
Afwi kembali ke kantor polisi tempat ia berdinas pukul setengah satu siang, ia tak makan di rumah karena sang istri serang bekerja di ruko dan akan pulang sore hari sekitar pukul empat meskipun ruko tempat ia berjualan lumpia dan makanan jenis lain akan tutup pukul tujuh malam. Nayla memiliki empat karyawan. Lumpia buatan Nayla sangat enak dan terkenal, jadi lumpia yang ia buat tak hanya di jual sendiri di gerai tetapi juga di jual ke beberapa resto termasuk Aryana resto milik sang adik ipar.
Putra kedua Yudhatama itu menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya, pikirannya menerawang, meski hasil tes DNA belum keluar tetapi feeling-nya cukup kuat bahwa Niko adalah ayah dari Alesya, anak adopsi dari sang adik, dan dari pengakuan Niko yang belum menikah bisa ia perkirakan bahwa sudah terjadi sesuatu yang tak di inginkan antara Niko dan ibu dari Alesya sehingga lahirlah bayi cantik yang sekarang menjadi keponakannya. Ponsel Afwi berbunyi tanda ada panggilan masuk, tertera nama sang istri tercinta, dengan senyum mengembang Afwi mengangkat telepon tersebut.
"Assalamualaikum, Sayang ada apa?" ucap Afwi .
"Waalaikumsalam, Bang, Nay cuma mau tanya Abang nanti pulang jam berapa?"
"InsyaAllah jam lima sore, Dek."
"Abang mau makan malam apa?"
"Terserah kamu, Dek, apapun yang kamu siapkan abang makan."
"Ya sudah, nanti Nay siapkan makan malam buat Abang."
"Makasih, Sayangku."
"Sama-sama, suamiku, pak Polisi yang makin ganteng, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," ucap Afwi sambil tersenyum di seberang telepon.
Setelah mendapat telepon sang pujaan hati, Afwi melanjutkan pekerjaannya, kasus yang ia tangani hampir selesai sehingga ia bisa menepati janji pada sang istri untuk berlibur ke Semarang menjenguk pak Mahendra dan Kirana.
Jika di kantor polisi Afwi bekerja dengan hati yang gembira, lain halnya di rumah sakit Permata. Seorang pria menatap sebuah foto yang ia jadikan wallpaper ponselnya, jemari tangannya mengusap layar ponselnya dengan senyuman yang seolah dipaksakan.
"Kenapa wajah putri angkat tuan Fahmi wajahnya mirip dengan Pamela, sampai sekarang orangku tak bisa menemukan dimana Pamela. Ya Tuhan tolong pertemukan aku dengan Pamela dan anak kami, aku ingin menebus semua kesalahanku," monolog Niko dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Niko bingung karena papanya masih marah padanya sejak Pamela menghilang dengan membawa putranya, anak yang di kandung Pamela adalah pewaris terakhir dari keluarganya karena kecelakaan yang ia alami beberapa tahun lalu ia sudah tak bisa memiliki anak lagi. Niko mengambil.ponselnya lalu mendial nomor seseorang.
"Aku ada tugas untukmu, cari tahu latar belakang seorang anak, fotonya akan aku kirimkan kepadamu!" perintah Niko dari seberang telepon.
Setelah menelpon, Niko kembali menatap foto Alesya dengan tatapan sendu, andai dia tak arogan, andai saat Pamela meminta pertangungjawaban padanya, ia mau menerima mungkin saat ini ia akan memilki keluarga yang bahagia. Jika benar Alesya adalah putrinya yang lahir dari Pamela, ia juga tidak akan bisa berbuat apa-apa karena ia dan Pamela tak pernah menikah, ia tak akan bisa menuntut apapun.
Fahmi dan Yudha adalah koleganya. Dua perusahaan besar menaungi Alesya dan kekuatan yang sungguh tak sepadan. Niko hanya bisa berharap kemurahan hati Fahmi agar ia juga bisa dekat dengan Alesya, memberikan cinta dan kasih sayangnya sebagai seorang ayah, jika terbukti Alesya adalah putri kandungnya.
.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore, Afwi sudah menyelesaikan pekerjaannya. Pelaku penculikan sudah di temukan namun aktor yang sesungguhnya dalan penculikan anak sampai sekarang belum di temukan. Feeling Afwi mengatakan bahwa aktor utama dalam kasus penculikan ini sebenarnya cukup dekat dan ada di sekitar mereka hanya saja seolaho-olah ini sulit di jangkau.
Afwi keluar ruangannya menuju parkiran, meski sudah sangat sore tapi aura ketampanan dan kepintarannya tetap terpancar tak lekang oleh waktu, para polisi wanita dan beberapa staf sipil yang masih berada di kantor hanya bisa melihat pemandangan indah itu tanpa berani berkata apapun, jika sampai berpapasan dengan Afwi mereka hanya menyapa dengan hormat, hanya polisi laki-laki yang terbiasa dengan Afwi atau atasan yang berani mengajak berbincang lama. Para wanita di kantor Afwi pasti punya pemikiran yang sama, bagaimana seorang Nayla bisa meluluhkan hati seorang Ipda Afwi Shakta Yudhatama tanpa susah payah, justru Afwi sendiri yang jungkir balik untuk mendapatkan hati Nayla putri tunggal Kombes Mahendra Bagaskara.
