Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 215. Pertanyaan Alesya


__ADS_3

Di sebuah apartemen mewah, seorang pria sedang berdiri sambil kedua tangannya memegang pagar balkon, sambil menatap langit malam yang bertabur bintang. Ia mengambil ponsel dari dalam saku celananya, saat membuka layar tampaklah sebuah foto gadis kecil yang cantik dengan rambut panjang dihiasi bando warna pink di kepalanya.


Matanya pria itu tiba-tiba berkaca-kaca saat memandangi foto gadis kecil itu, andai saja bisa, ia ingin sekali memeluk gadis kecil itu, wajahnya benar-benar perpaduan antara dirinya dan seorang wanita yang sudah di saktinya.


"Pamela, maafkan aku, aku sungguh menyesal, hiks...hiks..., andai benar Alesya putri kita, aku tak bisa merengkuhnya karena kita tak pernah menikah, apalagi yang mengadopsinya adalah orang kuat, apa yang harus aku lakukan untuk menebus semuanya, Mela, hiks...hiks...," tangis pria itu akhirnya pecah, tubuhnya merosot kebawah bersandar di pagar balkon kamarnya.


Ya, pria itu adalah Niko yang sedang berada di Jakarta, sebenarnya ia ingin langsung pulang ke Turki setelah selesai di rawat di rumah sakit di Bandung, tetapi entah kenapa ia masih ingin tinggal di Indonesia, seolah ada yang menahannya di sini. Pria Casanova yang memiliki kisah pilu dalam kehidupannya. Niko hanya berkeinginan bisa menemukan kembali Pamela dan anak mereka apapun keadaannya, ia ingin menebus semua kesalahannya di masa lalu. Sudah tiga hari ini ia berada di Jakarta dan rencananya besok pagi ia akan kembali ke Turki.


.


.


Singapura


Di sebuah ruang keluarga seorang wanita cantik sedang bersama empat orang anak duduk di karpet bulu yang lembut. Si wanita berada di tengah dan empat anak kecil itu mengelilinginya.


"Mama, apa anak yang tidak mau membantu orang tua dan membuat orang tuanya menangis karena bersedih itu akan di marahi oleh Allah?" tanya Arnan.


"Tentu saja karena orang tua adalah orang yang paling berjasa di dunia ini karena sudah melahirkan dan merawat kita, karena Ridho Allah ada pada ridhonya orang tua dan murka Allah juga terdapat pada murkanya orang tua. Jadi sebagai anak kita tidak boleh membuat orang tua kita bersedih, marah pada kita," jawab Aryana dengan nada lembut.


Wanita yang sedang di kelilingi empat kurcaci mengemaskan itu adalah Aryana yang sedang memberikan nasihat kepada anak-anaknya sembari membacakan buku dongeng anak Islam.


"Kalau anak angkat, apa juga tidak boleh membuat orang tua angkatnya bersedih?" tanya Alesya dengan gaya mengemaskan.


Deg


Jantung Aryana rasanya tiba-tiba dihujam dengan pisau, pikirannya sudah merambah kemana-mana, berbagai pertanyaan berkumpul di benaknya, kenapa Alesya bertanya hal seperti itu. Dalam.keterkejutannya Aryana berusaha tetap tersenyum agar anak-anaknya tak mengetahui kegelisahannya.


"Kenapa Alesya bertanya hal seperti itu?" tanya Aryana lembut.


"Hanya pingin tanya aja, soalnya teman di sekolah Lesya ada yang kata teman-teman hanya anak angkat, dan ada teman yang menjelek-jelekan teman Lesya yang anak angkat itu, apa jadi anak angkat itu jelek ya, Ma?" jawab Alesya yang membuat mata Aryana membeliak sungguh ia tak menyangka ada kejadian seperti itu di sekolah anak-anaknya.


"Teman kami itu namanya Sean dia sering di jauhi teman-teman lain karena hanya anak panti asuhan yang diambil anak oleh orang kaya," ucap Alya menimpali.


"Kalau tak ingat pesan mama dan papa, aku ingin sekali memukul anak-anak sombong itu," kesal Arsen yang ikut menimpali penjelasan adiknya.

__ADS_1


"Aku juga, ingin sekali menendang pantat si Willy itu benar-benar menyebalkan padahal wajahnya menurutkan tak tampan tapi suka pamer dan menghina orang, huh!" Arnan juga ikut-ikutan kesal.


Aryana melongo melihat reaksi anak-anaknya ketika membahas tentang sikap teman-teman mereka yang suka merendahkan orang lain, bahkan itu teman-teman mereka sendiri. Meski Aryana tak pernah mengalami hal seperti itu waktu sekolah dulu tetapi hatinya juga merasa sedih mendengar jika ada orang lain menghina sesamanya hanya karena harta dan status sosial, dan kenapa Aryana tak pernah mengalami hal buruk selama si sekolah karena ia memiliki dua bodyguard tampan yaitu kedua kakak kembarnya.


"Sayang, yang namanya orang tua itu bukan hanya orang tua yang melahirkan kita tetapi bisa juga orang tua angkat, bisa jadi itu saudara dari ayah dan ibu yang ikut merawat kita, ataupun orang lain seperi temanmu Sean itu. Bapak dan ibu guru di sekolah itu juga bisa kita anggap orang tua kita, jadi siapapun orang tua kita, kita harus selalu menghormati dan menghargai, apa kalian mengerti?" ucap Aryana dengan penuh kelembutan, ia berusaha tenang agar tak kentara hatinya sedang tak baik-baik saja.


