Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 22


__ADS_3

"Ka, nanti siang, kami mengundangmu makan siang bersama di hotel ya, karena selepas ashar kami akan pulang!" pinta Yudha lewat sambungan telepon.


"Baiklah, kebetulan hari Minggu ini aku nggak ada acara, sekalian nebus ketidakikutsertaan ku di acara piknik bersama kemarin," ucap Raka menyetujui ajakan Yudha.


"Ok, aku tunggu jam sebelas siang ya!" ucap Yudha.


"Ok."


Setelah menelpon Raka, Yudha kembali ke kamarnya, di dalam kamar ada Yasmin yang sedang merapikan barang-barang mereka karena hari ini mereka akan pulang.


"Mas!" panggil Yasmin.


"Ya, ada apa?"


"Aku mau ngomong sesuatu, boleh?"


"Ngomong apa?"


"Mas, aku melihat Afwa dan Afwi sama-sama pingin masuk dunia militer, kalau meraka masuk dunia militer menjadi tentara siapa yang akan memimpin DW group?, mas tahu kan di militer gak boleh jadi pembisnis, jadi salah satu dari mereka harus ada yang mengalah, atau Afwa dan Afwi nggak jadi tentara juga nggak apa-apa, mereka kuliah bisnis saja, kalau Aryana suruh bantu nggak mungkin karena kondisi kesehatannya. Om Devan sekarang juga sudah tua, papa juga, kasihan kalau nggak ada yang bantu dari keluarga kita. Revanda saja mau mengorbankan cita-citanya sebagai dokter dengan sekolah bisnis demi membantu ayahnya di DW group, masa keluarga kita nggak ada yang mau berkorban," ucap Yasmin panjang lebar.


"Iya, nanti mas pikirkan, terima kasih sudah mengingatkan, tapi dari mana kamu tahu Revanda mengorbankan cita-citanya demi membantu om Devan?" tanya Yudha.


"Kemarin aku sempat ngobrol ringan sama dia," jawab Yasmin.


"Revan ngadu dan ngeluh sama kamu?"


"Nggak, Revanda cenderung introvent dan irit bicara, kalau nggak aku tanya dia nggak akan cerita apapun, piye lek arep ngomong to mas yen revan kui koyo kentongan yen ora ditutuk oran muni (bagaimana mau bicara kalau Revan itu seperti kentongan kalau nggak di pukul/ditanya nggak bunyi/bicara)," jawab Yasmin.


"Oh aku kira Revanda ngadu atau mengeluh tentang pekerjaannya sama kamu," ucap Yudha.


"Astagfirullah, Mas, suudzon saja, mana berani Revan ngadu macam-macam dan ngeluh pekerjaan sama aku," ucap Yasmin.


"Ya, Maaf."


"Yuk kita keluar kamar, nanti kalau Dinda dan Raka kesini kita nggak tahu!" ajak Yasmin.


Yasmin dan Yudha kemudian keluar kamar hotel menuju restoran yang sudah mereka pesan, Afwa Afwi dan Aryana juga Azka menyusul kemudian.


"Om Raka belum datang, Bund?" tanya Afwi.


"Belum paling setengah jam lagi," jawab Yasmin.


"Bund, aku toilet sebentar ya," ucap Afwa meminta ijin pada bundanya.


"Iya, yuk bareng bunda juga mau ke toilet," ucap Yasmin yang langsung bangun dari duduknya lalu bersama Afwa pergi ke toilet.


Sampai di toilet, Afwa masuk ke toilet pria dan Yasmin, hanya menunggu di luar, pergi ke toilet hanya alasannya saja karena Yasmin ingin menanyakan sesuatu secara pribadi dengan putranya Afwa.


"Lho Bunda masih disini?" tanya Afwa yang keluar dari area toilet pria mendapati sang bunda hanya berdiri di luar area toilet.

__ADS_1


"Ikut bunda sebentar!" ajak Yasmin lalu langsung menarik tangan Afwa. Yasmin membawa Afwa ke taman kecil dekat lobby hotel.


