
Setelah menunaikan shalat dzuhur di masjid bersama Faisal, Afwi mengajak Faisal untuk kembali ke asrama Akpol tapi Faisal menolak ia ingin jalan-jalan dulu sebentar, Faisal tidak mau menjadi kambing congek di asrama sendirian karena biasanya para taruna dan taruni Akpol akan pulang menjelang sore paling tidak dibawah jam tiga sore bukan siang-siang bada dzuhur seperti ini. Akhirnya Afwi menuruti permintaan Faisal untuk berjalan-jalan sebentar sebelum kembali ke asrama Akpol, dan sekitar pukul empat sore Afwi dan Faisal sudah kembali ke asrama, sisa lumpia yang masih beberapa ia bagikan ke beberapa teman sekamar mereka.
Sedangkan di sebuah panti asuhan seorang gadis dibantu dua anak berusia di empat belas tahun menurunkan beberapa barang bawaan dari sebuah motor.
"Kalian sudah pulang?" sambut seorang wanita paruh baya dari dalam rumah.
"Iya, Bu hari ini kiosnya ramai, penghasilan kita lumayan banyak, Bu," ucap gadis cantik dengan rambut di kuncir ekor kuda.
"Iya, Bunda, semenjak kak Nayla mengantikan bunda jualan pelanggan lumpia kita makin banyak, apalagi yang makan di tempat kebanyakan cowok," seloroh anak laki-laki berusia empat belas tahun yang membantu menurunkan box tempat lumpia dan ucapan anak laki-laki itu mendapat pelototan tajam dari Nayla.
"Iya Bunda, bahkan tadi cowok ganteng kaya artis tapi seragamnya seperti pak polisi gitu, cowok itu gak mau terima uang kembaliannya lho, seloroh seorang anak perempuan yang juga tadi ikut membantu Nayla berjualan.
"Heh, kalian itu masih kecil tahu apa tentang hal begituan!" ucap Nayla kesal dengan aduan dua adik pantinya yang bermulut ember seperti ibu-ibu arisan jika sedang bergosip ria.
Mendengar celotehan dua anak pantinya bunda Nana melerai ketiganya.
"Sudah-sudah jangan godain kak Nayla, sana cepat bereskan perlengkapan jualannya ke belakang!" titah bunda Nana.
Perlengkapan jualan lumpia akhirnya di bereskan oleh dua anak panti yang membantu Nayla, dua anak panti itu bernama Ivan dan Santi, diantara anak panti Ivan dan Santi adalah termasuk yang sudah besar sudah mengerti tentang pekerjaan rumah tangga, selain itu Ivan dan Santi adalah anak panti yang sering membantu bu Nana di dapur jadi mereka cukup tahu tentang masakan dan peralatan masak. Setelah Ivan dan Santi masuk ke dalam rumah dengan membawa perlengkapan jualan, Bunda Nana kemudian mengajak Nayla duduk sebentar di teras untuk sedikit berbincang.
"Duduklah, Nay, kita ngobrol sebentar!" pinta bunda Nana, Nayla pun menuruti permintaan bunda Nana yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.
"Nay, bunda senang kamu mau tinggal di sini, menemani bunda, membantu bunda dan menjadi teman bermain untuk anak-anak di sini, tapi sampai kapan kamu mau menjauhi papa kamu?. Papamu juga butuh pendamping hidup, apalagi papamu seorang Komisaris Polisi dia butuh ibu bayangkari yang membantunya, memberi segala dukungan padanya, tanggung jawabnya pada negara itu berat. Percayalah Nay, meski mamamu sudah tenang bersama keabadian, tapi bunda yakin, di dalam lubuk hati papamu yang paling dalam mamamu masih bertahta di hati papa kamu," ucap bunda Nana sambil menggenggam tangan mungil Nayla, sedangkan di mata bening Nayla sudah terlihat basah dan memerah.
"Tapi Nay, belum bisa menerima wanita itu mengantikan posisi mama Nay," ucap Nayla dengan suara parau menahan tangis.
