Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 185. Paviliun


__ADS_3

Selesai acara resepsi pernikahan, Afwa dan Nayla tidak menginap di hotel seperti Afwa dan Kirana, tetapi mereka kembali ke rumah pak Mahendra. Di sana mereka sudah di sediakan sebuah paviliun sederhana tapi dengan fasilitas lengkap. Pak Mahendra hanya memiliki Nayla, ia tak ingin Nayla dan suaminya merasa terganggu privasinya saat sedang di rumahnya sendiri, maka dari itu pak Mahendra menyiapkan paviliun yang terletak di belakang rumah utama.


"Kalian istirahatlah di paviliun belakang, mungkin nanti masih ada beberapa teman papa yang akan kesini!" pinta pak Mahendra.


"Baik, Pa," ucap Afwi dan Nayla.


"Nayla lalu mengajak suaminya ke paviliun, meski masih bingung, Afwi tetap berjalan bersama Nayla menuju halaman belakang.


"Nah, ini kamar kita sekarang," ucap Nayla.


"Kelihatannya ini masih baru, kapan buatnya?" tanya Afwi.


"Sekitar dua bulan yang lalu, ini salah satu hadiah pernikahan dari papa, ayo masuk!" ajak Nayla.


Mereka berdua kemudian memasuki paviliun yang terlihat sederhana di luar tapi sangat bagus di dalam. Ada dua kamar tidur lengkap dengan kamar mandi, ruang makan, ruang tamu, ruang bersantai dan dapur.


"Rumah papa kan besar, Dek, kenapa kita malah tinggal di sini?" tanya Afwi heran.


"Papa hanya ingin menghargai privacy kita, kalau kamu keberatan kita bisa pindah ke kamar aku di rumah utama."


"Nggak, Dek, abang suka paviliun ini tempatnya nyaman dan juga cukup privacy," ucap Afwi sambil mengerlingkan matanya nakal.


"Abang...nih gitu deh," ucap Nayla kesal.


Afwi merengkuh pinggang istrinya, menatap lekat, Afwi mendekatkan bibirnya pada bibir Nayla dan terjadilah luapan hasrat yang sudah sejak tadi ia pendam.


Afwi melepaskan pagutannya pada Nayla karena terlihat sang istri seperti kehilangan nafas. Afwi mengusap lembut bibir pink milik Nayla dengan ibu jarinya.


"Manis," ucap Afwi lalu mendaratkan bibirnya lagi di bibir Nayla namun hanya sebentar.


"Kita ganti baju dulu, kau pasti gerah dengan gaun ini, sini abang bantu!" titah Afwi.


Nayla menganguk tanda setuju, setelah itu, Afwi membantu Nayla duduk di tepi ranjang, Afwi dengan telaten membuka hijab yang dipakai Nayla yang ternyata ada dua lapis juga beberapa hiasan di hijab tersebut. Setelah hijab terlepas baru Afwi menurunkan resleting gaun pengantin Nayla. Sungguh Nayla merasa sangat malu Afwi melihat bentuk tubuhnya meski masih tertutup dengan benda pengaman area sensitifnya.


"Sudah, Abang Nay bisa terusakan sendiri!" pinta Nayla sambil menahan tangan sang suami agar tak meneruskan bantuannya melapas gaun pengantinnya.


"Kenapa?"


"Malu, Bang."


"Kenapa mesti malu, Abang sudah sah jadi suami kamu lho, dah berhak lihat semuanya milik kamu."


"Ini pertama kalinya buat, Nay, tubuh Nay nggak terlalu bagus kaya model, ntar abang kecewa."


"Sini!" pinta Afwi lalu menarik Nayla sehingga jatuh kepangkuannya.


Nayla yang di tarik tiba-tiba secara refleks mengalungkan tangannya ke leher suaminya.


"Ah Abang!" pekik Nayla kaget.


"Siapa yang bilang tubuh kamu nggak menarik, hemm?"


"Kau tahu, Sayang, bentuk tubuh kamu nggak terlalu penting, yang penting buat abang adalah hati kamu dan cinta kamu, lagian menurutku bentuk tubuh kamu sudah bagus, Dek, abang lebih suka yang ori," ucap Afwa sambil memeluk tuh Nayla yang berada di pangkuannya.


"Abang..., janji ya nggak akan pernah selingkuhin Nay, kalau Nay punya salah atau kekurangan bilang jujur ke Nay, Nay akan berusaha memperbaiki," ucap Nayla dengan mata yang berkaca-kaca dan suara yang sedikit parau membuat Afwi membulatkan matanya. Bisa-bisanya Nayla berkata seperti itu.


