
Setelah membersihkan diri Fahmi mengajak Aryana untuk makan malam bersama, Fahmi meminta bibi Mey untuk menghangatkan makanan.
"Sayang, besok lagi kamu nggak boleh menunda makan dengan alasan apapun, okey!" pinta Fahmi setelah menghabiskan makan malamnya. Sebenarnya ia tadi sudah makan di kantor tapi karena Aryana belum makan malam, Fahmi makan malam lagi menemani Aryana, sebagai bentuk penyesalannya telah mengabaikan istrinya, walaupun itu tidak ia sengaja.
"Iya, Honey," ucap Aryana singkat.
"Sayang, kau sudah lihat perpustakaan yang ada di lantai bawah dekat taman?" tanya Fahmi.
"Sudah, Honey, terima kasih, kau sudah bersusah payah melakukan itu untukku," ucap Aryana sambil tersenyum, meski ada ruang hatinya yang terasa hampa.
"Buat apa semua kemewahan dan fasilitas lengkap ini, jika orang-orang yang aku sayangi tidak ada di sisiku, benar kata pepatah, seenak-enaknya di negeri orang masih enak di negeri sendiri," batin Aryana melamun.
"Sayang, Yang!" panggil Fahmi namun Aryana masih sibuk dengan lamunannya sampai tangan Fahmi menyentuh tangannya, Aryana baru sadar dari lamunannya.
"Kau melamun, Sayang?" tanya Fahmi.
"Eh iya sedikit," jawab Aryana sambil tersenyum canggung.
"Melamunkan apa hem?, kangen ayah bunda lagi?"
"Sedikit"
Mendengar jawaban istrinya rasa bersalah pun kembali mengusik hati Fahmi. Ia lalu menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Aryana.
"Sayang, kamu sudah terlanjur kuliah di sini, nanti kalau kuliahmu sudah selesai, kita bisa pindah ke Indonesia lagi. Nanti setiap libur semester kamu bisa pulang ke Indonesia," ucap Fahmi sambil mengusap tangan Aryana.
"Iya, Honey, maaf aku membuatmu khawatir," balas Aryana tersenyum sambil mengusap lengan Fahmi.
"Sayang, bagaimana hari pertamamu kuliah hari ini?" tanya Fahmi mencoba memberi perhatian pada Aryana, agar istri kecilnya tak larut dengan kesedihan dalam menyesuaikan diri hidup di negeri yang asing baginya dengan status baru sebagai seorang istri.
"Baik, hanya saja tadi ada sedikit kendala waktu aku ingin menemui profesor Richard," jawab Aryana yang langsung membuat suaminya sedikit terkejut.
"Maksudmu kendala apa, Sayang?" tanya Fahmi penasaran.
Aryana lalu menceritakan awal mula dia memasuki kampus ternama pilihan suaminya itu, Aryana menceritakan apa yang ia alami sewaktu ingin menemui profesor Richard. Apa yang Aryana ceritakan sukses membuat Fahmi mengeraskan rahangnya, berani sekali manusia-manusia tak berguna itu memandang rendah bidadari nya.
"Honey, kau kenapa, setelah mendengar ceritaku kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Aryana polos, ia tak tahu kalau ceritanya itu membuat suami bucinnya marah tingkat dewa namun berusaha ia tahan.
"Tidak apa-apa, Sayang, aku hanya lelah," jawab Fahmi berusaha mengendalikan dirinya.
"Oh, iya Honey, di kampus aku sudah punya satu orang teman baik yang mau mengobrol denganku," ucap Aryana dengan nada senang.
"Laki-laki atau perempuan?" tanya Fahmi menyelidik.
"Ya perempuan lah, dia seperti kutu buku kaca matanya tebal sekali, baju yang dia pakai sedikit ketinggalan jaman untuk ukuran anak muda jaman sekarang, namanya Jessie, tapi kelihatannya dia baik," jawab Aryana.
"Hati-hati, Sayang jangan mudah percaya dengan orang yang baru kau kenal!" ucap Fahmi mengingatkan sang istri yang punya hati kelewat baik itu.
"Jangan suudzon, Honey, sepertinya dia tulus padaku, karena di hari pertama aku mengikuti perkuliahan, hanya Jessie yang mau berbicara denganku, sedangkan yang lainnya hanya diam saja, memandangku dengan tatapan aneh, mungkin karena baju yang aku pakai berbeda dengan mereka, sekali lihat mereka pasti sudah tahu apa keyakinan ku," ucap Aryana dengan menyiratkan sedikit kekecewaan di sana.
