
Pukul satu siang waktu Singapura, sesuai dengan perkataan mereka kemarin, Fahmi dan Aryana mengantar Yudha dan Yasmin ke bandara. Kali ini Fahmi membawa supir, Fahmi duduk di jok depan, sedangkan Aryana, Yudha dan Yasmin duduk di kursi penumpang, dengan posisi Aryana duduk diapit ayah dan bundanya.
"Aku pasti sangat merindukan kalian," ucap Aryana manja sambil menyandarkan kepalanya di bahu sang bunda sedangkan kedua tangannya masing-masing memegang tangan ayah dan bundanya.
"Kami juga pasti juga sangat merindukanmu, Sayang, jadi baik-baik ya, ketiga cucu ayah dan bunda di sini," ucap Yasmin sambil mengelus perut Aryana sambil bershalawat.
Pemandangan di jok belakang tak lepas dari pengamatan Fahmi yang memperhatikan interaksi sang istri dan mertuanya lewat spion depan. Fahmi benar-benar bahagia memiliki istri seperti Aryana juga mertua yang begitu perhatian dan over protective, meskipun sang ayah mertua sering bersikap judes padanya.
Pukul setengah dua mereka sudah sampai bandara, Aryana memeluk erat bunda dan ayahnya ketika kedua orang tuanya akan segera memasuki pesawat.
"Sudah, Sayang, jangan melow lagi sebentar lagi mau jadi ibu lho, kamu kan di besarkan di lingkungan militer, pasti kamu bisa mengatasi semua kerinduan yang terpisah jarak dan waktu, dibanding dengan perpisahan kita yang sementara ini, kehidupanmu dulu bersama saudara kembarmu jauh lebih berat, ayah hanya bisa berusaha melakukan yang terbaik tanpa berani berjanji untuk kembali, hidup dalam bayang-bayang ketakutan setiap ayahmu dikirim bertugas lama, jadi bunda yakin kamu adalah sosok istri dan calon ibu yang kuat," ucap Yasmin sambil membelai kepal sang putri yang tertutup hijab.
Mendengarkan perkataan bundanya yang sarat dengan nasehat dan keyakinan dengannya, Aryana menatap lekat wajah sang bunda yang meneduhkan, kemudian sang bunda membelai wajah Aryana penuh sayang lalu mendaratkan ciuman di kening Aryana. Setelah berdrama dengan sang bunda, Aryana kemudian menatap sang ayah, tanpa banyak drama Aryana langsung memeluk sang ayah. Yudha membalas pelukan putrinya dengan mengusap lembut punggung Aryana, membiarkan bidadari kedua dalam hidupnya memeluk dirinya. Sebuah pelukan yang selalu Aryana ketika dia akan berangkat sekolah, ataupun saat sang ayah harus pergi bertugas sebagai prajurit dalam waktu yang lama.
"Sudah puas peluk ayah, hm?" tanya Yudha sambil masih membalas pelukan putrinya yang sedang menangis, membenamkan wajahnya di dada bidang sang ayah.
"Aku belum puas, tapi mau tak mau aku harus melepas ayah kan?" ucap Aryana setelah mengurai pelukannya.
"Anak pintar, apa yang di bilang bundamu benar, meski ayah sudah pensiun menjadi abdi negara, tetapi kamu tetap anak seorang prajurit yang pernah merasakan sebuah penantian antara hidup dan mati. Jadi ayah sependapat dengan bundamu, kamu pasti bisa menjadi istri dan ibu yang kuat dan hebat."
Melihat pemandangan seperti itu, Fahmi tidak merasa cemburu lagi, ia justru terharu dengan sikap istri dan ayah mertuanya.
"Apakah besok kalau aku memiliki anak perempuan aku akan bersikap seperti ayah mertuaku itu secara otomatis ya?" batin Fahmi dalam hati.
"Tuan Nyonya, mari pesawat sudah siap!" ucap salah satu pramugara jetpri DW group.
