Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 134


__ADS_3

Sore itu Raka baru saja pulang dari dinas luar kota dan kebetulan di sana ia bertemu dengan Yudha sahabat baiknya mereka sepakat akan menikahkan anak-anak mereka meski Dinda tak menyetujuinya Saat ini Raka sedang di kamar bersama Dinda istrinya.


"Din, kemarin tak sengaja aku bertemu Yudha dan kami membicarakan kelanjutan hubungan Kirana dan Afwa," ucap Raka memberi tahu Dinda sedangkan Dinda sendiri seolah tak perduli dengan omongan sang suami, tentu saja hal itu membuat Raka kesal.


"Din, bisa nggak sih kamu perhatiin omonganku!" kesal Raka.


"Kenapa?, mas tetap akan menikahkan Afwa dan Kirana tanpa persetujuanku jadi artinya aku bukanlah orang penting!" ucap Dinda ketus.


"Alasanmu tak merestui mereka tak masuk akal dan konyol, yang namanya perasaan tak dapat di paksakan, jangan pernah lagi menjodohkan Kirana dengan anak teman kamu itu atau laki-laki manapun!, hanya Afwa yang aku restui untuk mengambil tanggung jawabku pada Kirana kelak nantinya, terserah kau mau merestui atau tidak!" ucap Raka kemudian meninggalkan kamar begitu saja.


Raka menuju kamar Kirana, pintu kamar sang putri tak tertutup sempurna, ia ingin masuk namun langkahnya tertahan ketika mendengar suara isak tangis putrinya dalam sebuah untaian doa. Raka mencoba mengintip dari balik pintu yang sedikit terbuka, terlihat Kiran tengah berdoa dengan masih memakai mukenanya, bersimpuh dihadapan Sang Rabb Yang Maha Tinggi, satu-satunya tempat mengadu yang paling aman. Sang Rabb, Allah SWT yang akan dengan senang hati mendengarkan keluh kesah hamba-Nya, dan mengabulkan semua permohonan hamba-Nya.


Raka menyandarkan tubuhnya ke dinding luar kamar sang putri, matanya terpejam sejenak merasakan sesak di dadanya, tak terasa bulir bening keluar dari sudut matanya. Sebagai tentara pasukan khusus, ia sanggup melakukan apapun demi menjalankan tugasnya melindungi ibu pertiwi tetapi ia merasa gagal untuk melindungi hati buah hatinya, yang menjadikan dirinya cinta pertama dalam hidupnya. Ayah adalah cinta pertama untuk anak perempuannya, tanggung jawan yang besar bagi seorang ayah pada anak perempuannya sampai pada akhirnya suatu saat ia harus meng take over tanggung jawab itu pada laki-laki lain yang berstatus suami dari anak perempuannya.


"Maafkan ayah, Kiran, ayah tak gagal tak bisa melindungi hati kamu, Nak, tapi ayah janji akan memberikan tanggung jawab ayah padamu pada laki-laki yang tepat, laki-laki yang mencintaimu dan kau cintai," batin Raka sambil memejamkan matanya menahan sesak di dadanya.


Raka tak jadi menemui Kirana, ia ingin membiarkan putrinya mengadu pada Sang Rabb pemilik alam semesta. Ia mengambil kunci mobil lalu keluar rumah tanpa berpamitan pada siapapun, namun ada sepasang mata nanar yang melihat kepergian Raka dari balik tirai jendela kamarnya.


Dinda merasa gelisah, waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam namun tanda-tanda Raka pulang belum terdengar. Entah kenapa hatinya merasa tak enak.


"Apa selama ini aku menjadi ibu yang jahat?, aku hanya tak ingin Kirana mengalami nasib seperti diriku," monolog Dinda.


Pada saat Dinda gelisah menunggu kepulangan sang suami, ponselnya berdering, ada nama Raka di sana, dengan cepat Dinda mengangkat telpon yang di nantikannya sejak tadi, namun suara di telpon bukan suara Raka.


"Hallo, Assalamualaikum, Mas, kamu dimana?"


"Waalaikumsalam, maaf bu apa ibu ini istri dari saudara Raka?" tanya seseorang di seberang telpon yang menggunakan ponsel Raka.


"I-iya saya istrinya mas Raka, dimana suami saya?, kenapa anda yang mengangkat teleponnya?" tanya Dinda bingung.


"Kami dari kepolisian, bu, mau mengabarkan bahwa pak Raka mengalami kecelakaan lalu lintas dan sekarang di bawa ke rumah sakit K Semarang, saya harap ibu segera ke sini sekarang!"


Mendengar berita via telpon dari kepolisian, kaki Dinda rasanya lemas, ia tak tahu harus berfikir apa, sampai suara diseberang telepon menyadarkannya.


"Hallo..., hallo..., ibu!, apa ibu masih di sana?"


"I-iya pak, saya akan segera ke rumah sakit."


Begitu sambungan teleponnya tertutup, Dinda langsung berganti pakaian lalu mengambil tas dan menuju kamar Kirana .

