Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 113


__ADS_3

Di suatu negara seorang pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun sedang memasuki rumah dengan seorang wanita cantik, keduanya tampak mesra.


"Sayang, kapan kau akan menikahi ku?" tanya si wanita dengan bergelayut di lengan kokoh pria tersebut.


"Helena, jangan mulai lagi, kau tahu aku ini pria seperti apa, jangan mengharap lebih dariku," ucap pria itu santai.


Keduanya lalu duduk di ruang tamu, seorang maid memberikan dua gelas minuman pada mereka.


"Tapi aku sangat mencintaimu, Niko," lanjut wanita itu tak patah semangat untuk menjadi istri sah pria bernama Niko tersebut.


"Hari ini , aku sangat lelah, sebaiknya segera minum minuman yang sudah bi buatkan oleh maidku, lalu pulanglah supirku akan mengantarmu!' pinta pria bernama Niko kemudian pergi meninggalkan wanita itu.


Wanita bernama Helena sangat kesal dengan sikap Niko, apapun sudah ia berikan termasuk tubuhnya, namun Pria incarannya itu tak menunjukkan komitmen apapun atas hubungan mereka. Helena langsung menyambar tasnya kemudian segera keluar dari rumah Niko.


"Awas kamu, Niko akan aku buat kau bertekuk lutut padaku," batin Helena geram.


Setelah Helena pergi, seorang pria paruh baya menuju kamar Niko.


Tok tok


"Niko!, bisa kita bicara?" panggil pria paruh baya di depan kamar Niko.


Ceklek


"Ada apa, Pa?"


"Ikut papa ke ruang kerja ada yang ingin papa bicarakan denganmu!" perintah pria paruh baya itu kemudian langsung berlalu dari hadapan sang putra.


Niko mendengus kesal melihat papanya seenaknya melenggang pergi, sungguh hari ini dia merasa sangat lelah dan ingin istirahat, namun perintah sang papa tak dapat di ganggu gugat.


"Duduklah!" pinta sang papa pada Niko setelah mereka berada di ruang kerja.


"Apa yang ingin papa bicarakan denganku?"


"Niko, usia kamu sudah matang, sampai kapan kamu akan bermain wanita?" ucap papa Niko yang bernama Sebastian Wijaya, namun orang-orang memanggilnya tuan Bastian.


"Papa kenapa sih selalu bahas ini terus, aku bosan Pa, bagiku semua wanita sama saja hanya uang yang mereka cari."

__ADS_1


"Tapi keluarga Wijaya perlu keturunan, dan kau adalah satu-satunya putra kami, papa dan mendiang mamamu berharap banyak padamu sebagai penerus kami."


"Kalau itu gampang, Pa, banyak wanita yang mau denganku, dengan senang hati mereka akan mengandung benihku."


Mendengar penuturan putra tunggalnya, tuan Bastian tersenyum sinis, lebih tepatnya terkesan mengejek dan hal itu membuat Niko merasa aneh.


"Kau begitu percaya diri sekali mengatakan itu, lihat ini dan katakan sekali lagi apa yang barusan kau katakan!" ucap tuan Bastian sambil melempar sebuah amplop ke arah sang putra.


Niko mengambil amplop putih berlogo sebuah rumah sakit ternama, perlahan ia membuka isi amplop itu, namun ia masih belum terlalu mengerti isinya.


"Apa maksudnya ini, Pa?"


"Hasil lab itu keluar sekitar tujuh bulan yang lalu, sebelum kau melecehkan sekretaris barumu, meski kau tak sengaja. Setelah itu kau mengendarai mobil dalam keadaan mabuk lalu terjadilah kecelakaan itu. Satu bulan kau di rawat di rumah sakit, sebelum pulang dari rumah sakit dokter memanggil papa untuk menjelaskan keadaanmu dan itulah hasilnya. Papa juga tahu karena perbuatanmu malam itu pada sekretaris mu, wanita itu hamil dan ia meminta pertanggung jawabanmu tapi kau malah menghinanya dan memberinya sejumalah uang untuk menggugurkannya. Dan sekarang Tuhan menghukummu juga menghukum keluarga Wijaya. Hasil pemeriksaan itu menunjukkan bahkan akibat kecelakaan itu kamu sudah tidak bisa punya keturunan lagi untuk selamanya, jadi sebanyak apapun wanita yang kau tiduri hanya sekertaris mu yang malang itulah yang bisa menjadikan kamu seorang ayah."


Jederr


.


