Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 170


__ADS_3

Mendengar penjelasan Afwi, membuat hati Nayla ternyuh. Sungguh ia tak mengira pria yang berstatus kekasihnya memiliki pemikiran yang bijak.


"Apa Abang menyesal dengan pilihan profesi abang yang sekarang setelah terjadi masalah besar di institusi abang bekerja?" tanya Nayla.


"Tidak, Abang tak menyesal, hidup itu perjuangan, penuh dengan tantangan, hambatan dan juga pilihan. Setiap keputusan ada resikonya, ada harga yang harus di bayar," jawab Afwi dengan cukup tenang.


"Aku tak menyangka abang cukup bijak dalam menyikapi banyak hal, aku hanya berharap abang bisa di jalan yang lurus dalam hal apapun, jujur institusi tempat abang bekerja sangat riskan, aku nggak mau di nafkahi dengan uang haram, itulah salah satu sebab aku tak cocok dengan papa. Apalagi setelah mama meninggal aku lebih banyak tinggal di panti asuhan bersama bunda Nana, aku juga jarang menggunakan uang pemberian papa," ucap Nayla yang membuat Afwi memberi kode agar Nayla mendekat padanya.


"Kamu jangan, khawatir aku tak akan seperti itu, kalau gajiku sebagai polisi kurang untuk menafkahi kamu, aku masih punya sedikit usaha property join sama teman, aku hanya tanam modal saja, hasilnya lumayan, kalau kamu nggak hidup hedon InsyaAllah penghasilanku sebagai polisi cukup untuk menafkahi keluarga kecil kita," ucap Afwi sambil menggenggam tangan sang kekasih.


Nayla cukup lega mendengar penjelasan Afwi, meskipun dalam hati ia masih menyimpan ke khawatiran tentang masa depan Afwi sebagai polisi, bukan karena besar atau tidak nya penghasilan yang di dapat namun sebuah amanah dari negara yang harus benar-benar ia jaga dengan jiwa, raga, dan kejujuran. Apakah dengan zaman yang semakin carut marut ini, sebuah kejujuran masih akan di junjung tinggi oleh semua orang.


Seakan tahu hati sang kekasih masih galau, Afwi memegang dagu Nayla agar menatap ke arahnya.


"Abang tahu kamu masih ragu dan takut, tapi abang akan buktikan apapun yang terjadi abang tak akan berbuat khianat pada negara ini karena jika di beri amanah berkhianat, berbicara dusta dan bila berjanji mengingkari adalah ciri-ciri orang munafik dan kau pasti tahu apa hukuman berat bagi orang munafik dalam agama kita."


"Tapi, Bang, zaman sekarang orang melakukan pelanggaran norma hukum dan norma agama tak akan berfikir hukuman dari Tuhan, yang mereka pikirkan adalah keinginan mereka demi ambisi mengejar hingar-bingar dunia yang tak lebih berat dari sayap seekor nyamuk itu bisa tercapai, urusan masuk neraka itu belakangan."


"Apa yang kau katakan ada benarnya, Dek, tapi paling tidak diri kita harus belajar dan berjuang lebih baik lagi dalam hal apapun. Jika kita tak bisa berubah lebih baik bagaimana kita bisa mengajak orang lain untuk terus berbuat baik dalam pekerjaan ataupun sosial masyarakat. Abang harap kita bisa melangkah bersama saling mengingatkan dan saling menguatkan," ucap Afwi dengan lembut membuat hati Nayla seperti melambung tinggi.


"Abang kok pinter banget sih jawab pertanyaan aku? abang juga seolah tahu kegundahan aku, gini amat ya punya kekasih bagian kriminal."


Afwi tersenyum melihat mimik.wajah Nayla yang lucu saat sedang kesal, ia ingin tertawa tapi takut perutnya tambah sakit.


"Ya kan di Akpol di ajari bagaimana mengatasi tindak kriminal, kamu ini aneh aja bilang begitu."


Sepasang kekasih itu berbincang banyak hal agar Afwi tak bosan di dalam kamar, Nayla sebenarnya sudah menyuruh Afwi untuk istirahat tapi pak polisi satu ini bandel nggak mau bobok siang. Ia ingin melepas rindunya dengan Nayla karena setelah ashar nanti, posisi Nayla untuk menjaganya akan di gantikan ayah Yudha.


Seperti yang sudah di rencanakan, Yudha dan Yasmin kembali ke rumah sakit setelah ashar, mereka sampai di ruang rawat inap Afwi sekitar pukul empat sore.

__ADS_1


Ceklek


"Assalamualaikum," ucap Yudha dan Yasmin bersamaan.


"Waalaikum salam," jawab Afwi dan Nayla dari dalam, Nayla yang masih memegang gelas membantu Afwi minum terlihat salah tingkah.


"Manjanya pak polisi satu ini, kalau begini terus kapan sembuhnya hem?" goda sang bunda yang berjalan mendekati Afwi.


"Bukan manja, Bund, ini aku sakit lho, memang siapa yang mau sakit seperti ini?"


"Benar kata bundamu, kau itu selalu mandiri, cool, cuek bebek plus entog, jadi lucu aja lihat kamu manja begini," seloroh Yudha.


Yasmin dan Nayla hanya bisa menahan tawa mendengar ucapan Yudha, memang terasa aneh jika pria sedingin Afwi bisa berubah jadi bucin.


Waktu terus bergulir setelah magrib Yasmin dan Nayla pulang untuk beristirahat, sedangkan Yudha menemani Afwi di rumah sakit. Yudha mengajak Afwi berbicara, dengan posisi Afwi rebahan di bed rumah sakit.


"Apa setelah kejadian ini kamu akan mundur dari kepolisian?" tanya Yudha.


"Ayah kira kamu kapok."


