
Di Singapura, pukul lima sore Fahmi baru pulang dari kantor, sedangkan Aryana sudah pulang jam tiga sore tadi.
"Jam segini kok baru pulang, Honey?" tanya Aryana saat melihat suaminya masuk ke dalam kamar mereka.
"Iya, sebenarnya tadi jam tiga aku sudah selesai tinggal pulang tapi tadi jam tiga sore ada meeting mendadak dengan rekan bisnis dari Turki dan tidak bisa diwakilkan, mereka ingin bertemu sendiri denganku," jawab Fahmi.
"Ya sudah aku siapkan air mandi untukmu ya , Honey," ucap Aryana kemudian melangkah ke kamar mandi namun beberapa langkah ada yang menahan tangan Aryana.
"Tidak usah, Sayang, aku bisa sendiri, kamu duduk manis saja, aku tidak mau kandunganmu kenapa-napa!" pinta Fahmi lembut.
"Aku hanya hamil, pak dokter bukan terkena penyakit berat," ucap Aryana yang terlihat kesal karena tingkah suaminya yang over protektif.
"Aku hanya tak ingin kau lelah, di kamar mandi licin, aku takut kau terpeleset," ucap Fahmi sambil merengkuh pinggang istrinya.
"Baiklah, aku mengerti, segeralah mandi lalu kita shalat berjamaah dengan papi dan mami, setelah itu kita berangkat makan malam!" pinta Aryana.
Fahmi dan Aryana sudah selesai mandi dan mengambil wudhu mereka melaksanakan shalat berjamaah dengan papi dan mami di mushola yang ada di rumah Fahmi. Selesai shalat magrib sesuai rencana mereka segera bersiap untuk makan malam di luar.
"Kita mau makan malam di mana?" tanya mami Miranda saat mereka sudah di dalam mobil
"Mami sama papi mau makan di mana?" jawab Fahmi yang balik bertanya.
"Terserah kamu saja, kamu mah nurut aja sama yang ngajakin," jawab papi Pratama.
"Oke, kita kita makan malam di restauran dengan menu nusantara," ucap Fahmi.
Setelah menempuh perjalanan setengah jam Fahmi menghentikan mobilnya di sebuah restauran yang menyajikan menu nusantara.
"Ayo, Pi, Mi, kita masuk ke dalam!" ajak Fahmi pada kedua orang tuanya.
Mereka lalu menuju ruang VIP di restoran tersebut, mereka memesan menu dengan selera masing-masing. Sambil menunggu pesanan mereka berbincang ringan, papi Pratama sedikit membicarakan tentang perkembangan bisnis yang di jalankan Fahmi di Singapura.
"Fahmi, bagaimana bisnis Pratama group yang di Singapura?" tanya Papi.
"Alhamdulillah sejauh ini semua bisnis yang aku jalankan di Singapura berjalan lancar, bahkan kemarin perusahaan baru saja menjalin kerjasama dengan salah satu investor dari Turki," jawab Fahmi menerangkan tentang perkembangan bisnisnya.
"Syukurlah, kalau semua berjalan lancar, hanya saja sekarang Aryana sedang hamil anak kembar jadi kamu juga harus memperhatikan kandungan istrimu, jangan sampai karena kesibukanmu sampai kamu lalai," ucap papi Pratama memberi saran.
"Iya, Pi, aku mengerti, kalau aku sampai melakukan kelalaian pada Aryana, bisa jadi ayah mertuaku akan membawa satu batalyon untuk menghancurkan aku," ucap Fahmi.
"Ih, Honey, apaan sih, ayah 'kan sekarang nggak jadi tentara lagi, bagaimana bisa mengirim satu batalyon kesini, lagian ayahku tidak setega itu," ucap Aryana menimpali karena tak terima dengan ucapan suaminya. Belum Aryana meneruskan perkataannya, pelayan sudah di dekat meja mereka untuk mengantarkan makanan.
"Silahkan, tuan, nyonya, semoga anda semua menyukai menu masakan di restoran kami," ucap pelayan yang mengantarkan makanan di meja yang di tempati keluarga Fahmi.
