Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 152


__ADS_3

Sekarang di sinilah Afwi dan Nayla, mereka sedang makan siang di cafe flower yang tak jauh dari kampus Nayla.


"Mau pesan apa, Dek?" tanya Afwi saat membuka buku menu.


"Aku pesan gurami asam manis saja, sama minumnya es jeruk," jawab Nayla tanpa jaim.


"Aku pesan ayam bakar saja minumnya air putih saja," ucap Afwi pada pelayan cafe.


Mendengar Afwi memesan air putih, mulut Nayla gatal ingin bertanya.


"Abang kok minumnya air putih, nggak pesan jus, mocchacino atau apa gitu?"


"Nggak, Dek, abang biasanya minum air putih kalau habis makan."


"Menerapkan gaya hidup sehat ya? seperti tentara atau polisi aja," ucap Nayla sambil terkekeh.


"Aku memang polisi, Dek, andai kau tahu," batin Afwi.


"Nggak juga, Dek, memang kalau habis makan bagusnya minum air putih," jawab Afwi memberi alasan yang logis.


Mereka menghentikan obrolan mereka sejenak karena pesanan mereka sudah datang, Afwi dan Nayla segera menyantap hidangan yang telah tersedia. Nayla tak jaim sedikitpun saat harus makan memakai tangan langsung, karena untuk makan jenis ikan kalau nggak pakai tangan langsung nggak akan terasa nikmatnya, dan inilah yang Afwi suka dari sosok Nayla.


Boleh di katakan ia seorang anak pejabat kepolisian, kakek dan nenek Nayla juga seorang pengusaha meski masih jauh di bawah DW group, namun gaya hidup Nayla sangat sederhana, barang-barang yang ia miliki hanya beberapa saja yang branded, itupun jarang ia pakai. Nayla lebih memilih sebagian uangnya atau uang pemberian sang papa ia pakai untuk membantu adik-adik pantinya.


Nayla sudah selesai makan, begitu juga dengan Afwi yang sudah menandaskan ayam bakar yang ia pesan.


"Dek, ada yang ingin aku katakan sama kamu," ucap Afwi dengan mimik serius.


"Apa itu, Bang?" tanya Nayla penasaran.


"Dek, sebelumnya aku minta maaf kalau hal ini dianggap lancang, aku ingin tanya apa kamu sudah punya pacar atau calon suami mungkin?"


"Aku nggak punya pacar, apalagi calon suami, meski sudah banyak laki-laki yang mendekatiku, tapi nggak ada yang sreg gitu, jadi waktuku kuhabiskan untuk belajar dan membantu di panti asuhan bunda Nana."


"Cowok gebetan atau seorang laki-laki yang bisa membuatmu berdebar?"


Mendengar pertanyaan Afwi, Nayla tersenyum miris sambil sesekali mengaduk sisa es jeruknya dengan sedotan.


"Ya, ada seorang laki-laki yang bisa membuatku berdebar, tapi aku tak mungkin memilikinya, dia terlalu sempurna untukku," jawab Nayla sendu dan itu membuat hati Afwi teriris pedih.

__ADS_1


"Kenapa kamu sampai berfirkir begitu, apa laki-laki itu pacar atau suami orang?" tanya Afwi yang tampak penasaran dengan sosok laki-laki yang sudah membuat perempuan yang di cintainya diam-diam berdebar.


"Dia bukan suami orang, Bang, aku nggak sebodoh itu dalam mencintai seorang laki-laki, tapi kalau pacar atau tunangan aku tidak tahu, aku pernah menanyakannya sih, tapi dia bilang nggak punya pacar, tapi aku nggak mudah percaya gitu aja. Abang tahu kan jaman sekarang, sudah menikah saja ngaku singel apalagi yang singel ngakunya belum punya pacar," jawab Nayla yang membuat Afwi tambah kepo tentang siapa pria yang di sukai Nayla diam-diam.


"Apa aku mengenal laki-laki yang kau sukai itu?" tanya Afwi meski sebenarnya ia sakit harus bertanya seperti itu.


"Abang kenal kok, sangat kenal malah."


