
Seperti yang sudah di jadwalkan, bahwa hari ini, keluarga Afwa berangkat ke Bandung untuk proses lamaran resmi pada Kirana. Kali ini personil yang di bawa Afwa lumayan banyak. Dari keluarga Yudha ada Yasmin, Aryana sekeluarga, opa Dimas, oma Dewi dan Mitha, sedangkan dari keluarga Yasmin ada Andre, Humaira dan Dika. Kakek Danu tak bisa ikut karena harus menemani nenek Ratna yang kondisinya masih sakit.
Keluarga Yudha dan keluarga Yasmin akhirnya sampai di DW group, di sana mereka langsung di sambut oleh Revanda, putra om Devan yang menjadi kepercayaan keluarga Dewantara. Revanda menunjukkan di kamar mana akan menginap.
"Kau memang yang terbaik Revan," ucap Yudha sambil menepuk pundak Revanda.
"Terima kasih, Om, itu sudah kewajiban saya," ucap Revanda.
Setelah berterima kasih pada Revanda dan sedikit memberi arahan tentang acaranya, Yudha masuk ke kamar presidential suit, Yasmin sudah berada di kamar tersebut.
"Mas bersih-bersih dulu gih, nanti bada isya kita siap-siap ke rumah mas Raka!" pinta Yasmin.
"Oke, Sayangku," ucap Yudha kemudian menyambar bibir manis istrinya sebelum melenggang ke kamar mandi.
"Issh..., kebiasaan," gerutu Yasmin dengan kelakuan suaminya yang selalu menggodanya tapi ia suka, meski sudah memiliki cucu, kemesraan sang suami tak pernah pudar.
Sedangkan Yudha senyum-senyum sendiri di kamar mandi setelah berhasil menggoda istrinya.
Pukul setengah delapan malam semua sudah bersiap untuk pergi ke rumah Raka, ada lima mobil yang di pakai untuk pergi ke acara lamaran Afwa. Barang-barang seserahan untuk lamaran Afwa pun bukan kaleng-kaleng. Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, rombongan keluarga Afwa sampai di rumah Raka, di sana mereka di sambut dengan hangat, apalagi Raka ternyata mengundang komandannya untuk ikut menerima tamu yang akan melamar Kirana.
"Apa kabar, Yud?" tanya Raka sambil memeluk sahabat seperjuangannya menjadi tentara pasukan khusus.
"Alhamdulillah aku baik," jawab Yudha setelah mengurai pelukannya.
Kemudian Yudha menyalami komandan dari Raka yang bernama Dewa, Yudha sangat senang bertemu dengan komandan Dewa yang ternyata pernah menjadi komandannya dulu sewaktu ia masih aktif menjadi tentara. Begitu juga sebaliknya komandan Dewa sangat senang bertemu dengan salah satu prajurit terbaiknya, apalagi komandan Dewa bisa bertemu dengan pak Dimas ayah dari Yudha.
Setelah penyambutan, rombongan Afwa dipersilahkan masuk ke dalam rumah. Ruang tamu dan ruang tengah milik Raka sudah di sulap menjadi ruangan yang indah. Anak sulung Yudha ini memang tidak tanggung-tanggung menyewa wo untuk membantu mendekor rumah Raka, termasuk semua hidangan dan dokumentasi. Afwa memakai baju batik yang di desain khusus oleh butik milik sang bunda, sedangkan Kirana mengenakan gamis yang indah, tentu saja baju itu berasal dari butik calon mertuanya.
Semua orang sudah duduk di tempat yang sudah di sediakan, Yudha dan Yasmin duduk tepat di depan Raka dan Dinda.
"Raka, maksud kedatangan kami ke sini adalah untuk meminang putrimu Kirana untuk menjadi istri dari putraku, Afwa," ucap Yudha dengan gaya formal sangat berbeda saat pertama kali datang tadi.
"Yudha, kita sudah lama bersahabat bahkan istri kita pun juga bersahabat, aku sangat senang jika persahabatan kita akan di perkuat dengan jalinan pernikahan putra putri kita, namun semua keputusan akan aku serahkan pada putriku Kirana karena dialah yang akan menjalani perjalanan ibadah yang paling panjang yang ujiannya pastinya akan sangat banyak dan beragam," ucap Raka.
"Bagaimana, Kirana, apa kau menerima Afwa menjadi suamimu?" tanya Dinda yang duduk di sebelah Kirana.
Kirana terdiam mendengar pertanyaan ibunya, kepalanya tertunduk, jemari tangannya saling meremas, jantungnya berdetak sangat keras, lidahnya tiba-tiba kelu. Sungguh tak terbayangkan dalam benak Kirana bahwa dilamar secara resmi oleh keluarga sang kekasih bisa membuat perasaannya campur aduk tak karuan.
Melihat Kirana diam saja setelah ditanya tentang kesediaannya menikah dengannya, Afwa juga ikut berdebar, meski bertahun tahun menjalin kasih tapi hati manusia bisa berubah kapan saja. Rasanya acara lamaran ini lebih meneganangkan daripda ia harus diterjukan di daerah konflik.
"Kirana, bagaimana, Nak, apa kau bersedia menerima pinangan Afwa?" tanya Yasmin menegaskan, karena Kirana tak kunjung menjawab pertanyaan Dinda.
