
Sesuai yang di katakan Niko, selang dua hari kunjungannya ke kantor Fahmi, Niko mengundang Fahmi beserta keluarganya di sebuah restoran privat room, selain itu restauran tersebut juga memiliki kolam ikan koi yang bagus sehingga para pelanggan bisa menikmati suasana yang berbeda saat menikmati makanan. Niko sudah berada di restauran yang sudah ia pesan setengah jam sebelum waktu yang ia tentukan mengundang Fahmi dan keluarganya.
Entah kenapa ia sangat tidak sabar menanti kedatangan Fahmi dan keluarganya, hatinya berdebar tak karuan. Ini hanya acara makan malam biasa tetapi lebih menegangkan dari pada saat meeting dengan beberapa perusahaan ternama untuk memenangkan tender bernilai puluhan milyar.
Waktu sudah menunjukan pukul setengah delapan malam, namun keluarga Fahmi belum tampak memasuki restoran. Hingga sebuah suara sedikit gaduh mulai mengusik indra pendengaran Niko, sehingga membuat ayah biologis Alesya itu langsung beranjak ke pintu privat room. Matanya memandang nanar melihat Fahmi mengandeng dua anak perempuan dan disebelahnya sang istri mengandeng dua anak laki-laki.
"Selamat datang Tuan Fahmi, Nyonya, terima kasih sudah memenuhi undangan makan malam dari saya," ucap Niko sambil tersenyum ramah.
"Sama-sama, Tuan Niko, saya juga mengucapkan terima kasih atas undangan ini, dan saya juga minta maaf sebelumnya jika nanti putra-putri saya tak bisa diam karena mereka sedang di masa aktif-aktifnya," ucap Fahmi.
"Tidak apa-apa Tuan Fahmi, mari silahkan masuk!" ucap Niko mempersilahkan Fahmi dan keluarganya untuk masuk ke privat room.
Fahmi dan keluarganya kemudian masuk ke ruangan privat room yang sudah di booking oleh Niko. Asen dan Arnan di kanan dan kiri Aryana, sedangkan Alya dan Alesya duduk diantara Fahmi. Entah kebetulan atau sudah takdir Allah, Niko duduk bersebelahan dengan Alesya, mungkin terjadi formasi duduk melingkar seperti itu karena meja di ruangan tersebut berbentuk bundar.
"Tuan Fahmi, Nyonya silahkan pilih menu yang anda sukai! saya memang tidak memesankan menu terlebih dahulu karena saya tidak tahu makanan apa yang keluarga Tuan sukai," pinta Niko.
"Tidak apa-apa Tuan Niko tidak perlu terlalu kaku, bukankah ini hanya makan malam biasa," ucap Fahmi kemudian meraih ip pad di atas meja yang berisi daftar menu dan langsung bisa memilih sekaligus memesan lewat program yang sudah ada di dalam ip pad menu.
Anak-anak langsung antusias saat papa mereka menanyakan ingin makan apa. Empat anak Fahmi berebut memajukan wajahnya untuk melihat layar ip pad yang berisi menu.
"Papa aku ingin lihat," ucap Arsen yang lebih dulu mendekat ke i pad.
"Aku juga ingin lihat," ucap Arnan yang tak ingin ketinggalan.
Alesya dan Alya sampai turun dari kursi karena mereka kesulitan melihat I pad karena sudah di pegang Arnan dan Arsen. Tentu saja hal seperti ini sangat menarik perhatian mereka, memilih menu dengan mengunakan i pad. Aryana yang tak ingin anak-anaknya terlihat tak sopan langsung mengambil i pad dari tangan Arnan.
__ADS_1
"Sini mama saja yang pegang! ucap sang mama sambil mengambil i pad dari tangan Arnan.
"Alesya kamu pilih yang mana, Nak!" pinta Aryana yang meminta Alesya lebih dulu untuk memilih menu.
Tentu saja Alesya sangat senang karena ialah yang pertama di suruh memilih menu. Alesya mendekat pada Aryana kemudian melihat layar i pad kemudian menunjuk menu yang ia inginkan, disusul Alya, lalu Aranan kemudian Aresen, lalu Aryana memilih menunya sendiri baru ia menyerahkan i pad pada sang suami. Fahmi memilih menu yang terakhir kemudian mengklik tombol pesan. Niko juga memilih menu namun dengan meggunakan i pad yang berbeda.
"Ayo anak-anak kembali duduk yang baik di kursi masing-masing sambil menunggu makanan datang!" pinta Aryana yang langsung di patuhi oleh ke empat anaknya.
Niko yang melihat pemandangan di depannya itu hatinya menghangat sekaligus miris dengan nasibnya sendiri. Niko hanya tersenyum simpul melihat tingkah anak-anak Fahmi yang begitu mengemaskan dan Niko sama sekali tak merasa terganggu oleh tingkah anak-anak Fahmi.
