Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 81


__ADS_3

Matahari di langit Singapura mulai meredup menyongsong waktu senja pulang ke peraduan. Pukul tiga sore, Aryana sudah pulang ke rumah, ia memang sedari dulu tidak suka hang out ke mall atau ke tempat hiburan lainnya.Tapi jangan di tanya jika ada acara pengajian dan acara keagamaan ia akan datang meski tempat majelis itu jauh dari rumahnya. Aryana langsung membersihkan dirinya lalu menunaikan shalat ashar. Pukul lima sore deru mobil terdengar di halaman rumah, sosok pria yang sudah tak muda lagi namun masih terlihat tampan keluar dari mobil lalu berjalan memasuki rumah.


"Sepi sekali di mana Aryana, apa dia sudah pulang?" batin Fahmi, kemudian ia naik ke lantai atas.


Ceklek


"Sayang, kamu sudah pulang," ucap Fahmi melihat istrinya bersandar di kepala ranjang.


Begitu melihat suaminya datang ,Aryana langsung bangun dari duduknya lalu menghampiri suaminya mencium tangan sang suami di sambut ciuman di kening oleh Fahmi.


"Maaf Honey, aku tidak tahu kau datang," ucap Aryana


"Tidak apa-apa, aku tahu kau lelah, jam tiga kau baru pulang kan?" ucap Fahmi yang membuat sang istri heran.


"Dari mana kau tahu aku pulang jam tiga?" tanya Aryana penuh selidik sambil menatap manik hitam pria di depannya itu.


"Mataku banyak dimana-mana, Sayang," jawab Fahmi sambil merengkuh pinggang ramping istrinya sehingga tak ada jarak antara suami istri tersebut.


"Kau mematai-mataiku ya?" tanya Aryana sambil mengerucutkan bibirnya sehingga membuat Fahmi gemas sehingga tak tahan untuk mencium bibir istrinya, sebuah ciuman biasa namun berubah menjadi ciuman panas, Fahmi menahan tengkuk Aryana memperdalam ciumannya, Fahmi melepas pangutannya ketika merasa Aryana sudah kehabisan nafas.


"Mppf, Honey kamu nakal?" ucap Aryana ketika pagutannya terlepas.


"Siapa suruh bibirmu seperti itu membuatku gemas, aku mah mandi dulu sebentar lagi magrib," ucap Fahmi kemudian masuk ke kamar mandi.


Melihat suaminya masuk ke kamar mandi, Aryana menggeleng-gelengkan kepala, ia mengambil dasi dan jas suaminya yang jatuh di lantai lalu menggantungnya di gantungan baju. Aryana kemudian melangkahkan kakinya keluar kamar, ia menuju dapur melihat persiapan masakan untuk makan malam.


Waktu sudah menunjukkan waktu magrib, Fahmi dan Aryana melaksanakan shalat magrib berjamaah, setelah shalat Aryana seperti biasa mencium punggung tangan suaminya yang di balas Fahmi dengan ciuman di kening. Sungguh pemandangan yang menyejukkan mata, jika orang di kantor Fahmi melihat ceonya yang kadang dingin, tegas dan berwibawa memakai baju koko dan sarung serta peci, dan bersikap manis dengan bidadarinya, para karyawannya itu pasti akan pingsan di tempat.


"Honey, tadi di kampusku sedikit heboh," ucap Aryana setelah melipat mukenanya.


"Heboh kenapa, Sayang?" tanya Fahmi heran.


"Katanya sih kedatangan salah penyandang dana terbesar di kampusku itu, menurut berita yang kudengar dia seorang ceo perusahaan besar, mereka juga bilang ceo itu sangat tampan, diantara mahasiswa bahkan ada yang berharap di lirik oleh ceo itu," ucap Aryana yang membuat Fahmi ingin sekali tertawa, istrinya ini benar-benar sangat polos, timbul ide di pikiran Fahmi untuk menjahili istrinya.


"Kamu lihat ceo penyandang dana itu tidak?" tanya Fahmi pura-pura tidak tahu.


"Tidak, aku hanya melihat para mahasiswa perempuan bergerombol melihat sesuatu yang menarik, lalu aku menanyakan pada salah satu dari mereka, apa yang sedang mereka perhatikan, karena aku pikir ada pengumuman atau info penting dari kampus," jawab Aryana membuat Fahmi mengulum senyum.


