
Sang komandan segera menghubungi Kombes Mahendra untuk memberi tahu tempat strategis yang bisa di sewa untuk berjualan kuliner di daerah Bandung. Kombes Mahendra segera memberi tahu putrinya Nayla dan secepatnya mereka akan survei tempat tersebut.
"Nay, papa sudah dapat info dari teman papa di kepolisian tentang tempat berjualan kuliner yang bagus," ucap pak Mahendra pada Nayla. Kebetulan saat pak AKP Yunus menelpon, pak Mahendra sedang ada di rumah jadi ia bisa langsung memberitahu pada Nayla.
"Benarkah, Pa, teman papa sudah tau tempatnya?" tanya Nayla girang rasanya dia sudah tidak sabar melihat tempat tersebut.
"Kapan kita ke sana, Pa?"
"Nanti sore saja, ya setelah papa pulang kerja atau kamu ikut papa ke kantor, kebetulan letak tempat jualan itu tidak jauh dari kantor papa, jadi nanti papa selesai kerja kita langsung ke sana, bagaimana? tawar pak Mahendra.
"Ikut papa ke kantor?"
"Iya, memang kenapa, Nay, biar kamu juga tahu gimana papa kerja, agar pikiran kamu itu bisa lurus dikit tentang pekerjaan seorang polisi."
"Iih papa gitu deh, memang pikiran Nay bengkok apa mesti di lurusin," ucap Nayla mencebik kesal.
"Sampai kapan kamu tak menyukai profesi ini Nay?, bagaimana kalau nanti Tuhan justru memberimu jodoh laki-laki berprofesi seperti papa?"
"Papa kok doain aku gitu sih?"
"Nggak ngedoain, Nay, cuma benci dan cinta itu beda tipis, kalau nanti kamu cinta mati sama seorang polisi baru tahu rasa," ucap pak Mahendra menggoda anaknya.
"Gimana mau ikut papa ke kantor?" tanya papanya lagi.
"Baiklah, tapi kali ini aja ya, nggak ada lain kali," ucap Nayla kemudian bergegas ke kamar mengambil tas dan cardigan.
Meski hanya berpakaian casual sederhana tak menutupi kecantikan Nayla yang alami, pantas saja seorang Afwi yang terkenal seperti gunung es bisa meleleh. Pak Mahendra begitu bahagia melihat sang putri ikut ke kantor, ini adalah moment langka di hidupnya. Setelah dua puluh menit pak Mahendra dan Nayla sampai di kantor. Kedatangan sang kombes bersama seorang gadis menyita pehatian para anggota polisi yang berada di kantor sang papa, tapi mereka tak bisa jelas melihat wajah putri sang kombes karena wajahnya ditutupi masker.
"Waduh, bawa siapa itu Kombes Mahendra?" celutuk seorang anggota polisi yang berjaga.
"Ya pasti anaknya lah masa istrinya," sahut seorang anggota polis yang lain.
"Iya, ya kabarnya anaknya pak Kombes cantiknya kebangetan, jadi penasaran ane sama putrinya pak Kombes."
Itulah kasak kusuk pembicaraan tentang putri sang Kombes yang masih misterius. Di lain tempat seseorang memberi tahu Afwi bahwa Nayla pergi ke kantor polisi bersama papanya.
"Lapor bos, mbak Nay ikut pak Mahendra ke kantor," lapor Agung pada Afwi lewat sambungan telepon.
"Awasi terus, jangan sampai kelewatan apapun, setiap ada perkembangan signifikan segera laporkan padaku!" perintah Afwi.
Di dalam kantor sang papa, Nayla mulai bosan, ia hanya membolak balikan koran yang isinya hanya membuat hatinya meringis sakit, minyak goreng naik, bbm naik dia pun juga harus memikirkan bagaimana strategi penjualan jika minyak goreng naik dengan signifikan karena produk makanan yang akan ia jual juga sangat bergantung pada minyak goreng, dan kegelisahan Nayla tak luput dari penglihatan pak Mahendra.
"Kamu bosan, Nay?"
__ADS_1
"Iya, Pa," jawab Nayla lemas.
"Kalau bosan kau jalan-jalan saja sekitar kantor, apa kamu mau ke kantin, makanannya enak-enak lho tapi kalau jam segini paling tinggal dikit?" tawar sang papa.
"Nggak ah Pa, nanti aku jadi selebritis di sini."
"Jadi selebritis, maksudnya?" tanya pak Mahendra yang sama sekali tidak mengerti maksud putrinya.