"Nay, kamu belum mencoba mengenal dengan mama sambungmu," ucap bunda Nana.
"Aku mengungsi ke sini bukan hanya karena papa dan wanita itu tapi aku ingin ketenangan dalam hidupku, aku hanya ingin menjalani kehidupan sebagai anak biasa, aku ingin orang menerimaku apa adanya diriku bukan karena aku anak dari seorang Kombes, aku nyaman dengan kehidupanku sekarang, Bund," ucap Nayla sambil menyeka air matanya.
"Oalah, Nay-Nay, apa jadinya kalau orang-orang tahu siapa kamu sebenarnya, seorang putri Kombes Mahendra Bagaskara berjualan lumpia," ucap bunda Nana sambil menyandarkan punggungnya di kursi sambil memijit pelipisnya.
"Memangnya kenapa kalau mereka tahu aku yang sebenarnya, aku hanya berjualan lumpia tidak jual diri, tidak menjual barang-barang haram lainnya," ucap Nayla santai setelah hatinya mulai tenang.
__ADS_1
"Ya, nggak apa-apa sih, Nay, terserah sebahagia mu saja, kalau kamu nyaman di sini sambil kuliah, bunda senang-senang saja, tapi apa kamu tidak ingin pulang sebentar ketemu sama papa kamu?" tanya bunda Nana.
"Untuk saat ini aku lagi belum pingin, seminggu lagi Nay mau ujian semester, Nay nggak mau mood Nay jadi buruk setelah ketemu papa dan wanita itu," Jawab Nayla sambil cemberut.
"Ya, sudah kalau begitu, sekarang kamu masuk ke dalam, mandi, sebentar lagi mau magrib!" pinta bunda Nana.
Mendengar perkataan bunda Nana, Nayla segera beranjak dari duduknya kemudian melangkah ke dalam rumah. Sedangkan bunda Nana masih duduk di teras rumah, ia sangat merasa kasihan dengan Nayla, putri satu-satunya dari mendiang sepupunya itu. Nayla adalah putri tunggal dari Kombes Polisi Mahendra Bagaskara dan Intan Aurelia, pada saat Nayla menginjak kelas dua SMA, Intan meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Mahendra sangat terpukul dengan kepergian sang istri tercinta secara mendadak, sebenarnya Mahendra sudah tidak ingin menikah lagi tapi karena desakan dari orang tuanya akhirnya Mahendra menikah lagi dengan seorang wanita bernama Galuh, wanita pilihan orang tua Mahendara yang dianggap tepat mendampingi putranya, dengan alasan demi Nayla, namun menikah kembali agar Nayla mendapatkan seorag ibu bukanlah solusi yang terbaik terbukti setelah Mahendra menikah lagi, putri semata wayangngya justru kabur dari rumah pergi ke panti asuhan peninggalan sang mama yang sekarang di kelola oleh bunda Nana, karena Nayla merindukan sosok ibu, maka Nayla memanggil kakak dari mamanya dengan sebutan bunda sama seperti anak panti lainnya.
Di sebuah rumah, seorang pria laki-laki yang belum terlalu tua di usianya menjelang senja, sedang menerima laporan dari anak buahnya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya laki-laki itu.
"Mbak Nayla sehat, Pak, sepertinya ia sangat bahagia dengan kehidupannya sekarang, apalagi dengan kegiatan barunya saat ini," lapor seorang pria yang menjadi suruhannya.
"Kegiatan baru apa?"
"Mbak Kayla membantu ibu panti itu berjualan lumpia di daerah jalan M," jawab orang suruhan.
"Apa!, jualan lumpia?"
Mendengar penjelasan orang suruhannya, Kombes Hendra memijit pelipisnya, ia tak habis pikir dengan jalan pikiran putri semata wayangnya itu.
"Ya sudah tetap awasi putriku, aku tidak ingin dia terluka sedikitpun!" perintah Hendra.