__ADS_1
"Kau merasa tak nyaman, Sayang dengan semua itu?" tanya Fahmi.
"Tidak, aku mengerti, mereka hanya belum mengenalku dengan baik saja, ini 'kan baru hari pertama, masih ada hari-hari berikutnya," jawab Aryana dengan pikiran positifnya terhadap teman-teman sekelasnya di kampus.
Mendengar penuturan istri kecilnya, Fahmi membelai kepala Aryana yang tertutup hijab dan mendaratkan ciuman lembut di kening Aryana.
"Kau benar-benar bidadari surgaku, ayo sekarang gosok gigi dan tidur!" pinta Fahmi lalu mengajak istrinya ke kamar.
Setelah gosok gigi dan berwudhu, Aryana menuju ranjang dan merebahkan dirinya, sedangkan sang suami sudah menunggunya di tepi ranjang.
"Tidurlah, Honey aku akan menemanimu!" ucap Fahmi yang kemudian merebahkan tubuhnya di samping Aryana dan memeluknya, memberikan kenyamanan dan kehangatan pada istri kecilnya.
Setelah mendengar dengkuran halus istrinya, Fahmi bangun dari tidurnya, tak lupa ia menyelimuti sang istri sebatas dada dan mencium kening, pipi dan bibir ranum sang istri tercinta yang sekarang sudah menjadi candu baginya. Ia berjalan ke arah balkon kamarnya mendial nomor seseorang.
"Cari tahu informasi tentang nama-nama yang sudah aku kirim padamu, besok pagi informasi itu sudah ada di tanganku, aku tidak mau tahu!" perintah Fahmi pada seseorang di seberang telpon.
Setelah menelpon Fahmi kembali ke tempat tidur berbaring di sisi istri kecilnya dan memeluknya erat seolah ia takut wanita yang di peluknya itu akan kabur.
Pagi menjelang, Fahmi dan Aryana bangun seperti biasa, semalam mereka tidak melakukan kegiatan panas, mengingat kemarin mood istrinya sedang tidak baik dan tidak memungkinkan untuk di ajak olah raga malam. Fahmi dan Aryana duduk di meja makan menikmati sarapan.
"Honey, nanti kalau pak Romi menjemput ku tolong pakai mobil yang terlihat murah ya" pinta Aryana yang membuat Fahmi mengeriyitkan dahinya heran.
"Kenapa kau meminta hal seperti itu, ada apa dengan mobil yang kemarin di pakai pak Romi untuk menjemputmu?" tanya Fahmi penasaran kenapa istri kecilnya menginginkan hal aneh seperti itu.
"Mobil yang di pakai pak Romi untuk menjemput ku kemarin terlalu mewah untuk ukuran mahasiswa reguler biasa seperti diriku," jawab Aryana yang membuat Fahmi mengulum senyum, benar-benar turunan seorang tentara, apapun yang di lakukannya selalu memperhitungkan segalanya dengan baik. Fahmi melihat istrinya lebih mirip seseorang yang intel yang sedang menyamar.
"Baiklah, nanti aku minta pak Romi menggunakan mobil yang biasa," ucap Fahmi.
"Oh, ya Honey kemarin aku cerita tentang, teman baruku bernama Jessie, dia bisa kuliah di kampus ternama itu karena beasiswa," ucap Aryana.
"Iya terus?" tanya Fahmi setelah meneguk air putih di depannya.
"Mamanya Jessie, punya toko bunga, nah kalau perusahaanmu membutuhkan dekorasi bunga di acara-acara perusahaan, bisakah kau merekomendasikan toko bunga milik mamanya Jessie?" jawab Aryana yang malah balik bertanya.
"Huh..., permintaan apa lagi ini, baru pertama kuliah sudah meminta hal yang aneh-aneh, sebenarnya istriku ini, mau jadi dokter, apa jadi intel, atau buka yayasan sosial sih?" gerutu Fahmi dalam hati mendengar perkataan istri kecilnya, Fahmi menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan istrinya.
"Sepertinya kau lupa, Sayang, siapa suamimu ini, kenapa aku harus merekomendasikan, kalau aku pemilik perusahaannya," ucap Fahmi sambil tersenyum melihat tingkah manis istri kecilnya yang mengemaskan.
"Iya, ya Honey kenapa aku lupa ya?" ucap Aryana tersenyum lucu.
