Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 202. Pingin Lumpia


__ADS_3

Pukul setengah sembilan malam, Afwa dan Kirana keluar dari klinik dokter Angela, Afwa membukakan pintu mobil untuk sang istri. Setelah memastikan Kirana duduk dengan nyaman, Afwa menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Kanu pingin makan atau minum sesuatu, Sayang?" tanya Afwa sambil menyetir.


"Aku kepingin makan lumpia cinta buatan Nayla," jawab Kirana sambil membayangkan lezatnya lumpia buatan istri dari kembaran suaminya.


"Semoga kedainya belun tutup ya, Yang," ucap Afwa sambil menjalankan mobil menuju arah kedai lumpia Nana, kedai pertama tempat Nayla bekerja membuat lumpia.


"Nanti kalau sudah tutup gimana, Mas?" tanya Kirana khawatir.


"Nanti kita ke panti asuhan bunda Nana." jawab Afwa tenang.


Mereka akhirnya sampai di kedai lumpia milik bunda Nana, keberuntungan ada pada Afwa dan Kirana, meski hampir tutup, kedai bunda Nana masih mempunyai lumpia yang belum di goreng. Bunda Nana sangat terkejut dengan kedatangan kembaran dari suami Nayla.


"Kalian?"


"Assalamualaikum, Bunda Nana!" ucap Afwa dan Kirana bersamaan.


"Waalaikumsalam, tumben kalian tiba-tiba kesini, ada apa?" tanya bunda Nana yang sedikit terkejut.


"Tidak ada apa-apa bunda, kami tadi dari periksa dokter dan Kirana kepingin makan lumpia buatan Nayla, tapi nggak mungkin kan, karena Nayla di Bandung, makannya Afwa ajak ke sini kan rasanya pasti sama," jawab Afwa.


"Oh begitu, syukurlah, bunda kira ada apa malam-malam begini kesini, tapi tadi katanya ke dokter siapa yang sakit?"


"Nggak ada yang sakit, Bunda, hanya memeriksakan kehamilan Kirana."


"Alhamdulillah, kalian sudah mau jadi orang tua, semoga Nayla dan Afwi cepat nyusul kalian," ucap bunda Nana dengan gembira.


"Semoga, Bunda, doakan Afwi dan Nayla," ucap Afwa penuh harap.


"Eh tapi ngomong-ngomong, ini lumpianya tinggal lima dan yang isinya rebung, varian yang lain sudah habis."


"Tidak apa-apa, Bunda itu saja, cuma buat tombo pingin si bumil ini," ucap Afwa.


"Tapi belum di goreng, apa mau di gorengkan dulu?" tawar bunda Nana.


Melihat kedai yang hampir separo tutup dan semua peralatan memasak sudah bersih membuat Afwa dan Kirana tak tega jika bunda Nana harus menggoreng kan lima lumpia.


"Biar gitu saja bunda, saya goreng di rumah biar anget," jawab Kirana.


"Baiklah, bunda suruh Arif bungkus ya."


Bunda Nana lalu menyuruh Arif, anak panti yang duduk di kelas tiga SMP untuk membungkus lima lumpia yang ada di lemari pendingin.


"Terima kasih, Bunda, berapa semuanya?" tanya Kirana.

__ADS_1


"Tak usah, anggap saja ini ucapan selamat dari bunda untuk kehamilan kamu, Nak," jawab bunda Nana sambil tersenyum.


"Makasih, Bunda kami jadi tidak enak kalau begini," ucap Kirana yang di iyakan oleh Afwa.


"Begini saja, Bunda, besok saya akan minta orang buat ngantar sesuatu ke panti asuhan milik bunda, sebagai ungkapan rasa syukur kami atas kehamilan Kirana, sekalian minta doa bunda dan anak-anak panti agar saya dan anggota TNI yang akan bertugas di Papua di beri keselamatan," ucap Afwa yang membuat bunda Nana bahagia sekaligus terkejut karena Afwa akan bertugas di daerah Papua dengan keadaan istri yang sedang hamil muda.