"Sudah, sudah, makanannya sudah terhidang, ayo makan dulu jangan berdebat terus, nanti kalau dingin tidak enak!" ajak papi agar menyudahi obrolan suami istri depannya dan segera menyantap makan malam mereka.
__ADS_1
"Fahmi besok, papi dan mami akan balik ke Jakarta, banyak pekerjaan yang harus papi selesaikan, melihat keadaan kalian dan kandungan Aryana baik-baik saja papi sudah senang," ucap papi Pratama setelah menyelesaikan makannya.
"Kok buru-buru sekali sih Pi pulangnya, apa asisten papi tidak bisa menghendel pekerjaan papi?" tanya Fahmi sedikit kesal karena orang tuanya hanya sebentar di Singapura.
"Nanti kalau ada waktu lagi, papi sama mami akan mengunjungi kalian lagi di sini," ucap mami Miranda menimpali.
"Huft, baiklah jika itu keinginan papi dan mami," ucap Fahmi dengan wajah kecewa karena orang tuanya tidak bisa lama menemaninya dan Aryana di Singapura.
"Meski papi mami jauh, tapi kami selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian," ucap papi Pratama.
"Terima kasih papi, mami, sudah mau mengunjungi kami di sini, insyaallah, kalau aku sudah melahirkan dan kuliahku di sini selesai aku dan mas Fahmi akan balik ke Indonesia dan menetap di sana, karena aku ingin anak-anakku di besarkan di tanah air mereka, dengan kekayaan budaya dan kearifan lokal yang bisa membantu mereka menjadi manusia yang cinta tanah air dan berbudi pekerti luhur dan juga bisa beribadah, belajar ilmu agama dengan maksimal karena di sini papi sendiri tahu keadaanya," ujar Aryana mengatakan rencana ke depan untuk anak-anaknya kelak.
Mendengar penuturan menantunya yang tengah hamil itu, papi dan mami Fahmi, tertegun, mereka tak menyangka menantunya yang masih belia mempunyai pemikiran ke depan yang cukup bagus.
"Itu pemikiran yang bagus, Nak, memang kita harus menanamkan pada diri anak-anak kalian nanti dengan rasa cinta dengan tanah air, karena seenak-enaknya hidup di negeri orang masih enak hidup di negeri sendiri.
"Iya, apa yang papi katakan benar, aku tidak mau kalau anak-anak kami terlalu lama tumbuh di luar negeri mereka jadi lupa caranya berbahasa Indonesia apa lagi berbahasa Jawa," ucap Aryana.
"Bagaimana dengan kamu, Fahmi dengan keinginan istrimu ini?" tanya mami Miranda.
"Kalau aku mendukung semua keputusan istriku, karena pada dasarnya aku memilih Singapura karena kesehatan Aryana, aku ingin Aryana mendapatkan penanganan medis terbaik untuk memantau kesehatan jantungnya juga untuk menunggu kabar baik dari rumah sakit ME tentang donor jantung untuk Aryana, kalau pada akhirnya Aryana ingin pulang ke kampung halaman, aku pasti mendukungnya," jawab Fahmi.
"Syukurlah kalau memang kamu mendukung rencana istrimu, jadi kami bisa lebih sering menjenguk cucu-cucu kami, jika kalian tinggal di Indonesia," ucap mami Miranda.
Jika di negara Singa Fahmi dan keluarganya sedang menikmati makan malam, di sebuah panti asuhan seorang gadis sedang sibuk meracik bumbu lumpia di bantu dua adiknya, yaitu Ivan dan Santi.
"Van tolong ambilkan rebung yang di lemari es dong!" pinta Nayla.
"Iya, Kak," jawab Ivan yang langsung berjalan menuju lemari es untuk mengambil rebung yang di minta kakaknya.
"Ini kak rebungnya," ucap Ivan sambil menyerahkan rebung yang masih utuh.
"Makasih, Van, tapi si Santi kok belum balik-balik ya dari warung depan," ucap Nayla.
"Halah, paling ngerumpi sama mbak Jum," seloroh Ivan.
"Ngrumpi?, rumpiin apaan?" tanya Nayla sambil memotong rebung yang masih utuh.
