Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 104


__ADS_3

"Brakk!"


"Dasar wanita biadab!" ucap seorang pria paruh baya tepat di ambang pintu yang di dobrak tadi. Pria tersebut langsung mendekati Galuh dan menamparnya hingga Galuh terjatuh karena tamparan keras itu begitu tiba-tiba.


Listrik yang tadinya mati saat terjadi hujan dan petir, tiba-tiba menyala, Galuh bisa melihat dengan jelas siapa pria yang tiba-tiba menamparnya hingga terjatuh.


"Ma-Mas, Hendra?" ucap Galuh terbata sambil menatap tak percaya jika suaminya tiba-tiba berada di hadapannya dan menamparnya.


"Kenapa, kau terkejut?, tega sekali kau melakukan itu, dasar wanita keji, saat ini juga aku talak dengan talak tiga, kau bukan istriku mulai hari ini dan selamanya!"


Jederr


Bagaikan petir yang menyambar, bahkan kata talak tiga yang di ucapkan Mahendra rasanya lebih menggelegar dari pada petir alam yang yang barusan terdengar.


"Mas, aku mohon jangan talak aku!, apa salahku?, aku sangat mencintaimu," ucap mama Galuh bersimpuh dan memegang kaki Mahendra. Sedangkan di ambang pintu Nayla sudah menangis di pelukan Mirza.


Flash back on


Nayla meminta tolong pada teman kuliahnya yang kuliah di jurusan seni dan pantai berakting untuk berperan sebagai hantu perempuan, Nayla beralasan itu untuk memberi kejutan untuk ulang tahun mamanya dan teman Nayla percaya, ia juga sudah memasang alat perekam dan cctc di seluruh rumah. Nayla memang kuliah di jurusan kuliner tapi ia juga memiliki kemampuan IT yang mumpuni. Nayla menelpon Mirza untuk mengajak papanya ke home stay milik mendiang Intan namun harus secara diam-diam dan pada saat mama Galuh berteriak histeris tanpa sadar mengungkap kejahatannya sendiri, Mahendra mendengarkan dari perekam yang di pasang Nayla di kamar Galuh. Begitu Mahendra mendengar pengakuan Galuh ia sudah tidak tahan dan langsung mendobrak pintu kamar yang di tempati Galuh.


Flash back off


"Kau tanya apa salahmu, hah?, kau sudah membuatku menjadi seorang duda dan Nayla mejadi anak yatim."


"ltu fitnah, Mas, aku tidak membunuh Intan, aku mohon Mas percaya padaku!" pinta Galuh dengan posisi bersimpuh dan memegang kaki Mahendra.


Mahendra berusaha melepaskan kakinya dari pengang Galuh, ia merasa jijik tubuhnya di pegang oleh wanita ular yang sudah melakukan pembunuhan berencana pada istrinya.


"Menyingkir kau, jangan pernah menyentuhku dengan tangan kotormu itu, pengacaraku akan segera memproses perceraian kita!"


Tak lama kemudian beberapa anggota polisi datang mengamankan Galuh wanita itu memberontak dan berteriak bahwa dirinya tidak bersalah namun para pihak berwajib tetap membawanya pergi untuk penyelidikan lebih lanjut.


Mahendra melihat putrinya masih menangis di pelukan Mirza, sepertinya sang putri sangat nyaman di pelukan ajudannya itu, dan tentu saja hal tersebut membuatnya cemburu.


"Ekhem, suara deheman membuat Mirza dan Nayla sadar bahwa posisi mereka saling berpelukan.


"Sepertinya pelukan Mirza lebih nyaman dari pelukan papa ya, Nay," ucap pak Mahendra dengan nada datar.


"Siap, salah, Ndan!" ucap Mirza setelah pelukannya dengan Nayla terlepas.


Nayla hanya diam seribu bahasa setelah pelukannya dengan Mirza selesai, ia juga tak berniat memeluk papanya. Hati dan jiwanya rasanya sudah terbang entah kemana. Misteri kematian mama kandungnya yang ia ungkap dengan caranya sendiri menyisakan banyak luka dalam yang tak kasat mata.


"Kamu tidak ingin memeluk papa, Nay?" tanya pak Mahendra dengan tatapan sendu mengarah pada putrinya yang masih tertunduk.

