Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 204. Kedatangan Mertua


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan jam tiga sore, tapi Yudha belum juga pulang ke rumah padahal selepas ashar Yudha sudah berjanji pada Yasmin akan menemani ke Semarang. Yasmin yang sudah menyiapkan semua keperluan ia dan suami, ia membuka lagi ponselnya lalu mendial nomor Yudha.


Yasmin


"Assalamualaikum, Mas, dimana kenapa belum pulang?"


Yudha


"Sebentar, Sayang, Mas lagi selesai meeting ini baru mau masuk mobil."


Yasmin


"Ya sudah hati-hati, Assalamualaikum."


Yudha


"Waalaikumsalam."


Yasmin menutup panggilan teleponnya sambil bernafas lega, ternyata sang suami tak melupakan janjinya. Yasmin melanjutkan membereskan barang-barang yang akan ia bawa untuk menemui Afwa.


Setengah jam kemudian terdengar mobil memasuki halaman rumah, Yudha keluar dari mobil dan langsung menuju kamarnya.


Ceklek


"Mas!" pekik Yasmin terkejut.


"Maaf, Sayang mengejutkanmu," ucap Yudha sambil tersenyum.


"Salam dulu napa, lupa ya?" ucap Yasmin pura-pura kesal.


"Maaf lagi, Sayang, Mas lupa habis buru-buru karena nggak ingin bidadari Mas ini menunggu lama," ucap Yudha sambil merengkuh pinggang sang istri dan mendaratkan ciuman di kening Yasmin.


"Mas mandi dulu sana, kita harus segera berangkat, kasihan Kirana kalau harus melewati semuanya sendirian," ucap Yasmin yang membuat Yudha melepaskan rengkuhannya dan melihat Yasmin penuh tanda tanya.


"Maksud bunda apa?"


"Nanti bunda jelaskan di perjalanan, sekarang Mas segera mandi dan bersiap!" ucap Yasmin kemudian segera keluar kamar menuju dapur.


Yudha yang ditinggalkan di kamar dengan pertanyaan yang memenuhi kepalanya hanya bisa tertegun, dan mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi, namun ia tak menemukan jawaban. Akhirnya ia melepas jas dan kemejanya kemudian ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Saat ini mereka sudah ada di pesawat menuju Semarang, saat di perjalanan Yasmin menceritakan tentang sikap Dinda saat di telpon mengenai keberangkatan Afwa Satgas ke Papua. Yudha benar-benar tak habis pikir dengan istri sahabatnya sekaligus besannya itu, andai waktu bisa diputar ia tak akan menyetujui keinginan istrinya mendekatkan Dinda dan Raka, tapi semua sudah terlanjur, Yudha hanya berharap Dinda bisa segera berubah. Bagaimanapun Kirana adalah anak kandungnya sekaligus istri dari Afwa, yang artinya Kirana adalah sudah menjadi bagian dari keluarga besar Dewantara.


Sampai Semarang, Yudha dan Yasmin langsung menuju hotel milik DW group, baru setelah itu nanti mereka akan pergi ke rumah dinas Afwa.


"Mas kita shalat dulu terus makan baru kita ke tempat Afwa!" pinta Yasmin.


"Bunda sudah kasih tahu Afwa?"


"Sudah dan bunda sudah berpesan tak usah mempersiapkan apa-apa, karena bunda sudah bawa semuanya."


"Ya sudah ayo kita shalat dulu!" ajak Yudha kemudian mengambil wudhu.


Selesai shalat Yasmin menyiapkan barang-barang bawaan yang akan ia bawa ke rumah Afwa termasuk makan malam yang sudah ia pesan di pihak resto hotel.


"Sudah siap semua, Bund?"


"Sudah"


"Kalau begitu kita berangkat sekarang takutnya kemalaman soalnya besok Afwa akan berangkat!"