Deg, jantung Afwi serasa di tusuk sebilah pisau, dia kenal dengan lak-laki yang di sukai Nayla.


"Ya Allah kuatkah hamba menerima ternyata gadis yang hamba cintai justru mencintai pria lain," batin Afwi nelangsa.


"Boleh abang tahu namanya, Dek?"


"Aku takut abang marah."


"Kenapa harus marah, mencintai itu hak semua orang, aku hanya ingin memastikan laki-laki itu bukan laki-laki brengsek,"


"Dia bukan laki-laki yang brengsek, bang, dia alim, kalem, sopan dan mapan juga ganteng paripurna, menurutku sih, terdengar lebay ya, Bang?"


Jleb


Nayla lalu memberikan Afwi sebuah cermin kecil dari tasnya, tentu saja Afwi heran kenapa Nayla malah membeeikan sebuah cermin kecil padanya.


"Buat apa cerminnya, Dek?" tanya Afwi makin bingung, ia hanya membolak-balikan cermin kecil yang di berikan Nayla.


"Kan abang mau lihat laki-laki yang aku suka, ya harus lewat cermin ini," jawab


"Apaan ini, apa Nayla laki-laki yang Nay suka dari dunia mahluk halus, masa mau lihat cowok yang ia suka pakai beginian, seperti mau lihat tuyul yang suka ambil uang," batin Afwi sedikit ngeri.


Meski ragu Afwi menghadapkan cermin kecil tersebut ke arahnya, ia masih belum mengerti apa maksud Nayla, untuk sekian detik otaknya Afwi berusaha mengurai teka-teki yang di berikan Nayla.


Satu detik, dua detik, tiga detik, empat detik, lima detiik. Detik berikutnya matanya membulat sempurna, jantungnya serasa berhenti berdetak sedangkan Nayla sudah tertunduk dari tadi.


Afwi hampir tidak percaya, dengan apa yang di lihatnya, hatinya yang sedari tadi seperti tim gegana yang akan menjinakkan bom, sekarang menjadi tenang seperti kemarau panjang yang tersiram air hujan yang menyejukkan. Pandangannya langsung mengarah pada Nayla yang ada di depannya, namun gadis itu hanya menunduk sambil meremas jarinya sendiri karena gugup.


Melihat Nayla yang hanya menunduk, Afwi berpindah tempat ke sisi Nayla, tangannya terulur mengangkat sedikit dagu Nayla agar melihat ke arahnya, dan seketika itu pandangan mereka bertemu.


"Sejak kapan, Dek?" tanya Afwi dengan lembut membuat Nayla semakin lemas ditatap sedekat itu oleh laki-laki ganteng yang ia sukai diam-diam.

__ADS_1


"A-aku ti-tidak tahu pasti, ma-maaf, Bang kalau aku sudah lancang punya perasaan sama abang, kalau abang nggak suka sama aku, aku akan berusaha melupakan abang," ucap Nayla dengan suara bergetar takut Afwi akan marah padanya. Andai Nayla tahu kalau Afwi sudah bucin parah padanya sejak empat tahun yang lalu, mungkin Nayla tak akan takut seperti ini.


Mendengar perkataan ngawur Nayla membuat Afwi merasa gemas, kalau saja nggak ingat pesan bundanya, ia pasti sudah merengkuh Nayla dalam pelukkanya dan mendaratkan ciuman hangat di kening gadis itu.


"Sudah ngomongnya?" tanya Afwi yang di jawab angukan oleh Nayla.


"Sekarang gantian abang yang ngomong, kamu diam dulu, dengar sampai selesai!," dan Nayla menganguk.


"Dek, dengarkan abang baik-baik, jangan minta maaf karena kamu suka sama abang!, justru abang yang mau berterima kasih karena kamu sudah mau mencintai abang, karena abang pun juga mencintai kamu, bahkan mungkin cinta abang ke kamu lebih besar dari cinta kamu ke abang," ucap Afwi membuat Nayla tertegun bagaimana mungkin pria di depannya ini mencintainya dengan begitu dalam padahal ia merasa baru mengenal Afwi saat di Bandung.


