Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 92


__ADS_3

Seperti yang sudah di rencanakan tuan Pratama, minggu ini mereka berangkat ke Singapura untuk mengunjungi Fahmi dan Aryana. Mereka tidak memberi tahukan kedatangan mereka ke Singapura karena tuan Pratama ingin memberikan kejutan pada putra dan menantu kesayangannya. Tuan Pratama sangat menyanggi Aryana karena tuan Pratama tahu banyak pembisnis yang mengincar Aryana untuk di jadikan bagian dari keluarga mereka, para kalangan pembisnis juga tahu reputasi keluarga Dewantara yang cukup bersih dan jauh dari berita miring, namun mereka tak bisa mendapatkan Berlian keluarga Dewantara itu, karena hati Aryana sudah terpaut dengan putranya sejak Aryana masih bayi, dan ini merupakan dewi Fortuna untuknya.


Pukul dua siang waktu Singapura, tuan dan nyonya Pratama sampai di bandara Singapura dan tentu saja mereka memakai jet pribadi.


"Pi, kita langsung ke rumah Fahmi atau ke kantornya?" tanya nyonya Miranda.


"Kita ke kantor Fahmi saja dulu," jawab tuan Pratama.


Supir suruhan dari tuan Pratama langsung mengantar mereka ke Pratama group, setelah satu jam tuan dan nyonya Pratama sampai di kantor Fahmi. Para petinggi dan karyawan Pratama group yang di Singapura mereka kalang kabut, tidak ada angin tidak ada hujan, tuan besar Pratama group tiba-tiba datang ke perusahaan dan tentu saja hal ini juga sampai ke telinga Fahmi.


Juan segera memberi tahu Fahmi jika tuan dan nyonya Pratama sudah berada di lobby perusahaan


Tok..tok..


"Ya masuk!" pinta Fahmi dari dalam ruangan.


"Selamat siang, tuan Fahmi, tuan besar dan nyonya besar berada di perusahaan ini, sekarang mereka sudah sampai di lobby," ucap Juan memberi informasi yang sukses membuat Fahmi langsung berdiri dari duduknya.


"Kenapa orang tuaku bisa kesini tanpa pemberitahuan?, apa ada masalah besar di sini yang tidak aku ketahui sehingga papiku datang kesini tanpa pemberitahuan?" tanya Fahmi pada Juan.


"Tidak Tuan, perusahaan kita tidak ada masalah apapun," jawab Juan.


"Baiklah, sambut kedatangan orang tuaku dengan baik, langsung suruh ke ruanganku saja.


Tak berapa lama tuan dan nyonya Pratama sampai di lantai lima belas tempat dimana ruangan Fahmi berada. Sampai di depan ruang Fahmi, tuan dan nyonya Pratama di sambut ramah oleh Juan.


"Selamat siang, Tuan, Nyonya, tuan Fahmi sudah menunggu di dalam!" sapa Juan yang di balas senyum ramah tuan Pratama.


"Terima kasih, Juan," ucap tuan Pratama.


Ceklek


Tuan dan nyonya Pratama memasuki ruang kerja Fahmi, Fahmi yang melihat kedatangan orang tuanyapun segera berdiri dari duduknya lalu menyambut kedatangan orang tuanya, Fahmi meraih tangan papi dan maminya lalu mencium tangannya tanda takzim, kemuadian ia mencium pipi papi dan maminya. Tuan dan nyonya Pratama tidak terlalu terkejut dengan perubahan sang putra semenjak menikah dengan Aryana sang putra bertambah baik kepribadiaannya.


"Papi, Mami, kesini kenapa tidak bilang-bilang padaku dulu, aku akan mempersiapkan penyambutan untuk kalian," tanya Fahmi kemudian mempersilahkan kedua orang tuanya untuk duduk di sofa yang berada di ruangannya.


"Kami ingin memberimu kejutan, selain itu kami juga ingin bertemu dengan Aryana dan menyapa ketiga calon cucu kami," jawab tuan Pratama.