"O..., jadi kamu nggak lihat wajah ceo itu?" tanya Fahmi lagi.

__ADS_1


"Tidak," jawab Aryana singkat.


"Kamu nggak ingin tahu wajah ceo yang membuat teman-teman kampusmu heboh?" tanya Fahmi ingin tahu reaksi istrinya.


"Tidak, aku tidak ingin tahu, buat apa, sejak kecil aku sering lihat ceo-ceo tampan kalau sedang di ajak opa atau ayah menghadiri perjamuan para pengusaha, suamiku sendiri juga seorang ceo, lalu buat apa aku ingin tahu, seperti orang tidak punya pekerjaan saja," ucap Aryana dengan gaya cueknya membuat Fahmi sedikit kesal karena ternyata Aryana sering di ajak ke perjamuan para pembisnis yang otomatis melihat para ceo-ceo yang muda dan tampan.


Melihat ekspresi suaminya yang tadi ceria saat bertanya padanya seketika berubah menjadi mendung membuat Aryana heran.


"Honey, ada apa denganmu?, apa perkataan ku ada yang salah?" tanya Aryana mendekat pada suaminya yang duduk di tepi ranjang masih berbalut baju koko dan sarung.


"Jadi dulu kamu sering ngecengin ceo-ceo muda dan tampan?" ucap Fahmi tersirat kecemburuan di sana.


Mendengar perkataan suaminya, Aryana langsung mode on, bisa menangkap sinyal kecemburuan yang tidak keren dari suami bucinnya itu, Aryana ingin sekali tertawa tapi takut menyingung suaminya.


"Kau itu aneh, Honey, namanya juga ikut perjamuan bisnis, atau pesta pernikahan kolega bisnis tentu saja bertemu para pimpinan perusahaan, masa aku berjalan dengan menunduk biar nggak melihat mereka, atau sembunyi di kolong meja," ucap Aryana kemudian duduk di samping suaminya yang masih cemberut.


"Maaf, Sayang, aku hanya tak terima kau pernah melihat pria pria tampan selain aku," ucap Fahmi yang terdengar ke kanak-kanakan.


"Iya, aku maafin, lagian siapa coba yang tanya-tanya tentang apa aku tahu ceo penyandang dana itu atau tidak, percayalah dokter bucinku, di mataku hanya kamu ceoku yang paling tampan," ucap Aryana sambil menangkup wajah suaminya lalu mendaratkan ciuman di bibir sang suami.


"Terima kasih, Sayang, kau selalu setia padaku bahkan sebelum aku menghalalkan dirimu," ucap Fahmi lalu memeluk istrinya erat.


Aryana juga membalas pelukan sang suami sambil berkata, "aku juga berterima kasih padamu, Honey karena kamu juga telah setia menungguku selama tujuh belas tahun, bahkan tanpa ikatan apapun."


"Ck, kau benar-benar merusak suasana romantis ini, Sayang," ucap Fahmi sambil mengurai pelukannya.


Aryana terkekeh mendengar perkataan suaminya, Fahmi kemudian beranjak dari duduknya dan menganti pakaiannya dengan pakaian santai kemudian mengandeng sang istri dengan mesra keluar kamar untuk makan malam.


Jika Fahmi menikmati hari-harinya menjadi pengantin baru di negeri orang. Sepasang suami istri di baru saja memasuki rumah dengan masih memakai seragam dinasnya. sang suami masih mengenakan pakaian PDH dan sang istri masih memakai seragam persit, wajah lelah menghiasi wajah keduanya.


"Rasanya tubuhku capek sekali," ucap wanita yang masih mengenakan seragam persit lengkap.


"Ya, itu resiko jadi istri abdi negara, Dek, apalagi dengan pangkat dan jabatanku yang sekarang, 'kan dulu waktu nikah kantor sudah di kasih tahu," ucap pria yang masih mengenakan PDH lengkap sambil melepas sepatunya.


"Ini lah salah satunya aku nggak mengizinkan Kirana menikah dengan tentara atau abdi negara yang berhubungan dengan militer," ucap wanita berseragam persit itu.