"Kapok lombok, Yah."


"Apa kamu dengar tentang berita tentang institusi kamu itu?"


"Dengar tapi baru aja pas habis sadar kemarin, Nayla juga menanyakan itu, bahkan ia sepertinya sempat ragu padaku."


"Ragu tentang apa? dan apa hubungannya dengan berita tentang intitusi tempat kamu kerja?"


"Sepertinya, Nay takut kalau nanti aku pangkatnya tinggi aku akan tergiur melakukan hal yang menyalah gunakan wewenang dan punya yang cantik-cantik di luar sana selain istri."

__ADS_1


"Ya wajarlah kalai Nay takut, bukan takut sih lebih tepatnya melakukan tindakan preventif, sedia payung sebelum hujan."


"Hadeww, Ayah lama-lama seperti Nayla saja nggak percaya sama aku, padahal yang anak kandung ayah aku lho."


"Ya semoga kamu jadi penegak hukum yang amanah, ayah juga tak habis pikir dengan kejadian di institusi kamu itu, berapa orang yang celaka hanya karena keesgoisan dan keserakahan seseorang, sesama abdi negara meski beda institusi, ayah turut prihatin, benar-benar prihatin. Ayah dan bunda lihat kamu luka seperti ini saja, rasanya jantung kami mau lepas, bundamu nggak bisa tidur beberapa hari, juga makannya sangat sedikit, ayah tak tega melihatnya, ayah rasa Nayla juga merasakan hal yang sama, makannya nggak salah kalau Nayla khawatir dan ragu tentang kamu, bukan karena Nay ragu akan cinta padamu, dia khawatir karena Nay sangat mencintaimu."


"Iya aku mengerti kegelisahan Nayla, tapi bukan berarti aku harus menyerah pada profesiku, memang saat ayah jadi tentara dulu nggak ada kasus macam begini, kelihatannya ayah enjoy saja."


"Ayah kan tentara lebih banyak operasi militer yang berbahaya di tempat rawan konflik, perbatasan, hutan belantara, mana sempat mikir yang aneh-aneh, nggak di telan anacoda segede pohon kelapa dan bisa selamat dari serangan musuh saja sudah bersyukur."


"Bagaimana kalau pengen padahal jauh istri?"


Yudha memicingkan matanya saat mendengar pertanyaan putra keduanya itu.


"Kenapa ayah melihatku seperti itu, jangan bilang ayah open bo ya," ucap Afwi yang langsung mendapat lemparan bantal sofa dari sang ayah, untung saja bantal tersebut tak mengenai lukanya atau selang infusnya.


"Ayah adalah tipe laki-laki setia, meskipun ayah pernah hampir melakukan kesalahan besar karena kesalah pahaman dengan bundamu, dan hampir saja ayah kehilangan bundamu dan kalian bertiga. Ayah tak mau hal itu terulang lagi sampai mati ayah tak akan mengkhianati bundamu."


"Aku percaya sama ayah, aku salut dengan ayah, punya karir militer bagus, tampang okelah mirip Rendy, aktor yang sekarang lebih memilih profesi seperti ayah hanya beda matra, kekayaan jangan di tanya warisan dari eyang uyut Dewantara bisa buat tujuh turunan namun begitu setia hanya dengan satu wanita. Kalau yang lain mungkin sudah mencari si cantik-cantik diluar sana," ucap Afwi sambil tersenyum banga pada sang ayah.


"Ayah harap kamu dan anak-anak ayah yang lain akan setia pada pasangan halal kalian nanti, karena seorang istri pertamalah yang mendampingi kita dari titik nol sampai ke titik puncak, jangan sampai salah melangkah hanya karena hasrat kenikmatan surga dunia dengan si cantik yang lain justru memporak porandakan segala hal yang sudah dibangun bersama istri pertama dengan susah payah. Walaupun tak semua namun dari beberapa pengalaman teman dan juga fenomena di masyarakat, si cantik ke dua hanya ingin enaknya saja, ketika si laki-laki sakit parah tak mau merawat dan akhirnya di rawat oleh istri pertama, jadi ayah benar-benar berharap kamu jadi suami yang setia apapun kondisi keuanganmu dan kondisi istri kamu nantinya. Kamu juga harus setia dan amanah sebagai abdi negara. Ingatlah kamu bisa membohongi siapapun bahkan presiden sekalipun, tapi kamu ada Allah SWT yang selalu melihatmu, ada dua malaikat yang akan mencatat segala amal baik dan burukmu!. Kehidupan kita yang kekal adalah di akherat bukan di dunia," ucap Yudha memberi nasehat panjang lebar pada putra keduanya, moment berdua seperti ini benar-benar di gunakan Yudha untuk bisa bicara hati ke hati dengan putranya.


Mendengar petuah sang ayah yang begitu bijak membuat hati Afwi menghangat, tak sangka sang ayah yang terlihat dingin dan datar seperti dirinya ternyata di baliknya tersimpan rasa cinta dan kasih sayang yang besar pada istri dan anak-anaknya. Ayah jarang banyak bicara, beliau lebih banyak diam namun cinta dan kasih sayang akan langsung di ungkapkan dengan perbuatan.


Yudha memeluk Afwi dari samping karena posis Afwi sudah dalam posisi duduk, Yudha mengelus punggung Afwi dengan lembut penuh kasih sayang sedangkan Afwi benar-benar tak bisa menahan perasaannya, sebulir bening keluar dari kedua sudut matanya. Meskipun Afwi adalah seorang laki-laki dan berprofesi sebagai seorang polisi namun ia hanyalah manusia biasa yang juga bisa merasakan sakit dan kesedihan juga bisa menangis.


___________________________________________


Please Like, Vote, Komentar, Rate and Favorit

__ADS_1


Thank You


__ADS_2