"Jadi Afwa akan tugas ke Papua, lalu bagaimana dengan Kirana?" tanya bunda terkejut bercampur khawatir.


"InsyaAllah saya akan baik-baik saja, Bunda, karena ini memang sudah menjadi resiko menjadi istri prajurit," ucap Kirana.


"Bunda doakan semoga tugas Nak Afwa sukses di sana dan pulang dengan selamat bisa berkumpul dengan keluarga, dan untuk Nak Kirana kalau kesepian bisa main ke panti atau menghubungi Bunda," ucap bunda Nana penuh kasih sayang.


"Terima kasih, Bunda atas tawarannya, InsyaAllah nanti Kiran akan main ke panti," ucap Kirana tersenyum tulus.


"Kalau begitu kami pamit, dulu, dan sekali lagi terima kasih lumpianya, Bunda, Assalamualaikum," ucap Afwa kemudian membimbing Kirana masuk ke mobil.


Afwa membuka separo kaca mobil agar bisa melambaikan tangan tanda perpisahan dengan Bunda Nana. Setelah lambaian tangan selesai, Afwa kembali menutup kaca mobilnya, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah dinas.


"Kamu pingin apa lagi, Sayang?" tanya Afwa sambil mengemudi


"Aku rasa ini sudah cukup, Mas Afwa mau makan apa? Mas tawari aku terus buat minta ini itu padahal, Mas sendiri belum makan," jawab Kirana yang malah menawari makan untuk Afwa.


"Cap cay saja yang banyak sayurnya."


"Makan di tempat atau bawa pulang?"


"Iya, kita beli.di langganan aku saja, Mas, enak dan murah, nggak jauh juga dari rumah dinas."


"Oke, Sayangku, nanti habis beli cap cay sekalian ke supermarket terdekat beli susu hamil buat kamu"


Kirana tersenyum bahagia mendengar semua ucapan sang suami yang sarat akan perhatian, sungguh manis sekali. Berbeda saat sang suami sedang bertugas datar dan dingin, tegas, keras dan disiplin, tetapi saat disisinya pak tentara kesayangannya menjadi hangat, lembut, romantis juga manja.


Pukul setengah sepuluh malam mereka baru sampai di rumah dinas, Afwa langsung ke kamar mandi sedangkan Kirana menaruh belanjaan mereka di dapur, karena tadi mereka sudah melakukan shalat isya di mushola klinik, Kirana dan Afwa bisa langsung menyantap makanan yang baru mereka beli. Tak lupa Kirana menggoreng terlebih dahulu lumpia yang ia dapat dari bunda Nana tadi.


"Yakin kamu cuma mau makan lumpia itu, Yang? nggak mau coba makan capcay punya mas, ini enak lho?" tawar Afwa ketika Kirana sudah menghabiskan dua buah lumpia.


"Boleh, tapi suapin ya dan nggak pakai nasi!" pinta Kirana.


Afwa tersenyum mendengar jawaban istrinya, dengan senang hati, ia menyuapkan sayur cap cay tanpa nasi ke mulut sang istri, setelah enam suapan, Kirana minta berhenti karena ia merasa sudah cukup karena lumpianya belum habis.


"Sudah, Mas"


"Kenapa? ini punya mas masih banyak."


"Lumpiaku belum habis, kalau nggak habis buat besok nggak enak dan aku sudah nggak pingin."

__ADS_1


"Nanti mas yang habiskan lumpianya kalau nggak habis."


"Habis kok, aku sisain satu ya buat , Mas."


"Nggak usah, makan saja semuanya."


"Ih nggak boleh gitu, papanya dedek juga harus icip-icip dong."


"Oh begitu, baik banget sih dedeknya minta papanya icip-icip lumpia punya mama."