"Ah begitu Aryana pasti senang bertemu dengan kalian, seandainya orang tua Aryana bisa bertemu kalian di sini pasti sangat menyenangkan, tapi sayangnya ayah mertuaku yang posesif itu baru bisa mengunjungi kami sekitar satu minggu lagi," ucap Fahmi


"Tidak apa, Nak, ayah mertuamu juga sangat sibuk mengurus perusahaan Dewantara group yang sangat besar. Kalau di pikir keluarga Dewantara itu tidak ada yang terlalu ambisi soal harta, pangkat dan jabatan, buktinya kedua kakak iparmu justru memilih berkarir di dunia militer dan kepolisian, padahal jika mereka mau mereka bisa menempati posisi tinggi di Dewantara group. Jika anak pengusaha sekelas DW group menyekolahkan anak mereka di luar negeri tapi tidak dengan keluarga mertuamu ini," ucap tuan Pratama yang mengagumi keluarga besannya itu, sedangkan mami Miranda hanya diam saja sedari tadi, entah apa yang sedang di pikirkannya.

__ADS_1


Melihat sang mami hanya diam saja saat ia berbicara dengan papinya, Fahmi merasa ada sesuatu yang aneh pada maminya, kemudian Fahmi berinisiatif bertanya pada maminya yang malah terlihat banyak melamun sedari ia datang.


"Mi!" panggil Fahmi pada maminya, nyonya Miranda yang pikirannya sedari tadi melalang buana entah kemana menjadi kaget.


"Oh, iya ada apa, Fahmi?" tanya maminya dengan raut wajah terkejut karena dibangunkan dari lamunannya.


"Mami, kenapa semenjak datang hanya diam saja, apa mami sakit atau ada masalah?" tanya Fahmi.


"Mami tidak apa-apa, mami hanya sedikit pusing saja jadi tidak fokus mendengar pembicaraan kalian," jawab mami Miranda bohong.


"Kalau begitu sini aku periksa denyut nadi mami!" pinta Fahmi kemudian beralih ke kursi sofa di sebelah maminya.


"Detak jantung mami tak stabil, kemungkinan tekanan darah mami naik, sebaiknya aku antar mami ke rumah dulu agar mami dan papi segera istirahat," ucap Fahmi.


"Sebaiknya begitu," ucap tuan Pratama.


Mendengar suami dan putranya sepakat, nyonya Miranda tidak bisa menolaknya, sebenarnya ia sangat tidak enak bertemu dengan menantunya, Aryana, ia sudah cukup banyak menyakiti wanita yang berstatus istri dari putranya itu. Apalagi setelah ia di ceramahi oleh sang suami tentang sikapnya pada Aryana.


Fahmi segera mengajak orang tuanya keluar dari ruangannya menuju lobby perusahaan karena ia sudah menelpon supir agar menunggu di depan lobby perusahaan. Saat Fahmi berjalan bersama tuan dan nyonya Pratama banyak pasang mata melihat keluarga pemilik perusahaan dimana mereka bekerja. Setelah Fahmi dan kedua orang tuanya masuk ke dalam mobil, supir segera melajukan mobilnya menuju kediaaman Fahmi. Setelah setengah jam mereka sudah sampai di rumah Fahmi. Nyonya Miranda sempat ragu saat akan turun dari mobil, sampai ucapan sang putra menyadarkannya.


"Mi!, apa mami tidak turun?" tanya Fahmi yang melihat maminya hanya diam meski pintu mobil sudah di bukakan oleh supir.


Mendengar panggilan putranya, akhirnya nyonya Miranda segera turun dari mobil. Fahmi kemudian mengajak kedua orang tuanya masuk ke dalam rumah, ia memint bibi Mey memasak spesial untuk makan malam dan beberapa maid untuk merapikan kamar yang akan di tempati kedua orang tuanya.


"Tidak apa-apa, Fahmi, kami yang salah tak memberitahu kamu terlebih dahulu karena kami ingin memberi kejutan padamu," ucap tuan Pratama merasa tak enak.


"Istrimu belum pulang, Fahmi?" tanya sang mami yang sedari tadi lebih banyak diam, sekali buka mulut yang di tanyakan kepulangan menantunya.


"Belum, Mi, sebentar lagi, dia sedang dalam perjalanan dari kampus," jawab Fahmi.


"Naik apa, istri kamu kalau pergi kuliah?" tanya mami Miranda lagi.