__ADS_1


Nayla yang mendengar permintaan papanya, perlahan mengangkat kepalanya, menatap manik hitam sang papa. Nayla hanya terdiam kakinya rasanya masih kaku untuk berjalan mendekat pada papanya, karena Nayla tak kunjung beranjak dan berbicara, maka pak Mahendra lah yang harus berinisiatif mendekati putri semata wayangnya dan memeluknya.


"Maafkan papa, Nak, papa tidak bisa melindungimu, tapi papa janji mulai hari ini tidak akan ada yang bisa memisahkan kita dan papa akan lebih tegas pada nenekmu, tak akan ada yang bisa mengantikan mama Intan di hati papa, Nak, baik dulu sekarang dan selamanya, papa tak pernah mencintai mama Galuh. Papa mau menikah dengannya karena desakan dari nenekmu, tapi mulai sekarang hanya akan ada kita berdua, Nay, bersama kenangan mama kamu," ucap pak Mahendra sambil memeluk Nayla erat seolah tak ingin melepasnya, sedangkan Nayla hanya membeku saat di sang papa memeluknya sambil mengungkapkan perasaannya.


"Maafkan, Nay juga, Pa," ucap Nayla setelah mulutnya terkunci rapat.


Pak Mahendara menangkup wajah putrinya setelah ia mengurai pelukkannya, pak Mahendra menatap wajah sang putri yang lama berpisah dengannya, wajah yang menjadi duplikat mendiang istri tercintanya. Wajah yang selama ini ia rindukan, yang membiatnya tetap semangat menjalani hidupnya meski sang istri tercinta suadah tiada.


"Kamu tampak kurus, Sayang, papa sedih lihat kamu seperti ini, hati papa sakit melihatmu lebih memilih hidup sederhana di panti asuhan, membantu berjualan lumpia untuk membantu Nana, papa merasa menjadi papa yang tidah berguna, Nay. Sekarang ikut pulang sama papa ya Nay, papa kesepian tanpa kamu, kamu adalah putri papa satu-satunya, kamu harta papa yang sesungguhnya, pundak papa akan selalu siap untuk kamu Nay, telinga dan hati papa akan selalu ada untuk mendengarkan ceritamu, keluh kesahmu, dan segala apa yang kau rasakan!" pinta pak Mahendra sambil merapikan anak rambut Nayla dengan penuh sayang.


Mirza yang melihat pemandangan di depannya ini menjadi terharu, atasannya yang biasanya tegas dan keras saat di kantor kini berubah menjadi sangat manis di depan putri semata wayangnya. Seandainya ia punya keberanian ia ingin sekali merekam sweet moment pertemuan ayah dan anak itu, namun apalah daya ia hanya bisa ikut menyaksikan saja.


"Mau ya Nak ikut papa pulang!" ajak pak Mahendra sekali lagi.


"Iya, Pa aku akan ikut papa pulang."


Pak Mahendra sangat senang dengan jawaban Nayla, ia langsung mencium kening putrinya penuh sayang.


"Mirza ayo antar kami pulang ke rumah, untuk laporan ke kantor polisi, katakan pada tim penyidik besok saja, putriku butuh istirahat, hari ini sudah cukup berat untuknya!"


"Siap!"


Pak Mahendra merangkul Nayla keluar dari dalam home stay di ikuti oleh Mirza, beberapa polisi masih berjaga dan memasang police line di area home stay yang menjadi TKP. Sepanjang perjalanan di dalam mobil, Nayla menyandarka kepalanya di bahu papanya, tapi mulutnya hanya terdiam tak mengatakan sepatah katapun dan pak Mahendra bisa memahami itu. Mungkin putrinya masih menginginkan kesendirian untuk menenangkan hatinya. Pak Mahendra hanya bisa sesekali membelai kepala putrinya sebagai ungkapan rasa sayang yang selama satu tahun ini tak bisa ia tunjukkan.


"Sayang..., duduk saja nanti kamu capek, kalau mereka sudah datang nanti juga kelihatan!" pinta Fahmi pada istrinya yang mondar mandir saat menunggu ayah dan bundanya.


"Aku nggak sabar ketemu sama mereka, Honey."


Mata Aryana berbinar ketika dari kejauhan terlihat ayah dan bundanya yang berjalan berdampingan.


"Honey, itu ayah dan bunda," ucap Aryana girang seperti anak kecil.


Ayah Yudha dan bunda Yasmin, semakin berjalan mendekat dimana Aryana dan Fahmi menunggu. Begitu Yasmin dan Yudha sudah berada di hadapan anak dan menantunya, Arya dengan berjalan cepat kemudian langsung memeluk sang bunda.