Akhirnya Kirana menyisakan satu lumpia untuk Afwa, sepasang suami istri makan bersama dengan menu sederhana dengan penuh kebahagiaan. Afwa sangat bahagia bisa melihat senyum sang istri penuh kebahagiaan meski dalam kesederhanaan, namun di lubuk hatinya tersimpan sedikit kekhawatiran bahwa akankan ia akan selalu sanggup membuat belahan jiwanya ini tersenyum, akankah Allah memberikan banyak waktu untuknya bisa mendampingi istrinya dalam menjalani kehamilannya setelah enam bulan satgas, akankah ia bisa mendampingi sang istri melahirkan buah cinta mereka ke dunia?, akankah ia masih bisa mendengar sang anak nanti memanggil ia papa?.


Jodoh, rezeki dan kematian adalah rahasia Illahi yang tak seorangpun diberi bocoran oleh Allah. Semua hal tentang manusia sudah tertulis di laful mahfudz seribu juta tahun sebelum manusia lahir ke bumi. Afwa memang seorang prajurit yang sudah di tempa mental dan fisiknya menjadi bagian yang bertugas menjaga keamanan negeri ini. Namun lepas dari semua itu, seorang Afwa Shakti Yudhatama adalah manusia biasa, dia juga seorang anak, suami dan sebentar lagi akan menyandang gelar ayah, Afwa juga punya rasa khawatir, dia juga bisa merasakan sedih dan sakit.


"Mas kenapa kok tiba-tiba diam?" tanya Kirana saat melihat perubahan raut wajah suaminya yang menyiratkan kesedihan.


"Mas tak apa-apa, hanya mas memikirkan kamu dan dedek jika nanti mas tinggal tugas."


"Mas, kan kita sudah bicarakan ini kemarin, aku sudah coba tegar lho, kalau lihat mas begini aku jadi pingin nangis."


"Maaf, Yang, jadi mas yang melow. Bagaimana kalau besok kita kasih tahu ibu Dinda di Bandung dan bunda tentang kehamilanmu?"


"Baiknya memang begitu, tapi aku agak takut dengan reaksi ibu, keadaanku ini hampir sama dengan yang dialami ibu waktu hamil aku," ucap Kirana sedih.


"Kita coba kasih tahu ibu dulu, perkara bagaimana tanggapan beliau, kita terima saja, kita masih punya ayah Raka dan ayah dan bunda, aku yakin semua anggota keluarga akan mendukung kita," ucap Afwa berusaha meyakinkan dan menguatkan sang istri.


"Sekarang, kamu minum vitamin dari dokter Angela, gosok gigi lalu istirahat, biar bekas makan mas yang bereskan!" pinta Afwa sambil mengambilkan vitamin dan memberikan segelas air putih pada Kirana.


Kirana pun patuh pada perintah suaminya, setelah ia meminum vitamin, ia ke kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi. Kirana lalu membaringkan tubuhnya di tempat tidur, tak lama Afwa masuk ke dalam kamar setelah selesai membersihkan meja makan. Afwa menganti pakaian dengan piyama tidur, lalu ia membaringkan tubuhnya di sebelah sang istri yang belum tertidur.


"Sudah selesai, Mas?"


"Sudah, ayo sekarang tidur sudah malam, jangan pikirkan hal-hal yang bukan-bukan, ingat kata dokter Angela, kamu harus bahagia, Sayang, agar dedeknya selalu juga sehat!" pinta Afwa dengan lembut.


Afwa dan Kirana tidur dengan posisi berhadapan, jadi Afwa bisa leluasa membelai wajah dan kepala istrinya dengan sayang.


"Ayo berdoa dulu, terus tidur, Mas peluk ya," ucap Afwa yang diangguki oleh sang istri.


Kirana memposisikan kepalanya di dekapan suaminya, Afw pun dengan senang hati memeluk bumil kesayangannya ini penuh kehangatan, dalam hati Afwa selalu berdoa dan berharap kehangatan seperti ini akan ia lalui bersama Kirana sampai menua nanti.


" I love you so much my wife."


__________________________________________


__ADS_1



__ADS_2