"Ya ampun papa, tadi papa lihat nggak sih anggota papa waktu kita lewat, mereka tuh seperti kepo banget sama aku, padahal aku sudah pakai masker lho, kalau tadi aku nggak jalan di samping papa dan nggak pakai masker, mungkin sudah ada jantungan karena lihat wajah cantikku," ucap Nayla narsis dan penuh percaya diri sehingga membuat papanya terkekeh geli.
"Nay, Nay kamu ini ada-ada saja, tak mungkin lah anggota papa kena serangan jantung hanya karena lihat kamu."
"Huh, ya sudah kalau tidak percaya," ucap Nayla kesal.
"Sebentar lagi ya, Sayang, kerjaan papa selesai," ucap pak Mahendra lembut pada Nayla. Sikap manis yang hanya akan ia tunjukkan pada mama kandung Nayla dan Nayla.
Setelah menunggu sang papa menyelesaikan pekerjaannya selama satu jam, Pak Mahendra dan Nayla keluar dari ruangan, mereka langsung menuju alamat tempat usaha yang akan di survei oleh Nayla.
"Benar ini tempatnya, Pa?" tanya Nayla karena tempatnya sangat bagus dan juga strategis, ukuran tokonya pun tak terlalu besar dan juga tak terlalu kecil.
"Iya, Nay, bener ini alamat yang dikirim AKP Yunus, Kios blok 9 C, dari pada penasaran kita tanya orang-orang sekitar situ," jawab papanya.
Akhirnya pak Mahendra dan Nayla mendekat ke depan toko yan akan di sewa.
"Permisi, bapak, apa benar toko ini alamatnya blok C 9, tanya Nayla pada seorang pria paruh baya yang berjualan bakso.
"Saya mau sewa tempat ini, saya harus menghubungi siapa ya?" tanya Nayla.
"Oh, kalau Neng mau sewa bisa hubungi aa Agung, sebentar saya ambil nomornya," ucap pria paruh baya itu lalu masuk sebentar ke dalam toko mengambil sebuah kertas, tak lama ia menemui Nayla
"Ini Neng nomornya," ucap pria paruh baya itu.
"Terima kasih, Pak," ucap Nayla sambil menerima kertas dari pria penjual bakso tersebut.
Nayla lalu memasukkan nomor yang tertera di kertas ke dalam ponselnya, kemudian ia langsung menelpon ke nomor tersebut.
Nayla
"Hallo, apa benar ini dengan aa Agung?"
Agung
"Iya, benar, dari mana anda tau nomor telpon saya?"
__ADS_1
Nayla
"Saya dapat nomor aa dari bapak penjual bakso di dekat toko blok C 9."
Agung
"Lalu?"
Nayla
"Saya mau menyewa toko aa, apa bisa kita bertemu?"
Agung
"Bisa, mbak lihat cafe Anggrek di dekat deretan toko saya itu, nah kita bertemu di situ, kebetulan saya ada urusan di dekat sini."
Nayla
"Iya aa, saya lihat cafenya, saya kesana sekarang."
Agung
"Ya saya tunggu."
Setelah mematikan sambungan telponnya dengan Agung, Nayla mengajak papanya pergi ke cafe Anggrek
"Bagaimana, Nay?"
"Kita di suruh ke cafe Anggrek itu, pa di seberang jalan," jawab Nayla sambil menunjuk sebuah cafe.
"Baiklah ayo kita kesana!"
Ayah dan anak itu kemudian berjalan kaki menuju cafe Anggrek dan untung saja sebelum pulang pak Mahendra berganti baju dinasnya meski hanya atasannya saja agar tidak mencolok, kalau pak Mahendra pergi menemani Nayla dengan PDH lengkap dengan segala atribut di baju dinasnya, bisa heboh tempat tersebut.
Sedangkan di cafe Anggrek, Agung yang berpura-pura jadi pemilik toko kena tonyoran beberapa kali dari sang bos.
"Berani sekali ya lu bilang aa sama Nay, aku saja yang calon suaminya saja belum pernah diajak ngomong apalagi di panggil aa, malah kamu cari kesempatan!" kesal Afwi.
"Ya 'kan biar aktingnya total bos, kan babenya polisi seperti bos, kalau aktingnya nggak total ntar ketahuan kan gawat bos," elak Agung mencari alasan yang pas.
"Dasar kau, sekarang siap-siap mereka akan segara datang ke sini!" pinta Afwi.
_____________________________
__ADS_1
Please Like, Vote, Coment, Rate and Hadiah
Thank You