Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 157


__ADS_3

Setelah selesai makan siang di kantin kampus, Medina dan Anan segera menuju mobilnya terparkir, namun sebelum menaiki mobil, Anan memeriksa semua bagian mobil, ia harus waspada, siapa tahu selama ia menjaga meninggalkan mobilnya, ada yang berusaha menyabotase mobil yang mereka kendarai.


"Mas sedang apa?" tanya Medina saat melihat Anan sibuk memeriksa mobil.


"Sedang memeriksa mobil, siapa tahu para penjahat itu menyabotase mobil kamu.


"Apa ini tidak berlebihan?" tanya Medina lagi, membuat Anan jadi kesal karena pikiran Medina yang bodoh itu.


"Apa kau tak pernah melihat film-film action di televisi, bisa saja selama kita pergi tadi, para penjahat itu memotong kabel rem, atau memasang bom di mobil kamu?" tanya Anan kesal.


Mendengar pertanyaan Anan, Medina jadi malu, seharusnya dia tak banyak bertanya, maksud hati ingin lebih dekat dengan Anan tapi malah ditanggapi datar oleh Anan.


"Maaf," hanya kata itu yang sanggup Medina katakan.


Setelah memeriksa mobil, dan dipastikan aman, Anan menyuruh Medina masuk mobil, dan lagi-lagi Medina memilih duduk di samping kemudi, namun Anan hanya bersikap cuek. Medina tak tahu latar belakang keluarga Anan, andai dia tahu. Segudang wanita lajang model dirinya sangat banyak bertebaran di sekelilingnya. Asal Anan mau, wanita model Medina bisa ia dapatkan, namun sayang cinta salah satu pewaris DW group sudah mentok pada putri sang Kombes, yang memiliki usaha berjualan lumpia.


Mobil melaju meninggalkan area kampus menuju rumah Adiguna, namun saat melewati jalan yang agak sepi, mobil yang di tumpangi Anan dan Medina dihadang oleh sebuah mobil, dari mobil tersebut keluarlah beberapa orang berbadan kekar dan langsung mengepung mobil Anan. Medina gemeratan dan panik melihat semua itu, sedangkan Anan berusaha bersikap tenang, pikirannya harus tetap waras. Sebelum keluar mobil ia menghubungi timnya terlebih dahulu.


"Nona, anda harus tetap di dalam mobil apapun yang terjadi, kunci mobil dari dalam, aku sudah menghubungi tim, aku akan keluar menghadapi mereka!" perintah Anan.


"Tapi a-aku, takut, Mas," ucap Medina dengan suara gemetar.


"Kamu harus berani, nona hanya tinggal tunggu di mobil dan jangan keluar, satu lagi jangan lupa berdoa pada Allah!" ucap Anan kemudian langsung keluar dari dalam mobil.


"Siapa kalian, kenapa menganggu mobil kami?" tanya Anan tegas sambil pandangannya menyapu empat orang berbadan kekar yang ada di hadapannya.


"Kau tak perlu tahu siapa kami, cukup serahkan wanita yang bersamamu itu maka kau akan aman!" ucap salah satu dari empat laki-laki yang menghadang mobilnya.


"Jangan mimpi, sampai kapanpun aku tak akan serahkan wanita itu pada penjahat seperti kalian!"


"Dasar tak tahu di untung, kalau begitu jangan salahkan kami jika kami bermain kasar, ayo serang!" perintah salah satu empat orang tersebut.


Perkelahian antara Anan dan empat laki-laki yang mencoba menculik Media. Saat SMA Anan pernah memegang sabuk hitam karate, ia pun juga sering memenangkan lomba di tingkat kabupaten bahkan sampai provinsi, namun Anan tak berminat mengembangkan bakatnya menjadi atlet. Anan memang sedikit kewalahan menghadapi empat orang di depannya, tapi masih bisa mengatasinya. Tenaga Anan mulai melemah, dan pada saat itu salah seorang dari penjahat tersebut akan menikam Anan dari belakang.