Tak terasa waktu terus berjalan, usia kandungan Aryana sudah menginjak sembilan bulan, namun Aryana masih terlihat sehat. Saat ini ia sedang di taman belakang menikmati weekend bersama sang suami tercinta. dua pasutri dengan perbedaan usianya yang sangat jauh itu sedang menikmati dinner dengan nuansa out door. Aryana sendiri yang merancang acara dinner tersebut, romantis tak harus mahal karena bagi seorang Aryana Maira Yudhatama bahagia itu sederhana.


"Enak, bahkan sangat enak, kamu yang masak, Sayang?"


"Iya, tapi cuma mengarahkan saja sama motong sayuran, yang lainya bibi Mey yang mengerjakan.


"Oh baguslah, aku cuma tidak mau kamu kecapean, Sayang."


"Tenang saja, aku sudah tahu my husband over protective, jadi aku nggak bisa melanggar perintahnya."


"Dasar, ya kamu bisa saja, semua itu 'kan karena kamu dan calon anak-anak kita adalah hidupku, nafasku dan juga nyawaku," ucap Fahmi sambil menggenggam tangan istri yang berada di atas meja, kemudian mengecup punggung tangan Aryana mesra.


"Ah, Honey, kamu manis sekali, aku bisa diabetes kalau begini, meleleh hati adek bang," ucap Aryana sedikit genit membuat Fahmi tertawa.


"Kamu nggak pantas genit, Sayang," ucap Fahmi setelah tawanya reda.


"Aku hanya ingat sikap mbak-mbak yang di senyumin ajudannya ayah waktu temani ayah berolahraga di gor, alamak pesona tentara itu memang bisa membuat para cewek-cewek kena serangan jantung," ucap Aryana sambil terkekeh ketika ingat moment itu.


"Segitu kerennya ya pesona seorang tentara sampai gitu amat mujinya, kenapa dulu nggak nikah aja sama tentara, malah memilih dokter yang sudah tua sepertiku," ucap Fahmi sedikit kesal.

__ADS_1


Melihat wajah suaminya yang cemburu , membuat Aryana terkekeh geli, ingin sekali ia megambil gambar suaminya dengan wajah imut karena cemburu seperti itu.


"My husband, Honey, My Love, aku memang lahir dan di besarkan di lingkungan militer, kesempatan aku buat punya suami tentara itu mudah, bahkan dulu ada yang mau pdkt sama aku tapi aku nggak mau."


"Kenapa kau tidak mau, Sayang?"


"Ya karena sejak lahir hatiku sidah terikat kontrak denganmu seumur hidup, makanya entah kenapa melihat anak buah ayah, ajudan ayah se kece badai apapun aku sama sekali nggak tertarik, dan aku yakin i bukan hanya itu saja tapi Om Fahmi lebih banyak menyebut namaku dalam doamu daripada doaku" ucap Aryana sambil tersenyum.


Mendengar pengakuan sang istri benar-benar bahagia, penantian dan kesetiaannya selama tujuh belas tahun tidak sia-sia, apalagi sekarang buah cintanya dengan Aryana akan segera lahir ke dunia.


"Thank you, my wife, my love, untuk hatimu yang memilih pria tua seperti diriku menjadi belahan jiwamu, memilihku untuk menjadi ayah dari anak-anakmu," ucap Fahmi sambil mencium punggung tangan sang istri tercinta.


"Sama-sama suamiku, imamku, sekarang dan selamanya."


"Sayang, besok aku akan kirim katalog perlengkapan bayi nanti kamu tinggal pilih, kemarin kan belum semuanya kebeli, sisanya aku yang urus," usul Fahmi tapi sepertinya Aryana tak suka ide konyolnya, ia hanya hamil sembilan bulan bukan sedang terkena penyakit kronis.


"Honey, kalau beli baju bayi lewat katalog , nggak memuaskan dan nggak ada seninya, jadi aku tidak mau shoppingnya pakai katalog," tolak Aryana.


"Baiklah tapi harus bersamaku dan beberapa pengawal!"


"Terima kasih, Honey."


Mereka kemudian melanjutkan makan malam sederhana dengan menu tradisional, selat, nasi rames dan di tutup dengan puding coklat jeruk buatan yang sang istri.


Selesai makan malam bersama keduanya langsung menuju kamar untuk beristirahat karen besok mereka akan ke mall berbelanja perlengkapan bayi yang masih kurang.


Pagi menjelang, Aryana meihat persiapan menu sarapan untuk.suaminya. Ia meminta bibu Mey untuk memanggil sang suami.


______________________________________


Maaf baru bisa up karena kondisi kesehatan author kurang sehat 🙏🏻


Please Like, Vote, Coment, Rate and Favorit.


Thank You


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2