
Afwi memandang ponselnya setelah panggilan dari Felix berakhir, seulas senyum tipis tersungging di wajahnya. Sebuah notifikasi muncul di ponselnya yang berisi undangan rapat koordinasi pengamanan Pilkada di daerah Bandung. Afwa lalu menelpon rekannya untuk menanyakan siapa saja yang akan hadir dalam rapat tersebut. Tuhan sepertinya mendengar doa-doanya, diantara orang yang mendapat undangan tersebut terdapat nama Kombes Mahendra Bagaskara.
"Calon ayah mertua, kita akan segera bertemu," gumam Afwa setelah mendapat kabar dari temannya.
Waktu yang dinantikan tiba, Afwa sudah hadir di tempat ruang rapat Polda Bandung, bahkan setengah jam sebelum rapat dimulai ia sudah datang. Matanya tak henti meneliti apakah calon ayah mertuanya itu sudah datang atau belum. Penantian Afwa tak sia-sia, tak lama ia menunggu akhirnya Kombes Bagaskara datang bersama perwira polisi yang lain.
"Fi, kenapa kamu terus memandangi Kombes Mahendra?, kamu kalau mau belok ya lihat-lihat!" ucap Ipda Reza.
"Heh, ngawur saja kalau ngomong, aku masih normal, aku hanya memastikan saja apa benar beliau orangnya, karena sudah lama aku tak melihatnya, terakhir aku bertemu beliau saat aku pendidikan tahun kedua di Akpol setelah itu aku tak pernah bertemu beliau lagi," ucap Afwi memberi alasan yang cukup logis.
"Kabarnya Kombes Mahendra punya anak gadis yang sangat cantik, tapi aku sendiri belum pernah ketemu, kalau lihat Kombes Mahendra yang masih terlihat tampan di usianya yang menjelang senja, aku rasa pantas kalau beliau memiliki anak gadis yang sangat cantik," ucap Ipda Reza sambil tersenyum membuat Afwi kesal.
"Berani sekali kau memuji calon istriku, kalau bukan teman saya aku hajar kau Reza," umpat Afwi dalam hati.
Tak lama kemudian rapat pun di mulai, sepanjang rapat Afwi sering mencuri pandang pada Kombes Mahendra. Setelah dua jam rapat koordinasi pun selesai. Kombes Mahendra terlihat menyingkir sebentar karena menerima telepon, dan tak sengaja Afwi berada di dekat Kombes Mahendra sehingga ia bisa mendengar sedikit pembicaraan Kombes Mahendra
Kombes Mahendra
"Iya, Nay, jadi kamu sudah sampai rumah?"
Nayla
"Iya, Pa, Papa cepat pulang ya, Nay kangen."
Kombes Mahendra
"Iya, Sayang, papa akan segera pulang kalau pekerjaan papa sudah selesai, kamu jadi mau jual lumpia di sini?"
Nayla
"Jadi, Pa, ini baru mau cari tempat yang tepat untuk buka usaha."
Kombes Mahendra
"Baiklah, nanti papa bantu cari tempat yang bagus untuk usaha lumpia kamu."
Nayla
"Makasih, papa."
__ADS_1
Kombes Mahendra kemudian menutup telponnya setelah selesai menerima telpon dari sang putri.
"Hemm, Nayla mau jualan lumpia di sini, aku bisa mulai dari sini," batin Afwi setelah tak sengaja ia mencuri dengar pembicaraan Kombes Mahendra dengan Nayla.
Setelah menerima telpon dari putrinya Kombes Mahendra kembali bergabung dan berbincang dengan rekan polisi yang lainnya, tak lupa meminta tolong rekan polisi di Bandung tempat yang bagus dan strategis untuk membuka usaha kuliner. Sedangkan Afwi setelah mendengar rencana Nayla, ia langsung menghubungi Revanda putra dari om Devan yang di beri kepercayaan mengawasi usaha DW group yang ada di Bandung. Afwi meminta Revanda mencarikan tempat yang bagus dan strategis untuk membuka usaha kuliner. Revanda mulanya terkejut kenapa Afwi meminta hal seperti itu, tapi karena Afwi segera menjelaskannya Revanda mengerti apa yang harus ia lakukan.
"Pokoknya, mas Revan harus bisa segera menemukan tempatnya, jangan terlalu mahal dsn jangan terlalu murah, jika sudah dapat segera hubungi aku, dua kali dua puluh empat jam, harus dapat tempatnya ya mas!" pinta Afwi pada Revanda lewat sambungan telepon.
"Iya, kau berdoa saja semoga aku segera dapat tempatnya," ucap Revanda.