Sepasang suami istri paruh baya itu segera berangkat meninggalkan hotel menuju rumah Afwa. Mobil yang di tumpangi Yudha dan Yasmin sudah sampai di depan rumah dinas Afwa. Kirana yang mendengar sebuah mobil berhenti di depan rumahnya segera memanggil suaminya. Afwa yang sedang di kamar bergegas menyusul istrinya ke kamar tamu, dan benar saja dua orang yang dinantikannya dari kemarin turun dari mobil.


"Ayah, Bunda!" pekik Afwa langsung menghampiri kedua orang tuanya.


"Bagaimana kabarmu, Afwa?" tanya Yudha setelah mengurai pelukan hangatnya pada anak sulungnya.


"Alhamdulillah kabarku baik, Yah," jawab Afwa.


Afwa lalu berganti menyalami dan memeluk bundanya, di susul Kirana menyalami Yudha dan Yasmin. Mereka kemudian masuk ke dalam rumah, meski Yasmin sudah berpesan tak perlu menyiapkan apapun tetapi Kirana tetap menyiapkan beberapa camilan.


"Ayah, bunda silahkan duduk!" ucap Kirana.


"Terima kasih, Kiran, bagaimana keadaanmu?" tanya Yasmin yang memilih duduk di samping menantunya.


"Alhamdulillah sehat, Bunda."


"Tapi wajahmu kelihatan agak pucat," ucap Yasmin yang menyadari wajah Kirana terlihat tak cerah dan terlihat pucat.

__ADS_1


Mendengar perkataan bundanya Afwa mengeser duduknya agar lebih dekat dengan sang istri.


"Ada hal yang ingin , Afwa sampikan pada ayah dan bunda."


"Hal apa Nak, katakanlah, ayah melihat begitu banyak beban di wajahmu!"


"Kirana hamil," ucap Afwa dengan mengulas senyum.


"Alhamdillah," ucap Yudha dan Yasmin bersamaan.


"Apa mertuamu sudah tahu hal ini, Afwa?" tanya Yudha.


"Belum," jawab Afwa sendu begitupun Kirana.


"Kenapa?" tanya Yasmin.


"Kiran takut, Bund, karena keadaan kami saat ini persis seperti yang dialami ibu Dinda sewaktu hamil Kiran."


"Aneh kalian, lalu apa yang kalian takutkan dari hal itu?" tanya Yudha tak habis pikir namun Yasmin paham dengan keadaan psikologi Kirana.


Afwa lalu menceritakan saat Kirana menelpon Ibu Dinda untuk memberitahukan keberangkatannya ke Papua, sebenarnya Kiran ingin mengatakan berita gembira tentang kehamilannya namun karena sikap ibu Dinda yang terkesan cuek membuat Kiran takut mengatakan tentang kehamilannya. Sembari Afwa bercerita Yasmin mengelus punggung menantunya untuk memberi kekuatan.


"Tapi bagaimanapun, kamu harus memberitahukan ini pada orang tua kamu, Kiran, kalau mereka tahu berita kehamilanmu dari orang lain maka itu akan melukai perasaan orang tuamu," nasehat Yasmin.


"Iya, Bund, Kiran akan kasih tahu orang ayah dan ibu tapi tidak sekarang," ucap Kirana.


"Saran ayah, kalau kamu tak berani bilang pada ibumu, kamu bisa bilang pada ayahmu, Raka pasti senang mendengarnya. Beberapa bulan yang lalu ayah bertemu ayahmu Raka di acara tasyakuran kelahiran cucu salah satu rekan kami di TNI AD, Raka sekilas bercerita bahwa dia pasti akan senang sekali jika bisa segera menimang seorang cucu, jadi ayah yakin Raka akan senang mendengar berita kehamilanmu, terlepas kamu akan ditinggal Afwa bertugas lama saat kamu hamil. Raka seorang prajurit ia pasti bisa mengerti keadaan kalian lebih dari siapapun," ujar Yudha yang ikut memberikan nasehatnya.


Ditengah pembicaraan mereka, ponsel Kirana berbunyi terpampang nama sang ayah di sana.


