Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode 227. Tujuh Bulanan


__ADS_3

Yudha dan Raka langsung menoleh ke sumber suara saat mereka sedang asyik mengobrol. Betapa terkejutnya Yudha ketika melihat empat kurcaci kecil yang mengemaskan berlari ke arahnya, begitu juga Raka.


"Opa...!" panggil keempat anak Aryana sambil berlari menghampiri Yudha.


Yudha langsung mengambil posisi setengah berjongkok untuk menyongsong keempat cucunya yang berlari ke arahnya. Keempat putra-putri Aryana berebut memeluk sang opa hingga Yudha hampir terjungkal jika Raka tak menahan tubuhnya dari belakang. Sedangkan Fahmi dan Aryana berjalan santai di belakang anak-anak mereka yang sangat antusias bertemu dengan sang opa.


"Opa, I miss you," ucap Alesya dengan nada centilnya berbeda dengan Alya yang lebih kalem.


"I miss you too princess," ucap Yudha setelah bisa berjongkok dengan normal.


"Kami rindu opa dan semuanya," ucap Arnan setelah ia dan ketiga saudaranya mengurai pelukan pada sang opa.


"Kenapa datang sekarang katanya masih besok?" tanya Yudha dengan nada gemas.


"Biar surprise, opa," jawab Alesya.


"Assalamualaikum ayah," ucap Fahmi dan Aryana saat sudah dekat dengan Yudha.


Yudha mendongakkan kepalanya ke atas ketika mendengar suara salam, begitu tahu siapa yang mengucap salam, Yudha menjawab salam sambil berusaha berdiri.


"Waalaikumsalam," jawab Yudha.


"Ayah," ucap Aryana dengan suara bergetar dan langsung memeluk Yudha.


"Kenapa menangis, nggak malu sama anak-anakmu?" ucap Yudha sambil membalas pelukan putrinya.


"Aryana rindu ayah."


"Ayah dan bunda juga sangat merindukanmu, sudah berhenti menangis tuh lihat anak-anakmu sampai bengong melihatmu seperti ini!"


Anak-anak Alesya kemudian melihat sang papa dengan sorot mata seolah ingin tahu kenapa mama mereka menangis, dan Fahmi pun mengerti arti tatapan itu.


"Mama kalian menangis karena bahagia bisa bertemu dengan opa, mama juga rindu opa sama seperti kalian," jelas Fahmi sambil mengusap kepala Arnan dan Arsen yang berdiri tepat di depannya.


"Apa kabar ayah?" sapa Fahmi.


"Kabarku baik, kenapa kalian memajukan jadwal ke sini katanya masih besok?"


"Anak-anak rewel dan merajuk ingin cepat kesini."


"Ya opa kami sudah sangat ingin ke Indonesia bertemu dengan opa, oma dan semuanya, di sini kita punya banyak opa, oma dan saudara," ucap Arnan.


Raka yang menyaksikan pertemuan keluarga ini merasa sangat terharu dan tidak tahan untuk ambil bagian.


"Kalian nggak kangen nih sama opa Raka?" ucap Raka dengan nada yang jenaka.


Keempat anak Aryana langsung menatap laki-laki paruh baya yang seumuran dengan opanya, mereka memandang Raka dengan tatapan sedang mengingat sosok laki-laki yang berdiri di sebelah sang opa.


"Aku lupa, opa Raka ini opa kita yang mana ya, soalnya opa kita di Indonesia ini kan banyak?" tanya Alesya lucu membuat Yudha dan Fahmi tertawa..

__ADS_1


Raka gemas dengan balita bermata hazel itu, hidungnya yang mancung dan kulitnya yang putih membuat Raka gemas ingin ia bawa pulang.


"Tuan putri yang cantik, opa Raka ini adalah ayah dari budhe Kirana istrinya pakdhe kamu Afwa," jawab Raka memberi pengertian.


"Oh ternyata Opa Raka ini ayah dari budhe Kirana, pantas masih good looking," ucap Alesya sedikit centil membuat Fahmi ingin segera membawa putri angkatnya itu pulang demi kedamaian bersama.


