
Fahmi dan Dinda menemui dokter Robert menanyakan tentang perkembangan Raka untuk pengobatan lebih lanjut.
"Dokter Robert, Om Raka sudah sadar tapi bicaranya belum lancar, bagaimana caranya agar om Raka bisa bicara seperti semula?"
"Saya akan lihat progressnya, nanti saya akan memberikan obat agar semua sel sarafnya kembali normal, namun semua itu butuh waktu," jawab dokter Richard.
Fahmi dan Dinda yang mendengar penjelasan dokter Richard sedikit lega, sejuta harapan bahwa Raka bisa pulih seperti sediakala.
Setelah menemui dokter Richard bersama Dinda, Fahmi mengajak Aryana pulang, dan tak lupa Aryana mengabarkan perkembangan Raka yang sudah siuman pada orang tuanya di tanah air. Tentu saja hal ini membuat Yudha dan Yasmin gembira, mereka bernafas lega, bahkan Yudha akan mengatur jadwalnya agar bisa menjenguk sahabatnya di Singapura.
Seminggu sudah hampir berlalu, kondisi Raka berangsur membaik, bicaranya sudah cukup lancar meski tak boleh terlalu lama berbicara. Semua itu berkat terapi dan obat yang di berikan dokter Richard yang harganya bisa menghabiskan gaji Raka sebagai tentara berpangkat kolonel selama satu tahun.
Pagi ini Yudha dan Yasmin sampai di Singapura, dengan di temani Fahmi dan Aryana, Yudha dan Yasmin dari bandara langsung menjenguk Raka di rumah sakit, baru setelah itu mereka akan menengok keempat cucu mereka yang tampan dan cantik, apalagi Alesya yang mirip boneka cantik membuat opa Dimas selalu merengek membawa balita itu untuk dia asuh di tanah air.
"Bagaimana keadaan Raka sekarang?" tanya Yudha pada Fahmi saat mereka sudah ada di mobil menuju rumah sakit.
"Keadaannya sudah stabil, bicaranya juga sudah lancar hanya belum boleh terlalu banyak bicara," jawab Fahmi.
Tak berapa lama, mereka sudah sampai di rumah sakit, mereka langsung menuju ruang rawat Raka di ruang VIP.
"Assalamualaikum," ucap Yudha dan Yasmin bersamaan saat memasuki ruang rawat inap Raka.
"Waalaikumsalam," jawab tiga orang yang berada di dalam ruang rawat tersebut.
"Yasmin!" pekik Dinda yang langsung bangun dari duduknya berjalan menuju Yasmin lalu memeluknya
"Terima kasih, Yas, tanpa bantuan keluargamu aku tak tahu hal buruk apa yang akan menimpa mas Raka," ucap Dinda sesunggukan sambil masih dengan posisi memeluk Yasmin.
"Kau tak perlu berterima kasih, kami ikhlas membantumu," ucap Yasmin lembut sambil membalas pelukan Dinda dengan hangat.
Pemandangan itu tak lepas dari semua orang yang ada di ruangan itu. Fahmi merangkul pundak sang istri sambil tersenyum melihat adegan dua sahabat yang penuh kasih sayang dan empati, Kirana juga tersenyum sambil merangkul pundak sang ayah karena kebetulan Kirana duduk di samping tempat tidur ayahnya. Raka juga tersenyum tipis melihat sahabat sekaligus calon besannya datang menjenguknya.
Yudha dan Yasmin kemudian mendekat ke ranjang Raka.diikuti Aryana dan Fahmi.
"Bagaimana keadaanmu, Ka?" tanya Yudha.
"Alhamdulillah aku baik dan terima kasih atas semua bantuanmu padaku, aku sungguh tak bisa membalasnya," ucap Raka pelan karena memang ia tak boleh banyak bicara apalagi bicara dengan keras.
"Kau bisa membalasnya dengan memberikan sesuatu yang berharga untukku," ucap Yudha.
__ADS_1
"Barang berharga apa yang bisa aku berikan padamu, aku sudah tak punya apa-apa, semua tabunganku hampir habis untuk biaya pengobatanku, kalau bukan karena Fahmi mungkin aku sudah jadi tentara kere," ucap Raka sendu tapi Yudha dan Yasmin malah terkekeh melihat wajah memelas Raka.
"Mas Raka, kami tidak meminta imbalan harta bendamu ataupun uangmu, sesuatu yang berharga milikmu yang dimaksud mas Yudha adalah, berikan Kirana sebagai menantu kami," ucap Yasmin yang sukses membuat Kirana membulatkan matanya sedangkan Raka dan Dinda bernafas lega sambil tersenyum.
