnya, kamu memang tak hanya pintar di ilmu pengetahuan, penguasaan emosional mu cukup bagus, Om jadi makin cinta sama kamu," ucap Fahmi sambil membelai kepala Aryana.


"Habis dari sini kita kemana Om?" tanya Aryana


"Kita akan mengunjungi salah satu perusahaan Om yang disini, kamu nggak keberatan kan?" jawab Fahmi.


"Nggak, aku justru senang bisa mengunjungi perusahaan, kadang ayah juga ngajak kita ke hotel milik Opa, ayah cuma memeriksa laporan perusahaan juga ngecek sistem keamanan di sana, kata ayah rawan dibobol hacker kalau sistemnya nggak kuat, juga sistem keamanan di hotel," ucap Aryana.


"Ya, Sayang itulah dunia bisnis, kadang lebih kejam daripada musuh di medan tempur, makanya meskipun perusahaan dijalankan oleh orang lain, sang pemilik juga harus mengeceknya. Untungnya orang kepercayaan opa dan ayah kamu cukup handal dan setia," ucap Fahmi.


"Om tahu orang-orang kepercayaan opa dan ayah?" tanya Aryana.


"Apa kamu lupa Om siapa hemm?" tanya Fahmi sambil mengacak rambut Aryana gemas.


"Iya percaya deh," ucap Aryana.


"Ya sudah, yuk berangkat sekarang biar nanti kamu pulangnya nggak kesorean!" ajak Fahmi.


Fahmi dan Aryana meninggalkan restoran dan menuju ke cabang perusahaan yang ada di kota tersebut. Tak lama mereka sampai di perusahaan milik keluarga Fahmi. Saat Fahmi masuk ke perusahaan dengan mengandeng tangan Aryana semua mata semua tertuju pada mereka. Pemandangan langka melihat sang direktur yang jarang ke perusahaan begitu datang membawa gadis yang sangat belia dan tatapan para karyawan membuat Aryana menjadi risih.


"Om, semua karyawan Om lihat kita, aku jadi nggak enak Om," ucap Aryana.


"Biarkan saja itu hak mereka," ucap Fahmi cuek dan terus membawa Aryana ke lantai delapan dengan menaiki lift khusus petinggi.


Sampai di lantai delapan Fahmi sudah disambut oleh Evan orang kepercayaan Fahmi yang memegang perusahaan cabang.


"Selamat siang pak, bagaimana kabar anda?" tanya Evan.


"Baik, aku mau ke ruangan ku, dan siapkan laporan perusahaan aku akan mengeceknya dan satu lagi jangan ada yang masuk ke ruangan ku tanpa seijin ku!" perintah Fahmi lalu menuju ruangannya sambil mengandeng tangan Aryana.


Evan sungguh heran, sudah bertahun-tahun menjadi orang kepercayaan keluarga Pratama namun baru kali ini ia melihat tuan mudanya ke perusahaan membawa seorang gadis yang masih belia. Memang sang putra mahkota keluarga Pratama sangat tertutup dengan kehidupan pribadinya apalagi urusan percintaan. Evan hanya pernah mendengar Alan asisten Fahmi di Singapura bahwa Fahmi sedang dekat dengan putri dari keluarga Dewantara group namun seperti apa wajah putri Dewantara group yang sudah berhasil merebut hati sang putra mahkota masih menjadi misteri.


Evan masih terbengong melihat sang Direktur membawa seorang gadis belia ke ruangannya.


"Apa itu ya putri dari Dewantara group?, tapi kelihatan masih muda banget kaya anak SMA, kalau benar dia putri Dewantara group yang di maksud Alan, wah bos bener-bener deh, pantes semua wanita yang disodorkan tuan besar buat dijodohin sama bos, nggak ada yang nyantol, ternyata saingan para wanita itu adalah alamakk," batin Evan.


Sampai di ruangan Fahmi, Aryana tak terlalu kaget dengan ruangan kerja Fahmi sangat mewah, sebelas dua belas dengan ruang kerja presdir Dewantara group milik opanya.


"Sayang, kamu mau minum apa biar aku pesankan?" tawar Fahmi

__ADS_1


"Lemon tea hangat aja Om kalau boleh," jawab


Fahmi lalu menghubungi Riyan sekretarisnya untuk memesankan lemon tea hangat untuk Aryana. Fahmi tidak memperkerjakan sekretaris perempuan untuk menghindari skandal.


"Sekretaris Om cowok?" tanya Aryana heran.


"Iya, Om lebih nyaman dengan sekretaris laki-laki, simpel, nggak ribet dan menghindari skandal," jawab Fahmi.


"Om, nggak takut dikira suka sesama pisang?" tanya Aryana sedikit malu.


Kening Fahmi berkerut mencerna apa hubungannya sekretaris laki-laki dengan pisang. Setelah sedikit berfikir dan menemukan jawabannya, Fahmi langsung tertawa sambil berjalan menuju dimana Aryana duduk.


"Om masih normal ya Sayang, apa kamu mau coba buktikan?" goda Fahmi dengan masih menahan tawanya.


"Ah nggak, aku 'kan cuma nanya, pikiran Om kok jadi kemana-mana," jawab Aryana kikuk.


"Habis kamu ngemesin sih," ucap Fahmi sambil mengajak rambut Aryana gemas.