"Baik, Pak, siap laksanakan!" ucap pria suruhan tuan Hendra.
Di ruang kerjanya, Hendra memandang foto pernikahannya dengan mendiang istri pertamanya Intan Aurelia dan juga foto kebersamaannya dengan Intan dan Nayla sewaktu masih sekolah dasar. Mata Hendara menatap nanar dua pigura foto yang masih ia letakkan di meja kerjanya.
"Sayang, maafkan aku, tak bisa menjaga putri kita, aku tidak berniat mengantikanmu di hatiku dengan wanita manapun, kau wanita terhebat yang pernah ku miliki setelah ibuku. Kenapa kau begitu cepat pergi Intan, aku dan anak kita sangat membutuhkanmu, sekarang anak kita membenciku karena sudah menikah dengan wanita lain, maafkan aku sayang, maaf...," ucap Hendra dengan suara parau menahan tangis sambil mengusap dua pigura foto yang ada di meja kerjanya.
Di tempat lain sepasang suami istri sedang berbincang di gazebo halaman belakang rumah, setelah tiga anak kembarnya tak tinggal di rumah, suasana terasa sepi, hanya anak bungsu mereka yang kini menginjak kelas dua sekolah menengah atas yaitu Azka.
"Sayang, bagaimana perkembangan hubungan Afwa dan Kirana?" tanya Yudha.
__ADS_1
"Masih stuck, Mas, aku sudah coba bicara sama Dinda, tapi dia belum mau merestui hubungan Afwa dan Kirana," jawab Yasmin.
"Aku juga sudah bicara dengan Raka, tapi ia pun juga belum bisa meluluhkan hati Dinda sampai sekarang," ucap Yudha.
"Kenapa kisah cinta anak-anak kita jadi rumit ya, Mas."
"Hanya Aryana dan Afwa, Sayang, Afwi dan Azka hilalnya belum kelihatan," koreksi Yudha tentang kisah cinta anak-anak mereka.
"Lho bukannya, Afwi lagi dekat sama Salsa?" tanya Yasmin, pasalnya suaminya ini getol banget mendekatkan Afwi dan Salsa.
"Afwi kelihatannya tidak tertarik dengan Salsa, entah perempuan seperti apa yang ia cari, sejak dia sekolah aku tak pernah mendengar Afwi suka sama cewek, di Akpol pun dia juga sama sekali tak tertarik dengan para taruni di sana," jawab Yudha
"Darimana Mas tahu tentang Afwi tidak tertarik dengan para taruni di sana?" tanya Yasmin heran.
"Pokoknya ada deh, kamu nggak perlu tahu bunda sayang, kau tahu kan aku tidak akan melepaskan anak-anakku begitu saja," jawab Yudha.
"Ya, ya, I am understand, pak komandan, insting kamu memang tak pernah bisa di ragukan, untung aku nggak pernah kepikiran macam-macam di luar sana," ucap Yasmin yang otomatis membuat sang suami menatapnya penuh intimidasi.
"Coba saja kalau berani, akan kubuat kamu hamil lagi!" ancam Yudha pada sang istri, namun Yasmin justru tertawa melihat reaksi suami bucinnya itu.
"Ha...ha..., aku hanya bercanda kenapa Mas serius sekali," ucap Yasmin santai.
"Itu tidak lucu, jangan pernah bermain di belakangku ya!"
"Heh, dasar pak tentara satu ini, gimana mau macam-macam bentar lagi juga mau jadi nenek dari cucu kembar tiga," ucap Yasmin kesal kemudian langsung beranjak dari duduknya meninggalkan Yudha begitu saja.
"Kok malah dia yang marah sih?" gumam Yudha
__________________________________________
Akan author selipkan kisah cinta Afwa dan Afwi ya readers, ada juga yang request kisah Afwi di buat novel sendiri gimana ya?
Please Like, Vote, Coment, Rate and Favorit
__ADS_1
Thank You
Bersambung...