"Siapa, Sayang yang telepon?" tanya Afwa karena Kirana tak kunjung mengangkat teleponnya.


"Ayah," jawab Kirana.


"Panjang umur si Raka, baru saja dibicarakan sudah telepon," seloroh Yudha.


Kirana kemudian mengangkat panggilan telepon dari ayahnya.


Kirana


Ayah Raka


"Waalaikumsalam, Kiran, bagaimana kabarmu, Nak?"


Kiran


"Kabar Kiran baik."


Ayah Raka


"Kata ibumu, Afwa mau berangkat tugas besok."


Kirana


"Iya, ayah, doakan mas Afwa ya ayah agar selalu diberi keselamatan selama tugas di sana dan bisa melihat anaknya lahir ke dunia."


Raka mencoba mencerna perkataan putrinya setelah paham, bibirnya langsung menyungingkan senyuman


Ayah Raka


"Alhamdillah, kamu hamil, Nak?"


Kiran


"Ya, Ayah, doakan kandungan Kiran juga selalu sehat!"


Ayah Raka


"Pasti Nak, ayah akan selau mendoakan kalian, dan maaf ayah tak bisa menemanimusaat pelepasan satgas suamimu, lalu selama Afwa tugas siapa yang akan menemanimu?"


Kirana


"Tak apa ayah, doa ayah saja sudah sangat berarti bagi kami. Nanti kalau Kiran kesepian, Kiran akan ke rumah nenek, atau ke panti bunda Nana, dan nanti mas Afwa akan mencarikan seseorang untuk menemaniku."


Ayah Raka


"Syukurlah, tapi kenapa kemarin ibumu tak bilang kalau kamu hamil?

__ADS_1


Kirana


"Kiran takut, soalnya waktu Kiran cerita kalau mas Afwa mau tugas ke papua enam bulan, Ibu bersikap datar dan biasa saja, dan kejadian kehamilanku sama dengan yang dialami ibu waktu ditinggal tugas ayah ke Lebanon."


Raka


"Ah ibumu selalu saja begitu, tapi tenang saja kalau ibumu tak perduli masih ada ayah, Kiara kakek dan nenekmu di Semarang, nanti ayah akan kabari mereka."


Kirana


"Makasih, ayah. Oh ya disini ada ayah Yudha dan bunda Yasmin, Ayah mau bicara?"


Ayah Raka


"Kasihkan ke ayah mertuamu!"


Kirana lalu menyerahkan ponselnya ke Yudha, dua sahabat sekaligus besan itu berbincang sebentar, lalu menyerahkan kembali ponsel ke Kirana dengan keadaan panggilan yang sudah off.


"Ayah Raka bilang apa, Yah?" tanya Kirana.


"Ayahmu hanya to say hallo saja, dan minta kami menjagamu dengan baik," jawaba Yudha.


"Dan kami insyaAllah akan ikut menjaga kamu dengan baik, bunda akan carikan seseorang untuk temani kamu di sini selama Afwa tugas," ucap Yasmin.


"Terima kasih, Bund sudah mau membantu Afwa"


"Sama-sama, bunda senang bisa membantu anak-anak bunda, hal seperti ini adalah hal yang paling membahagiakan bunda dan ayah, kami kan nggak punya anak kecil lagi buat di urus," ucap Yasmin.


"Kalau mau punya bayi lagi, aku masih siap lho Bund," ucap Yudha sambil tersenyum smirk pada Yasmin.


Afwa dan Kirana tertawa mendengar ucapan ayah mertuanya yang tak tahu tempat, memang bucinnya ayah Yudha dengan bunda Yasmin itu kebangetan.


"Oh iya kalian belum makan kan, ini bunda bawakan makanan dari resto hotel dan itu ada buah dan susu untuk persediaan di kulkas," ucap Yasmin.


"Makasih, Bund kok jadi merepotkan begini," ucap Kirana tak enak.


"Tidak apa-apa, Sayang. Afwa temani istrimu makan dulu, ayah dan bunda sudah makan tadi!" pinta Yasmin.