"Ya rumpiin cowok lah, si Santi naksir sama ponakannya mbak Jum yang katanya wajahnya mirip Lee Min Ho," jawab Ivan membuat Nayla menghentikan aktivitasnya memotong rebung.
"Heh, bener-bener tuh anak, bukannya belajar malah mikirin cowok, mana di suruh beli penyedap rasa nggak balik-balik," omel Nayla mendengar penjelasan dari Ivan.
Tiba-tiba terdengar suara salam dari luar yang ternyata adalah Santi yang menjadi topik pembicaraan.
"Assalamualaikum," ucap Santi.
__ADS_1
"Waalaikumsalam," Jawab Nayla dan Ivan bersamaan.
"Heh maimunah, dari mana kamu beli penyedap rasa setahun?" tanya Ivan ketus.
"Ya di warung mbak Jum lah," jawab Santi tanpa dosa. Nayla meletakkan pisaunya dan memandang Santi penuh selidik.
"Santi..., kamu tadi berangkat ke warung jam tujuh malam, lihat ini sudah jam berapa coba!" tegur Nayla pada Santi.
Mendengar teguran sang kakak, ia mendongak melihat jam yang ada di dinding ruang dapur.
"Jam setengah delapan lebih, Kak," jawab Santi sambil menunduk.
"Santi, lain kali kalau di suruh beli sesuatu, apalagi barang itu mau segera di pakai, kamu harus langsung pulang!" pinta Nayla.
"Iya, Kak Nay, maafin Santi ya," ucap Santi dengan posisi kepala yang masih menunduk.
"Oke, kakak maafkan tapi jangan di ulangi lagi!" ucap Nayla memperingatkan.
"Pasti ngrumpiin Lemin Ho kw itu kan?" seloroh Ivan yang membuat Santi menatap tajam Ivan karena membocorkan kartunya.
"Sudah-sudah, sekarang kalian pergi ke kamar , belajar saja yang benar, ini kakak sudah mau selesai!" pinta Nayla.
"Iya, Kak," jawab Ivan dan Santi bersamaan, kemudian mereka berjalan keluar dari dapur, namun saat hampir mencapai pintu Ivan mengatakan sesuatu pada Nayla.
"Kak, Nay, mas yang pakai pakaian seperti polisi itu beberapa kali ke warung lumpia kita, dan tampaknya mas itu mencari-cari seseorang saat mbak Nay nggak di warung, sepertinya mas itu cari mbak Nay," ucap Ivan kemudian langsung melangkahkan kakinya keluar dari dapur.
Mendengar penuturan Ivan barusan membuat Nayla mendudukkan dirinya di kursi yang ada di dapur tersebut, ia tak habis pikir kenapa pria itu mencari dirinya, padahal mereka tak saling mengenal.
"Apa benar apa yang di katakan Ivan, kenapa taruna Akpol itu mencari diriku, aku sekarang sedang tidak tertarik menjalin hubungan spesial dengan pria manapun, melihat papa menikahi si ganjen itu, aku tak mau menjalin cinta dengan pria manapun. Mungkin benar apa yang di katakan si Fatkai temannya Sungokong kalau cinta itu penderitaannya tiada akhir," gumam Nayla dalam hati.
Malam itu Nayla memikirkan perkataan Ivan tentang seorang taruna Akpol yang sering membeli lumpia di warungnya, entah hanya modus atau memang pria itu benar-benar ingin membeli lumpia buatannya dan di malam yang sama itu pria yang sedang di lamunkan Nayla juga sedang melamunkan hal yang sama.
"Siapa sebenarnya dirimu, entah kenapa pertama melihatmu aku merasa kau wanita yang berbeda, kau tidak sesederhana penampilanmu, aku tak tahu ini perasaan apa tapi yang jelas, aku ingin mengenalmu lebih jauh dan dekat denganmu, apakah ini namanya cinta?, tapi mana mungkin," batin Afwi dalam hati.
_______________________________________
Nayla dan Afwi lagi gegana, readers
Siapa kemarin yang kangen Afwi dan mbak panti?
Please, Like, Vote, Coment, Rate and Favorit
Thank You
Bersambung....
__ADS_1