
Yasmin mengajak Yudha keluar dari ruang kerja untuk menemui anak-anaknya, Yasmin tak ingin anak-anaknya salah paham dengan sikap suaminya.
"Mas, ayo keluar kita temui anak-anak agar mereka tak berfikir macam-macam dengan ayahnya!" ajak Yasmin.
"Ayo, aku akan temui anak-anak, lagipula ada hal yang ingin aku bicarakan dengan Afwa dan Afwi," ucap Yudha lalu keluar dari ruang kerjanya dengan merangkul pinggang sang istri posesif.
Saat Yudha dan Yasmin berjalan menuju ruang makan, ketiga anaknya memperhatikan sikap kedua orang tuanya yang makin mesra di hari tua mereka.
"Ayah maafkan aku, sudah membuat ayah marah," ucap Azka ketika sang ayah sudah duduk lagi di kursi ruang makan.
"Kamu tak salah, jadi tak perlu minta maaf," ucap Yudha sambil tersenyum tipis pada anak bungsunya itu.
"Ayah dan bunda selalu terlihat mesra apa sih rahasianya, aku jadi iri," ucap Afwa yang baper saat melihat kemesraan kedua orang tuanya.
"Apa yang lihat dari hubungan kami adalah suatu proses perjuangan panjang, rumah tangga itu bagaikan kapal yang sedang berlayar di lautan, jika sang nahkoda tak mampu memimpin jalannya kapal dengan baik maka kapal itu akan mudah terhempas ombak dan akhirnya karam, kalian tidak tahu saja bahwa proses hadirnya kalian bertiga, Afwa, Afwi dan Aryana itu penuh dengan drama, dulu hampir saja Ayah kehilangan bunda kalian dan bayi kembar tiga yang di kandungnya yaitu kalian karena kebodohan ayah meski itu tidak seratus persen semua kesalahan ayah, tapi ayah merasa ikut andil besar pada kehilangan itu," ucap Yudha merasakan hatinya sesak karena harus membuka kenangan lama yang menyakitkan untuknya dan Yasmin, namun anak-anaknya harus tahu kisahnya agar bisa mengambil pelajaran dari semua perjalanan kisah hidupnya yang penuh liku.
"Maksud ayah, kehilangan seperti apa?" tanya Afwi yang masih bingung dengan cerita sanga ayah.
Mendengar pertanyaan Afwi, Yudha lalu menceritakan kisah awal pertemuannya dengan Yasmin, kemudian akhirnya menikah dan hadirnya Claudia dalam kehidupan rumah tangga mereka, Yasmin yang hilang saat kecelakaan sampai lahirnya si kembar tiga yang ternyata menyisakan duka di tengah kebahagiaan karena Aryana mengalami kelainan jantung bawaan. Belum lagi Yasmin yang harus lebih sering mengurus anak-anaknya sendiri karena Yudha harus bertugas jauh sebagai seorang prajurit.
Afwa, Afwi dan Azka sampai melonggo mendengarkan cerita sang ayah, mereka tidak menyangka bahwa kelahiran mereka menyisakan kesedihan tersendiri bagi kedua orang tuanya. Yasmin yang duduk di sebelah Yudha mengusap-usap punggung suaminya sebagai bentuk dukungan moral lewat sebuah sentuhan.
"Wah-wah ternyata ayah dan bunda punya kisah sebagus itu, kalau di buat novel dan bisa di filmkan seperti kisahnya pak Habibi dan bu Ainun bisa jadi artis kita," seloroh Azka setelah mendengar cerita sang ayah.
"Bunda memang sudah menulis kisah cinta ayah dan bunda di sebuah novel on line karena bunda tak sehebat para novelis yang ceritanya bisa di buat buku dan di filmkan," ucap Yasmin yang sontak membuat semua mata menatapnya penuh tanya.
'Bunda nulis kisah kita di novel on line?, sejak kapan?" tanya Yudha penasaran.
"Ya sejak bunda resign jadi guru, kadang ikur ayah tugas keluar daerah kadang juga ayah tinggal tugas, kan gabut di rumah, ya iseng-iseng aja nulis cerita di platform menulis novel," jawab Yasmin.
__ADS_1
'Bunda dapat bayaran?" tanya Afwa.
"Dapat, tapi cuma receh, ya bagi sih bunda it's oke sih, cuma nyalurin hobby aja dan mengisi waktu dari pada gabut.
Mendengar cerita sang bunda, kini giliran Yudha dan ketiga anak laki-lakinya yan tertegun. Ternyata sang bunda memiliki bakat menjadi seorang novelis.
