Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 96


__ADS_3

Semua sudah berkumpul di ruang makan untuk sarapan, Fahmi duduk di samping Aryana dan papi Pratama duduk di sebelah mami Miranda.


"Mari Pi, Mi kita sarapan dulu!" ajak Fahmi pada kedua orang tuanya.


Mendengar perkataan suaminya, Aryana mempersilahkan mami Miranda untuk mengambilkan makanan untuk papi Pratama. Aryana memang menghormati orang yang lebih tua, jadi ia mempersilahkan mertuanya untuk mengambil makanan lebih dulu. Setelah mami dan papi Pratama mengambil makanan ganti Aryana yang mengambilkan sarapan untuk suaminya.


"Siapa yang memasak nasi goreng ini?" tanya papi Pratama setelah menyelesaikan makannya.


"Bibi Mey dan aku Pi, kenapa tak enak ya," jawab Aryana.


Papi Pratama tersenyum melihat reaksi menantunya yang tampak khawatir dengan rasa masakannya.


"Ini nasi goreng paling enak yang pernah papi makan," ucap papi Pratama sambil tersenyum membuat Aryana bernafas lega.


"Terima kasih, Pi, ini hanya masakan biasa hanya aku menggunakan resep dari bunda, karena papi dan mami sudah uzur maka aku meminta bibi Mey menggunakan jenis garam yang aman di konsumsi oleh manula, juga penyedap rasa organik dan minyak goreng rendah kalori," ucap Aryana menjelaskan tentang masakannya.


"Papi benar-benar bangga sama kamu, Nak, teruslah di sisi putra papi, semoga rumah tangga kalian selalu di limpahi kebahagiaan," ucap papi Pratama tulus.


"Terima kasih, atas doanya, Pi, Oh ya Pi, Mi, nanti malam aku dan Aryana ingin mengajak Papi dan Mami makan malam di luar sambil menikmati suasana malam di Singapura, rasanya sudah lama sekali kita tidak makan malam bersama di luar!" ajak Fahmi yang membuat papi dan maminya tersenyum senang.


"Tentu saja kami dengan senang hati menerima ajakanmu, sudah lama kita tidak berkumpul bersama," ucap mami Miranda menangapi ajakan putranya.


"Sebenarnya ini ide Aryana, dia yang mengusulkan untuk mengajak papi dan mami makan di luar bersama," ucap Fahmi sambil tersenyum dan memandang penuh cinta pada istri kecilnya.


"Aku hanya ingin membahagiakan orang tua, mumpung papi dan mami disini karena kata bunda, orang tua kandung dan mertua adalah sama, kalau berbuat baik pada mertua pahalanya sama dengan jika berbuat baik pada orang tua kandung, begitu juga sebaliknya kalau berbuat kejelekan pada mertua dosanya juga sama dengan ketika kita berbuat jelek orang tua kandung," ucap Aryana.


Mendengar penuturan Aryana, Fahmi dan kedua orang tuanya menyunggingkan senyuman. Mami Miranda sangat menyesal pernah menyakiti hati menantunya yang benar-benar salehah ini. Mami Miranda masih ingat saat diajak oleh salah seorang teman sosialitanya makan siang bersama di rumah temannya tersebut, tanpa malu anak perempuan dari temannya tersebut yang ikut makan siang, mengambil makanan lebih dulu dan langsung memakannya, beda sekali dengan sikap menantu perempuannya ini. Pantas saja putranya mempertahankan dia mati-matian.


"Pi, Mi, aku berangkat dulu takut terlambat," ucap Fahmi kemudian mencium tangan kedua orang tuanya.


Aryana mengantar suaminya sampai ke depan, Aryana mencium tangan Fahmi dan dibalas dengan ciuman di kening.


"Selamat bekerja, Honey, usahakan pulang cepat ya, soalnya kita 'kan mau ajak papi mami makan malam di luar," ucap Aryana.


"Iya, Sayangku, aku nggak lupa, tapi biar selalu ingat nggak ada salahnya nanti kamu telpon aku untuk mengingatkan!" pinta Fahmi.


"Oke, Bos," ucap Fahmi sambil mengangkat tangannya tanda hormat membuat Fahmi gemas.


"Dasar anak pak tentara," ucap Fahmi sambil mencubit pipi Aryana gemas.

__ADS_1


"Sudah ah, cepetan berangkat nanti telat!" pinta Aryana.