"Dek, dengerin abang ya, abang sudah memilihmu dan sudah berjanji di hadapan Allah di saksikan para malaikat, jadi alangkah tak bersyukurnya jika sampai abang berselingkuh. Pernikahan itu memiliki ikatan yang kuat yang dinamakan Mitsaqan Ghalizon, saking kuatnya ikatan ini bahkan sampai semua hewan yang ada di dunia ini ikut mendoakan bagi semua pasangan yang melaksanakan ijab qobul. Bahkan meskipun bercerai tak diharamkan namun perbuatan tersebut sangat tidak di sukai oleh Allah. Abang harap kamu mengerti dan tak pernah mempertanyakan kesetiaan abang sama kamu," ucap Afwi dengan nada yang sangat serius, ia benar-benar gemas dengan istri cantiknya itu.

__ADS_1


"Abang kenapa sih bisa banyak tahu tentang hal seperti itu, aku jadi inscure pada diriku sendiri," ucap Nayla yang cukup terkejut dengan penuturan Afwi.


"Dulu abang kadang-kadang di ajak ayah bunda ke acara nikahan, terus di sana ada acara khutbah nikah sebelum ijab qobul, jadi ya sedikit banyak aku tahu tentang Mitsaqan Ghalizon.


"Apa kau tahu, bahkan kakak dari temanku, ada yang selalu menemani sahabat atau keluarganya jika ada yang menikah, dengan tujuan biar dia juga segera dapat jodoh," lanjut Afwi.


"Memang ngaruh ya, Bang?"


"Ya katanya sih saat penghulu atau ustad membaca doa untuk kedua mempelai setelah ijab qobul itu adalah waktu yang bagus untuk juga berdoa meminta jodoh bagi yang masih jomblo," jawab Afwi.


"Terus apa kakak teman abang itu langsung dapat jodoh?"


"Kalau langsung sih nggak tap kudengar dia sekarang sudah menikah."


"Ada-ada aja ya, Bang."


"Namanya juga usaha, Dek, tapi lebih bagus begitu ikut mendoakan kedua mempelai dan sekaligus berdoa untuk diri sendiri, daripada pergi ke tempat yang nggak benar biar cepat dapat jodoh."


"Bang udah dong peluk, Nay, gerah nih, mau ke kamar mandi!"


"Oh iya maaf, habis enak sih meluk kamu gini, jadi kepingin sekarang deh."


"Ih abang apaan sih, mesum, aku mau ke kamar mandi dulu," ucap Nay lalu perlahan turun dari pangkuan Afwi menuju kamar mandi.


Sedangkan Afwi, melepas jasnya lalu mengambil ponsel, ia menghubungi Dio untuk mengantarkan makanan ke paviliun karena tadi saking banyaknya tamu, dia dan Nayla hanya makan sedikit. Tak lama kemudian, terdengar ketukan pintu di paviliun.


Tok tok


Afwi segera membuka pintu utama paviliun, di depan pintu sudah ada Dio yang membawa nampan yang berisi air minum dan makanan.


"Masuklah, Dio!"


"Taruh saja di situ!" pinta Afwi menunjuk meja di ruang tamu.


"Mbak Nayla mana, Bang?" tanya Dio setelah ia duduk di kursi ruang tamu.


"Mbak kamu lagi di kamar mandi, by the way kamu jadi masuk bintara Polri tahun ini?" tanya Afwi.


"Insyaallah, Bang doakan saja," jawab Dio namun terbersit keraguan di dalam jawabannya.


"Tapi abang kok merasa kamu ragu," tebak Afwi.


"Kok Bang Afwi tahu sih, sudah seperti paranormal saja."


"Insting saja, Dio, tapi kenapa ragu?"


"Kan Abang tahu aku ini siapa, aku rasa abang tahu apa yang membuatku ragu mendaftar jadi bintara, aku nggak yakin kalau abang nggak tahu rumor aneh yang beredar di luar sana."


"Bukannya Abang nggak tahu, tapi jangan sampai keraguanmu mendaftar jadi bintara karena rumor yang beredar di luar sana sampai membuatmu juga ragu pada kekuasaan Sang Pemilik kehidupan yaitu Allah. Percayalah kalau Allah sudah berkata Kun Fayakun kamu di terima, maka siapapun sainganmu saat mendafatar jadi bintara, kamu pasti akan diterima, tapi syaratnya itu kamu harus berusaha sungguh-sungguh dan berdoa dengan sungguh, jangan cuma mengerjakan shalat yang wajib, tambah shalat sunah, temui Allah di sepetiga malam perbanyak dzikir dan jangan lupa setiap berdoa awali dan akhiri dengan shalawat," tutur Afwi menasehati adik angkat istrinya yang merasa inscure pada dirinya sendiri.


Saat Afwi dan Dio asyik berbincang Nayla keluar dari dalam kamar dengan memakai gamis sederhana dan jilbab instant. Memang saat menikah dengan Afwi, Nayla berniat untuk berhijab dan berusaha lebih baik lagi dalam belajar segalanya termasuk ilmu agama.


"Eh ada, Dio, ada apa kemari? apa di suruh papa?" tanya Nayla yang juga ikut duduk di kursi.