Mendengar ucapan pemberitahuan pramugara tersebut Yasmin dan Yudha segera melangkah pergi menuju Jetpri mereka, sedangkan Fahmi memeluk pundak sang istri menguatkan istrinya yang menatap nanar kepulangan orang tuanya ke tanah air. Air mata pun merembes di kedua mata Aryana, meskipun sekuat tenaga berusaha tegar tapi pada kenyataanya ia tak sekuat itu.
Setelah mengantar ayah Yudha dan bunda Yasmin ke bandara, Fahmi mengajak istrinya ke kantor, ia tak mau istrinya merasa kesepian di rumah, dengan begitu Fahmi juga lebih tenang jika sang istri berada di dalam pandangannya.
.
Setelah menempuh perjalanan kurang dari dua jam kini Yudha dan Yasmin sudah sampai di tanah air, sepasang pasutri itu di jemput oleh salah satu orang kepercayaan Yudha.
"Kamu lelah, Sayang?" tanya Yudha sambil menatap istrinya penuh dengan cinta.
"Lelah sedikit, aku ingin langsung pulang dan istirahat!" pinta Yasmin sambil menyandarkan kepalanya di bahu Yudha yang masih kekar untuk ukuran laki-laki seumuran dengannya.
__ADS_1
"Ya sudah sesuai keinginan permaisuri," ucap Yudha sambil mendaratkan ciuman di kening sang istri.
Tak lama keduanya sudah sampai di rumah, Yasmin dan Yudha segera turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah sedangkan koper dan barang-barang bawaan lainnya di sudah di urus oleh supir dan art. Sampai di kamar Yasmin langsung membersihkan diri, setelah itu Yasmin merebahkan tubuhnya.
"Ah enak sekali rasanya," ucap Yasmin merasa rileks saat merebahkan tubuhnya di tempatnya tidur.
Melihat istrinya sudah tertidur pulas, Yudha juga ikut merebahkan tubuhnya di samping sang isti dengan posisi berhadapan sehingga memudahkan Yudha memeluk Yasmin dari depan.
"Selamat tidur my Wife, I love You."
.
Di Semarang pak Mahendra sudah selesai mengurusi laporan tentang kejahatan Galuh, jadi hanya tinggal menunggu sidang saja. Saat ini pak Bagaskara sedang berada di rumah menikmati kebersamaanya dengan putri semata wayangnya.
"Nay, kapan kamu akan pindah ke rumah ini lagi?" tanya papanya.
"Nanti kalau papa tidak sering pergi-pergi lagi, buat apa Nay tinggal di sini kalau ujung-ujungnya selalu jadi yang kedua buat papa," jawab Nayla tenang namun tersirat banyak kekecewaan di dalamnya.
"Nay, pekerjaan papa 'kan sebagai abdi negara, pengayom masyarakat, itu sudah tanggung jawab profesi, papa tidak bisa berbuat apa-apa, papa terikat sumpah dan janji pada negara," ucap pak Mahendra memberi pengertian kepada anaknya.
"Ehm, ya sudah nanti Nay pulang ke rumah ini kalau papa sudah pulang dari kerja aja, di rumah sebesar ini Nayla sendirian cuma sama bibi dan mang udin, juga security, males ah, Nay kaya kambing congek."
"Ya kasihan sih, tapi bukankan lebih kasihan aku, andai mama masih hidup, papa mau kerja seperti bang Toyib sekian purnama nggak masalah," ucap Nayla membuat hati pak Mahendra seperti teriris, andai dan andai saja waktu bisa di putar, pak Mahendra bisa mencegah kecelakaan maut itu merenggut kebahagiaan keluarganya.
"Nay, mamamu sudah tenang di surga, jangan berandai-andai, kasihan mamamu, ikhlaskan mamamu!"
"Nay sudah berusaha ikhlas beberapa tahun terakhir ini tapi rasanya sulit, Pa," ucap Nayla mulai menyendu.
"Terus mau kamu bagaimana sekarang?, apa papa harus pensiun dini agar selalu bisa dekat denganmu tanpa kewajiban terhadap profesi sebagai abdi negara?, jika memang itu yang kamu inginkan papa akan melakukannya Nay."
