Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 167


__ADS_3

Saat Yasmin dan Yudha sampai di rumah sakit, mereka melihat sosok gadis yang ia kenal. Ternyata tebakannya Yasmin benar, bahwa gadis cantik yang ia lihat adalah kekasih sang putra.


"Nayla!"


"Tante."


Yasmin kemudian mendekat pada Nayla dan langsung memeluknya, Nayla yang tiba-tiba mendapat pelukan hangat dari ibunda sang kekasih cukup terkejut.


"Kapan kamu datang, Nak?, kenapa tak mengabari?" tanya Yasmin ketika sudah mengurai pelukannya pada Nayla.


"Tadi pagi, Tante, dari bandara langsung ke rumah sakit," jawab Nayla.


"Kamu ke Singapura sendiri?" tanya Yasmin lagi karena melihat Nayla terlihat sendirian di rumah sakit


"Iya, Tante, papa ada tugas pengamanan tak bisa di tinggal, dan saya juga tak ingin merepotkan orang lain."


"Tapi setidaknya papamu meminta seseorang untuk menemani kamu ke sini," sahut Yudha menimpali, sebagai seorang ayah, Yudha menyayangkan sikap Mahendra yang melepas anak gadisnya sendiri ke negeri orang.


"Sebenarnya papa akan meminta bantuan salah satu anggotanya untuk mengantar saya ke Singapura, tapi saya menolaknya, saya tak ingin merepotkan siapapun."


"Lalu kamu mau menginap dimana di Singapura ini?" tanya Yudha.


"Nanti rencananya saya akan cari penginapan atau hotel, Om."


"Kamu tak usah cari hotel, menginap saja di rumah putriku, dia adiknya Afwi!" pinta Yudha.


"Tapi, Om---


"Tak ada tapi, kamu anak gadis, tak baik menginap di hotel sendiri, apalagi ini negara asing!" ucap Yudha tegas, ia tak mau ambil resiko apapun, tak ada yang Nayla kenal di negeri Singa ini, akan lebih aman jika kekasih sang putra tinggal di rumah besar putrinya.


"Ba-baik, Om," ucap Nayla sedikit gugup ia tak menyangka ayah sang kekasih terlihat tegas dan keras tapi juga sangat penyayang.


"Iya, Sayang, kamu nanti menginap di rumah Aryana, di sana banyak kamar dan Fahmi pasti mengizinkan," ucap Yasmin menimpali.


"Kamu sudah melihat Afwi?" tanya Yudha.


"Belum, Om, ini baru mau lihat," jawab Nayla.


"Kalau begitu, kita sama-sama lihat Afwi!" ajak Yudha.


Yudha dan Yasmin kemudian mengajak Nayla menuju ruangan ICU dimana Afwi di rawat. Tepat saat mereka sampai di depan ruang ICU, waktu besuk sudah tiba. Yasmin menyuruh Nayla masuk lebih dulu.


"Kamu masuklah dulu, Sayang, temui Afwi, semoga ia bisa merasakan keberadaanmu dan bisa segera sadar!" pinta Yasmin sambil mnegusap lembut pundak Nayla.


Nayla hanya menganguk dan tersenyum tipis pada Yasmin dan Yudha, ia lalu memasuki ruangan ICU dengan hati yang berdebar, setelah melihat Afwi di rumah sakit tanah air, ini adalah pertemuan ketiga mereka. Wajah Nayla menyendu melihat sang kekasih masih terbaring tak sadarkan diri dengan alat medis penunjang kehidupan.


"Hiks...hiks..., Abang...bangun!, aku merindukan abang, aku sudah berdamai dengan diriku sendiri, aku bisa menerima profesi abang. Aki sudah tahu semua kisah abang saat bertugas, abang bersih dan sholeh, tak seperti pemberitaan buruk tentang profesi abang, ayo bangun, Bang, Nay sayang sama Abang, kita baru mulai, aku tak mau abang pergi," ucap Nayla sambil mengenggam tangan Afwi yang tak terpasang infus.