Ya, sepasang suami istri itu adalah Raka dan Dinda yang baru saja mengadakan kunjungan ke daerah yang baru saja terkena musibah bencana alam.


"Dek, jangan begitu, jika memang Kirana dan Afwa berjodoh, sekeras apapun kamu menghalangi mereka, mereka akan tetap bersatu, jangan keras kepala!. Kalau pria itu adalah orang lain maka aku akan berfikir ulang, tapi pria yang mencintai Kirana adalah Afwa putra sahabatmu sendiri dan juga sahabatku. Kita mengenalnya tidak satu dua hari tapi sejak anak itu masih bayi," ucap Raka dengan nada sedikit kesal dengan istrinya yang masih kekeh dengan pendiriannya tak merestui Afwa dan Kirana, karena Kirana memilih Afwa memilih karir di militer sebagai kekasihnya.

__ADS_1


"Sudahlah lah, Mas aku capek, malas berdebat denganmu," ucap Kirana kemudian masuk ke dalam kamar.


"Huh, selalu saja begitu kalau di kasih tahu, sampai kapan kamu tak merestui mereka, Dek," ucap Raka dalam hati, yang selalu saja gagal membujuk sang istri untuk merestui Afwa dan Kirana.


Sedangkan di tempat lain di asrama Akpol, seorang pemuda terlihat serang bersantai di kamar asrama dengan beberapa rekannya.


"Fi, sebenarnya kamu tuh normal nggak sih?" tanya Zain salah satu teman sekamarnya.


Pertanyaan Zain yang aneh itu tentu saja membuat Afwi melayangkan tatapan tajam padanya.


"Aku masih normal, dan singkirkan pikiran anehmu itu!" pinta Afwi dengan nada datar.


"Normal dari mana taruni cakep-cakep begitu, kamu cuma diam aja seperti nggak ngangep mereka ada. Apa lagi tuh taruni bernama Salsa sering banget liatin kamu, sepertinya sia suka deh suka sama kamu," ucap Zain.


"Dengar ya, Zain, aku tidak menangapi taruni-taruni itu bukan karena aku nggak normal, tapi aku ingin fokus pada pendidikan ku, dan soal Salsa, kamu jangan pernah mengurusi hal itu, kalau kamu suka dia ambil saja," ucap Afwi kemudian berdiri dari duduknya lalu berjalan masuk ke kamar mandi.


Mendengar ucapan Afwi barusan, Zain dan dua orang teman yang duduk bersamanya saling pandang.


"Kalau Afwi begitu terus mana ada cewek yang bakal suka sama dia," ucap teman Afwi yang bernama Rizal.


"Tau tuh, semenjak datang ke Akpol ini mukanya dingin begitu, irit bicara lagi, kalau nggak diajak ngomong nggak bakal ngomong," ucap Faisal teman Afwi yang satunya lagi.


"Eh kabarnya si Afwi itu anak kembar tiga lho, yang aku dengar kembarannya itu memilih masuk Akmil di Magelang, sedangkan saudara kembarnya yang perempuan sudah malah sudah menikah lalu ikut suaminya ke luar negeri gitu," ucap Zain.


"Walah kembar tiga, hebat bener tuh ibunya Afwi sekali hamil langsung tiga," celutuk Rizal.


"Berarti bokapnya juga top cer tuh sekali tembus langsung tiga," seloroh Faisal.


Pembicaraan tiga taruna itu terhenti ketika melihat Afwi berjalan mendekat pada mereka bertiga.


"Sudah malam, sebaiknya kita segera tidur jangan sampai terlambat bangun dan di hukum seperti si Mario kemarin!" pinta Afwi ketika sudah sampai di depan ketiga temannya yang masih asyik mengobrol.


Mendengar perkataan Afwi, Rizal, Faisal dan Zain membubarkan diri menuju tempat tidur masing-masing.


___________________________________________


Aku selipkan sedikit kisah Afwa dan Afwi ya, biar nggak bosen, karena ke depan rencananya kisah cinta Afwa dan Afwi akan author tulis di satu lapak bersama si cantik Aryana.


Please Like, Vote, Coment, Rate and Favorit

__ADS_1


Thank You


Bersambung...


__ADS_2