Mendengar perkataan papanya kepala Nayla menggeleng cepat dengan tatapan yang sendu, bukan hal seperti itu yang Nayla inginkan, tapi di sisi lain ia juga tak ingin kesepian, cukup egois memang.
Melihat sikap putrinya pak Mahendra menjadi bingung, ini nggak mau, itu nggak setuju,
"Nay-Nay, papa jadi bingung sama kamu, apa kamu nikah saja biar ada temannya?" usul sang papa membuat Nayla cemberut.
"Papa apaan sih, kok solusinya nikah?, lagian Nay mau nikah sama siapa?, Nay nggak punya pacar.
__ADS_1
"Sama Mirza," jawab pak Mahendra asal.
"Ogah ah kak Mirza 'kan juga polisi, sama juga bohong dong!"
"Terus kamu pingin mau nikahnya sama siapa?"
"Sama laki-laki yang bisa temenin aku setiap hari dengan jam kerja normal, nggak sewaktu-waktu seenaknya pergi ninggalin Nay dengan alasan tanggung jawab pada perkejaan dan negara," jawab Nayla dengan menggebu-gebu.
"Baiklah, terserah kamu saja Nay, papa nggak akan memaksa buat kamu tinggal di sini," ucap pak Mahendra pasrah.
Melihat raut kesedihan di wajah papanya, Nayla merasa bersalah telah bersikap egois dan kekanak - kanakan, ia jadi ingat ucapan bunda Nana beberapa waktu yang lalu, bahwa dia harus memanfaatkan waktunya dengan sang papa dengan baik karena jika suatu hari Nayla menikah maka ia harus ikut kemana suami tinggal dan pada saat itulah tanggung jawab sang papa terhadap dirinya sudah selesai. Mengingat perkataan bunda Nana sontak membuat Nayla langsung menghambur memeluk sang papa sambil menangis.
"Aku akan tinggal lagi di rumah ini sama papa, Nay sayang papa, Nay nggak mau pisah lagi sama papa, Nay akan mengurus papa," ucap Nayla yang membuat pak Mahendra terkejut namun juga bahagia.
"Benar, Nay mau tinggal sama papa lagi di sini?" tanya pak Mahendra sambil mengelus kepala Nayla yang masih dalam keadaan memeluknya.
"Iya, Nay serius akan tinggal sama papa di sini, tapi papa habis kerja langsung pulang ya dan jika papa tugas ke luar kota, Nay boleh kan menginap di panti?" jawab Nayla setelah mengurai pelukannya.
"Iya papa akan langsung pulang setelah selesai kerja, kamu pikir berapa umur papa mau acara hangout selesai kerja, hm?, dan soal menginap di panti, pasti papa kasih ijin, Nay, panti itu juga rumahmu, peninggalan mendiang mamamu."
Mendengar ucapan sang papa membuat Nayla tersenyum sambil menyeka air matanya, sungguh rasanya bahagia bisa berbicara dari hati ke hati dengan sang papa bukan hanya sebagai anak dan orang tua tetapi juga berbicara sebagai seorang sahabat yang saling mengerti.
"Mulai besok Nay akan pulang ke sini, untuk hari ini Nay akan pulang dulu ke panti," ucap Nayla sambil tersenyum.
"Baiklah, princess, biar papa yang antar kamu ke panti sekalian bicara dengan bund Nana," ucap pak Mahendra sambil mengacak gemas rambut putrinya.
Seorang ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya, seorang ayah mungkin tak pandai merangkai kata untuk menunjukkan kasih sayangnya, melainkan dengan tindakan yang nyata. Saat ada seorang laki-laki yang kelak akan meminang putrinya dan menikahinya maka hati seorang ayah juga merasakan kehilangan yang luar biasa.
_______________________________________
I Love You Papa
Maaf baru up, jari kanan author beberapa ini sakit jadi kesulitan saat dipakai untuk mengetik naskah di aplikasi.
Tetap dukung author ya jangan lupa Like, Vote, Coment, Rate and Favorit
Thank You
__ADS_1
Bersambung....