Di alam bawah sadarnya, Afwi seolah mendengar suara seorang wanita dan juga suara tangisan yang begitu menyayat hati.

__ADS_1


"Aku mendengar suara seorang wanita seperti memanggil namaku, tapi siapa?" ucap Afwi di dalam alam bawah sadarnya.


Semakin lama, suara wanita itu semakin jelas terdengar oleh Afwi, dan akhirnya Afwi mengenali suara wanita itu.


"Ya Allah, aku kenal suara itu, itu adalah suara Nayla. Sayang...aku ingin ketemu kamu tapi rasanya aku sulit sekali bergerak, Ya Allah bantu hamba, hamba ingin sekali bangun dan menemui orang-orang mencintai hamba, kalaupun hamba harus kembali pada-Mu, ijinkan hamba meminta maaf pada ayah, bunda, saudara-saudaraku dan Nayla," ucap Afwi di pikiran bawah sadarnya, sekuat tenaga ia ingin sekali bisa segera bangun dan kembali ke alam nyata.


Nayla masih mengenggam jemari Afwi sambil terisak, juga memohon agar sang kekasih mau berjuang untuk sembuh dan bisa segera bangun. Tanpa Nayla sadari jemari Afwi perlahan bergerak, mula-mula Nayla memang tak menyadari pergerakan tangan Afwi karena ia sendang sibuk menangis dan bersedih.


Nayla juga adalah wanita normal, meski sempat kecewa dan marah, namun melihat begitu tulus perjuangan Afwi untuk mendapatkan hatinya juga menghapus pemikiran Nayla yang selalu overthinking tentang profesi seorang polisi. Apalagi dengan kasus-kasus kejahatan yang ternyata ada campur tangan para aparat keamanan yang tidak amanah sehingga tak hanya mencoreng nama keluarga namun juga nama institusi yang menaungi profesi tersebut.


Afwi berusaha untuk bisa bangun dari tidur panjangnya, bayangan sang bunda dan Nayla yang menangis karena dirinya seolah seperti sebuah film yang sedang ia lihat, sekuat tenaga ia terus berjuang untuk bangun dan akhirnya perjuangannya membuahkan hasil, perlahan ia bisa mengerakkan jemari tangannya. Nayla yang sempat tak menyadari pergerakan tangan Afwi, kini ia menyadarinya, ia menatap tak percaya dengan apa yang dia lihat.


"MasyaAllah, Abang, kamu sudah mulai sadar, Alhamdillah terima kasih ya Allah!" pekik Nayla sangat bahagia melihat Afwi mulai mengerakkan jarinya. Nayla kemudian memencet tombol darurat untuk memberitahu perawat bahwa Afwi sudah sadar. Kemudian dokter perawat segera memetriksa Afwi. Yasmin dan Yudha turut senang dengan perkembangan putra mereka.


"Bagaimana keadaan anak kami, Dok?" tanya Yasmin dengan tidak sabaran.


"Putra anda sudah dinyatakan sadar, hanya saja belum boleh banyak bicara karena luka di perutnya cukup dalam, kami melakukan pemeriksaan lebih lanjut agar mendapatkan data yang akurat apa luka yang di alami putra ansa tidak memicu terjadinya komplikasi organ tubuh lainnya, saya harap Tuan dan Nyonya sabar menunggu hasil dari kami," ucap dokter tersebut.


"Apa kami bisa melihatnya, Dok?" tanya Yudha.


"Tentu, tapi jangan terlalu lama dan jangan biarkan pasien terlalu banyak bicara!" jawab dokter tersebut dengan memberi beberapa peringatan.


Yasmin, Yudha dan Nayla kemudian masuk ke ruang ICU, mereka bertiga sangat senang melihat Afwi sudah sadar meski belum boleh banyak bicara.