"Ada apa sih Bund main tarik-tarik aja?" tanya Afwa sedikit kesal.


"Katakan pada bunda!, sejak kapan kamu tahu dokter Fahmi menyukai Aryana?" tanya Yasmin pada Afwa dengan nada bicara sedikit tinggi.


"Sejak kita SMP," jawab Afwa membuat Yasmin terkejut.


"Apa!, sejak SMP?"


"Iya, kenapa emang?"


"Kamu kok nggak kasih tahu bunda sih, Afwa?"


"Lha bunda nggak nanya."


"Dari mana kamu tahu dokter Fahmi menyukai adikmu sejak SMP?"


"Sejak dokter Fahmi mengundang kita makan malam untuk merayakan kelulusan SMP kita bertiga, masa bunda nggak ngeh sih," ucap Afwa.


"Sungguh Afwa, bunda nggak tahu, baru kemarin bunda tahu dokter Fahmi menyukai adikmu."


"Lantas, darimana bunda tahu dokter Fahmi menyukai Aryana?" tanya Afwa.


"Sejak Bunda tak sengaja melihatmu dengan dokter Fahmi, lalu bunda membututi kalian sampai cafe depan dan bunda mendengarkan percakapan kalian," jawab Yasmin membuat putra sulungnya terkejut.


"Jadi, Bunda membututi kami begitu?" tanya Afwa yang diangguki oleh bundanya.


"Entahlah, bunda juga belum yakin, karena masa lalu bunda, dan juga usia Ana masih terlalu muda bahkan belum lulus SMA," jawab Yasmin diakhiri dengan hembusan nafas berat.


"Serahkan semua pada takdir Allah, Bund, jodoh itu juga rezeki, dan rezeki itu tak akan tertukar, mau sejauh mana terpisah jika mereka memang jodoh sekuat apapun kita memisahkan pasti akan bersatu juga. Bunda kan juga pernah bilang apa yang menurut kita baik belum tentu menurut Allah juga baik, dan apa yang menurut kita jelek belum tentu menurut Allah itu juga jelek karena sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu," ucap Afwa bijak.


Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (Qs. Al-Baqarah.216).


"Kamu benar, Afwa, bunda tak menyangka kamu sudah bisa berfikir bijaksana, bunda bangga sama kamu," ucap Yasmin sambil menepuk pundak Afwa.


"Bund, ayo kita kembali ke restoran, nanti ayah dan yang lain mencari kita!" ajak Afwa.


"Ayok!"


Afwa dan sang bunda segera kembali ke restoran dimana mereka akan menjamu Raka dan keluarganya. Tak lama Yasmin dan Afwa kembali dari toilet, Raka dan keluarganya sudah tiba di restoran.


"Assalamualaikum!" ucap Raka dan keluarganya.


"Waalaikumsalam!" jawab keluarga Yudha bersamaan.


"Silahkan duduk Ka, kaya siapa saja!" ucap Yudha mempersilahkan Raka dan keluarganya duduk.


Raka dan keluarganya segera duduk di kursi yang sudah disediakan untuk mereka. Kemudian pelayan menghampiri mereka dengan memberikan buku menu.

__ADS_1


"Ayo Dinda, Kiran, Kiara, mas Raka, kalian mau pesan apa, jangan sungkan dan jangan lihat harganya nanti tidak jadi makan!" canda Yasmin


"Ah kamu bisa aja, Yas," ucap Dinda.


"Raka dan keluarganya akhirnya membuka buku menu dan terlihat Kirana agak kebingungan waktu memilih menu, kebetulan Kirana duduk di sebelah Afwa.


"Mau aku bantu memilih menu, Nona?" tawar Afwa sambil berbisik pada Kirana membuat Kirana yang tadi menatap buku menu mengalihkan pandanganya nya pada Afwa.


Afwa hanya tersenyum ketika Kirana menatapnya dan Kirana hanya tersenyum canggung.