Akhirnya Afwi sudah sampai di rumahnya, rumah minimalis tempat surga cintanya bersama Nayla bernaung.
"Waalaikumsalam," jawab sebuah suara merdu dari arah dapur.
"Abang, sudah pulang?" ucap Nayla seraya menghampiri Afwi lalu mencium tangan suaminya dengan takdzim.
Afwi pun membalasnya dengan ciuman di kening Nayla, lalu memeluk sang istri dari samping sambil berjalan menuju ruang tengah. Afwi lalu mendudukkan dirinya di sofa.
"Bagaimana hari ini, apa kasusnya sudah selesai?" tanya Nayla.
"Hampir, sedikit lagi, BAP nya sudah dilimpahkan ke Kejaksaan."
__ADS_1
"Syukurlah, Abang jadi akan punya waktu untuk kita."
"InsyaAllah, doakan saja ya, Sayang. Lalu bagaimana pekerjaanmu hari ini?"
"Alhamdulillah lancar, penjualan lumpia dan makanan lain mengalami peningkatan signifikan," jawab Nayla sambil tersenyum dan bergelayut manja di lengan Afwi.
"Kamu memang punya jiwa bisnis yang bagus, tingkatkan lagi tapi ingat jangan mengurangi kualitas produk jika ada kenaikan bahan baku, naikkan saja sedikit harganya, konsumen pasti mengerti karena yang terkena imbas jika terjadi kenaikan harga di segala produk tak hanya pedagang yang terdampak, hampir semua lini sektor terkena dampaknya," ucap Afwi memberikan pandangannya.
"Iya, Bang, Nay juga berfikir ke arah sana, ini saja bahan baku tepung terigu juga sudah naik, telur dan minyak goreng juga naik, tapi Alhamdulillah masih bisa Nay atasi."
"Pinternya, istri siapa sih?" ucap Afwi gemass sambil mencubit ujung hidung sang istri.
"Isssh...Abang sakit ah, main cubit-cubit saja," protes Nayla.
"Habis gemessin sih."
"Bang, emang Abang nggak malu punya istri jualan lumpia?" tanya Nayla dengan nada sedikit sendu membuat Afwi langsung berhenti tersenyum dan menggoda sang istri.
"Kok tiba-tiba tanya begitu? kenapa?" ada yang ngatain kamu yang aneh-aneh ya?" berondong Afwi dengan berbagai macam pertanyaan.
"Tidak ada yang mengataiku, cuma kadang inscure dengan diriku sendiri, ibu Bhayangkari yang lain memiliki pekerjaan yang lebih keren dari pada aku," ucap Nayla yang justru membuat Afwi tertawa.
"Sayang, kau ini benar-benar, MasyaAllah. Kau ini mau merendah atau bagaimana?, kau memang hanya berjualan lumpia, beberapa kue dan makanan ringan tapi kamu punya lima gerai di Bandung, tiga gerai di Semarang, tiga di Jakarta dan kamu masih memasok lumpia kamu di Hotel milik Aryana. Penghasilan kamu lebih dari pegawai kantoran bahkan polisi biasa seperti Abang ini, belum lagi penghasilan kos-kosan yang aku berikan padamu untuk kamu kelola, itu saja bunda belum memintamu mengelola beberapa resto milik DW group dan butiknya oma, kamu jangan ngelawak ah, ini yang nulis sudah capek mendata aset dan penghasilan kamu."
Nayla hanya nyengir setelah mendengar perkataan suaminya, sungguh konyol pemikirannya, entah kenapa ia menanyakan hal aneh seperti itu pada suaminya. Bahkan omset penjualan kulinernya per bulan bisa betkali kali lipat dari gaji sang suami sebagai polisi. Memang benar jika ingin jadi kaya jangan jadi polisi tapi jadi pengusaha karena jadi polisi itu pengabdian.
"Kamu tuh lucu ya, Dek, sudah ah, Abang mau ke kamar dulu, mau mandi," ucap Afwi kemudian bangkit dari duduknya lalu menuju kamarnya, bibirnya masih menyunggingkan senyuman karena tingkah istrinya yang menurutnya lucu.
__ADS_1
Nayla juga masih tersenyum sendiri mengingat pertanyaannya yang konyol itu, yang jadi suaminya adalah salah satu pewaris kerajaan bisnis Dewantara group, tentu saja akan tertawa mendengar pertanyaannya dan perasaannya yang inscure pada dirinya sendiri hanya karena pekerjaannya yang menurutnya terlihat tidak keren.
________________________________________