"Bu-Bunda!" panggil Afwi lirih.


"Ma-maaf."


Hanya kata itu yang terlontar dari mulut putra keduanya itu, tentu saja hal itu membuat hatinya teriris.


"Kenapa Afwi minta maaf, Afwi nggak salah apapun sama bunda dan ayah, Afwi akan selalu jadi kebangaan ayah dan bunda juga keluarga Dewantara dan Danuarta. Abang Afwi hebat," ucap Yasmin menangis sambil membelai pucuk kepala Afwi.


Yudha yang melihat ini pun terharu, terlihat cairan bening keluar dari sudut matanya. Meski Yudha seorang mantan anggota pasukan khusus karena pensiun dini tapi ia tetaplah seorang ayah, manusia biasa yang juga bisa merasakan kepedihan mendalam melihat sang putra yang biasanya gagah perkasa sekarang terbaring tak berdaya di rumah sakit.


Setelah mengatakan kata maaf, Afwi tak mengatakan apapun lagi, ia hanya merespon ucapan Yasmin dengan kedipan mata. Nayla juga memandang nanar tubuh sang kekasih yang masih terpasang alat medis meski tak sebanyak sebelumnya.


"Abang sudah sadar, aku senang abang sudah sadar, abang harus cepat sembuh dan balik ke tanah air. Bisa berkumpul lagi dengan keluarga dan sahabat," ucap Nayla yang membuat Afwi heran.


Seolah tahu apa yang di pikirkan putranya, Yasmin menjelaskan dimana mereka saat ini.


"Afwi, kamu tertembak saat tugas, tembakan itu mengenai sedikit organ vital kamu, membuat kamu tak sadarkan diri beberapa hari di rumah sakit karena kamu tak kunjung sadar, ayahmu meminta ijin untuk membawamu perawatan ke Singapura dengan bantuan Fahmi,


jadi sekarang kamu berada di Singapura."


Mendengar penjelasan bundaya, ia hampir tak percaya dengan apa yang sudah menimpa dirinya. Afwi yakin biaya yang di keluarkan orang tuanya pasti tak sedikit, belum lagi ayah dan bundanya yang pastinya sangat repot merawat dirinya.


"Ma-maaf aku me-repotkan, Bunda," ucap Afwi lagi dengan sendu dan penuh penyesalan.


"Kau tak perlu meminta maaf tentang hal apapun putraku, ini musibah bisa menimpa siapa saja, kami tak pernah merasa terbebani merawatmu, kami akan selalu ada untuk kamu, bagaimanapun keadaanmu. Lagipula kamu terluka seperti ini karena resiko pekerjaanmu, jadi tak perlu ada yang di maafkan, kami sayang kamu. Cepatlah sembuh agar kami bisa di repotkan lagi dengan acara lamaranmu untuk Nayla," ucap Yudha menimpali ucapan istrinya.

__ADS_1


Ucapan Yudha membuat, Nayla, tersipu malu dan Afwi menyungingkan senyuman tipis yang hampir tak terlihat.


"Oh iya, Yah, kita belum memberitahu Fahmi dan Aryana tentang keadaan Afwi," ucap Yasmin tiba-tiba ingat bahwa ia belum memberitahu jika Afwi sudah sadar.


"Iya, ya sampai lupa, biar ayah yang menelpon sekalian meminta ijin agar Nayla bisa menginap di rumahnya," ucap Yudha kemudian ia keluar dari ruangan tersebut untuk menelpon Fahmi.


Kabar sadarnya Afwi dari komanya membuat Fahmi dan Aryana sangat senang, apalagi calon kakak ipar mereka akan menginap bebebrapa hari di rumah mereka. Begitu di beri tahu Yudha, Fahmi dan Aryana segera pergi ke rumah sakit, tak lupa Aryana meminta art membersihkan salah satu kamar tidur yang masih kosong yang memang diperuntukkan untuk saudara yang mengunjungi mereka di Singapura, mengingat menyewa penginapan di Singapura pasti juga cukup mahal.


