
Setelah pembicaraan tentang rencana lamaran Afwa pada Kirana, Yasmin menghubungi Afwa via telpon. Afwa menyerahkan semuanya pada keluarga Kirana, Afwa tak mempermasalahkan tentang seperti apa lamaran pernikahannya, Afwa tahu bahwa setiap wanita pasti memiliki impian acara pernikahan sendiri dan sebisa mungkin Afwa akan mewujudkan lamaran dan pernikahan impian Kirana, wanita yang sudah terpatri di hatinya sejak usia sepuluh tahun.
"Baiklah, jika itu keputusanmu, bunda dan ayah menurut saja, yang terpenting adalah kebahagiaanmu dan Kirana," ucap Yasmin sebelum ia menutup sambungan telponnya dengan putra sulungnya.
"Apa yang di katakan Afwa, Sayang?" tanya Yudha yang duduk di sofa kamar dimana tadi sang istri menelpon Afwa.
"Afwa bilang semua keputusan ada pada Kirana dia ngikut aja, dia ingin mewujudkan apapun pernikahan impian Kirana," jawab Yasmin sembari duduk di sebelah suaminya.
"Kalau begitu, kita tanya Kirana saja, mau dia bagaimana untuk acara lamaran di pernikahannya agar kita bisa menyiapkan," ucap Yudha.
"Sebaiknya kita tunggu kabar dari Afwa saja, biar dia yang tanya ke Kirana, bunda ngerasa nggak enak kalau kita yang tanya ke Kirana," ucap Yasmin.
"Terserah kalian sajalah, ayah pusing membahasnya nanti kalau sudah tahu Afwa dan Kirana mau nikah model apa baru kasih tahu ayah," ucap Yudha kemudian pergi keluar kamar menuju ruang kerjanya.
Yasmin hanya menghembuskan nafas, kasar melihat sikap sang suami, ia juga merasakan kalau Yudha merasa sangat lelah, memegang kerajaan bisnis sebesar DW group memerlukan waktu dan tenaga ekstra. Yasmin ingin anak-anaknya segera menikah, salah satunya agar menantu-menantunya bisa membantunya dan Yudha mengurus DW group. Yasmin, Mitha dan putrinya, Syakila sudah kewalahan mengurus sebagian bisnis fashion, kuliner dan yayasan milik DW group. Opa Dimas juga sebentar lagi memilih mengistirahatkan diri karena usianya yang semakin menua.
Beberapa hari setelah sang bunda menelponnya, Afwa menghubungi Kirana saat ia punya waktu saat hari libur. Ia membicarakan mengenai rencana pernikahan mereka.
Afwa
"Assalamualaikum, Kiran!"
Kirana
"Waalaikumsalam, Kak, bagaimana kabar kak Afwa di sana?"
Afwa
"Alhamdullah, kabar kakak baik, kamu disan baik juga kan?
Kirana
"Alhamdulillah, aku dan keluargaku di sini baik."
Afwa
"Kiran, kemarin bunda telepon, bicara tentang rencana pernikahan kita, karena Afwi sudah melamar kekasihnya secara resmi, aku juga harus segera lamar kamu secara resmi, tapi kalau untuk sekarang aku nggak bisa, karena masih tiga bulan lagi dan semoga nggak molor. Bagaimana menurut kamu, Yang?"
Kirana
"Ayah sudah bicara sama aku kemarin, om Yudha mengusulkan lamaran virtual, tapi maaf Kak, aku dan ibu kurang setuju."
Afwa
"Aku, ngerti, makanya aku telpon kamu, kalau aku terserah kamu."
Kirana
"Kalau Afwi mau nikah duluan juga nggak apa-apa kok, aku nggak masalah, yang penting aku mau saat lamaran resmi kak Afwa ada di sini."
Afwa
"Baiklah, jika itu mau kamu, nanti aku bilang sama ayah dan bunda."
Kirana
"Makasih ya, Kak, sudah mau mengerti keinginan Kiran."
Afwa
"Anything for you, My love."
Kirana yang mendengar ucapan cinta dari sang kekasih wajahnya bersemu merah di seberang telepon.
Afwa
"Kiran!, Kirana!, kau masih di sana?"
__ADS_1
Kirana
"Eh iya, Kak, aku masih di sini, ngomong-ngomong kapan kakak pulang?"
Afwa
"Belum tahu pastinya, yang jelas kakak masih tugas disini tiga bulan lagi."
Kirana
"Baiklah, aku akan menunggu kakak, janji ya Kak buat selalu sehat dan pulang dengan selamat!"
