Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 61


__ADS_3

Sesi pertama foto prewed selesai, Fahmi dan Aryana istirahat sejenak. Aryana melihat sang kakak tidak duduk sendirian, ia tersenyum, lalu ia mengajak Fahmi menyapa calon kakak iparnya meskipun akhir dari kisah cinta kakak sulungnya masih menjadi misteri.


"Hai kak Kiran apa kabar?" sapa Aryana ramah sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman, lalu ia cipaka cipiki dengan Kirana seolah mereka sudah sekian lama tidak bertemu. Hati Afwa menghangat melihat keakraban adik kembarnya dengan Kirana.


"Alhamdulillah kabarku baik, by the way kamu cantik banget pakai baju itu, tampak elegan, terlihat lebih dewasa dari usiamu yang sebenarnya, pantas Om Fahmi rela nungguin kamu dari orok," ucap Kirana disertai senyuman untuk menggoda Aryana.


"Ah Kak Kiran bisa aja," ucap Aryana tersipu malu.


"Apa kabar Kiran?" sapa Fahmi.


"Kabarku baik Om," jawab Kiran.


"Kak Kiran mau nerusin kuliah dimana?" tanya Aryana.


"Mungkin aku ngambil kuliah di Semarang aja sekalian jagain kakek sama nenek, soalnya dua bulan lagi ayah akan di pindahkan ke Medan, males aku kalau harus ikut kesana," jawab Kirana.


"Lalu kak Kiran mau ambil jurusan apa?" tanya Aryana.


"Mungkin tata boga, sesuai hobby aku," jawab Kirana.


"Wah-wah kalau Kirana ambil tata boga, nanti kalau sudah nikah sama Afwa, bisa gemuk Afwa tiap hari dimasakin yang enak-enak," seloroh Fahmi.


"Aamiin," sahut Afwa sambil tersenyum sedangkan Kirana mukanya sudah bersemu merah menahan malu.


"Afwa, semangat ya, aku saja yang sudah tak muda lagi tujuh belas tahun mengejar adikmu dan akhirnya bisa meski rintangan kami banyak, jadi aku percaya kamu pasti bisa melalui semua ini dengan baik," ucap Fahmi memberi semangat pada Afwa sambil menepuk pundak calon kakak iparnya itu.


Fahmi dan Aryana kembali melakukan sesi foto yang kedua tentu saja dengan baju yang berbeda. Setelah dua jam foto prewed Fahmi dan Aryana selesai, Fahmi mengajak semuanya termasuk tim untuk makan bersama di sebuah restoran ternama. Tentu saja tim prewed dengan senang hati menerimanya karena bisa menjadi tim yang dipercaya untuk mengurus pre wedding seorang ceo ternama pemilik Pratama group yang akan bersanding dengan cucu pemilik Dewantara group adalah kehormatan dan keberuntungan yang besar bagi mereka.


Setelah makan siang bersama, Fahmi, Aryana dan Afwa kembali ke hotel sedangkan Kirana pulang diantar oleh orang suruhan Fahmi.


"Yang kamu istirahat dulu besok baru pulang ke ke kota S sama Afwa dan maaf aku nggak bisa ngantar karena harus langsung ke Jakarta," ucap Fahmi.


"Nggak apa-apa, honey, itu sebabnya bunda nyuruh kak Afwa temenin aku," ucap Aryana.


"Sekarang masuk ke kamar, bersih-bersih lalu istirahat nanti kita makan malam bersama!" pinta Fahmi sambil membelai lembut kepala Aryana.


Aryana pun menurut kata-kata Fahmi, ia segera masuk ke kamarnya, membersihkan diri lalu segera istirahat. Setelah magrib Fahmi mengajak Aryana dan Fahmi makan malam bersama di resto hotel.

__ADS_1


"Afwa besok aku tidak bisa mengantar kalian pulang ke kota S, karena aku masih banyak pekerjaan yang tertunda di Jakarta, aku harap kau bisa menjaga Aryana untukku dan maaf aku merepotkan mu kakak ipar," ucap Fahmi pada saat mereka selesai makan malam namun masih di dalam resto.


"Tidak apa-apa Om, itulah gunanya bunda meminta aku atau Afwi menemani Aryana, selain mencegah setan lewat untuk berjaga-jaga kalau Om Fahmi ada urusan penting yang mendadak mengingat posisi Om yang sekarang sebagai ceo Pratama group," ucap Afwa penuh pengertian.