Setelah berpamitan dengan istri kecilnya, Fahmi segera masuk ke dalam mobilnya, Aryana kembali ke dalam rumah setelah mobil sang suami keluar dari halaman rumah. Ia berjalan menuju kamarnya untuk bersiap ke kampus, namun suara mami Miranda menghentikan langkahnya.


"Aryana!" panggil mami Miranda.


"Iya, Mi," jawab Aryana sambil menoleh ke asal suara.


"Mami mau bicara sebentar, bisa?"


"Bisa, Mi"


"Apa yang mau bicarakan denganku?" tanya Aryana setelah mengajak mami mertuanya duduk di ruang tengah.


"Mami mau minta maaf atas semua hal buruk yang telah mami lakukan padamu baik di masa lalu maupun sekarang, mami terlalu egois dalam bersikap tanpa memikirkan perasaanmu yang sudah dipilih putraku menjadi pendampingnya," jawab mami Miranda dengan raut wajah penuh penyesalan.


Mendengar penuturan mami mertuanya mengatakan tentang penyesalan atas sikapnya, Aryana tersenyum sambil memegang tangan maminya.


"Mi, aku sudah memaafkan mami, meski kenangan tak mengenakan itu masih ada, tapi aku berusaha berdamai dengan hatiku. Bagaimanapun mami, mami tetap mami dari suamiku yang berarti orang tuaku juga, doa restu mami dan papi juga sangat penting dalam kehidupanku dan Om Fahmi," ucap Aryana tulus.


Mami Miranda tersenyum namun di sudut matanya ikut berair, sungguh wanita muda di hadapannya ini sangat istimewa tak salah jika Fahmi mencintainya setengah mati bahkan rela menunggu sampai tujuh belas tahun. Mami Miranda tak bisa membayangkan jika Fahmi tak bisa bersama Aryana, apalagi jika sampai putranya kehilangan Aryana maka Fahmi mungkin tak akan sanggup hidup lagi. Masih jelas di ingatannya ketika Aryana terkena luka tusuk karena menyelematkannya dari perampok. Saat itu Aryana dinyatakan meninggal dan Fahmi tidak mempercayainya, Fahmi memarahi dan mencaci tim medis yang merawat Aryana, sang putra nekat menerobos masuk ruang operasi untuk memastikan, wanita yang dicintainya benar meninggal atau tidak.


"Makasih juga, Mi. Maaf aku harus segera berangkat ke kampus, kalau mami bosan di rumah mami bisa jalan-jalan keluar, masih ada satu mobil lagi, mami bisa minta pak Karim untuk mengantar mami," ucap Aryana pada mami mertuanya, kemudian ia langsung menuju ke kamarnya yang ada di lantai dua.


*****


Jika di Singapura Aryana sedang bersiap ke kampus, di tanah air tepatnya di kota Magelang seorang laki-laki sedang bersiap latihan militer dengan teman-temanya.


"Wa, sudah siap latihan hari ini?" tanya Rudy salah seorang teman yang sekamar dengan Afwa.


"Tentu, siap, ayo kita segera ke aula!" jawab Afwa sambil mengajak Rudy berjalan ke arah aula untuk mendapatkan pengarahan.


Setelah mendapat pengarahan dari pelatih para taruna dan taruni melalukan latihan sesuai dengan kelompok yang sudah di bagi oleh pelatih. Semua taruna dan taruni melaksanakan pelatihan hari ini dengan penuh semangat, kegiatan berakhir pada pukul sebelas tiga puluh. Para taruna dan taruni istirahat makan siang dan shalat bagi yang muslim termasuk Afwa. Ia dan teman-temannya yang muslim segera mengambil wudhu untuk melakukan jamaah dzuhur di masjid yang masih berada di dalam komplek akademi. Saat memakai sepatunya Rudy menepuk pundak Afwa membuat saudara kembar Afwi itu kaget.


"Pakai sepatu jangan sambil melamun!" tegur Rudy sambil menepuk bahu kanan Afwa.


"Ck, bikin kaget saja," ucap Afwa yang sudah hampir selesai memakai sepatunya.


"Aku teman sekamarmu, aku tempat tidurku di sebelahmu, aku sering mendapati kamu melamun dan gelisah di malam hari, kalau ada masalah kamu bisa minta bantuanku," ucap Rudy.

