
Pagi itu keluarga Yudha sudah berkumpul untuk sarapan bersama. Yasmin sendiri yang memasak menu-menu kesukaan suami dan anak-anaknya, tentu saja di bantu oleh art. Hari ini Yasmin dan Yudha akan benar-benar kesepian di rumah karena Afwa dan Afwi akan kembali ke tempat tugasnya masing-masing setelah cuti menikah. Di meja makan sudah ada anak-anak Yasmin bersama menantu perempuan mereka, hanya Aryana dan keluarganya yang tak ada karena sudah pulang lebih dulu ke Singapura.
"Jadi pulang jam berapa kalian?" tanya Yasmin sambil mengambilkan makanan untuk suaminya.
"Aq dan Afwi pulang jam sepuluh dari sini, Bund," jawab Afwa.
"Kamu mau pulang ke rumah dinas?" tanya Yasmin pada putra sulungnya.
"Iya, biar kami bisa adaptasi dengan para tetangga di sana," jawab Afwa.
"Terus nanti kalau kamu berangkat tugas ke Papua, siapa yang akan temani istri kamu?"
Kali ini bukan Afwa yang menjawab namun Kirana.
"Bunda tenang saja, aku berani tinggal di rumah dinas sendiri, nanti biar Kiara yang menemani jika dia tak sibuk, nanti kalau aku bosan aku bisa menginap di rumah nenek."
"Oh iya bunda hampir lupa, kalau kamu putri prajurit juga jadi sudah paham dengan suka dan duka jadi istri prajurit," ucap Yasmin sambil tersenyum.
"Kalau Nayla, mau tinggal dimana?" tanya Yasmin pada menantu putra keduanya.
"Nay sama dengan mbak Kirana, Nay akan tinggal di rumah yang dibeli oleh Abang, rumahnya memang tak terlalu besar jadi Nay masih bisa merawatnya sendiri."
"Kalian berdua wanita hebat dan tangguh, tak salah kedua putraku memilih kalian sebagai pendamping hidup, ayah harap kalian bisa mempertahankan sikap kalian ini, jadi istri prajurit harus sabar, tabah dan kuat," ucap Yudha memuji sikap kedua menantu perempuannya dalam mendampingi suami.
"Ayah jangan terlalu memuji kami, sikap yang kami lakukan memang seharusnya dilakukan sebagai istri abdi negara, itu sudah kewajiban kami, ayah," ucap Nayla.
Yudha dan Yasmin tersenyum bahagian melihat sikap menantu perempuan mereka bisa mengerti pekerjaan suaminya. Mereka meneruskan sarapan pagi yang penuh dengan keceriaan itu. Setelah sarapan Afwa dan Afwi berserta istri mereka pamit ke kamar untuk membereskan barang-barang yang akan mereka bawa pulang nanti. Untuk Afwa akan menggunakan jalur darat yaitu naik mobil untuk kembali ke Semarang sedangkan Afwi akan naik pesawat komersial saja, meskipun Jetpri Dewantara group juga tersedia untuknya.
"Kalian baik-baik di sana, jaga kesehatan jangan lupa selalu hubungi ayah dan bunda apapun keadaan kalian di sana, dan kamu Kirana, ada butik dan resto Dewantara di Semarang, nanti kamu bantu di sana ya, Afwa akan mengantarmu ke sana," ucap Yasmin pada anak dan menantunya.
"Iya, Bunda, tapi saya belum pernah bekerja di butik dan resto sebesar milik Dewantara group," ucap Kirana.
"Nanti di sana ada orang kepercayaan ayah dan bunda yang akan membantu kamu, Nayla juga akan bekerja di butik dan resto cabang Bandung tapi hanya memantau saja karena Nayla sudah punya bisnis kuliner sendiri."
"Baik, Ma, semoga kami bisa menjalankan amanah ayah dan bunda," ucap Kirana mewakili semuanya.
"Sama-sama, usaha yang kami miliki kelak juga akan menjadi milik suami kalian jadi sudah selayaknya kalian juga ikut mengelolanya," ucap Yasmin memberi pengertian pada kedua menantunya itu.
"Ayah dan Bunda juga jaga diri baik-baik selalu doakan kami ya!" pinta Afwa sambil memeluk ayah dan bundanya.
"Azka, kau jangan bandel ya belajar yang benar, jangan mengecewakan ayah bunda! peringat Afwi pada adik bungsunya yang sekarang sudah duduk di bangku kuliah.
"Iya-iya bawel," sungut Azka.