"Ya, Bund," ucap Afwa kemudian mengajak istrinya untuk makan di ruang makan, sedangkan Yudha dan Yasmin berbincang di ruang tamu.


"Aku nggak habis pikir dengan sahabatmu itu, Sayang, bisa-bisanya bersikap begitu pada putrinya sendiri, nyesel aku dulu ikut mendukung Dinda menikah dengan Raka. Sahabatku itu dulu memang di luar seperti playboy juga urakan tapi hatinya seperti hello kitty kalau sama keluarga dan orang yang dia sayang, Raka juga tipe pria setia yang susah di dapatkan di jaman sekarang," ucap Yudha kesal dengan sikap Dinda yang seolah masih belum bisa menerima pernikahan Afwa dan Kirana.


"Mas nggak boleh ngomong gitu ah, semuanya sudah terjadi, ini sudah takdir Allah, kita harus melihat sisi baiknya. Allah pasti punya rencana indah di balik semua yang terjadi di rumah tangga anak kita. Bunda yakin semua akan baik-baik saja, sekarang bagaimana kita membantu Afwa menjaga Kirana selama dia bertugas," ucap Yasmin berusaha meredam kekesalan sang suami.


Tak lama Afwa dan Kirana sudah selesai makan malam dan kembali ke ruang tamu dimana Yudha dan Yasmin berada


"Sudah selesai makannya?" tanya Yasmin.


"Sudah, Bunda, terima kasih makanannya enak," ucap Kirana sambil tersenyum.


"Kalau enak, nanti kalau kamu pingin tinggal telpon restonya saja, bilang sama mbak Ratih manajer di sana, biar langsung dikirim ke sini," ucap Yudha.


"Memang siapa yang mau bayar, ayah, resto DW group itu mahal, bisa tekor gajiku selama sebulan," ucap Afwa kesal.


"Dasar pelit sama istri sendiri," cibir Yudha.


"Sudah-sudah, kalian ini dasar, nanti tagihannya masuk di bunda jangan khwatir, pokoknya Kiran selama Afwa nggak ada, kalau kamu pingin apa-apa bilang sama bunda!" pinta Yasmin.


Mendengar begitu antusiasnya kedua mertuany a atas kehamilannya membuat hatinya ternyuh, bahkan ibu kandungnya pun tak seperhatian ini. Ayah mertuanya seorang ceo perusahaan multinasional yang sibuk bukan main, begitu juga ibu mertuanya namun bersedia meluangkan waktu menemaninya disaatsaat yang sulit. Mata Kirana berkaca-kaca, ia sangat terharu dengan sikap mertuanya.


"Lho kok malah nangis?" tanya Yasmin heran.


"Boleh peluk, Bunda?" tanya Kirana dengan suara serak dan mata yang sudah mengembun.


"Tentu boleh, sini peluk Bunda!" pinta Yasmin lalu merentangkan kedua tangannya agar Kiran memeluknya.


Kirana langsung menghambur ke pelukan Yasmin sambil terisak, segala rasa campur aduk bersatu di dalam hatinya. Ibu mertua yang begitu menyayanginya seperti putrinya sendiri, bahkan ibu kandungnya saja tak pernah sehangat ini semenjak ia menikah dengan Afwa.


"Sudah jangan menangis, besok saat pelepasan Satgas nanti bisa bengkak lho, malu dilihat keluarga prajurit lainnya!" pinta Yasmin setelah mengurai pelukan Kirana.


"Maaf, Bunda Kiran jadi baper."


"Tidak apa-apa, kamu sekarang adalah istri prajurit, harus kuat, tabah dan sabar, kami semua bersamamu, Kiran. Sekarang istirahatlah besok kamu harus bangun pagi!"


Afwa lalu membawa istrinya untuk istirahat, sedangkan Yudha dan Yasmin diminta Afwa untuk menginap di rumah dinas agar besok tidak bolak-balik dari hotel ke rumah Afwa.


____________________________________

__ADS_1


__ADS_2