
Keluarga pak Heri berbincang akrab dengan Yudha, karena mereka adalah teman satu letting sewaktu pendidikan Akmil. Reno dan Salsa mengulas senyuman saat Yudha dan Yasmin melontarkan beberapa pertanyaan dan menjawabnya dengan tenang meski hati Reno sebenarnya sudah tak karuan. Pesona Aryana benar-benar membuat hatinya porak poranda.
"Mas Reno masih jadi fotografer?" tanya Aryana.
"Masih, Dek, memang mau kerja apalagi, aku menyukai pekerjaanku itu," jawab Reno sambil tersenyum.
Mendengar panggilan Reno pada Aryana entah kenapa hati Fahmi rasanya kesal.
"Dek, panggilan apa itu memang Aryana adiknya apa," batin Fahmi kesal namun ia berusaha menutupinya.
"Oh baguslah kalau Mas Reno menyukai pekerjaan fotografer itu, kapan-kapan kalau aku ke Yogya boleh dong foto-foto di studionya Mas Reno," ucap Aryan.
"Tentu saja, dengan senang hati, Dek, kalau ke Yogya kasih kabar ya biar aku bisa kasih sambutan spesial," ucap Reno sambil bercanda.
"Nak, Salsa bagaimana ujian Akpol nya lulus tidak?" sela Yudha bertanya pada Salsa.
"Alhamdulillah lulus, Om," jawab Salsa sambil tersenyum.
"Wah, berarti besok bisa satu akademi dengan Afwi, dia juga lulus ujian Akpol tahun ini," ucap Yudha.
"Tapi ngomong-ngomong Afwi dimana Yud?" tanya pak Heri.
"Oh tadi katanya tadi mau keluar sebentar dengan Afwa dan Azka, paling bentar lagi pulang," jawab Yudha.
Tak lama suara salam terdengar dari luar
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam," sahut oran-orang dari dalam rumah.
"Hah, ini dia, Afwi sudah datang, ayo sini kalian salim dulu saya Om Heri dan keluarganya!" pinta Yasmin.
"Afwa, Afwi dan Azka langsung menyalami pak Heri dan keluarganya.
"Sini, kalian duduk disini!" pinta Yudha agar ketiga putranya ikut berbincang dengan keluarga pak Heri. Meski engan Afwa dan Afwi tetap menuruti sedangkan Azka, dia pamit ke belakang, karena dia merasa masih kecil dan merasa aneh jika ikut ngobrol dengan para orang dewasa.
" Wah selamat ya Afwi kamu lulus masuk Akpol," ucap pak Heri.
"Terima kasih, Om," ucap Afwi.
"Berarti nanti akan satu angkatan dengan Salsa, dia juga lulus masuk Akpol tahun ini bareng dengan kamu, Om harap kalian bisa saling membantu di sana," ucap pak Heri menaruh harapan pada Afwi, sedangkan Afwi hanya tersenyum canggung.
"Huh, apa itu saling membantu, semoga ini bukan kode perjodohan," batin Afwi berharap.
Dua keluarga itu berbincang penuh keakraban, namun tidak dengan Afwi dan Fahmi, dua pria beda generasi itu benar-benar tak nyaman dengan keakraban tersebut dikarenakan Fahmi mengetahui beberapa kali Reno menatap Aryana dengan tatapan yang tak biasa, sebagai laki-laki ia tahu benar apa arti tatapan itu, sedangkan Afwi dia mulai risih karena Salsa beberapa kali mencuri pandang padanya.
Akhirnya menjelang magrib perbincangan dua keluarga itu pun berakhir, kelurga pak Heri berpamitan dengan Yudha. Sebelum pulang Reno dan Salsa memberikan kado pernikahan untuk Aryana dan tentu saja Aryana sangat senang menerimanya.
"Dek, ini ada hadiah kecil dariku, semoga kau menyukainya," ucap Reno sambil memberikan sebuah benda persegi seukuran frame sepuluh R yang terbungkus sebuah kertas kado yang cantik
"Terima kasih, Mas, malah ngerepotin nih," ucap Aryana merasa tak enak namun ia tetap menerima kado dari Reno.
"Ini dariku mbak, semoga mbak juga menyukainya hadiah kecil yang tak seberapa ini," ucap Salsa sambil memberikan sebuah paper bag pada Aryana.