Mulanya Azka akan kuliah di luar negeri tetapi mengingat ketiga kakaknya berada di kota yang jauh maka ia memutuskan untuk kuliah di Indonesia saja, baru nanti S2 nya dia akan mengambilnya di luar negeri
Setelah berpamitan dengan semua orang tua dan adiknya, kedua putra kembar Yudha dan istri-istri mereka segera menuju mobil yang akan membawa mereka kembali ke tempat tugas mereka. Afwa lebih memilih menyetir sendiri sedangkan Afwi dan Nayla akan diantar supir sampai bandara.
Lambaian tangan Yudha dan Yasmin mengantar kepulangan anak dan menantunya, begitu mobil keluar halaman rumah, Yudha langsung merangkul pundak sang istri karena ia tahu Yasmin sangat berat melepas anak-anaknya kembali bekerja di luar kota.
__ADS_1
"Mereka akan baik-baik saja, kita hanya tinggal mendoakan saja," ucap Yudha lembut yang hanya dijawab anggukan disertai sedikit isakan istrinya.
"Bunda, nggak usah baper ah, anak bunda bukan hanya triplet itu, pikirkan aku juga, berasa anak tiri," ucap Azka pura-pura kesal kemudian berlalu meninggal kan orang tuanya yang masih saling merangkul setelah melepas kepulangan kedua kakak laki-lakinya.
Mendengar ucapan putra bungsunya membuat Yudha menoleh ke belakang melihat punggung Azka yang sudah ngacir ke dalam rumah.
"Astaga, anak itu selalu saja," kesal Yudha dalam hati.
Akhirnya setelah menempuh sekitar kurang lebih tiga jam perjalanan Afwi dan Nayla sudah sampai di Bandung, perjalanan udara cepat hanya jika sudah sampai jalan darat perjalanan pasti akan banyak hambatan. Mereka sampai di rumah minimalis dua lantai milik Afwi, beberapa pot bunga tampak segar menghiasi depan rumah Afwi.
'Kita sudah sampai, Dek," ucap Afwi sambil membantu Nayla turun dari mobil.
"Ini rumah, Abang?"
"Iya, kamu suka, maaf ya kalau rumahnya tak terlalu besar soalnya rumah ini aku beli pakai uangku sendiri, dan lagipula saat itu belum kepikiran buat nikah jadi beli yang ini aja biar mudah dibersihkan," jawab Afwi santai.
"MasyaAllah, Abang, ini buat aku cukup besar dan bagus lho, meski nggak sebesar rumah papa dan ayah Yudha."
"Makasih ya,.Dek kamu mau menerima kesederhanaan Abang yang hanya polisi biasa."
"Abang nggak usah lebay deh, ini tuh bagus banget tau."
"Kalau begitu ayo masuk!"
Afwi lalu mengajak masuk istrinya sedangkan tas mereka di bantu oleh supir, ya Afwi dari bandara di jemput oleh orang suruhan Revanda yang bertugas mengantar Afwi dan istri sampai rumah sekaligus membantu mereka berbenah.
"Rumahnya bersih, padahal sudah lama abang tinggal," ucap Nayla kagum dengan kebersihan rumah Afwi.
"Sebentar aku telpon bibi Jumi biar kesini, bantu kita beres-beres dan kenalan sama kamu."
Afwi lalu mendial nomor bibi Jumi agar ke rumah Afwi. Tak lama perempuan Berusia sekitar empat puluh tahun memasuki rumah Afwi.
"Assalamualaikum," ucap bibi Jumi
"Waalaikumsalam." jawab Afwi dan Nayla bersamaan.
"Ada apa Aden panggil saya?" tanya bibi Jumi.
"Bi, kenalkan ini istri saya, nanti dia akan tinggal disini bersama saya, meski begitu saya tetap minta tolong bibi membantu."
"Ini istri Den Afwi, cantik sekali cocok sama Den Afwi yang ganteng sekali" puji bi Jumi.
Afwi dan Nayla tersenyum mendengar ucapan bibi Jumi.
"Kamar saya sudah dibersihkan, Bi?" tanya Afwi
"Sudah, kemarin waktu Aden telepon, saya dan si Dudung langsung membersihkan, peralatan dapur sudah bersih dan siap pakai, Kulkasnya sudah saya isi beberapa sayuran dan telur, berasnya sudah saya belikan sesuai permintaan aden," jawab bi Jumi.
"Makasih, Bi, saya minta bibi belikan isi kulkas karena istri saya suka memasak, kapan-kapan kami akan undang bibi makan bersama," ucap Afwi.
__ADS_1
"Aduh terima kasih banyak, Den Afwi bibi mah orang kecil nggak pantas makan satu meja dengan aden dan neng," ucap bibi Jumi merasa tak enak.