__ADS_1


Tok tok


Kirana yang merasa pintu kamarnya ada yang mengetuk cukup keras, berusaha bangun dan membuka matanya. Perlahan ia berdiri dan berjalan menuju pintu kamarnya


Ceklek


"Ibu, ada apa malam-malam begini membangunkan aku?" tanya Kirana sambil mengucek matanya yang masih mengantuk.


"Din, ayo kita segera ke rumah sakit, ayah kecelakaan!" ajak Dinda panik.


Mendengar perkataan sang ibu, mata Kirana yang tadi masih mengantuk langsung membuka sempurna.


"Apa!, Bu ayah kecelakaan?" pekik Kirana.


"Iya, cepat bangunkan adikmu!"


Kirana langsung menuju kamar Kiara, sang adik pun juga tak kalah terkejut, mereka bertiga kemudian segera pergi ke rumah sakit, setelah sekitar setengah jam perjalanan, Dinda dan kedua putrinya sampai di rumah sakit.


"Permisi, sus mau tanya korban kecelakaan bernama bapak Raka di rawat di mana?"


"O bapak Raka masih di IGD, silahkan anda jalan lurus ikuti jalan ini lalu belok kiri!" jawab perawat jaga.


"Permisi, dimana pak Raka di rawat?" tanya Dinda membuat dua polisi dan dokter menoleh ke arahnya.


"Anda siapanya pak Raka?" tanya salah seorang anggota polisi.


"Saya Dinda istrinya."


"Oh Anda istri korban, begini bu suami andan mencoba menghindari sebuah truk berlawanan arah sedang melaju cukup kencang sehingga ia membanting stir dan menabrak pembatas jalan," ucap anggota polisi satlantas yang menangani kecelakaan Raka.


"Lalu bagaimana keadaan suami saya, Dok?"


"Suami ibu mengalami benturan keras di kepala sekarang masih belum sadarkan diri dan harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui seberapa besar luka di kepala dan organ tubuh lainnya," jelas dokter.


"Boleh saya lihat suami saya, Dok?"


"Tentu, tapi satu-satu saja masuknya!"


Dinda lalu masuk ke ruang IGD lebih dulu untuk melihat Raka, terlihat tubuh tegap yang selama ini memancarkan aura ketegasan seolah hilang entah kemana, yang ada hanya tubuh kekar namun tak berdaya dengan mata terpejam. Perlahan Dinda mendekati bed rumah sakit.

__ADS_1


"Mas...hiks...hiks...jangan tinggalin aku, maafkan aku, aku banyak salah sama mas, bangun mas, buka matamu!" ucap Dinda memegang tangan Raka sambil menangis, namun tubuh yang terbaring lemah itu tak menunjukkan reaksi apapun.


Sedangkan di luar kedua kakak adik saling berpelukan untuk saling menguatkan.


Kak Kiran ayah akan baik-baik saja?" tanya Kiara memeluk sang kakak sambil menangis, kakak juga sedih, tapi kita harus kuat, kakak yakin ayah akan baik-baik saja.


"Kak Kiran tak memberi tahu kak Afwa?" tanya Kiara saat sudah mengurai pelukannya.


"Sudah malam, Ara, kakak nggak mau mengganggunya."


"Di chat saja biar nggak ganggu, kalau besok takutnya kakak lupa," Saran Kiara.


Kirana pun akhirnya menuruti saran sang adik mengabarkan pada Afwa jika ayahnya masuk rumah sakit karena kecelakaan.


Dinda akhirnya keluar dari IGD dengan lesu dan mata sembab, ia meminta Kirana untuk masuk bergantian melihat kondisi sang ayah.


"Ibu, ayah bagaimana?" tanya Kirana.


"Ayahmu belum sadar, kau bisa melihatnya Kiran," ucap Dinda lalu terduduk lesu di kursi.ruang tunggu di dekat IGD.


Kirana langsung masuk ke ruang IGD untuk melihat sang ayah tercinta. Pandangan Kirana menjadi nanar ketika melihat sang ayah yang biasanya gagah dengan seragam dinasnya sekarang tergolek lemah tak berdaya.


'Ayah...., hiks...hiks, cepat sadar, Yah, aku dan Kiara sayang ayah, ayah belum selesai menjagaku, ayah belum melihat aku dan Kiara menikah."


Dinda, Kirana dan Kiara akhirnya menunggu sampai pagi, karena setelah tindakan selama dua jam Raka tak sadar maka Raka di pindahkan ke ruang HCU.


Di asrama militer betapa terkejutnya ia ketika mendapati chat dari Kirana, pagi hari setelah shalat subuh.


"Om Raka masuk rumah sakit?" semoga om Raka nggak kenap-napa. Aku harus memberitahu ayah dan bunda, biar mereka segera ke sini ikut menjenguk om Raka, entah kenapa perasaanku tak enak ya?" ucap Afwa dalam hati.


Di ruang HCU Raka masih menutup mata, namun bibirnya mengumamkan dua kata.


"Afwa....Ki-Kirana...!"


____________________________________


Maaf baru up, dan author juga mohon maaf juga jika tanggal 16- 21 April 2022, saya kemungkinan akan telat up karena sedang persiapan pre test secara daring domisili.🙏🙏🙏.


Please, Like, Vote, Coment, Rate and Hadiah

__ADS_1


Thank You


__ADS_2