"Alesya yang sopan dengan orang yang lebih tua!" tegur Aryana lembut.


"Sorry," ucap Alesya sambil tersenyum lucu.


"Ayo masuk, semua ada di dalam mereka pasti senang dengan kedatangan kalian yang mengejutkan!" ajak Yudha pada Fahmi dan keluarga kecilnya.


Kemudian mereka semua memasuki rumah Raka yang sudah di gelari karpet untuk persiapan tujuh bulanan kehamilan Kirana.


"Oma...!" pekik Arnan dan Arsen saat melihat Yasmin sedang menaruh beberapa cangkir teh di meja, suara kedua anak laki-laki Fahmi dan Aryana membuat orang-orang yang sedang sibuk menoleh ke sumber suara.


"MasyaAllah, kalian?" ucap Yasmin terkejut, untung dia tidak jantungan.


Semua anggota keluarga bergegas ke ruang tengah karena mendengar kegaduhan, mereka juga terkejut dengan kedatangan Fahmi dan Aryana beserta keluarganya, karena keluarga Fahmi akan datang besok pada saat acara.


"Eh kwartet, sungguh ini kalian?" ucap Azka sambil berjalan mendekat pada keempat keponakannya.


"Of course, memang kami hantu," ucap Alesya sebal sambil memanyunkan bibirnya.


Azka bukannya marah tapi malah langsung memeluk Alesya dengan gemas.


"Dasar centil, kamu tinggal disini saja sama Opa dan Oma," ucap Azka.


"Lepas!, jangan peluk-peluk sembarangan!" peringat Fahmi kesal.


"Cuma peluk aja nggak boleh," ucap Azka sambil perlahan melepas pelukannya pada Alesya.


Semua orang yang ada di sana hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah dua laki-laki berbeda generasi. Dinda sebagai tuan rumah kemudian mempersilahkan Fahmi dan keluarganya untuk duduk di ruang keluarga, ia juga meminta beberapa orang yang membantu hajatan tujuh bulanan Kirana menyuguhkan makanan dan minuman. Bagaimanapun Dinda berhutang budi dengan Fahmi karena dulu nyawanya dan proses persalinannya melahirkan Kirana di bantu oleh Fahmi bahkan biaya rawatnya Fahmi lah yang membayarnya.


"Dokter Fahmi apa kabar, maaf keadaan rumah masih berantakan," sapa Dinda sopan, meski Fahmi adalah suami dari adik ipar menantunya namun usia Fahmi lebih tua dari dirinya jadi Dinda cukup menghormati Fahmi.


"Dinda, panggil Fahmi saja, kamu adalah mertua Afwa kakak iparku jadi hilangkan panggilan dokter itu, apalagi sekarang ada di acara keluarga," ucap Fahmi karena panggilan dokter untuknya rasanya aneh saat acara keluarga.


"Iya Tante, panggil mas Fahmi saja nggak usah pakai dokter," ucap Aryana menimpali.


"Heh dasar ya kalian ini, ayo kita duduk dulu makan camilan yang sudah tersedia, kalian pasti kangen kan makanan tradisional Indonesia!" ajak Yasmin pada Aryana dan keluarganya untuk duduk.di karpet yang sudah penuh dengan jenis makanan, teh panas dan air mineral.


Keluarga besar Yudha duduk semua di karpet yang sudah terbentang, anak-anak Fahmi sangat antusias dengan hidangan snack yang ada terhidang.


"Mama ini namanya apa?" tanya Alya yang mengambil sebuah makanan yang di bungkus daun pisang dengan ukuran kecil berbentuk lonjong.


"Itu namanya lemper, terbuat dari ketan dan abon yang dimasak dengan cara di dikukus.


"Kalau ini?" tanya Arsen yang mengambil sebuah makanan yang digulung dan berwarna kuning pucat.

__ADS_1


"Itu namanya sosis basah cara memasaknya dengan si kukus juga.


Arsen lalu mengigit sosis basah karena ia merasa sosisnya sangat enak.


"Ehm, ini sangat enak, Ma, boleh Arsen ambil lagi?" tanya Arsen yang diangguki oleh Aryana.