"Kenapa malah jadi bahas novel sih, kan ayah mau mengatakan sesuatu pada Afwa dan Afwi," protes Yasmin karena pembicaraan mereka melenceng dari rencana.
Mendengar protes sang istri, Yudha kembali ke topik semula, yaitu membahas Afwa dan Afwi.
"Afwa, Afwi ikut ayah ke kebun belakang!" perintah Yudha.
Afwa dan Afwi pun segera mengikuti sang ayah ke kebun kecil di belakang rumah yang terdapat gazebo dari bambu ori dan bambu wulung. Tentu saja hal itu request sang permaisuri yaitu Yasmin. Yudha memilih berbicara di gazebo agar terkesan santai dan anak-anak bisa lebih rileks dalam pembicaraan mereka nanti.
"Sekarang dari kamu Afwa, ayah ingin tahu rencana kamu waktu dekat ini apa?"
"Lalu bagaimana hubunganmu dengan Kirana, ayah tak ingin penantian kalian berdua sia-sia, jangan jadi pengecut dengan mengatas namakan pekerjaan, wanita itu butuh kepastian!" ucap Yudha tegas di setiap kalimatnya.
"Kalau saja tante Dinda memberi kami restu setelah aku pelantikan aku ingin melamar Kirana dan langsung pengajuan, tapi kenyataan tak seindah impian, Yah, aku sendiri bingung harus bagaimana," ucap Afwa bingung dengan nasibnya.
"Kau itu bodoh atau apa,?" tikung di sepertiga malam, sebut Kirana dalam doamu, nanti ayah bantu bilang sama om Raka.
"Siap, Ayah," hanya dua kata itu yang terucap dari mulut Afwa.
"Dan kau Afwi, kalau kamu menyukai gadis itu, dekati jangan cuma diam saja!"
"Gadis yang mana, Yah?" tanya Afwi heran karena selama ini ia tak merasa dekat dengan gadis manapun, dan sepertinya Afwi sedikit amnesia, ia lupa siapa sang ayah.
"Siapa lagi, kalau bukan Nayla putri tunggal Kombes Mahendra Bagaskara yang jualan lumpianya sering kau beli."
__ADS_1
Glek
Afwi menelan salvinanya, kenapa sang ayah bisa tahu tentang perasaannya dengan seorang gadis.
"Kenapa?" jangan kaget begitu!, apa yang tak ayah tahu tentang kalian, sekali lagi perjuangkan cinta kalian, jangan hanya berani berjuang untuk negara, berkoar-koar berani mati untuk tanah air tapi nol besar untuk urusan cinta!"
Mendengar penuturan sang ayah kedua laki-laki kembar namun berbeda profesi itu hanya diam tak tahu lagi harus berkata apa, semua kartu mereka ada di tangan sang ayah.
"Afwa, perjuangkan cintamu, bagaimanapun caranya dapatkan restu tante Dinda, dan untuk kau Afwi yakinkan Nayla bahwa menikah dengan polisi tak seburuk yang ia bayangkan, bagaimanapun caranya hilangkan trauma Nayla pada sosok profesi seorang polisi, baru setelah itu kau akan dapatkan Nayla. Kirana dan Nayla, keduanya adalah wanita yang baik dan tangguh, ayah yakin mereka pantas menjadi persit dan bayangkari kalian, maka dari itu kalian berjuanglah. Ayah dan bunda hanya bisa membantu kalian lewat doa," ucap Yudha yang membuat dua anak kembarnya ini shock berat, pikiran mereka justru blank, sang ayah sudah seperti mbah google saja.
"Ayah mengerikan seperti cenayang saja," batin Afwi.
"Ayah seperti psikolog cinta saja," batin Afwa.
"Bagaimana kalian siap menjalankan misi cinta kalian?"
"Siap, Ayah!" jawab Afwa dan Afwi bersamaan.
_______________________________________
Afwa dan Afwi jangan batin gitu dong sama ayah Yudha, kalau misi berhasil 'kan puasa Ramadhan tahun depan bisa up date status, "Ramadhan kali ini nggak sendiri lagi bestie, ada ayang yang temenin buka dan sahur."
Maaf juga banyak typo, sampai salah tulis Nayla jadi Kayla, ngetiknya malam-malam 🙏🙏
Please like, vote, coment, Rate and Favorit plus hadiah jangan lupa.
Untuk Catatan Hati Maharani insyaAllah segera lanjut.
Thank You
__ADS_1