Dor


Sebuah suara senjata api terdengar di tengah sengitnya pertempuran, membuat tiga orang yang tengah mengepung Anan dan juga Anan sendiri terkejut.


"Angkat tangan! menyerahlah!" ucap Samsul dengan beberapa anggota polisi.

__ADS_1


Akhirnya empat penjahat yang akan menculik Medina tertangkap, satu penjahat terluka di bagian kaki karena terkena timah panas dari pistol Samsul. Para anggota polisi segera memasukkan keempat penjahat ke mobil polisi.


"Bagaimana keadaan anda Pak?" tanya Samsul alias Samino.


"Aku tak apa-apa, jangan khawatirkan aku!" , lalu bagaimana dengan plat mobil yang aku kirim ke markas?" tanya Afwi sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah


"Mobil itu adalah mobil bodong, mungkin penjahat itu membelinya dari penadah," jawab Samsul.


"Sudah ku duga, Akhh...sial!"


Saat Anan sedang berbicara dengan Samsul, Medina keluar dari mobil dan segera mendekati Anan, ia sangat khawatir dengan kondisi polisi ganteng yang menyamar menjadi sopirnya ini.


"Mas Anan tak apa-apa?" tanya Medina khawatir dan reflek tangannya menyentuh pipi Anan.


Mendapat sentuhan dari Medina, secara reflek Anan langsung menepis tangan Medina dengan sedikit kasar.


"Anda jangan sentuh saya nona!" peringat Anan dengan nada bicara tegas.


"Maaf, aku reflek saja, aku hanya mengkhawatirkan mas Anan," ucap Medina dengan wajah sendu.


Melihat adegan di depannya ini, Samsul langsung bisa menarik kesimpulan bahwa Medina menaruh rasa pada atasannya itu.


"Pak Anan tidak apa-apa, nona, hal seperti ini sudah biasa terjadi karena telah menjadi bagian dari resiko pekerjaan kami, jadi anda tidak perlu terlalu menkhawatirkan pak Anan," ucap Samsul menengahi pembicaraan Medina dan Anan karena ia tahu Anan sedang dalam mode darah tinggi, apalagi tadi Medina dengan lancang menyentuh wajah Anan.


"Nona Medina, maafkan sikap pak Afwi, beliau memang seperti itu, pak Afwi memang sangat menjaga jarak dengan wanita, tak ada wanita yang berani mendekati apalagi sampai memegang bagian tubuhnya, saya harap nona Medina mengerti dan tidak mengulangi hal barusan," ucap Samsul memberi masukan pada Medina.


"Baik terima kasih mas Samsul, tadi saya benar-benar tak sengaja, saya reflek," ucap Medina kemuadian segera masuk ke dalam mobil menyusul Afwi.


Namun kali ini Medina tak duduk di samping kemudia lagi seperti tadi, ia memilih duduk di jok penumpang, ia merasa tak enak dengan kejadian barusan. Ia hanya bermaksud baik itupun hanya tindakan reflek tapi Afwi sudah begitu marah. Afwi segera melajukan mobilnya menuju rumah Adiguna, di dalam mobil tak ada pembicaraan apapun, hingga sampai rumah Afwi dan Medina hanya saling diam, meski kesal Afwi tetap melaksanakan tugasnya, ia membukakan pintu untuk Medina.


"Terima kasih," ucap Medina pada Afwi saat membukakan pintu mobil untuknya.


"Sama-sama, Nona, sebaiknya anda segera membersihkan diri dan istirahat, dan maaf soal tadi," ucap Afwi setelah Medina keluar dari mobil.


"Tidak apa-apa, mas, saya juga minta maaf saya juga salah, permisi," ucap Medina kemudian segera berlalu dari hadapan Afwi.