"Kalau itu tak usah kau minta, aku akan memberikannya pada kalian, sejak dulu hanya Afwa yang akan aku terima menjadi menantuku. Bukan karena dia keturunan Dewantara yang punya kerajaan bisnis, tetapi karena sejak kecil aku mengenal dia sebagai pribadi yang bertanggung jawab dan setia. Ayah manapun akan lebih hancur hatinya jika anak perempuannya yang menjadikan seorang ayah cinta pertamanya kelak akan di khianati oleh laki-laki yang menjadi pendamping hidupnya," ujar Raka dengan nada pelan.
Kirana yang mendengar pengakuan isi hati sang ayah menjadi terharu, matanya berkaca-kaca, ia langsung memeluk sang ayah yang berada di sampingnya. Di balik ketegasan seorang ayah, bahkan sering bersikap seolah tak perduli namun di dalamnya tersimpan cinta dan kasih sayang yang besar untuk anak-anaknya terutama anak perempuan yang kelak ia akan dilepas ketika sudah menemukan belahan jiwanya.
Semua orang yang ada di ruangan itu juga ikut terharu, Yasmin, Dinda dan Aryana berubah menjadi melow, tiga wanita yang sudah menyandang status sebagai seorang ibu itu juga ikut menangis haru. Fahmi pun juga ikut ternyuh melihat adegan di depannya ini, dalam hati ia berharap suatu hari Alya dan Alesya bisa mendapatkan pendamping hidup seorang laki-laki yang bertanggung jawab dan setia seperti sang ayah dan dua orang laki-laki di depannya ini, yakni Yudha dan Raka.
"Semoga Allah masih memberiku dan Aryana kesempatan mengantarkan anak-anak kami ke jenjang pernikahan, dan semoga kedua Putri kami mendapatkan laki-laki yang bertanggung jawab dan setia pada kedua putri kami" doa dan harapan Fahmi dalam hati.
Kirana mengurai pelukannya pada sang ayah, Raka menghapus air mata yang ada di wajah Kirana, putri sulungnya yang selalu ia banggakan, meski ia tak di karunia anak laki-laki tapi ia sangat bersyukur bisa di amanahi dua orang anak perempuan yang selalu hebat di matanya. Mungkin Allah menginginkan kebaikan lain kenapa ia tidak di karuniai anak laki-laki.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda.
“Siapa yang menanggung nafkah dua anak perempuan sampai baligh, maka pada hari kiamat, antara saya dan dia seperti ini. Beliau menggabungkan jari-jarinya.” (Muslim).
Betapa jaminan yang di berikan Allah dan Rasulullah terhadap orang tua sangatlah besar untuk orang tua yang hanya mekiliki anak perempuan, jadi janganlah berkecil hati jika dalam berumah tangga tidak di karuniai anak laki-laki.
"Ekhem, sudah baper-bapernya?" ucap Yudha membuyarkan suasana melow yang sedang tercipta di ruang rawat Raka.
"Jauh-jauh datang ke sini masa cuma mau lihat ayah dan anak saling baper," ucap Yudha cuek tanpa dosa, memang mantan pak tentara satu ini selalu saja bisa bikin mood ambayar.
"Ayah! kala ngomong ngawur lagi gak ada jatah selama sebulan ya? Bunda mau tinggal di Singapura sama Aryana," bisik Yasmin di dekat telinga Yudha yang otomatis membuat ceo DW group itu menutup mulutnya rapat-rapat.
Fahmi dan Aryana yang berdiri dekat kedua orang tuanya itu, meski hanya samar-samar tapi Fahmi dan Aryana cukup mengerti maksud kata-kata bundanya, dan tentu saja hal itu membuat Fahmi dan Aryana menahan tawa, betapa ayahnya yang terkenal keras itu bisa takluk jika sudah diancam sang istri dengan urusan ranjang.
"Fahmi kau segera tanyakan kapan Raka bisa pulang dan kembali ke tanah air!" pinta Yudha.
"Ya, Yah nanti aku tanyakan," sahut Fahmi.
"Iya sebaiknya memang kamu segera tanyakan dokter Fahmi, kapan suamiku bisa pulang, kalau kelamaan di sini bisa-bisa aku nggak punya rumah untuk pulang," ucap Dinda.
"Dinda, jangan ngomong gitu!, Mas Yudha bilang begitu karena agar kamu dan Raka bisa membantu persiapan pernikahan Afwa dan Kirana," ucap Yasmin sebelum Dinda dan Raka tak salah paham, memang mulut suaminya ini benar-benar ingin ia sumpal.