Afwa
"InsyaAllah, Sayang, doakan aku semoga bisa memenuhi janji padamu, sudah dulu ya, take care, my love!"
Kirana
"Ya, Kak, aku selalu berdoa untuk kakak, Assalamualaikum!"
Afwa
"Waalaikumsalam!"
Setelah menelpon Kirana, hati Afwa merasa lega, ia sekarang sudah tahu apa keinginan sang kekasih. Di seberang pulau Kirana juga merasa lega sudah mengutarakan keinginannya, ia juga sangat bahagia bahwa Afwa ternyata sangat mengerti dirinya dan menghargai semua keputusannya. Sikap Afwa benar-benar tak jauh beda dengan ayahnya Yudhatama Dewantara yang sangat meratukan Yasmin, ibunda dari Afwa.
Begitu mendengar keputusan Afwa dan Kirana tentang keputusannya, Afwi segera menemui pak Mahendra untuk menyampaikan keputusan sang kakak, meski terlahir kembar tapi ia tak mau melangkahi sang kakak, cukup Aryana yang dulu melangkahi sang kakak.
"Om bisa mengerti perasaanmu, Om akan memikirkan lagi hari baik untuk pernikahan kau dan Nayla," ucap pak Mahendra setelah mendengar cerita dari Afwi.
"Terima kasih, Om mau mengerti," ucap Afwi
"Nayla, bagaimana denganmu, Nak, kau tak keberatan kan pernikahan kalian menunggu Afwa, kakaknya Afwi?" tanya pak Mahendra pada putrinya.
"Tidak apa-apa, Pa, Nay juga bisa mengerti, toh selisih harinya tak lama," jawab Nayla sambil tersenyum.
"Nah sekarang kalian ingin menikah di gedung mana dan pakai konsep apa?" tanya pak Mahendra.
"Kami belum membicarakannya, Om," jawab Afwi.
"Kenapa belum, harus kalian pikirkan dari sekarang, biar Om bisa menyiapkan semuanya dari sekarang terutama finansial, Nayla adalah putri om satu-satunya, om ingin pernikahan yang berkesan untuknya," ucap pak Mahendra.
"Om, tanpa mengurangi rasa hormat, saya minta Om tak terlalu memikirkan masalah biaya pernikahan kami, saya dan Nayla yang akan mengurusnya!" pinta Afwi merasa tak enak, ia merasa kasihan calon ayah mertuanya yang duda itu jika terlalu memikirkan pernikahan mereka.
"Terima kasih, Afwi atas perhatiannya, tapi om ingin memberi kebahagiaan pada Nayla sebelum semua kau ambil alih semuanya," ucap pak Mahendra.
"Om, sampai kapanpun, Dek Nayla akan selalu menjadi putri, Om, meski dia nanti menikah dengan saya, dan semua tanggung jawab atas Dek Nayla akan beralih kepada saya," ucap Afwi menangapi perkataan calon mertuanya.
Mendengar percakapan kedua laki-laki yang sangat di cintai nya itu, mata Nayla berkaca-kaca, ia kemudian menggeser tempat duduknya lalu memeluk papanya dari samping.
"Papa, sampai kapanpun, papa akan menjadi papa aku, meski kita sempat berselisih tapi aku sayang papa, papa adalah segalanya bagiku setelah mama. Aku selalu berdoa agar papa selalu sehat dan berumur panjang, agar aku bisa membahagiakan papa lebih lama, papa bisa lihat aku menikah dan melihat cucu-cucu papa," ucap Nayla sendu pada papanya.
Pak Mahendra kemudian melepaskan pelukan putrinya, ia tatap wajah putrinya dengan tatapan penuh, cinta dan kasih sayang. Sungguh wajah Nayla sang cantik, bola matanya yang bening mengingatkan ia pada sosok mendiang sang istri yang sangat di cintainya.
"Sayang, papa juga sayang sama kamu, kau adalah anugerah terindah dari Allah untuk kami, kamu adalah kenangan terindah yang ditinggalkan mamamu dan sebentar lagi kau akan pergi dengan laki-laki yang akan mengantikan semua tanggung jawab papa padamu, berbagilah putriku, semoga rencana pernikahan kalian kelak berjalan lancar," ucap pak Mahendra lalu membelai kepala Nayla yang tertutup hijab.
.
.