__ADS_1
"Ah, kalian, aku benar-benar merasa tak enak makasih banyak ya," ucap Aryana sambil cipika cipiki dengan Salsa dan memeluknya.
Pemandangan ini benar-benar membuat hati dua keluarga itu menghangat, terutama pak Heri dan istrinya yang kagum pada sosok putri dari sahabatnya yang tak hanya cantik tapi begitu ramah dan rendah hati
"Oh, ya ini ada souvernir pernikahan Aryana untung masih kebagian," ucap Yasmin yang datang dari arah ruang tengah membawa tiga buah paper bag ukuran sedang untuk diberikan pada keluarga pak Heri.
"Ah kok malah repot-repot bu Yudha, tapi terima kasih, buat souvernir nya," ucap bu Heri.
"Tidak apa-apa, kami sengaja memesan lebih buat tamu-tamu yang tidak sempat datang ke resepsi," ucap Yasmin.
Setelah acara pamitan disertai pemberian kado dan souvernir, keluarga pak Heri meninggalkan rumah Yudha. Keluarga Yudha kembali masuk ke dalam rumah setelah mengantar kepulangan keluarga pak Heri.
"Aku ke kamar dulu ya, Bund," pamit Afwi.
"Aku juga," ucap Afwa.
"Kami juga mau ke kamar dulu Bund," ucap Aryana
"Baiklah, sebentar lagi magrib, jangan lupa kita shalat magrib berjamaah," ucap Yasmin.
Ketiga anaknya juga menantunya segera pergi ke kamar mereka masing-masing untuk bersiap shalat magrib berjamaah di mushola yang terletak dekat gazebo taman belakang. Itulah rutinitas keluarga Yudha selalu menyempatkan untuk shalat berjamaah terutama jika sang ayah berada di rumah dan semua itu membuat Fahmi semakin kagum dengan keluarga mertuanya itu.
Sampai di kamarnya Aryana meletakan dua kado dari Reno dan Salsa ke di dekat lemari pakaian, Aryana akan mandi dulu karena sudah mau menjelang adzan magrib.
"Honey, aku mandi dulu ya," ucap Aryana langsung pergi ke kamar mandi.
"Ya," jawab Fahmi singkat sambil Fahmi mengeluarkan bajunya dari kopernya.
"Honey, kenapa sih, kok sejak bertemu keluarga om Heri tadi jadi cuek banget sama aku?" tanya Aryana dalam hati.
Fahmi sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya, pemandangan itu membuat Aryana tertegun, dengan usia suaminya yang tak muda lagi ia masih memiliki tubuh atletis.
"Honey, biar aku pakaikan bajunya ya?" tawar Aryana.
"Boleh," jawab Fahmi dengan nada datar.
Aryana langsung mengambil satu baju koko ditumpukkan pakaian Fahmi yang belum disimpan di lemari.
"Honey, kamu kenapa sih sejak ketemu keluarga om Heri pulang, kamu cemberut saja dan cuekin aku?, kalau aku salah ngomong dong, aku kan bukan paranormal yang bisa tahu isi hati orang," ucap Aryana sambil mengancingkan baju Fahmi.
"Aku tak suka kau terlalu akrab dengan si fotografer itu," ucap Fahmi ketus.
"Hah, jadi kamu cemburu, Honey?, heh, aku menganggap mas Reno hanya sebagai kakak seperti aku menganggap kak Afwa dan kak Afwi, lagian aku baru ketemu sekali kemarin pas wisuda kak Afwa, dan setelah itu aku tidak pernah bicara lagi, sampai hari ini mas Reno bertamu sama om Heri," ucap Aryana menjelaskan.
"Tapi, dia memandangmu berbeda, dia menyukaimu, Sayang," ucap Fahmi.
"Memang apa masalahnya kalau mas Reno menyukaiku, aku nggak bisa melarangnya, yang penting perasaanku hanya padamu, Honey," ucap Aryana.
"Tapi tetap saja aku tak suka cara dia menatapmu," ucap Fahmi masih sedikit kesal.
"Sudah, sudah, nggak usah bahasa itu kita sudah ditungguin di mushola!" pinta Aryana.
Sepasang suami istri akhirnya menyudahi perdebatan mereka, Fahmi dan Aryana menuju mushola untuk shalat magrib berjamaah bersama.
__ADS_1
Setelah melaksanakan shalat magrib berjamaah, semua anggota keluarga mengaji dengan membaca kitab suci. Itulah rutinitas ibadah seusai shalat magrib.