"Ba-bagaimana mungkin abang secepat itu cinta sama a-aku, kita kan baru saja bertemu, aku nggak maksa abang buat cinta sama aku yang penting abang sudah tahu perasaanku dan sebaiknya kita pulang saja, 'kan abang ada tugas habis dzuhur," ucap Nayla membuat Afwi semakin gemas karena Nayla selalu menyimpulkam sendiri.


"Dek, dengar dulu aku bicara sampai selesai!, sebenarnya aku sudah menyukaimu sejak empat tahun yang lalu."


"Empat tahun yang lalu?" gumam Nayla terkejut.


'"Ya, ingatkah saat kamu berjualan lumpia bersama dua adikmu di kota Semarang, aku sering ke kedaimu, mulanya aku hanya mengantar temanku yang ngebet pingin lumpia, dan akhirnya saudaranya merekomendasikan kedai lumpiamu, sejak saat itu aku mulai tertarik padamu, namun karena kesibukan kuliahku aku jadi jarang ke kedaimu lagi, sampai akhirnya aku tak melihatmu lagi setelah kasus kematian mamamu terbongkar, sungguh saat itu aku ingin menemuimu tapi tak bisa. Akhirmya kita di pertemukan kembali di kota Bandung ini, dan aku berusaha keras untuk memperjuangkan cintaku, apalagi setelah tahu kau belum resmi milik siapapun," jelas Afwi panjang lebar, meski banyak fakta yang harus Afwi tutupi.


Sebenarnya selama empat tahun dia tahu semua keadaan Nayla bahkan dimana Nayla tinggal, namun statusnya sebagai taruna Akpol membuat ia tak leluasa mendekati sang gadis pujaan, apalagi Nayla tak ingin punya pasangan seorang polisi, miris bukan?.


"Abang nggak bohong kan dengan semua yang abang katakan, bagaimana mungkin abang mencintai seseorang yang tak kenal abang sampai empat tahun lebih, rasanya nggak masuk akal," tanya Nayla yang masih tak percaya dengan fakta yang sebenarnya.


"Buat apa abang bohong, abang bukan tipe laki-laki yang mudah jatuh cinta, sejak di bangku sekolah aku bahkan tak dekat dengan teman wanita. Laki-laki di keluarga Yudhatama hampir semuanya datar jika berhubungan dengan wanita, tapi kalau sudah ketemu yang sreg sampai kolong langitpun pasti akan di kejar dan di perjuangkan. Seperti kakak kembarku yang sulung, ia menyukai teman kecilnya dari umur sepuluh tahun, saat mereka sudah dewasa dan ingin melangkah ke jenjang pernikahan, mereka terhalang restu ibu dari wanitanya, baru saat ini kakakku mendapatkan restu dari ibu wanitanya, padahal dengan apa yang di miliki kakakku banyak wanita yang akan mengantri menjadi pendampingnya, tapi kakakku memilih setia pada cinta pertamannya."


Mendengar cerita Afwi, hati Nayla merasa ternyuh, kisah cinta kakak Afwi dan juga perjuangan Afwi mencintai dirinya selama empat tahun lebih tanpa interaksi apapun, sungguh perjuangan cinta yang luar biasa. Nayla merasa menjadi wanita yang paling bahagia mendapatkan cinta dari seorang Afwi, ia berharap apa yang Afwi katakan adalah suatu kebenaran dan kejujuran.


"Bagaimana, Dek, apa kau bersedia menjadi calon mempelaiku?" tanya Afwi lagi.


"A-aku te-terima, Bang," ucap Nayla terbata-bata sangking gugupnya.


Afwi merasa lega mendengar jawaban Nayla, sekarang Afwi bisa agak tenang karena dia dan Nayla sudah punya hubungan khusus, namun Afwi masih punya PR lagi terjadap hubungan mereka yaitu bagaimana menjelaskan pada Nayla tentang pekerjaannya sebagai seorang polisi dan membuat Nayla dengan ikhlas menerima pekerjaannya, menjadikan Nayla pengantinnya dan ibu dari anak-anaknya.


_________________________________________


Siapa yang mau mendoakan Afwi?


Please Like, Vote, Rate, Komentar and Favotit


Thank You

__ADS_1


__ADS_2