Mendekati tiga bulan, kabar baik terdengar dari Afwa, bahwa kondisi keamanan di wilayah tempatnya bertugas dalam kondisi aman dan terkendali sehingga, pasukan Afwa bisa kembali tepat waktu sesuai dengan jadwal yang sudah di tentukan. Tentu saja, hal ini membuat keluarga sangat bahagia dan hari ini adalah hari kedatangan pasukan Afwa dari tempat tugas. Yudha, Yasmin, Azka tak ketinggalan Kirana akan datang ke kodam untuk menyambut kedatangan Afwa. Tak lupa Kirana membawa sebuket bunga untuk menyambut sang kekasih.
"Tante, mana ya kak Afwa nggak kelihatan?" tanya Kirana pada Yasmin karena saking banyaknya prajurit dan keluarganya, ia jadi tak bisa melihat dimana keberadaan sang kekasih.
"Bentar lagi, Kiran, yang sabar, Azka baru nyari," ucap Yasmin.
Tak lama munculah seseorang yang selama enam bulan mereka rindukan sedang berjalan bersama Azka.
__ADS_1
"Afwa! Kak Afwa!"
Yasmin dan Kirana bergegas menghampiri Afwa, sedangkan Yudha entah kemana, dia mungkin sedang reuni dengan teman-temannya yang masih berdinas menjadi anggota TNI.
"Bunda...!" teriak Afwa dan langsung memeluk sang bunda dengan erat.
"Alhamdulillah kau pulang dengan selamat, Nak," ucap Yasmin sambil mengelus punggung kokoh sang putra.
Afwa kemudian mengurai pelukannya pada bunda, ia memandang lekat wajah wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini. Di hapusnya air mata sang bunda, air mata kebahagiaan karena sang putra pulang dengan selamat.
"Bunda jangan nangis, nanti cantiknya hilang," goda Afwa.
"Kak!" panggil Kirana yang berdiri di belakang Yasmin.
Mendengar namanya dipanggil oleh seorang wanita, Afwa mengalihkan pandangannya ke belakang tubuh bundanya.
"Kirana!" ucap Afwa kemudian minta ijin sang bunda untuk menghampiri sang kekasih.
"Kak!" ucap Kirana memandang Afwa sambil menahan air mata agar tak jatuh.
Melihat Kirana hampir menangis, ia langsung mengusap kepala Kirana dengan sayang.
"Kenapa nangis, hemm, kangen sama kakak ya?" tanya Afwa lembut membuat Azka ingin muntah mendengarnya
"Dasar sok iye, huwekk," umpat Azka dalam hati mendengar ucapan lembut kakak sulungnya.
Kirana tak sanggup mengatakan apapun, ia hanya menganggukkan kepalannya sambil terisak.
"Bunga ini untukku?"
"Iya, Kak."
"Terima kasih, Sayang," ucap Afwa sambil meraih buket bunga dari tangan Kirana.
"Terima kasih juga, kakak sudah menepati janji, pulang dengan selamat."
"Sama-sama, om Raka, tante Dinda, Kiara, sehat?"
"Sehat, Kak."
Saat dua sejoli melepas rindu, terdengar suara bariton dari belakang.
"Sudah kangen-kangennya sama kekasih?"
"Ayah! Om!"
Melihat sang ayah, Afwa langsung memeluk sang ayah erat seperti yang tadi ia lakukan dengan bundanya.
"Selamat datang kembali, jagoan," ucap Yudha sambil menepuk pundak Afwa setelah merek melepaskan pelukkan.
"Terima kasih, ayah."
"Ayo kita cari tempat yang nyaman untuk melepas rindu, jangan di tanah lapang begini, kalau ayah dan Azka tak masalah mau kepanasan berapa lama tapi kasihan bundamu dan Kirana!" ajak Yudha.
Mereka kemudian berjalan ke tepi lapangan yang ada pohonnya, agar lebih nyaman berbincang melepas rindu. Afwa pun banyak menceritakan pengalamannya di tempat ia bertugas selama enam bulan itu. Mereka juga tak lupa membahas tentang rencana lamaran Afwa pada Kirana, Afwa belum bisa menentukan kapan acara lamaran karena ia belum tahu pengumuman tentang jadwal selanjutnya, tapi Afwa berjanji begitu ia mendapatkan informasi tentang jadwal liburnya, ia akan segera melamar Kirana secara resmi dan pengajuan nikah ke kesatuan.
Bunga dan coklat yang di bawa Kirana untuk Afwa
_______________________________________
Akhirnya pulang juga babang Afwa, siapa yang kangen?
Foto bunga dan coklat koleksi pribadi, buatan adikku tercinta, readers yang mau pesen boleh aja.
Please, Like, Vote, Komentar, Rate, and Favorit
__ADS_1
Thank You