****
Hari keberangkatan keluarga Yudha ke Jakarta untuk resepsi pernikahan Fahmi pun tiba. Mereka menggunakan pesawat pribadi Dewantara group, namun hanya keluarga inti dan orang tua juga saudara dari Yasmin dan Yudha yang ikut ke Jakarta.
Pukul sembilan pagi mereka mendarat di bandara, mereka langsung di jemput oleh Devan menuju mansion keluarga Dewantara yang ada di Jakarta.
"Terima kasih Om Devan, kami jadi merepotkan mu," ucap Yudha tak enak.
"Tidak apa, Yudha, kalian sudah om angap keluarga sendiri, apalagi ini menyangkut hari bahagia keponakan Om yang paling cantik," ucap om Devan sambil tersenyum.
Yudha dan keluarganya segera memasuki mansion diikuti anggota keluarga yang lain.
"Wah besar sekali rumahnya," ucap Faris anak Dika.
"Hus, diam jangan kampungan tidak sopan?" larang Siska.
"Kalian istirahatlah, pelayan akan menunjukkan kamar kalian masing-masing!" pinta Yudha.
Kemudian para pelayan menunjukkan dimana kamar kamar yang akan mereka tempati.
"Ayah, nanti kami tidak ikut menginap disini kami akan langsung ke hotel tempat acara, mami sudah mengirimkan supir untuk menjemput kami," ucap Fahmi.
"Tidak apa-apa, ini pesta yang mengurus keluargamu, kami menurut saja, hanya pesan ayah Aryana jangan sampai kecapean!" pinta Yudha.
"Iya ayah aku akan, menjaga Aryana dengan baik, jadi ayah tenang saja, ucap Fahmi.
"Baiklah kalau begitu ayah ke kamar dulu."
Hari bahagia keluarga Pratama pun tiba, resepsi pernikahan megah sang putra mahkota Pratama group. Banyak pasang mata takjub dengan dekorasi pengantin sang putra mahkota. Para pembisnis kelas atas, pejabat maupun selebritis hadir di acara pernikahan pewaris kerajaan bisnis Pratama group.
Tampak riuh awak media di depan pintu masuk ballroom hotel, mereka berebut ingin mengabadikan pasangan pengantin sang putra mahkota. Nampak Fahmi mengandeng sang istri memasuki ballroom hotel tempat diadakan resepsi diikuti orang tua Aryana dan para kerabatnya. Bentangan karpet merah menyambut kedatangan pasangan pengantin. Banyak mereka yang tertegun melihat ketampanan Fahmi meski boleh dibilang tak muda lagi, tubuh Fahmi tampak gagah dan atletis memakai jas pengantin warna silver, juga Aryana memakai gaun pengantin muslim dengan warna senada. Aryana tampak angun dan dewasa dari umur yang sebenarnya, para tamu mungkin tak akan mengira jika pasangan sang putra mahkota masih berusia depalan belas tahun walaupun sebulan lagi genap sembilan belas tahun.
Banyak wanita yang patah hati berjamaah karena putra mahkota yang dikabarkan masih singel tiba-tiba menikah dengan cucu pemilik Dewantara group.
"Honey, tamunya banyak sekali dan mereka mandangin aku terus, apa riasan ku ada yang salah?" tanya Aryana pada Fahmi sewaktu berjalan berdampingan menuju pelaminan, sungguh tatapan para tamu padanya membuat Aryana risih.
"Nggak ada yang salah dalam riasan kamu, kamu sangat cantik, mungkin dari itu mereka banyak yang kagum melihatmu," ucap Fahmi sambil setengah berbisik pada Aryana.
Akhirnya Fahmi dan Aryana duduk di pelamiman bersama orang tua mereka yang duduk kanan dan kiri. Mc segera memulai jalannya acar, satu demi satu acara terlaksana, setelah ceremony acara inti pernikahan selesai, para tamu mulai naik ke pelaminan guna memberikan selamat pada kedua mempelai.
___________________________________________
Ini acara ngunduh mantu Fahmi di Jakarta ya.
Mau up tadi malam tapi mata sudah tidak bisa diajak kerjasama soalnya author habis vaksin ke dua jadi bawaannya ngantuk.
Jangan lupa Like, Vote, Komentar dan Rate bintang lima.
Thank You
Bersambung....
__ADS_1