"Makasih ya, Mas, kau memang bisa diandalkan." ucap Afwi lalau memutus sambungan teleponnya.
"Pasti karena cinta, kalau tidak mana mungkin nyuruh sampai pakai dua kali dua puluh empat jam, dasar polisi kulkas, jarang ngomong dan minta tolong, sekali minta tolong, kaya aku ini tersangka saja di kasih waktu begitu," gerutu Revanda setelah sambungan telepon terputus.
Sesuai dengan keinginan Afwi Revanda sudah mendapatkan info dari Revanda tentang tempat berjualan kuliner yang strategis. Kebetulan saat Afwi menerima info dari Revanda, sang komandan melintas di depan ruangannya dan berbicara dengan Ipda Reza.
"Ipda, Reza!" panggil sang komandan.
"Siap!"
"Bagaimana tugas yang saya beri kemarin , apa sudah dapat tempatnya, Kombes Mahendra menanyakannya terus?"
"Lapor!, maaf saya belum mendapat info tempat tersebut," jawab Reza.
"Ijin bicara, Ndan," ucap Afwi yang sukses membuat sang komandan menoleh pada Afwi.
"Ya, Ipda Afwi silahkan!" perintah sang komandan.
"Siap, ijin bicara Komandan, saya membiliki info tentang tempat berjualan yang strategis."
"Oh ya, " ucap sang komandan terkejut.
Afwi dengan senang hati segera memberikan alamat tempat tersebut pada atasannya.
"Terima kasih, Ipda Afwi."
"Sama-sama, Komandan."
"Hai aku baru ingat, apa kamu putra purnawirawan Kolonel Yudhatama?" tanya sang Komanadan
__ADS_1
"Siap, benar!"
"Ah akhirnya aku bisa bertemu putra lelaki hebat seperti ayahmu," ucap sang komandan.
"Ijin bertanya, apa komandan kenal dengan ayah saya?"
"Kami hanya sebatas kenal saja, saya bertemu dengan Kolonel Yudha beberapa tahun lalu, meski kami beda instansi tapi beliau karena pengolahan strategi perang yang bagus."
"Terima kasih, Komandan atas pujiannya teehadap atah saya."
"Sama-sama , Ipda Afwi, maaf saya akan keluar dan lanjutkan pekerjaan kalian!"
"Siap!" ucap Afwi dan Reza bersamaan.
Sepeninggal sang Komandan, Ipda Reza memandang Afwi dengan penuh tanda tanya.
"Apa kau benar-benar putra Kolonel (purnawiran) Yudhatama?" tanya Reza.
"Iya, memang kenapa? dan kenapa kalian begitu kaget.
"Apa kau tak tahu ayahmu cukup populer dikalangan militer, biarpun beda matra, kami para polisi tetap up to date," ucap Reza.
"Perasaan biasa saja, kalian terlalu berlebihan," ucap Afwi.
"Tidak berlebihan Ipda Afwi, sosok Yudhatama menjadi cukup terkenal karena memutuskan pensiun ketika karirnya justru di puncak, dan ternyata ayah kamu anak sultan, benar-benar ya kau ini mirip ayahmu, sudah anak sultam malah cari kerjaan jadi polisi, padahal kamu bisa langsung lengang kakung kerja di perusahaan," ucap Reza yang tak habis pikir dengan otak rekan kerjanya itu.
Beda dengan pemikiran Reza, ia masuk Akpol demi membantu ekonomi keluarga, kalau dia harus kuliah biaya banyak dan belum tentu langsung dapat kerjaan sesuai ijazah. Kalau di Akpol semua bisa gratis dan dapat uang saku. Sebagian uang saku dari Akpol ia tabung untuk biaya sekolah sang adik.
"Semua orang punya pilihan Ipda Reza, termasuk ayah saya dan saya. Saya memilih profesi ini karena keinginan saya sendiri, dan ayah menghargai pilihan saya atas pekerjaan saya," ucap Afwi memberi penjelasan pada Reza.
"Kenapa tak cerita kalau kau anak Kolonel Yudha meski sekarang ayahmu sudah pensiun sih?"
"Kamu tak pernah bertanya, dan saya tak punya keawajiban memberi tahu kamu."
"Ya, ya oke, maaf atas pertanyaanku, aku hanya kaget saja ternyata teman sekantorku adalah anak sultan salah satu pewaris Dewantara group yang mau bersusah payah jadi seorang polisi."
__________________________________
Maaf banyak typo tapi sudah saya revisi.
__ADS_1
Please, Like Vote Coment Rate and Hadiah
Thank You