"Bibi jangan begitu, bibi sudah bantu banyak selama abang Afwi di sini, saya tak punya saudara di Bandung ini, kita bisa jadi saudara, oh iya ini ada makanan khas daerah kami dan ini adalah souvernir pernikahan abang Afwi," ucap Nayla sambil memberikan paper bag dengan desain mewah yang berisi sovenir pernikahannya yang diberikan waktu pengajian yaitu satu set mukena mewah dan sajadah bagi tamu perempuan yang dikemas dengan box khusus dan dimasukkan di paper bag yang bertuliskan nama mempelai.
Melihat paper bag yang begitu bagus membuat tangan bibi Jum gemetar menerimanya, belum selesai gemetarnya, Afwi juga memberikan satu paper bag sovenir bagi tamu laki-laki.
"Ini untuk Dudung juga ada," ucap Afwi sambil menyodorkan paper bag Warna hijau kombinasi gold.
"Te-terima kasih aden, neng, soupenirnya cakep pisan, bibi sampai gemeter ini, ta-tapi ini kenapa nama pengantennya ada dua pasang?" tanya bibi Jumi yang heran setelah memperhatikan tulisan di paper bag.
"Kemarin itu pernikahan ngunduh mantu, resepsi ngunduh mantu saya dan kakak kembar saya di jadikan satu waktu," jawab Afwi yang membuat bibi Jumi melongo.
"Ja-jadi aden Afwi punya kembaran?"
"Iya, saya kembar tiga, saya yang lahir kedua selang tujuh menit dari kakak saya, lalu setelah saya, perempuan bi, sudah nikah juga."
"MasyaAllah, hebat aden bisa lahir kembar, Alhamdulillah, barokahnya gusti Allah, semoga aden Afwi dan neng juga saudara-saudara aden selalu sehat, selamat, nikah langgeng sampe aki-aki dan nini-nini."
"Aamiin, terima kasih doanya, Bi," ucap Afwi dan Nayla yang hampir bersamaan.
"Bibi hari ini dan besok tak usah masak, karena kami banyak kegiatan di luar, nanti kalau kami butuh bantuan bibi atau Dudung, saya akan kasih tahu!" pinta Afwi yang di iyakan oleh Afwi.
Setelah selesai beramah tamah dan berkenalan dengan Nayla, bibi Jumi panit undur diri, bibi Jumi sangat senang menerim ia pemberian bibi Jumi. Sungguh hal itu adalah penghargaan yang besar untuknya, boleh di bilang pemberian Afwi dan Nayla adalah pemberian bagus yang pernah bibi Jumi terima.
Di dalam rumah, Afwi dan Nayla mulai membereskan kamarnya dan menata baju-baju mereka. Setelah selesai mereka bergantian mandi tanpa acara nina-ninu karena sebentar lagi masuk waktu ashar, dan benar saja setelah selesai mandi adzan ashar berkumandang.
"Dek, setah ashar kita makannya delivery saja apa mau makan di luar?"
"Di luar saja, Bang, aku kangen dengan kuliner Bandung."
"Oke kita nanti kulineran diuar saja, tapi kita shalat dulu!"
"Iya, Bang," ucap Nayla kemudian mereka melaksanakan shalat ashar berjamaah.
Selesai shalat ashar berjamaah, Afwi dan Nayla keluar rumah untuk mencari makan sekalian healing tipis-tipis. Pasangan pengantin baru itu menyusuri jalanan kota Bandung, akhirnya mereka memutuskan masuk ke sebuah restoran yang menyajikan masakan khas Sunda. Afwi mengandeng tangan sang istri dengan mesra saat memasuki restoran, sampai di dalam, Nayla memilih meja yang agak pinggir dekat dengan kolam ikan hias. Afwi dan Nayla segera memesan makanan, setelah beberapa lama menunggu pelayan mengantar makanan yang mereka pesan. Nayla tampak begitu menikmati makanannya membuat Afwi tersenyum melihatnya.
"Enak sekali ya, Dek, makanannya?"
"Enak, Bang, rasanya sudah lama tidak makan masakan khas sunda."
"Oke teruskan makannya tapi pelan-pelan nanti tersedak, kalau masih kurang kamu boleh tambah lagi, Abang nggak akan bangkrut dengan kasih kamu makan banyak"
"Ih Abang gitu, ini sudah cukup kok Bang."
"Habis ini kamu pingin jalan kemana lagi?"
" Ke supermarket bentar ya buat beli beberapa keperluan yang belum terbeli oleh bi Jumi."
"Siap, istriku tersayang," ucap Afwi sambil tersenyum menggoda istrinya.
__ADS_1
________________________________________