"Sewaktu bulan-bulan pertama di Singapura aku memakai supir kantor untuk antar jemput Aryana sampai aku menemukan supir wanita yang cocok untuk Aryana," jawab Fahmi membuat nyonya Miranda tercengang.


"Apa!, supir wanita?" tanya nyonya Miranda terkejut.


"Iya, Mi, Aryarna menginginkan supit wanita agar tidak timbul fitnah, dan ia juga merasa lebih nyaman, apalagi mengingat istriku tak punya saudara perempuan," jawab Fahmi.


"Ternyata pikiran menantuku satu ini benar-benar sangat berbeda, jika wanita lain dengan harta melimpah seperti Aryana hanya akan bersenang-senang dan menjadikan kuliahnya sebagai tameng agar tampak berkelas, tapi Aryana malah sibuk kuliah dengan statusnya sebagai seorang istri dan juga sangat memperhatikan nama baik keluarganya sampai-sampai meminta supir wanita untuknya," ucap tuan Pratama menimpali.


"Iya, Pi, istriku memang terbaik," ucap Fahmi sambil tersenyum penuh kebangaan.

__ADS_1


"Fahmi, mungkin tanpa kamu sadari kau itu juga sangat mirip dengan Aryana," ucap tuan Pratama


"Maksud papi?"


"Bukankah kau juga selalu menolak sekretaris perempuan untuk menjaga hal-hal yang tidak di inginkan," jawab tuan Pratama.


Mendengar jawabab papinya Fahmi langsung tersenyum, ia benar-benar tidak menyadari bahwa cara berfikirnya dan cara berfikir sang istri hampir sama.


"Papi, benar, aku sampai tak menyadari banyak kesamaan antara aku dan Aryana, memang kami di takdirkan selalu bersama, Aryana benar-benar berjodoh yang di kirim Allah untukku dan Aryana adalah sebuah anugerah bagiku. Aku anak tunggal, dan aku berjodoh dengan Aryana yang notabene terlahir kembar," ucap Fahmi sambil tersenyum.


Di sela-sela pembicaraan salah satu maid memberitahukan bahwa kamar yang akan di tempati sudah siap. Kemudian beberapa maid membantu membawakan barang ke dalam kamar.


"Pi, Mi, sekarang kalian istirahatlah dulu, aku ke ruang kerja sebentar!" pinta Fahmi kemudian menuju ruang kerjanya untuk memeriksa beberapa email dan melakukan zoom meeting sebentar dengan beberapa manajer perusahaan.


Satu jam kemudian Aryana sudah pulang ke rumah, sampai di halaman rumah ia tampak mobil sang suami sudah terparkir di halaman rumah.


"Assalamualaikum," ucap Aryana


"Waalaikumsalam," terdengar jawaban dari dalam rumah.


"Nyonya, sudah pulang?" tanya bibi Mey yang ternyata yang membukakan pintu.


"Iya, Bi, apa tuan sudah pulang kok mobilnya sudah ada di rumah?"


"Sudah, nyonya, tuan Fahmi pulang bersama tuan besar dan nyonya besar," jawab bibi Mey yang membuat ia terkejut.


"Sekarang dimana suami dan mertuaku, Bi?" tanya Aryana.


"Kalau tuan dan nyonya besar sedang di kanar tamu beristirahat, kalau tuan Fahmi mungkin di ruang kerja," jawab bibi Mey.


Setelah mendapat infotmasi dari bibi Mey Aryana langsung menuju ruang kerja sang suami dengan membawa sejuta tanya dalam hati, kenapa suaminya tidak memberitahukan kedatangan mertuanya kepada dirinya, karena jujut Aryana masih trauma dengan mami mertuanya itu.


Ceklek, Aryana langsung membuka pintu ruang kerja sang suami tanpa mengetok pintu, hormon kehamilanya membuat emosinya tak stabil, entah kenapa ia ingin sekali marah dengan suaminya ini karena tak memberi tahukan kedatangan sang mertua.


"Honey!" panggil Aryana dengan nada sedikit tinggi membuat Fahmi sedikiy terkejut.


"Sayang!"


_________________________________________


Please, Like Vote, Coment, Rate and Favorit

__ADS_1


Thank You


Bersambung...


__ADS_2