"Ayo kita segera berangkat nanti kamu terlambat sayang!" ajak Fahmi kemudian bangun dari duduknya dan mengambil tasnya begitu juga Aryana.
Seperti biasa Fahmi mengantar Aryana terlebih dahulu ke kampus sebelum ia berangkat ke perusahaan, namun Aryana tidak mau di turunkan di depan gerbang kampus, ia minta di turunkan beberapa meter dari kampus, di tempat yang tidak terlalu ramai, agar teman-teman Aryana tidak mencurigainya. Tentu saja permintaan istri kecilnya ini membuat Fahmi semakin gemas, untuk tindakan pencegahan Fahmi menempatkan pengawal bayangan untuk melindungi istrinya dari kejauhan. Selain pengawal bayangan yang di perintah Fahmi, ada pengawal lain yang melindungi Aryana dari kejauhan, siapa lagi jika bukan pengawal suruhan si ayah posesif Yudhatama Dewantara.
"Hai, Ana kau baru datang?" tanya Jessie ketika bertemu Aryana di koridor kampus yang menuju ke arah kelas mereka.
"Iya, aku baru saja datang, di antar suamiku tadi," jawab Aryana.
"Aku juga baru datang, ayo kita masuk ke kelas sama-sama!" ajak Jessie.
__ADS_1
"Jessie, kalau boleh tahu, kau berapa bersaudara?" tanya Aryana.
"Hem, aku masih punya satu adik laki- laki berusia dua belas tahun," jawab Jessie.
"Lalu adikmu sekolah dimana?" tanya Aryana ingin lebih mengenal teman pertama yang mau mengajak dirinya mengobrol.
"Adikku bersekolah di NTJ junior high school," jawab Jessie.
"Itu 'kan sekolah ternama juga di sini," ucap Aryana.
"Iya, adikku bisa sekolah di sana sama sepertiku dari program beasiswa," ucap Jessie.
"Wah kalian ini benar-benar adik kakak yang pintar," puji Aryana.
Akhirnya Aryana dan Jessie sampai di kelas mereka, seperti biasa Aryana duduk di deret kedua di sebelah Jessie, tak lama teman-teman mereka mulai berdatangan. Tepat pukul delapan dosen pengampu masuk ke kelas dan mulai memberikan materi kuliah.
Sedangkan Fahmi di perusahaan sedang menerima laporan dari anak buahnya yang ia suruh menyelidiki tentang hal yang tidak menyenangkan yang menimpa istri kesayangannya di hari pertama kuliah.
"Oh jadi si William ini tidak becus mendidik anak buahnya sopan-santun, sebenarnya apa yang dilakukan HRD kampus sampai merekrut manusia tidak berguna seperti mereka!" ucap Fahmi marah karena orang-orang di kampus ternama yang ia beri sumbangan dana hanya melihat orang dari luarnya saja, dan memperlakukan orang semena-mena.
"Lalu bagaimana dengan teman baru istriku itu?" tanya Fahmi pada orang suruhannya.
"Ini Tuan," ucap orang suruhan Fahmi sambil memberikan sebuah berkas.
"Hem, Jessie Rosaline Elvis, cukup menarik, ternyata dia anak orang berada tapi bernasib malang," gumam Fahmi.
"Baiklah kau boleh, pergi!" perintah Fahmi pada orang suruhannya, dan orang itu pun membungkuk hormat kemudian meninggalkan ruangan kerja Fahmi.
Sepeninggal orang suruhannya itu Fahmi membaca kembali berkas-berkas yang di berikan orang suruhannya tadi.
"Gadis malang, ternyata kau putri Elvis, aku harus menyelidiki tentangnya lebih jauh lagi apa yang sebenarnya terjadi dengan perusahaannya Eagle company. Sebenarnya ini bukan urusanku tapi karena Jessie berteman dengan istriku maka aku harus mewaspadai apapun yang berpotensi membahayakan istriku.
"Juan!" panggil Fahmi.
Juan yang di panggil Fahmi segera masuk ke ruangan ceonya, sepertinya ia akan mendapatkan tugas lain yang aneh.
"Ya, Tuan."
"Selidiki tentang Eagle company dan hubungi rektor universitas xxx, katakan besok aku ingin bertemu dengannya, atur waktu dan tempatnya!" perintah Fahmi.
"Baik, Tuan."
________________________________________
Please Like, Vote, Coment, Rate and Favorit
Thank You
Bersambung...
__ADS_1