"Kenapa cepat sekali, Tante aku belum siapkan apapun," ucap Kirana terkejut.
"Kau tak perlu siapkan apapun, cukup kamu siapkan dokumen untuk pengajuan selebihnya biar tante dan ibu kamu yang mengurusnya," jawab Yasmin lembut.
__ADS_1
Kirana yang mendengar perkataan calon ibu mertuanya tampak tersipu, ia rasanya tak percaya kalau akhirnya ia akan bersanding dengan laki-laki yang ia sukai sejak kecil, impiannya menikah dengan pedang pora sewaktu kecil akan jadi kenyataan. Janjinya dan Afwa akan benar-benar terealisasi
Flas back on
Sewaktu Afwa berusia sebelas tahun dan Kirana sepuluh tahun mereka berdua sedang di rumah Afwa, di sana mereka melihat album foto pernikahan Yudha dan Yasmin dengan pedang pora, terlihat di foto itu Yudha dan Yasmin tampak bahagia, dengan dekorasi the royal wedding. Afwa memperhatikan Kirana melihat foto itu dengan sangat intens.
"Kamu pingin seperti ini?" tanya Afwa kecil.
Mendengar pertanyaan Afwa, Kirana mengangguk sambil tersenyum.
"Memang kamu mau nikah seperti ini sama siapa?" tanya Afwa.
"Sama kak Afwa, kan Afwa pernah bilang mau jadi tentara, jadi aku bisa seperti tante Yas dan om Yudha juga seperti ayah dan ibuku kalau sama kak Afwa," jawab Kirana.
"Pede sekali kamu, kalau aku mau seperti di foto itu sama kamu?" tanya Afwa menguji keseriusan Kirana.
"Ya harus pede dong, 'kan punya Allah, kata ibu kalau berdoa terus sama Allah nanti pasti akan di kasih sama Allah, dan aku akan selalu berdoa agar aku bisa seperti tante Yas dan om Yudha suatu saat nanti bersama kak Afwa," ucap Yasmin kecil dengan penuh percaya diri sedangkan Afwa hanya tersenyum sambil memandang Kirana yang meneruskan melihat album foto pernikahan Yasmin dan Yudha dengan upacara pedang pora yang sangat megah.
"Kalau begitu kamu harus janji bakal nunggu aku jadi tentara agar kita bisa seperti ayah dan bundaku seperti ini!" pinta Afwa sambil menunjuk foto pernikahan militer kedua orang tuanya yg terlihat keren.
"Ya aku janji akan menunggu, Kak Afwa," ucap Kirana sambil tersenyum manis menatap Afwa.
Flash back off
"Kalau begitu fix ya, nanti jika Raka sudah diperbolehkan pulang ke tanah air, kita akan segera langsungkan persiapan lamaran sampai pernikahan," ucap Yasmin memutuskan yang langsung di setujui oleh semua orang yang ada di ruang rawat Raka.
Setelah merencanakan persiapan pernikahan Afwa dan Kirana, Yasmin langsung mengirim pesan pada Afwa karena takut menganggu aktivitas putranya, ia tak sabar memberikan berita baik ini pada Afwa.
Di tanah air, Afwa seharian sedang melakukan latihan gabungan jadi ia tidak sempat memegang ponsel, pukul enam sore Afwa baru saja selesai latihan. Setelah membersihkan diri dan melaksanakan shalat magrib, Afwa baru sempat membuka ponselnya. Afwa langsung membuka pesan dari sang bunda karena sangat penasaran, ia takut jika ada kabar tak mengenakan, tapi mata Afwa membulat sempurna ketika membaca pesan dari sang bunda. Satu detik, dua detik, tiga detik, matanya mengerjab tak percaya pada apa yang barusan ia baca sampai akhirnya kalimat tahmid keluar dari mulut Afwa sambil memeluk ponselnya.
__________________________________________
Hai readers apa kabar, author harap semua readers selalu sehat, maaf kalau Author nggak bisa up setiap hari dan juga belum bisa membalas komentar-komentar dari kalian, tapi aku selalu baca komentar kalian.
Pas nulis part ini author sedikit baper waktu menceritakan kasih sayang seorang ayah, dan author sendiri tiga bersaudara perempuan semua, habis nikah di bawa suami semua. Jadi ayah aku sendirian karena ibu sudah berpulang ke rumah Allah lebih dulu. Semoga yang masih punya orang tua yang masih hidup selalu sayangi mereka selagi masih ada kesempatan karena waktu tak akan pernah kembali. I Love You All. 😘
Please Like, Vote, Coment, Rate and Favorit
Thank You
__ADS_1