Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 82


__ADS_3

Fahmi sedang memeriksa berkas-berkas yang harus ia tanda tangani, ia nampak serius dengan pekerjaannya itu, sampai sebuah ketukan menghentikan aktivitasnya.


Tok-tok


"Masuk!" pinta Fahmi


"Tuan, ini informasi yang anda inginkan tentang Eagle company," ucap Juan sambil menyodorkan beberapa file pada Fahmi.


Fahmi lalu membuka satu per satu informasi tentang Eagle Company, setelah membacanya Fahmi meletakan file-file itu ke atas meja, kemudian menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya.


"Jadi sekarang Eagle company ada di tangan saudara tiri Elvis?" tanya Fahmi setelah membaca laporan dari Juan.


"Benar, Tuan, saudara tiri Elvis telah mengambil alih Eagle company, tapi dengan cara yang tidak benar, Tuan bisa melihat di laporan tersebut," ucap Juan.


"Aku tidak mau ikut campur urusan mereka, aku hanya ingin membantu Elvis bangkit kembali, Juan, tolong kau hubungi tuan Alexander pemilik Diamond Hotel, bilang aku membutuhkan Elvis, terserah bagaimana caramu, setelah Elvis keluar dari Diamond hotel beri dia pekerjaan di Pratama group, tapi jangan pernah katakan bahwa aku yang membantunya!" perintah Fahmi.


"Baik, Tuan, semua akan berjalan sesuai dengan apa yang tuan inginkan," ucap Juan.


"Terima kasih, Juan, kau boleh keluar!" ucap Fahmi, kemudian Juan segera membungkuk hormat dan keluar dari ruangan Fahmi.


Sesuai perintah Fahmi, Juan menemui tuan Alexander pemilik Diamond Hotel, karena Tuan Alexander adalah salah satu colega bisnis Pratama group maka untuk urusan Elvis semua jadi lebih mudah. Tuan Alexander justru sangat senang bisa membantu Fahmi sebagai salah satu colega bisnisnya.


Elvis dan Fahmi berteman baik sewaktu menempuh pendidikan di Singapura, meski Elvis berasal dari keluarga yang kaya tapi dia tak pernah menunjukkan status keluarganya kepada publik hanya orang-orang tertentu yang mengetahuinya. Fahmi sering mengerjakan tugas bersama Elvis meski mereka berbeda jurusan, Fahmi belajar tentang bisnis juga dari Elvis karena Elvis kuliah di jurusan bisnis sedangkan Fahmi jurusan kedokteran, Fahmi juga belajar bisnis karena kelak mau tak mau dia pasti akan dipaksa terjun ke dunia bisnis. Melihat sekarang Elvis terpuruk, secara diam-diam Fahmi membantunya.


******


Hari berganti hari bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, kini usia pernikahan Fahmi dan Aryana sudah menginjak hampir dua tahun namun belum ada tanda-tanda kehamilan pada Aryana. Namun hal itu tak mengurangi keharmonisan rumah tangga mereka, Fahmi mengerti dengan kesibukan kuliah Aryana, meski Aryana tak pernah menunda kehamilan, ia justru sangat senang jika dirinya segera hamil, tapi Allah mempunyai rencana lain, tak semua apa yang di minta seorang hamba itu akan di kabulkan, Allah mempunyai tiga cara dalam mengabulkan keinginan hambanya yaitu dengan memberi sesuai keinginan, memberi tapi dengan menganti dengan hal yang lain yang menurut Allah itu adalah yang lebih baik, dan yang ketiga tidak mengabulkan karena jika doa seorang hamba itu di kabulkan maka justru hal itu akan membuat seorang hamba itu sengsara bahkan jauh dari rahmat Allah.


Fahmi dan Aryana juga sudah memeriksakan diri ke dokter, dan hasilnya semua baik, jadi mereka mengganggap itu belum rezeki, namun beda dengan nyonya Miranda, mami dari Fahmi yang selalu mendesak Fahmi agar segera memiliki keturunan sehingga hal itu membuat ketegangan diantara ibu dan anak terjadi. Siang itu tiba-tiba Fahmi mendapat kunjungan mendadak dari sang mami.