Tingkah anak-anak Aryana cukup mengemaskan sangat menghibur anggota keluarga lainnya, semua orang yang duduk di karpet yang penuh hidangan mulai makan snack yang terhidang. Fahmi dan Aryana lah yang paling antusias mencicipi semua snack yang terhidang karena di negeri Singa mereka sangat kesusahan jika ingin makan makanan tradisional Indonesia.


****


Keesokan harinya acara tujuh bulanan Kirana di adakan, acara tersebut diadakan pada hari Minggu ba'da ashar. Acara yang tujuh bulanan Kirana tak mengundang banyak orang untuk menjaga perasaan rekan-rekan Afwa sebagai abdi negara. Rangkaian acara tersebut terdiri dari doa bersama demi keselamatan ibu dan bayi yang di kandung juga pengajian. Afwa hanya mengundang teman-teman dekat di kesatuan, atasannya dan beberapa tetangga rumah dinasnya.


Semua anggota keluarga menggenakan dress code warna putih, Kirana nampak cantik dengan abaya warna putih kombinasi silver sedangkan Afwa tampak lebih tampan dengan baju koko.warna puth.


"Semoga bayi dan ibunya sehat ya sampai nanti melahirkan diberi kelancaran," ucap istri atasan Afwa yang hadir mendampingi suaminya.


"Siap, terima kasih ibu atas doanya," ucap Kirana sambil tersenyum ramah.


"Jaga istri kamu baik-baik, Letda Afwa jika tidak, siap-siap saja di kasih hadiah spesial dari ayahmu dan ayah mertuamu, ha...ha...," canda atasan Afwa di kesatuan yang tentu tahu background keluarga sang anak buah.


"Siap, Komandan!"


Setelah memberi ucapan pada Afwa dan Kiran, atasan Afwa pamit untuk pulang. Acara berakhir menjelang magrib. Semua anggota keluarga melaksanakan shalat magrib berjamaah sebelum membantu membereskan perlengkapan di acara tujuh bulanan Kirana. Bunda Nana dan pak Mahendra juga hadir, namun Nayla hanya datang sendiri karena Afwi ada tugas mendadak dari atasannya dinas ke luar kota.


"Ayah, Bunda, kami balik ke hotel dulu.ya kasihan anak-anak sudah mengantuk," ucap Aryana.


"Baiklah, hati-hati di jalan, rencananya kapan balik ke Singapura?" tanya Yudha.


"Kalau tidak ada halangan dua hari lagi, Yah, anak-anak masih ingin mengunjungi destinasi wisata di Yogyakarta.dan Semarang," jawab Aryana.


"Ya sudah cepat balik ke hotel kasihan cucu-cucu Opa, sebentar lagi ayah dan bunda juga akan pulang."


Anak-anak Fahmi sangat menikmati rekreasi wisata di kota Yogyakarta dan Semarang, Yudha dan Yasmin menemani saat di Yogyakarta karena Yudha ingin mengajak cucunya ke Akademi Militer di Magelang sekalian Yudha ingin menemui temannya yang menjadi pengajar di sana.


"Wow keren, apa benar ini tempat opa dulu sekolah menjadi soldier?" tanya Arsen antusias.


"Ya, Sayang, ini dulu tempat opa sekolah untuk bisa menjadi tentara," jawab Yudha lalu mengendong cucu laki-lakinya yang sangat interes pada dunia militer.


"Arsen mau jadi tentara?" tanya Yudha.


"Sepertinya begitu tapi Arsen tidak tahu ke depannya cita-cita Arsen berubah,' jawab Arsen.


"Huh tidak punya pendirian," seloroh Arnan dengan mulut yang mengerucut.


"Kalian belajar dulu yang rajin seiring berjalannya waktu kalian pasti akan menemukan cita-cita yang tepat," ucap Yudha memberi nasehat dan keempat cucunya mengangguk mengerti.


"Opa, kalau aku tidak ingin jadi tentara tetapi jadi istri tentara boleh?" tanya Alesya polos.


"What?" pekik Fahmi, Aryana, Yudha dan Yasmin bersamaan.

__ADS_1


____________________________________


__ADS_2