__ADS_1
Kirana menarik nafas panjang, lalu memberanikan diri mengangkat kepalanya.
"Bismillahirrahmanirrahim, saya bersedia menerima pinangan Afwa," ucap Kirana dengan gugup.
Mendengar jawaban Kirana semua orang yang ada di ruangan tersebut mengucap hamdallah tak terkecuali Afwa yang merasa bongkahan batu besar di hatinya tiba-tiba hilang begitu saja.
Seperti yang terjadi pada Afwi saat lamaran Afwi pada Nayla, Yasmin memakaikan cicin pemberian Afwa pada jari manis Kirana. Rona bahagia menghiasi dua keluarga yang akan segera berbesanan.
"Yud, karena Kirana sudah menerima lamaran Afwa secara resmi, maka aku akan segera menentukan hari baik untuk pernikahan mereka," ucap Raka.
"Aku setuju, semakin cepat, maka semakin baik, tapi kalau bisa segeralah, karena Afwi menunggu tanggal pernikahan Afwa, meski terlahir kembar, Afwi tak ingin melangkahi Afwa!" pinta Yudha.
"Baiklah, kurang dari satu minggu aku akan segera memberikan tanggal pernikahan Kirana dan Afwa, dan untukmu Afwa segera urus pengajuan nikah ke kesatuan!"
"Siap, Om, saya akan segera mengurus pengajuan nikah ke kesatuan."
Acara kemudian di lanjutkan dengan ramah tamah, foto bersama lalu makan malam. Keluarga Raka sangat senang sekali karena acara lamaran Kirana sangat ramai, apalagi dengan kehadiran Aryana, Fahmi dan keempat anaknya.
"Wah..., ini anak-anak kamu, Aryana?" tanya Dinda yang terlihat gemas dengan keempat anak Aryana.
"Sayang..., ayo kasih salam sama oma Dinda!" pinta Aryana lembut pada keempat anaknya.
"Salam kenal, Oma, aku Arsen."
"Aku Alya."
"Dan aku Alesya."
"Masyaallah, kalian ternyata anak yang pintar ya," ucap Dinda kagum.
Kirana juga ikut mendekat dan berbicara dengan dengan keempat anak Aryana, Alesya yang paling smart dan terlihat lebih centil memandang Kirana dengan intens, membuat Kirana sedikit heran.
"Hai cantik kenapa melihat tante seperti itu?" tanya Kirana.
"Apa tante yang akan mallied dengan uncle Afwa?" tanya Alesya.
"Yes girl, why?"
"Tante velly beautifull tapi napa mau nikah cama uncle Afwa?" tanya Alesya.
Kirana tersenyum bercampur gemas mendengar pertanyaan Alesya, anak Aryana yang punya wajah dan warna mata yang berbeda dengan ketiga saudaranya yang lain, dan Kirana tahu jika Alesya bukanlah anak kandung Aryana dan Fahmi
__ADS_1
"Tante mau menikah dengan uncle Afwa karena tante Kirana mencintai your uncle."
"But, uncle Afwa, not handsome," ucap Alesya dengan santainya membuat Kirana dan Aryana tertawa.
Afwa yang juga mendengar ucapan Alesya hampir saja tesedak desert yang baru saja masuk ke mulutnya.
"Lalu siapa yang menurut Alesya handsome?" tanya Kirana sambil tersenyum.
"Acisten papa mole handsome," jawab Alesya.
"Memang siapa asisten papa?" tanya Kirana
"Uncle Kim, he is vely handsome," jawab Alesya yang kali ini benar-benar membuat Afwa benar-benat tersedak.
"Astaga, keponakan nggak punya perasaan, masa aku di bandingkan dengan asisten papanya, wah nih anak kudu dikasih dengar lagu Parel yang lagi viral itu, Ojo Dibandingke!" umpat Afwa kesal.
Percakapan lucu Alesya dan Kirana harus berakhir karena Fahmi mengintruksikan agar semua keluarga kembali ke ruang tengah untuk acara pamitan. Setelah semua keluarga berkumpul Yudha memulai bicara untuk acara pamitan, akhirnya acara lamaran Afwa selesai dan sudah berjalan dengan lancar. Saat mengantar rombongan Afwa keluar rumah Afwa mendekat pada Kirana.
"Nanti akan aku kabari tentang berkas pengajuan nikahnya," ucap Afwa.
"Iya, Kak."
"Malai sekarang jangan panggil Kak, aku nggak mau kita di kira kakak adik."
"Tapi aku suka panggilan itu."
"Baiklah, tapi setelah resmi menikah, harus ganti panggilannya!"
"Iya, Iya, gitu aja ngambek."
"Sudah, aku pulang dulu, jaga diri baik-baik, juga jaga mata dan hati kamu!"
"Siap Letnan Afwa!" ucap Kirana sambil mengangkat tangannya hormat.
Afwa dan rombongannya meninggalkan rumah Raka untuk kembali ke hotel, senyum mengembang terlihat di bibir Kirana karena sebentar lagi impiannya menikah dengan Afwa akan segera terwujud.
_________________________________________'
Segini dulu ya readers, maaf akhir-akhir ini banyak kegiatan, badan capek jadi otak auhor gak bisa cepat merangkai kata.
Please, Like, Vote, Komentar, Rate and Favorit
__ADS_1
Thank You