"Bunda..., hiks...hiks," ucap Aryana terisak di pelukan sang bunda.


"Aryana sayang, kenapa malah menangis sih, sudah mau jadi ibu lho," ucap Yasmin sambil mengusap-usap punggung Aryana yang masih memeluknya.


Sedangkan Fahmi dan Yudha hanya bersalaman seperti layaknya seperti seorang teman, entah kenapa dua pria yang ber status ayah mertua dan menantu sepertinya tidak akan pernah akrab.


"Bagaimana kabar ayah?" tanya Fahmi setelah melepas jabat tangannya dengan sang ayah mertuanya.


"Kau lihatkan aku masih segar bugar, bahkan untuk menghajarmu aku masih sangup berarti aku masih sehat walafiat," jawab Yudha datar.

__ADS_1


Mendengar ucapan ayah mertuanya, Fahmi hanya tersenyum simpul, sang ayah mertua memang dari dulu tak pernah berubah, selalu bersikap datar padanya, namun meski begitu Fahmi sudah sangat bersyukur karena laki-laki kaku yang di hadapannya ini bersedia menyerahkan putrinya yang paling berharga pada dirinya, jadi apapun sikap ayah mertuanya ia akan berlapang dada menerimannya


"Syukurlah kalau ayah sehat, aku turut bahagia," ucap Fahmi sambil tersenyum.


Melihat aura dingin sang suami yang ada di sampingnya, Yasmin segera meminta Aryana mengurai pelukannya.


"Ana, sudah ya peluk bundanya, tuh lihat ayah kamu sama suamimu!" pinta bunda Yasmin.


Aryana kemudian mengurai pelukannya setelah mendengar ucapan sang bunda. Ia melihat ke samping dimana ayah dan suaminya sedang saling berhadapan dengan muka sang ayah hanya tampak datar persis seperti waktu masih berdinas sebagai tentara.


"Ayah!" ucap Aryana yang kemudian berganti memeluk sang ayah.


"Sayang, bagaimana kabarmu, ayah sangat merindukanmu dan juga megkhawatirkanmu," ucap Yudha saat Aryana sudah melepas pelukannya, dan tentu saja itu membuat Fahmi tak suka, meski ayah kandung Aryana sendiri namun ia tak rela istrinya di peluk oleh pria selain dirimya.


"Aku rindu ayah juga, kenapa baru sekarang jenguk," ucap Aryana manja.


"Ayah sibuk, Nak, apalagi DW group semakin besar," ucap Yudha sambil mengusap kepala putrinya yang tertutup hijab.


Fahmi juga memberi salam pada Yasmin namun hanya sekedar sapaan.


"Aryana Sayang, ayo kita segera ajak ayah dan bunda ke mansion kita agar merek bisa beristirahat!" ajak Fahmi.


Yudha dan Yasmin akhirnya ikut bersama Fahmi pulang ke kediaman sang menantu, meski sebenarnya Yudha ingin tinggal di apartemen mereka yang berada di Singapura, karena Yudha sekalian ingin honeymoon kedua dengan sang istri, namun ia harus menghargai ajakan menantunya itu.


Di dalam mobil hanya Yasmin dan Aryana yang mengobrol di jok belakang, sedangkan di depan Fahmi dan Yudha hanya ada keheningan, tak ada pembicaraan apapun diantara dua pria berbeda status itu.


"Huh, untung ayah mertua kalau bukan sudah pasti ku lempar dari mobilku," umpat Fahmi dalam hati.


"Jangan mengumpatku, kalau tak ingin aku bawa pergi istrimu!" ucap Yudha setelah hampir setengah jam diam membisu.


"Ayah, jangan menuduh sembarangan ya!" elak Fahmi meski hatinya merasa heran kenapa ayah mertuaya itu bisa menebak isi pikirannya.


"Tidak usah heran, aku bukan paranormal yang bisa menebak isi hati orang, tapi kau tahu sendiri kan apa profesiku sebelum jadi ceo."


Fahmi hanya diam saja mendengar ucapan ayah mertuanya barusan, ia tak ingin pembicaraan mereka berakhir buruk, sedangkan dua wanita di jok belakang hanta bisa geleng-geleng kepala mendengar percakapan ayah mertua dan menantu yang lebih mirip tom and jerry.


________________________________________


Dah ketemu Fahmi dan keluarganya kan?, jadi


jangan lupa dukungannya ya Like, Vote, Coment, Rate and Favorit


Thank You

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2