"Maaf, Tuan Niko jika sikap anak-anak kami kurang sopan dan membuat anak tak nyamana," ucap Fahmi.
"Anda jangan berkata seperti itu, saya sangat senang melihat kelucuan anak-anak anda, bukankah anak-anak seusia mereka memiliki tingkat keingin tahuan dan imajinasi yang tinggi, jika anak-anak memiliki rasa seperti itu menandakan bahwa mereka adalah anak-anak yang cerdas," ucap Niko yang membuat Fahmi dan Aryana lega karena Niko merasa tak terganggu dengan sikap anak-anak mereka.
"Paman, maafkan kami jika kami berisik," ucap Alya dengan suara dan wajah yang lucu dan mengemaskan.
"Paman sepertinya usiamu seperti papa, apa paman punya anak?" tanya Arsen.
"Paman belum punya anak karena belum menikah," jawab Niko berbohong karena tak mungkin ia mengatakan bahwa ia sudah punya anak namun belum menikah.
"Makanya paman harus segera menikah, agar di rumah ramai dan paman akan ada temannya, kata oma uyut banyak anak itu banyak rezeki," ucap Arnan menimpali.
Fahmi dan Aryana saling pandang begitu mendengar kalimat yang barusan di ucapkan Arnan, di benak suami istri timbul pertanyaan yang sama benarkah orang tua mereka mengatakan hal seperti itu.
"Benarkah? tanya Niko yang merasa asing dengan ungkapan yang dilontarkan Arnan.
__ADS_1
"Tentu saja benar Paman, karena kalau hari raya idul fitri, banyak keluarga dan teman-teman papa dan mama memberi uang kepada kami, jadi benar apa yang di katakan oma uyut," ucap Arnan yang sontak membuat Fahmi dan Aryana menepuk jidat.
"Bukan begitu konsepnya banyak anak banyak rezeki, Arnan, dasar anak ini," batin Aryana gemas.
Pembicaraan mereka terhenti ketika pelayan masuk membawa pesanan mereka, setelah pelayan selesai menghidangkan makanan, Niko meminta Fahmi dan kelurganya segera menyantap makanan yang sudah terhidang. Niko cukup tercengang melihat bagaimana Fahmi dan keluarganya membaca doa sebelum menyantap makanan. Ada hal menarik perhatian Niko dengan cara makan keluarga ceo Pratama group itu, meski menu makanan yang mereka pesan berbeda beda namun Fahmi maupun keluarganya mengambil makanan dari tepian piring ataupun mangkok.
Merasa Niko memperhatikan keluarganya saat makan, Aryana melihat ke arah Niko lalau menanyakan sesuatu.
"Tuan Niko, kenapa anda tak segera menyantao makanan anda dan malah melihat kami, apa ada hal yang salah dari kami?" tanya Aryana yang sontak membuat Fahmi menghentikan makannya.
"Oh maaf, tadi saya hanya kagum dengan tata cara kalian makan dari cara berdoa dan menyendok makanan dari piring atau mangkok, kalian kompak menyendok makanan dari tepi, apa ada hal di balik itu?" tanya Niko membuat Aryana tersenyum.
"Dalam agama kami, memang begitu adabnya, berdoa sebelum makan, lalu menyendok makanan dari tepi baru nanti yang terakhir makanan yang di tengah karena barokah makanan berada di tengah, dan keberkahan itulah yang membuat kita akan merasa kenyang, selalin itu jika makan mulai dari tepi dikarenakan makanan yang di tepi lebih dahulu dingin dari pada yang di tengah," jelas Aryana yang membuat Niko semakin kagum dengan keluarga rekan bisnisnya ini.
Setelah mendengar penjelasana nyonya Fahmi, pandangan Niko lamgsung tertuju, Alesya yang duduk di sebelahnya, anak itu makan dengan lahap steak salmon. Anak itu tampak lucu saat mengunyah makanan dan reflek tangan Niko terulur membelai kepala Alesya yang tertutup hijab model anak yang lucu.
Merasa ada yang menyentuh kepalanya, Alesya menghentikan makannya lalu melihat ke arah Niko.
"Ada apa Paman?" tanya Alesya dengan suara lucu.yang mengemaskan membuat Niko ingin sekali membawa Alesya pulang.
"Tidak apa-apa, paman hanya suka melihatmu begitu menikmati makanannya," jawab Niko.lembut, andai Niko bisa melihat Alesya setiap.hari, ia akan sangat bahagia.
Aryana kembali menyantap makanannya setelah menjelaskan adab makan pada Niko yang memiliki keyakinan berbeda. Niko juga mulai menyantap makanannya sambil sesekali melihat pada Alesya.
"Berbahagialah selalu, Nak, kamu beruntung dibesarkan di tangan orang yang tepat," batin Niko.
__ADS_1
________________________________________