Sampai di kamar, Medina langsung melepas pakaiannya dan menaruhnya di ranjang kotor, ia segera masuk ke kamar mandi, dibawah guyuran shower ia memejamkan matanya. Kejadian hari ini kembali berputar di memorinya, namun hal yang paling menyesakkan dadanya adalah sikap kasar Afwi ketika secara reflek ia menyentuh pipi mulus sang polisi ganteng. Sebagai polisi Afwi termasuk memiliki kulit yang cerah tak terlalu gelap dan mulus, mungkin hasil perpaduan kulit Yasmin yang kuning langsat dan Yudha yang memiliki kulit sawo matang.


"Apa benar-benar tak ada celah aku masuk ke hatimu, Mas?, ini pertama kalinya aku benar-benar mencintai seseorang, apa kuranngnya aku, Mas?, apa sudah ada wanita lain di hati kamu?" batin Medina sendu.

__ADS_1


Di kamarnya Afwi juga melakukan hal yang sama, ia menguyur seluruh tubuhnya dengan air, di bagian wajah ia mengusapnya berulang-ulang seolah ada noda tebal yang sulit di hilangkan. Afwi sangat menjaga tabuhnya, dengan Nayla saja ia hanya berani pegang tangan itupun dalam kondisi yang darurat, sedangkan Nayla sendiri tak pernah berani menyentuh Afwi barang sejengkal, karena Nayla juga sangat menghormati Afwi.


"Huh, kenapa aku merasa seperti di lecehkan, seumur hidup baru si Medina yang berani menyentuhku tanpa ijin meski katanya itu hanya reflek, namun tetap saja aku merasa tak rela bagian tubuhku di sentuh olehnya, rasanya aku seperti sudah mengkhinati Nayla," gumam Afwi dalam hati sambil berulang kali mensosok-gosok wajahnya dengan sabun dan air.


Setelah menyelesaikn ritual mandinya, Afwi segera menunaikan shalat Dzuhur yang waktunya hampir habis. Setelah menunaikan kewajibannya, ia menemui tiga anggotannya untuk berdiskusi. Mereka memilih gazebo yang terletak di belakang rumah untuk berdiskusi.


"Bagaimana keadaan rumah selama aku pergi?" tanya Afwi.


"Keadaan rumah aman, tapi waktu Kikan cek rekaman CCTV, memang dari subuh sudah ada mobil misterius yang mengawasi rumah pak Adiguna," lapor Denis.


"Berarti kita sudah diawasi sejak datang ke rumah ini, namun sepertinya mereka tidak tahu bahwa yang bekerja di rumah ini adalah polisi yang menyamar," ucap Afwi memberi analisa.


"Kenapa anda bisa berfirkir seperti itu, Pak?" tanya Kikan.


"Saat mobil yang aku tumpangi bersama Medina di hadang, mereka hanya berempat, perkiraanku, mereka mengira Medina di antar sopir biasa, kalau mereka tahu aku polisi, maka mereka akan berfikir dua kali hanya mengirim empat orang jejunguk itu," jawab Afwi dengan nada sedikit kesal.


"Lalu apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" tanya Denis.


"Kita lakukan aktivitas seperti biasa namun tetap waspada, terutama pada tamu yang bukan keluarga pak Adi, kurir dan sebagainya, aku sudah mendapar ijin pak Adi dan nona Medina jika ada paket berbentuk apapun kita diperbolehkn membuka dan memeriksa terlebih dahulu," ucap Afwi.


"Baguslah, mereka sangat kooperatif," ucap Denis.


"Aku tahu kenapa mereka sangat kooperatif," seloroh Samsul.


"Ya iyalah, mereka harus kooperatif, ini kan demi keamanan pak Adi dan putrinya," ucap Kikan polos.


"Bukan begitu konsepnya Kikan," ucap Samsul.


"Lalu?" tanya Kikan penasaran.


"Ya...karena nona Medina naksir sama pak Afwi," jawab Samsul yang mendapat pelototan tajam dari Afwi, sedangkan Kikan dan Denis cukup terkejut dengan penjelasan Samsul.


__________________________________________


... ...


...⭐ SELAMAT HARI BHAYANGKARA⭐...


...KE - 76...

__ADS_1


Please, Like, Vote, Komentar, Rate bintang 5 and Hadiah


Thank You


__ADS_2