"Itulah salah satu kelebihan bunda kalian selalu bisa memandang kedepan dan bisa memprediksi apa yang kemungkinan akan terjadi sehingga bisa langsung melakukan tindakan preventif," ucap Fahmi memuji calon ibu mertuanya.


Mendengar calon suaminya memuji bunda Yasmin, ada sedikit nyeri di hati Aryana, raut muka Aryana yang sedari tadi ceria langsung tiba-tiba murung, namun Fahmi tak menyadarinya karena ia sibuk bicara dengan Afwa.


"Andai calon ibu mertuaku bisa seperti bunda pasti nasib cintaku tidak semenyedihkan ini," ucap Afwa sendu.


Tiba-tiba Aryana bangkit dari duduknya dan permisi untuk kembali ke kamarnya untuk segera istirahat dan sontak hal itu membuat Fahmi dan Afwa terkejut.


"Maaf, aku duluan, aku mau kembali ke kamar, aku harus segera istirahat!" ucap Aryana dengan nada datar dan dingin membuat Fahmi semakin bingung.


"Sayang, kenapa buru-buru ke kamar, kita kan janjian mau jalan-jalan dulu, lagian ini masih jam tujuh?" tanya Fahmi.


"Aku sudah nggak mood jalan-jalan!" ketus Aryana yang langsung meninggalkan resto begitu saja.


"Afwa, kenapa Aryana, sepertinya dia marah, tapi marah karena apa?" tanya Fahmi


"Ya, aku nggak tau lah Om, perasaan tadi waktu makan malam dia baik-baik saja, coba deh Om ingat selama makan malam ini tadi apa yang kira-kira menyingung perasaannya, soalnya kalau Aryana jika sedang mode begitu berarti dia merasa tersinggung dengan perkataan atau perbuatan seseorang, namun orang tersebut menyadarinya," ucap Afwa memberi pendapat.


"Sial!", aku menyinggung perasaannya saat aku tak sengaja memuji Yasmin," ucap Fahmi yang langsung berlari mengejar Aryana ke kamarnya, namun sayang pintu kamar Aryana sudah tertutup rapat dan dalam keadaan terkunci.


"Sayang...!, tolong buka pintunya, aku minta maaf kalau aku tak sengaja melukai perasaanmu. Sayang...tolong buka pintunya!, jangan buat aku cemas!" teriak Fahmi sambil mengetuk pintu kamar Aryana berkali-kali namun tidak ada jawaban membuat Fahmi semakin panik.


Sedangkan Aryana, sedang berada di kamar mandi, dibawah guyuran shower, air matanya tak berhenti mengalir, kenapa sang bunda selalu lebih hebat darinya. Entah kenapa mendengar Om Fahminya memuji bundanya walau tanpa sengaja, namun hal itu membuat hatinya sakit, mungkinkah keputusannya menerima cinta Om Fahminya ini salah, itulah yang dipikirkan Aryana sekarang.


"Apa keputusanku menikah dengan pria yang pernah menaruh hati pada bundaku itu salah ya Allah, kenapa rasanya sesakit ini walau hanya mendengar Om Fahmi tak sengaja memuji bunda, kenapa tidak kau ambil nyawaku saja saat aku lahir, agar aku tak menyusahkan semua orang, agar aku tak harus merasakan hatiku sakit seperti ini," ucap Aryana dalam hati sambil menangis dibawah guyuran shower. Namun lama kelamaan Aryana merasakan mata dan kepalanya terasa berat dan akhirnya ia pingsan di kamar mandi dengan baju yang sudah basah kuyup dan shower yang masih menyala.


Begitu tidak ada jawaban dari dalam kamar, Fahmi menemui manajer hotel untuk meminta kunci cadangan, kalau saja ini hotelnya sendiri, ia pasti sudah mendobrak pintu kamar Aryana sejak tadi. Afwa pun tak kalah panik setelah Fahmi menelponnya agar segera ke kamar Aryana.


"Ini tuan kuncinya," ucap manajer hotel.