"Oh, begitu ya, Ma, sekarang Lesya sudah mengerti, besok Lesya akan menghibur Sean, agar dia tak sedih lagi," ucap Alesya.


"Baiklah, itu adalah ide yang baik, tapi jangan ada sentuhan fisik ya karena Sean adalah laki-laki!" peringat Aryana.


"Aku akan menemani Alesya besok untuk menghibur Sean," ucap Arnan.


"Itu juga usulan yang bagus, lebih baik kamu ditemani Arnan atau Arsen. Sekarang sudah malam, kalian segera tidur dan jangan lupa cuci tangan, kaki dan sikat gigi!"


"Baik, Ma!" ucap keempatnya serempak, lalu mereka masuk ke kamar mereka masing-masing.


Setelah anak-anaknya pergi ke kamar, Aryana menghembuskan nafas lega, tadi jantungnya serasa berhenti berdetak saat Alesya menanyakan tentang anak angkat. Ia tak bisa membayangkan jika teman-teman Alesya tahu bahwa Alesya bukan anak kandungnya dan Fahmi, mungkin Alesya juga akan mendapatkan perundungan seperti itu. Aryana lalu naik ke lantai dua dimana kamar kerja suaminya berada, ia ingin membahas hal ini dengan sang suami.


Tok Tok


"Aku, Honey."


"Masuk Sayang!"


Ceklek


"Belum selesai, Honey?" tanya Aryana sambil melangkah menuju meja kerja suaminya.


"Sedikit lagi, kenapa? kangen ya?" ucap Fahmi sambil tersenyum dan merengkuh pinggang sang istri hingga terduduk di pangkuannya.


"Ya, aku selalu kangen sama kamu, setiap detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun," jawab Aryana dengan mengalungkan tangannya ke leher sang suami.


"Kamu ini ya makin manis bicaranya, sekarang katakan ada hemm?"


"Kamu tahu, akan membicarakan sesuatu?"

__ADS_1


"Tentu aku tahu, karena aku yang ikut mengurusmu sejak masih bayi," jawab Fahmi sambil menoel gemas hidung mancung Aryana.


"Tadi aku sedang membacakan dongeng anak islam pada anak-anak, lalu aku menasehati tentang berbakti pada orang tua, lalu Alesya bertanya tentang orang tua angkat dan aku langsung terkejut."


"Terus dimana letak masalah yang menganggu pikiran istriku ini?"


"Aku bertanya pada Alesya kenapa dia bertanya hal seperti itu, dan ia menjawab karena temannya ada yang berstatus anak angkat yang bernama Sean, dan teman Alesya itu kadang di jauhi teman-temannya karena ia hanya anak panti yang diangkat anak oleh orang kaya. Aku jadi membayangkan jika itu terjadi pada Alesya. Kita harus memberi tahu sekolah anak-anak tentang hal ini, agar pihak sekolah bisa memberi pengertian pada para siswanya. Hal ini bisa menghancurkan mental seorang anak yang sedang berkembang dan ini bisa menimbulkan trauma. Kamu kan juga seorang dokter, Honey pasti kamu tahu tentang hal seperti ini," jawab Aryana dan hal itu membuat raut wajah Fahmi yang tadinya cerah menjadi mendung, hatinya bergemuruh mendengar penjelasan istrinya.


Alesya memang bukan putri kandungnya, tetapi Fahmi berhutang banyak pada ibu kandung Alesya dan hutang itu tak akan terbayar sampai kapanpun karena sesuatu yang di berikan ibu kandung Alesya bisa menyelematkan banyak jiwa dan memberi kebahagian bagi keluarganya.


"Iya, besok kita yang akan antar anak-anak ke sekolah, sekalian menemui pihak sekolah untuk membicarakan masalah ini," ucap Fahmi sambil membelai surai hitam sang istri.


"Baiklah aku setuju, dan terima kasih, kamu sudah mau mendengarkan aku."


"Hei, apa yang kau katakan, Sayang, aku adalah kepala keluarga sudah kewajibanku melindungi semua keluargaku, sekarang ayo tidur sudah malam jangan sampai sakit!" ajak Fahmi kemudian menurunkan Aryana dengan pelan dari pangkuannya.


"Katanya pekerjaanmu kurang sedikit."


"Tak apa kulanjutkan besok saja, aku ingin segera menemanimu tidur.


Fahmi kemudian keluar dari ruang kerjanya sambil merangkul pundak sang istri, mereka langsung menuju kamar untuk tidur meskipun Fahmi sebenarnya merasa belum mengantuk, apalagi setelah mendengar cerita dari Aryana tentang teman Alesya di sekolah.


"Honey, besok bisakah kita juga menjemput anak-anak bersama, setelah itu kita pergi ke makam Pamela?"


"Akan aku usahakan, Sayang semoga besok tak ada meeting dadakan."


"Terima kasih, Honey," ucap Aryana kemudian memposisikan tidurnya agar bisa memeluk Fahmi.


Fahmi membalas pelukan istrinya dengan sayang, ia mengelus punggung sang istri dengan lembut, tak lama terdengar dengkuran halus yang menandakan sang istri sudah tertidur pulas. Perlahan Fahmi melepaskan pelukan sang istri lalu menyelimutinya, ia lalu bangun dari tidurnya menuju balkon kamarnya sambil membawa ponsel.


"Kim, malam ini retas semua CCTV di sekolah anakku, besok pagi serahkan padaku!"


"Baik, Tuan!"


__________________________________________

__ADS_1


__ADS_2