"Mami kesini kok nggak kasih tahu?" tanya Fahmi sambil berdiri menyambut maminya.


"Memangnya mami harus kasih kabar kalau mau ke perusahaan anaknya sendiri," ucap mami Miranda sambil mendudukkan dirinya ke sofa di ruang kerja Fahmi.


"Ada apa mami kesini?" tanya Fahmi kemudian duduk di depan maminya sambil melepas kaca mata yang bertenger di hidung mancungnya.


"Kapan kalian kasih cucu sama mami?, ini sudah hampir dua tahun, Fahmi, tapi belum ada tanda-tanda Aryana hamil!" ucap mami Miranda dengan raut wajah kesal.


"Mami jangan bahas itu lagi, anak itu rezeki dari Allah tidak bisa di paksakan," ucap Fahmi tak kalah kesal.


"Bisa, kau menikah lagi," ucap mami Miranda santai namun perkataannya membuat Fahmi naik darah.


"Mami!, mami sadar dengan apa yang mami katakan?" ketus Fahmi.


"Mami sadar, sesadar sadarnya, dari dulu sebenarnya kurang menyetujui Aryana yang penyakitan itu menjadi istri kamu, mami ragu apakah dengan kondisinya yang seperti itu dia bisa memberimu keturunan, ingat Fahmi kau anak kami satu-satunya, pikirkan juga kelangsungan keturunan keluarga Pratama," ucap mami Miranda yang membuat Fahmi makin meradang.

__ADS_1


"Mami!, kalau mami kesini hanya untuk hal bodoh seperti itu, maka lebih baik mami tak pernah kesini, bukannya aku tak menghormati mami, tapi sikap mami ini bisa melukai hati istriku jika sampai dia tahu permintaan mami, dan jika sampai mami menyentuh Aryana seujung rambut saja dan melukai hatinya maka, aku pastikan mami tidak akan melihatku hidup lagi!" geram Fahmi pada maminya.


"Kau mengancam mami?!" tanya mami Miranda.


"Aku tidak mengancam mami tetapi jika sampai mami melukai Aryana sedikit saja, maka Yudha tak akan segan-segan membunuhku dengan tangannya sendiri," ucap Fahmi tegas membuat nyali maminya sedikit menciut karena dia juga tahu benar siapa besannya itu, namun ia juga tak bisa membiarkan keluarganya belum mendapat keturunan dari putra kandungnya.


"Baiklah tapi, ingat Fahmi, mami tidak akan menyerah!" ucap mami Miranda kemudian meninggalkan ruang kerja Fahmi begitu saja dengan nada kesal.


Setelah kepergian maminya, Fahmi menjadi gusar, ia sudah tidak mood lagi meneruskan pekerjaannya. Ia tahu siapa maminya, sang mami bisa berbuat nekat, Fahmi tak ingin maminya menemui Aryana dan mengatakan hal yang bukan-bukan. Hari itu Fahmi menyerahkan semua pekerjaanya pada Juan, ia juga memberitahu pak Romi bahwa hari ini Fahmi sendiri yang akan menjemput Aryana ke kampus tanpa sopir dan tanpa pengawal. Fahmi ingin menghabiskan waktunya dengan sang istri, Fahmi tak ingin terjadi apa-apa pada istri kecilnya. Fahmi menelpon sang istri sebelum menjemputnya.


Fahmi


"Hallo, Assalamualaikum, Sayang."


Aryana


"Waalaikumsalam, Honey, ada apa menelponku?"


Fahmi


"Jam berapa pulang kuliah?"


Aryana


"Jam dua, Honey."


Fahmi


Aryana


"Tumben, jemput, pak Romi kemana?"


Fahmi


"Pak Romi tidak kemana-mana, aku hanya ingin menjemputmu dan mengajakmu jalan-jalan."


Aryana


"Baiklah, aku akan menunggumu, Honey."


Fahmi


"Okey, Sayang, tunggu aku!, Assalamualaikum."


Aryana

__ADS_1


"Waalaikumsalam."


Fahmi lalu menutup telponnya, ia menyambar kunci mobil dan jasnya yang berada di sandaran kursi kebesarannya, kemudian keluar kantor menuju parkir khusus para petinggi perusahaan, lalu melajukan mobilnya membelah ramainya jalan Singapura.