Sampai di rumah sakit Fahmi dan Aryana langsung menemui kedua orang tuanya dan sang kakak yang sudah sadar.


"Ayah, Bunda!, bagaimana keadaan kak Afwi?" tanya Aryana saat melihat kedua orang tuanya duduk di depan ruang rawat sang kakak.


"Alhamdulillah, kakakmu sudah sadar, tinggal tunggu observasi dari dokter jika tak ada komplikasi dari luka tembaknya yang mengenai organ vitalnya, maka kakakmu akan di pindahkan ke ruang perawatan," jawab Yasmin.


"Untuk masalah itu biar aku yang urus," ucap Fahmi menimpali.


"Iya, Bunda soal perawatan kak Afwi, biar mas Fahmi yang mengurusnya," ucap Aryana.


Tak lama Nayla keluar dari ruang rawat Afwi, ia cukup terkejut melihat seorang gadis cantik seusia sang kekasih dan seorang pria hampir seumuran dengan ayah Afwi namun masih terlihat sangat tampan, kulit putih, hidung mancung dan kaca mata bening yang bertenger di hidung mancungnya menambah kadar ketampanannya.


"Sayang..., sini!" panggil Yasmin pada Nayla agar mendekat.


"Iya, Tante," ucap Nayla sedikit canggung mendekat pada bunda sang kekasih.


"Ini kenalkan saudara kembar Afwi yang perempuan, namanya Aryana dan ini suaminya Fahmi, seorang dokter dan juga ceo Pratama group," ucap Yasmin mengenalkan putri dan menantunya.


Hal itu membuat Nayla sangat terkejut, Afwi memang pernah menceritakan adik kembar perempuannya yang menikah muda dan memiliki anak kembar tiga dan satu anak angkat tapi Nayla tak mengira suami adik kembar perempuan sang kekasih sudah sangat berumur, lebih mirip pasangan ayah dan anak dari pada pasangan suami isti. Fakta ini cukup membuat Nayla sedikit shock. Menikah dengan pria berumur dengan usia yang masih sangat muda adalah keputusan besar, ia saja tak akan sanggup mengambil keputusan sebesar itu.


"Hai, kakak ipar apa kabar, kenalkan aku Aryana," ucap Aryana tersenyum sambil mengulurkan tangannya.


"I-iya, aku Nayla."


"Senang bertemu denganmu, kakak sangat cantik, pantas kak Afwi tergila-gila padamu, sampai menyamar jadi manajer di hotelku," ucap Aryana sambil terkekeh, ia teringat saat sang kakak meminta bantuannya mengenai ide konyolnya demi merebut hati gadis incarannya.


"Akhirnya kakak iparku yang datar dan dingin akan segera mendapat pawangnya," seloroh Fahmi yang juga ikut terkekeh mendengar cerita istrinya tentang perjuangan Afwi meluluhkan hati Nayla.


Nayla hanya tersenyum canggung mendengar kisah cintanya di singgung adik sang kekasih di di depan kedua orang tua calon mertuanya. Tanpa Nayla ketahui sepak terjang Afwi dalam meraih cintanya sudah di ketahui keluarga inti dari Afwi.


"Haduh...Abang bikin malu saja, awas nanti kalau sudah sembuh," batin Nayla.


________________________________________


Hiks...hiks..., di part ini author ikut nangis pas nulis, kasih sayang ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah. Hanya kedua orang tua kitalah yang tulus mencintai dan menyanyangi kita tanpa tapi.


Mohon maaf juga baru up karena author sedang tidak enak badan plus my son yang paling kecil lagi sakit.🙏🙏


Please Like, Vote, Komentar, Rate and Favorit


Thank You

__ADS_1


__ADS_2