__ADS_1


"Terima kasih, tawarannya, aku baik-baik saja, aki hanya kadang merindukan keluargaku saja," ucap Afwi sedikit berbohong, memang benar ia memikirkan keluarganya tetapi ia lebih banyak memikirkan kekasihnya, Kirana.


Sudah dua tahun mereka menjalin LDR, meski tanpa restu dari Dinda, ibu dari Kirana namun baik Afwa maupun Kirana tetap menjalin hubungan meski tanpa restu Dinda, dua sejoli yang terpisah jarak, ruang dan waktu itu hanya berharap ada keajaiban yang membuat Dinda merestui hubungan mereka.


"Yuk segera ke ruang makan nanti terlambat!" ajak!" ajak Afwa pada Rudy, ia tak ingin siapapun tahu masalahnya, ia akan memendamnya sendiri dan berusaha menyelesaikan dengan caranya sendiri.


"Ayo," jawan Rudy sambil merangkul pundak Afwa, Rudy cukup tahu bahwa teman satu kamarnya ini tak ingin membagi masalah pribadinya pada siapapun. Sambil jalam Rudy membicarakan sesuatu yang berhubungan dengan materi pelatihan agar Afwa tak banyak melamun lagi.


Jika di Akmil Magelang Afwa sedang isoma bersama teman-temannya, di kota Semarang sang pujaan hati juga sedang menikmati makan siang di kantin kampus dengan dua orang teman kuliahnya.


"Kiran, kamu benar-benar sudah punya pacar?" tanya Fera karena selama ini Kirana menolak beberapa cowok yang ingin menjalin hubungan dengannya termasuk cowok idola kampus yang juga ikut menjadi peserta yang naksir dengannya.


"Iya, aku sudah punya pacar, kenapa sih kalian nggak percaya banget," jawab Kirana kesal.


"Gini lho ya, Kiran sayang, pasalnya selama ini kita nggak pernah lihat kamu jalan sama cowok, kamu bilang pacar kamu lagi pendidikan di Akmil, tapi selama dua tahun ini kita-kita nggak lihat pacar kamu nyamperin kamu ke kampus, karena setau aku ya di akademi itu ada liburnya juga," ucap Sherly.


"Atau jangan-jangan itu cuma alasan kamu menolak cinta kak Wildan, cowok kece badai di seantero kampus plus tajir," seloroh Fera asal.


Mendengar ocehan dua sahabatnya itu, Kirana hanya mengeleng pelan, ia tak mau mendebat apapun perkataan mereka, karena memang meski Kirana masih menjalin hubungan spesial dengan Afwa tetapi, baik Kirana dan Afwa menutup rapat-rapat tentang sejauh mana hubungan percintaan mereka. Jadi boleh dikatakan punya kekasih tapi rasa jomblo, ya itulah istilah yang pas untuk hubungan Afwa dan Kirana.


"Kalian "kan tahu, menjalin percintaan dengan calon abdi negara atau abdi negara itu bagaimana, ya hitung-hitung latihan jadi persit gitu," ucap Kirana santai sambil menyeruput es jeruk di depannya.


"Yakin pacar kamu, bakal setia sama kamu, nggak curiga apa kalau pacar kamu bakal punya gebetan lain di sana?" tanya Fera.


"Aku yakin, kalau nggak yakin kenapa aku harus bertahan sampai sejauh ini," jawab Kirana santai, ia memang sangat percaya pada Afwa karena dia tahu bagaimana bunda Yasmin dan ayah Yudha mendidik anak-anaknya, di keluarga Dewantara tak mentolerir yang namanya pengkhiatan apapun bentuknya.


"Yakin banget kamu, memang kenal di mana sih sama pacar kamu itu, segitu percayanya sampai nolak kak Wildan yang kece badai itu?" tanya Sherly


"Kami kenal dari kecil, karena ayah kami bekerja dengan profesi yang sama dan di tempat yang sama, ayah dan ibuku adalah sahabat baik orang tua dari kekasihku, dan kami sudah merasakan getaran itu sejak umur kami sepuluh tahun," jawab Kirana yang membuat dua sahabatnya yang kepo terkejut.


"Apa?"


___________________________________________


Sudah author selipkan cerita Afwa ya, besok lagi Afwi atau Azaka, tenang kalian akan tetap ketemu dengan kisah putra-putri Yudhatama Dewantara.


Please, Like, Vote, Coment, Rate and Favorit


Thank You

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2