Pukul dua siang, Fahmi sudah sampai di kampus Aryana, namun ia hanya menunggu di luar kampus atas permintaan sang istri tercinta agar tak terlalu mengundang perhatian. Selesai kuliah Aryana langsung menuju keluar kampus menghampiri mobil sang suami yang terpakir agak jauh dari gerbang kampus.


"Sudah lama, Honey?" tanya Aryana ketika memasuki mobil.


"Tidak, baru lima belas menit," jawab Fahmi.


Fahmi segera melajukan mobilnya ke salah satu tempat wisata yang cukup terkenal di Singapura yaitu Singapore River.


"Honey, kita mau kemana?, dan tumben kenapa kamu mengajakku pergi secara tiba-tiba?" tanya Aryana penasaran.


"Aku sedang jenuh di kantor, tiba-tiba saja pingin mengajakmu jalan-jalan, kita akan ke Singapore River, karena kamu suka kan wisata berbau alam," jawab Fahmi.


"Oh begitu aku kira ada acara apa," ucap Aryana lega ternyata suaminya hanya jenuh saja dengan pekerjaannya dan Aryana memahami itu.


Setelah empat puluh lima menit, Fahmi dan Aryana sudah sampai di tempat tujuan, Fahmi membantu Aryana melepas sabuk pengaman.


"Ayo kita turun!" pinta Fahmi.


Aryana segera turun dari mobil, matanya berbinar bahagia melihat indahnya pemandangan di Singapore River.


"Masyaallah, ini indah sekali, Honey," ucap Aryana sambil merentangkan kedua tangannya sedangkan matanya melihat ke arah sungai, bibir Aryana menyungingkan senyum kebahagiaan.


"Kau suka?" tanya Fahmi.


"Aku suka, Honey, tempat ini bisa untuk melepaskan kepenatan," ucap Aryana sambil tersenyum lalu menghambur ke pelukan suami tercintanya.


Fahmi membalas pelukan sang istri, beberapa kali ia mengecup puncak kepala Aryana yang tertutup hijab. Ada rasa bahagia di dalam hati Fahmi melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah istrinya, namun di sisi lain ia sangat takut kehilangan Aryana, jika sampai maminya nekat menemui istrinya dan mengatakan ide bodoh sang mami. Fahmi tahu siapa dan bagaimana sifat istri kecilnya ini, ia akan sanggup mengorbankan kebahagiaan bahkan nyawanya sendiri untuk orang yang di cintainya.


Bagi Fahmi memiliki keturunan dengan kualitas yang baik itu sangat penting, tidak hanya baik secara fisik tapi secara kepribadian, keimanan dan ketaqwaan kepada sang pencipta, dimana keturunan yang akan bisa membawa orang tua bahagia di dunia tapi juga bahagia di akherat. Fahmi pernah mendengar ungkapan hati sang istri bahwa salah satu keinginan terbesarnya adalah anak mereka kelak bisa menjadi Hafidz Al-Qur'an, Aryana punya cita-cita paling tidak satu rumah satu Hafidz (penghafal Al-Quran). Keinginan yang terdengar simpel tapi bahkan dengan semua kekayaan yang Fahmi miliki belum tentu bisa membantu mewujudkan keinginan sang istri yang satu ini. Mungkin gelar pendidikan apapun bisa di dapat dengan mudah dengan uang dan kekuasaan, tapi untuk gelar Hafidz Qur'an, tidak akan bisa dibeli berapapun karena gelar ini hadiahnya adalah surga Allah dan dengan gelar Hafidz ini, seorang penghafal Al-Quran bisa menyelamatkan keluarganya di akherat kelak.


Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa “dari Buraidah Al Aslami ra, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah Saw. bersabda “Siapa yang membaca Al-Qur'an, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia, keduanya bertanya: mengapa kami dipakaikan jubah ini? Dijawab “Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al-Qur'an”. (HR. Al Hakim).


________________________________________


Siapa yang punya cita-cita seperti Aryana (memiliki anak penghafal Al-Qur'an)?


Author doakan semoga terkabul. Aamiin🤲


Please, Like, Vote, Coment, Rate and Favorit


Thank You

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2