Fahmi menerima kunci cadangan dan segera membuka kamar Aryana, setelah berhasil masuk dalam kamar Aryana, Fahmi tak menemukan Aryana, ia mengedarkan pandangan matanya ke seluruh kamar. Fahmi menangkap suara gemericik air dari arah kamar mandi. Fahmi segera menuju kamar mandi, ia menemukan pintu kamar mandi dalam keadaan tertutup, ia mencoba memangil Aryana berulangkali namun tak ada sahutan hanya gemericik air yang terdengar. Perlahan Fahmi mencoba membuka pintu kamar mandi yang ternyata tidak dikunci. Saat pintu kamar mandu terbuka betapa terkejutnya Fahmi melihat pujaan hatinya tergeletak tak berdaya di bawah guyuran shower.


"Astaga, Sayang!" kenapa seperti ini?" ucap Fahmi lalu mengangkat tubuh Aryana dan membaringkannya di sofa. Afwa yang melihat keadaan sang adikpun juga langsung merasa cemas.

__ADS_1


"Pak manajer boleh panggilkan pelayan wanita ke sini untuk menganti baju calon istriku!" pinta Fahmi.


"Baik tuan."


Tak lama dua orang pelayan wanita datang, Fahmi segera menyuruh mereka mengantikan pakaian Aryana yang sudah basah kuyup, sedangkan Fahmi dan Afwa menunggu di luar. Fahmi menelpon Joan untuk mengambilkan alat-alat kedokterannya juga membelikan obat untuk Aryana. Pelayan sudah selesai memakaikan pakaian ke Aryana, Fahmi memindahkan Aryana ke tempat tidur dan menyelimutinya ia mencium kening Aryana cukup lama ada perasaan sesal di hatinya. Fahmi dengan telaten mengeringkan rambut Aryana dengan handuk. Afwa mencoba mencari minyak angin yang biasanya selalu ada di tas sang adik.


"Pakaikan ini dulu Om!" pinta Afwa sambil menyodorkan minyak angin beraroma lavender kesukaan Aryana.


"Dari mana kamu dapat?" tanya Fahmi sambil menerima minyak angin dari Afwa.


"Dari mana lagi, tentu saja dari tas adikku, dia selalu membawa minyak angin di tasnya," jawab Afwa santai.


Fahmi lalu mengoleskan minyak angin di leher, tangan dan kaki Aryana, namun sang pujaan hatinya itu tak kunjung membuka matanya. Kemudian terdengar ketukan pintu yang ternyata asisten Joan membawakan pesanan Fahmi.


Fahmi lalu memasang stetoskop dan mulai memeriksa Aryana, ia menghembuskan nafas kasar setelah memeriksa Aryana.


"Bagaimana keadaan adikku?, apa perlu kita bawa ke rumah sakit?" tanya Afwa.


"Tidak perlu, Aryana baik-baik saja, ia hanya kelelahan dan sedikit stres, nanti juga membaik, dan juga aku minta jangan beritahu kejadian ini pada keluargamu terutama ayah bundamu, aku tak ingin mereka khawatir!" pinta Fahmi pada Afwa


"Baiklah, aku tak akan mengatakan kejadian ini pada keluargaku, dan bilang saja yang paling kau takuti adalah ayah kami, iya kan?" tanya


Afwa.


"Boleh dibilang begitu, kalau sampai ayah kalian tahu, tak menutup kemungkinan dia tak segan membatalkan acara pernikahan kami," jawab Fahmi.


"Om, jujurlah padaku, apa Om masih punya perasaan pada bunda? dan apa tujuan Om sebenarnya mau menikah dengan adikku?" tanya Afwa serius.


Fahmi meletakkan stetoskopnya di nakas, lalu ia duduk di sofa kamar Aryana sedangkan Afwa masih menunggu jawaban Fahmi dengan duduk di sofa sebelah Fahmi.


"Kenapa kau masih tak percaya, setelah bundamu bersatu kembali dengan ayahmu, aku sudah mengubur dalam-dalam perasaan ku dan entah kenapa saat aku diberi kesempatan menamai salah seorang dari kalian, aku memilih adik perempuanmu, saat aku pertama mengendong Aryana, hatiku berdesir aneh, ada perasaan iba, sayang dan perasaan ingin melindungi terhadap bayi perempuan cantik dalam gendonganku saat itu. Saat aku menyematkan nama Aryana Maira dalam hati aku langsung berjanji bahwa nama itulah satu-satunya nama wanita yang akan kusebut dalam ijab qobulku nanti untuk mendampingi hidupku selamanya," jawab Fahmi.


________________________________________


Please, Like, Vote, Coment, Rate and Favorit


Thank You

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2