"Tidak perlu Kak, terima kasih," tolak Kirana meskipun dalam hati ia ingin meminta pendapat Afwa tentang menu yang ada di buku menu karena sebagian menu di restoran tersebut adalah menu western.


Akhirnya semua orang sudah memilih menunya sesuai selera masing-masing, sambil menunggu makanan datang mereka mengobrol ringan.


"Kenapa kamu nggak beli rumah disini saja, Ka?" tanya Yudha.


"Nggak ah, aku sudah punya rumah sendiri di Semarang, lagian aku nggak akan lama juga di Bandung, tahun besok atau bulan besok pasti dipindah lagi, kaya nggak tahu pekerjaan kita seperti apa Yud," jawab Raka.


"Bener juga ya kata lu, aku aja juga berulang kali pindah ya untungnya pas kelahiran si kembar dan kelahiran Azka aku nggak lagi ditugaskan di luar kota atau luar propinsi jadi masih bisa menemani Yasmin melahirkan.


Tak lama menu pesanan mereka datang, lalu mereka segera menyantap makanan yang sudah mereka pesan tadi. Setelah selesai makan mereka melanjutkan obrolan mereka.


"Kiran, paper bag oleh-oleh tadi mana?" tanya Dinda.


"Oh, hampir lupa, ini Bu," jawab Kiran sambil memberikan paper bag pada ibunya.


"Yas, ini ada sedikit oleh-oleh dari kami, maad kami hanya bisa memberikan ini," ucap Dinda pada Yasmin.


"Ya ampun, Barakallah, makasih banyak Dinda, seharusnya kamu nggak usah repot-repot begini," ucap Yasmin bahagia.


"Nggak apa-apa, Yas, apa yang kami berikan belum seberapa dengan apa yang telah berikan pada kami," sahut Raka.


"Sekali lagi terima kasih lho," ucap Yasmin.


Sedang asyik-asyiknya dua sahabat itu membahas oleh-oleh terdengar sebuah lagu dengan bahasa korea yang berjudul Kudae Naege Oneun Nal (The day You Come to Me/Pada Hari Kau Datang Padaku) membuat jantung Aryana berdetak kencang dari arah panggung band yang ada di restoran hotel tersebut. Arti lagu tersebut kurang lebih seperti ini


Bahkan ketika tidak ada seorangpun yg disisiku, saya tidak merasa kesepian sama sekali,Cinta dan dunia ini, mereka berada dalam mimpi saya, karena aku sedang menunggu untuk kamu. Itu sebabnya aku bisa bertahan, dengan kamu dalam hatiku. Kita akan bertemu di dunia, dimana ada pemisahaan tidak pada saat yg sama. Berbagi memori yg sama, kita bisa berbagi sekarang. Berharap kebahagiaan yang menunggu kita dalam waktu dekat. Hari ini kamu datang kepada saya, aku akan meneteskan air mata tersembunyi. Saya berharap dapat berbagi dengan kamu, hanya cinta.., Aku akan menunggu untuk kamu..."


Sepanjang lagu korea tersebut dinyanyikan Aryana diam terpaku, matanya menatap nanar ke arah panggung, ia tahu siapa yang menyanyikan lagu romantis drakor kesukaannya itu, meski orang tersebut meminta orang lain menyanyikannya dengan bahasa Korea. Setelah lagu tersebut dinyanyikan semua orang yang berada di restoran tersebut bertepuk tangan dan kemudian penyanyi yang menyanyikan lagu tersebut berjalan mendekati meja Aryana lalu memberikan sebuah buket bunga yang sangat indah.


"Ada titipan untuk anda Nona, anda sangat beruntung sangat dicintai pria sampai seperti ini," ucap penyanyi tersebut yang kemudian segera berlalu dari hadapan Aryana.


___________________________________________


Nah loo siapa ya?


Soo Sweet banget lagu ost Hotelier ini


Please, Like, Vote, Coment, Rate and Favorit

__ADS_1


Thank You


Bersambung....


__ADS_2