Tok tok


"Siapa?" tanya Fahmi ketika terdengar ketukan pintu.


"Ini saya pak Riyan," jawab Riyan.


"Masuk!" perintah Fahmi


"Kok cuma satu, Om nggak minum?" tanya Aryana protes.


"Ya satu Sayang, Om mau minum secangkir berdua denganmu biar romantis," jawab Fahmi yang membuat mata Riyan hampir keluar.


"Ya Tuhan, jadi ini pacar bos, kaya masih abg" batin Riyan terkejut.


"Hei kenapa kamu masih disini, sana keluar, ingat tanpa ijinku nggak boleh ada yang masuk kemari!" perintah Fahmi.


"Baik, Bos, maaf saya permisi," ucap Riyan kemuadian langsung keluar dari ruangan si bos yang membuatnya sesak nafas.


Sampai di luar saking terkejutnya melihat pacar direkturnyan, Riyan sampai menabrak Evan yang baru keluar dari ruangannya.


bruk


"Maaf saya tidak sengaja pak," ucap Riyan.


"Kamu kenapa Yan, seperti habis melihat hantu?" tanya Evan.


"Eh anu...pak ituu..u, pak bos," jawab Riyan gugup.

__ADS_1


"Pak bos kenapa?" tanya Evan penasaran.


"Pa..pacarnya masih muda banget, saya sampai kaget tadi," jawab Riyan.


"Tau dari mana kamu, jangan buat gosip yang bukan-bukan, bisa habis karir kamu!" tanya Evan.


"Tadi, saya mengantar secangkir lemon tea ke ruang pak bos, terus ada cewek muda baget, cantik, imut, dia protes kenapa minumannya cuma satu, terus pak bos bilang pingin secangkir berdua dengan cewek itu biar romantis gitu, terus si bos panggil cewek itu dengan panggilan sayang dengan sangat mesra," jawab Riyan yang membuat Evan juga terkejut.


"Riyan, apa yang kamu lihat dan kamu dengar barusan di ruang pak bos, jangan sampai tersebar keluar kalau tidak ingin kamu dilempar dari puncak gedung Pratama group!" ucap Evan memperingatkan Riyan.


"Ba...baik Pak," ucap Riyan lalu undur diri dari hadapan Evan.


Sepeninggal Riyan, Evan mengambil ponsel dan menelpon Alan, assisten Fahmi di Singapura untuk menanyakan informasi dari Riyan tadi dan betapa terkejutnya Evan ketika mendengar pembenaran dari Alan tentang siapa kekasih tuan mudanya.


"Astaga bos, diam-diam pacaran dengan daun muda, pantes nolak semua wanita dewasa, ternyata," gumam Evan dalam hati.


Sedangkan di ruang direktur, Fahmi sedang mengecek beberapa laporan perusahaan, dan Aryana sibuk mengerjakan pr kimianya, Aryana terlihat tak mengalami kesulitan saat menyusun rumus kimia menjadi sebuah jawaban. Tanpa Aryana sadari Fahmi sudah berada di sampingnya memperhatikan cara Aryana menjawab semua latihan soal kimia di bukunya. Fahmi juga cukup mengerti tentang rumus kimia dan ia benar-benar kagum dengan kemampuan gadis pujaannya ini. Kalau gadis lain dia akan bermain ponsel atau jalan-jalan tapi sang kekasih menunggunya menyelesaikan pekerjaan dengan mengerjakan pr dan latihan soal mata pelajaran kimia.


"Benar-benar jenius," ucap Fahmi dengan mendekap tubuh Aryana secara tiba-tiba membuat si empunya kaget.


"Om, bikin kaget aja," ucap Aryana.


"Maaf, tapi Om gemas lihat kamu seperti ini, kamu memang beda dari wanita lain, kamu tak tak hanya cantik, dari keluarga kaya dan terpandang namun cerdas, lembut dan baik hati," ucap Fahmi setelah melepas pelukaanya dari Aryana.


Aryana melihat jam di tangannya sudah menjelang sore, ia ingat belum shalat ashar.


"Om, ini sudah jam empat aku belum shalat ashar, kita shalat ashar dulu ya Om, perusahaan Om punya mushala kan?, Om belum shalat ashar juga kan?" tanya Aryana.


"Iya, punya, tapi ada dilantai satu, nggak apa-apa kamu shalat di mushala perusahaan bareng karyawan?" jawab Fahmi.


"Ya nggak lah saat shalat mengahadap Allah jangan mikir jabatan, nggak ngaruh lagi," jawab Aryana.


"Ok, tuan putri kita shalat bareng di mushala perusahaan, setelah itu Om antar kamu pulang, kalau sampai telat bisa di bom aku sama ayahmu," ucap Fahmi sambil terkekeh.


"Ah Om bisa aja, ayah nggak sesadis itu juga kali," ucap Aryana.


Fahmi dan Aryana lalu keluar ruangan kerja direktur menuju mushala yang ada di lantai satu. Saat menuju mushala beberapa karyawan memandang sepasang manusia beda usia dengan tatapan keheranan, baru kali ini mereka melihat direktur menginjakkan kaki di mushala perusahaan apalagi sang direktur tak sendiri, ia bejalan bersama seorang gadis yang masih belia, cantik dan imut.


____________________________________________


Segini dulu ya


Please Like, Vote, Coment, Rate and Favorit


Thank You

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2