"Nggak di suruh papa, tapi tuh di suruh suami mbak ngantar makanan, katanya tadi di resepsi kalian hanya makan sedikit," jawab Dio.


"Oh begitu, apa masih ada tamu papa yang datang?" tanya Nayla lagi.

__ADS_1


""Ada mbak, cuma satu dua, tapi masih bisa di handel papa dan bunda Nana juga saudara, kakek dan nenek mbak Nay, papa tahu kalian sangat lelah," jawab Dio.


"Bilang sama papa kami akan ke rumah utama sore nanti," ucap Nayla.


"Baik nanti aku sampaikan ke papa, mbak sama abang makan dulu terus istirahat, aku mau balik ke rumah utama bantu bunda dan yang lain," ucap Dio kemudian ia berjalan ke luar paviliun kembali ke rumah utama.


Sepeninggal Dio, Afwi meminta Nayla untuk makan, karena ia tahu Nayla hanya makan sedikit tadi.


"Sayang, ayo makan dulu, kalau dingin nggak enak lho!" ajak Afwi.


"Aku mau makan sepiring dengan abang, apa boleh?"


"Tentu saja, Sayangku, dengan senang hati," ucap Afwi dengan senyum mengembang penuh cinta.


Afwi mengambil satu piring berisi nasi lalu ia mengambil beberap lauk, ia jug bertanya lauk mana yang di suka sang istri. Setelah membaca doa pasangan suami istri tersebut saling menyuapi disertai senyum yang manis. Nayla sungguh tak menyangka kalau apa kata papanya dulu jadi kenyataan, boleh di bilang kualat sama sang papa, sampai akhirnya ia harus bucin dengan Afwi yang memiliki profesi yang sangat tidak ia sukai.


Selesai makan bersama, Afwi pergi ke kamar mandi, selesai mandi ia menuju tas besar yang berisi pakaiannya. Tak lama Nayla masuk ke dalam kamar setelah membereskan bekas makan mereka.


Ceklek


"Abang sudah mandi?" tanya Nayla yang melihat suaminya sudah berpakaian lengkap dan duduk bersandar di kepala ranjang.


"Sudah, sini, Sayang!" panggil Afwi pada Nayla agar mendekat padanya.


"Capek?" tanya Afwi setelah Nayla duduk di hadapannya.


"Ya capek lah, Bang, tamunya sebanyak itu, belum rangkaian acara menjelang hari H, sungguh cukup melelahkan," jawab Nayla.


"Tapi kamu bahagia, kan?"


Nayla menganggukan kepalanya menjawab pertanyaan Afwi, lalau Afwi meminta Nayla agar berbaring di sebelahnya.


"Kalau begitu sini tidur sebelah abang, istirahat dulu biar capeknya hilang!" pinta Afwi sambil menepuk kasur di sebelahnya.


Naylapun menurut, ia naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya di sebelah suaminya. Afwi juga merubah posisinya sehingga tidur bersebelahan dengan Nayla. Posisi mereka saling berhadapan.


"Abang nggak minta?" tanya Nayla ambigu membuat Afwi mengernyitkan dahinya.


Sejenak Afwi berfikir maksud pertanyaan Nayla, setelah menangkap maksud sang istri timbul pikiran untuk menggoda istrinya.


"Pingin apa sih, Dek, coba jelasin abang nggak ngerti?" tanya Afwi sok polos.


"Ah abang masa Nay suruh jelasin, jadi suami nggak peka amat, ya udah kalau nggak pingin, Nay mau tidur, awas jangan ganggu!" ucap Nayla lalu berbalik posisi tidur membelakangi suaminya.


Afwi tertawa dalam hati, "ternyata menyenangkan juga godain kamu, bisa awet muda aku."


"Dek, jangan ngambek dong, kan abang cuma tanya," rayu Afwi sambil memeluk tuhuh Nayla dari belakang.


Nayla yang belum pernah di peluk pria manapun selain ayahnya, merasakan getaran yang aneh saat tubuhnya, ia ingin membalas pelukan Afwi tapi ia masih gengsi dan kesal pada suaminya itu.


"Nggak boleh lho tidur mungungin suami kayak ini, makasih sudah nawarin abang, tapi tunda sampai malam, takutnya kalau lagi gitu-gitu papa panggil kita, kan nggak enak, Yang, kalau pas nanggung," ucap Afwin yang semakin mengeratkan pelukkanya.


Mendengar perkataan suaminya, Nayla perlahan membalikan badannya menghadap sang suami. Ia memandang wajah suaminya yang sangat tampan menurut versinya. Melihat wajah istrinya Afwi tersenyum, di belainya wajah cantik istrinya penuh kasih sayang, lalu sebuah ciuman mesra mendarat di bibir mungil Nayla. Mereka menikmati hangatnya pelukan sebagai suami istri, hanya pelukan karena ML pertama mereka akan di lakukan pada malam nanti.


_____________________________________________


Please Like, Vote, Komentar, Rate and Favorit

__ADS_1


Thank You


__ADS_2