Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 98


__ADS_3

Malam semakin larut waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam, namun seorang gadis masih termangu di depan jendela kamarnya yang masih terbuka, matanya menatap langit yang bertabur bintang, malam ini gelap tapi terlihat sangat indah karena adanya cahaya bintang. Andai ada bintang yang bersedia menyinari harinya yang gelap maka ia akan sangat bahagia, tapi apakah akan ada bintang yang bersedia memberinya sedikit cahaya. Gadis itu masih tetap memandang langit dengan tatapan sendu, entah sampai kapan ia akan menjalani harinya seperti sekarang, sebuah ketukam pintu membuatnya menghentikan aktifitasnya memandang langit malam.


Tok tok


"Nay, kau sudah tidur belum?" tanya bunda Nana dari luar pintu.


"Belum, bunda, sebentar," sahut Nayla dari dalam kamar.


Ceklek


"Ada apa, Bunda?, apa Bunda butuh sesuatu?" tanya Nayla.


"Tidak, tadi bunda kebetulan lewat kamar kamu dan melihat lampu kamar kamu masih menyala terang, jadi ibu pikir kamu belum tidur," jawab bundan Nana.


"Nayla memang belum tidur kok, Bunda," ucap Nayla.


"Masih mengerjakan tugas kuliah?" tanya bunda Nana yang di jawab gelengan kepala oleh Nayla.


"Lalu kenapa belum tidur?" tanya bunda Nayla lembut.


"Nggak bisa tidur bunda," jawab Nayla kemudian ia berbalik lalu duduk di tepi ranjang.


"Ada yang kamu pikirkan?" tanya bunda Nana yang ikut duduk di samping Nayla dan membelai rambut panjang gadis itu.


"Aku rindu mama, Bunda," jawab Nayla sendu.


"Mamamu sudah tenang di surga, Nay, tugas kamu sebagai anak yang berbakti hanyalah mendoakan mamamu, terutama setelah selesai shalat, karena hanya itu yang bisa membuat mamamu bahagia. Selain itu kamu juga harus hidup dengan baik, menjadi orang sukses dan satu lagi kamu harus berdamai dengan papamu, dia tidak bersalah, papamu hanya menuruti keinginan dari nenekmu, itupun juga demi kebahagiaan papa kamu termasuk dirimu," ucap bunda Nana menasehati Nayla sambil merengkuh kepala Nayla untuk bersandar di bahunya.

__ADS_1


"Kalau papa masih mencintai almarhum mama kenapa papa mau menikah dengan wanita jadi-jadian itu, dia sama sekali nggak sepadan dengan almarhum mama?" ucap Nayla dengan suara parau menahan tangis.


"Jangan bicara seperti itu Nay, bagaimanapun sekarang mama Galuh adalah mama kamu karena ia adalah istri dari papa kamu, bunda tahu kamu masih sedih kehilangan mama kamu untuk selamanya, tapi kamu nggak bisa seperti ini terus. Papamu selalu menanyakan keadaanmu sama bunda karena kamu tidak pernah mau menghubunginya dan kamu tidak pernah mau bicara dengan papamu, bunda jadi kasihan dengan papamu," ucap bu Nana berusaha memberi pengertian pada Nayla.


"Entahlah, bund, aku nggak tahu harus mikir apa lagi, aku belum siap pulang ke rumah, soalnya kalau di rumah aku rasanya ingin mengambil pistol papa dan meledakkan kepala wanita jadi-jadian itu dengan tanganku sendiri!" ucap Nayla dengan nada penuh kemarahan.


"Astagfirullah, Nay, sadar nduk, eling sama gusti Allah, jangan-jangan karena ini kamu mengikuti kelas menembak dan karate?" ucap bunda Nana kaget dengan reaksi Nayla jika di bujuk menerima mama sambungnya itu. Nayla memang mengikuti club kelas menembak dan karate, bahkan kemarin ia baru saja memegang sabuk hitam, juga kecepatan dan ketepatannya dalam menembak tidak bisa dianggap remeh.


"Itu, memang salah satunya, bund, aku harus menjadi wanita yang kuat, agar aku bisa melindungi diriku sendiri tanpa mengandalkan siapapun termasuk papaku sendiri," ucap Nayla tegas.


Mendengar penuturan keponakannya ini membuat wanita paruh baya bernama Khairina Ambarsari yang sering di panggil bunda Nana itu pun mengelus dada prihatin, hati kecil bunda Nana ada sesuatu yang di sembunyikan Nayla tentang ibu sambungnya yang tidak di ketahui siapapun.


"Nay, saat hatimu sedang gundah dan amarah, berwudhulah agar hatimu menjadi lebih tenang, hilangkan segala pikiran buruk mu pada papa dan mama Galuh!" pinta bunda Nana, kemudian meninggalkan Nayla di kamarnya.


Sepeninggal bunda Nana, Nayla menakupkan kedua tangannya ke wajah, ia tidak tahu harus berfikir apa sekarang. Nayla lalu merebahkab tubuhnya dan memeluk guling kesayangannya, mata Nayla semakin berat dan akhirnya ia terlelap dalam mimpinya.


"Siapa sebenarnya dirimu, huh andai aku tidak di asrama Akpol aku bisa langsung suruh om Felix menyelidikinya," batin Afwi frustasi.


Lama berfikir lama kelamaan Afwi jug memejamkan matanya seperti Nayla, gadis penjual lumpia yang mampu memporak porandakan hatinya yang selama ini dingin seperti gunung es.


Pagi menjelang, setelah sarapan pagi bersama para taruna yang lain. Hari ini para taruna di kelas Afwi akan mendapatkan pembelajaran IT tentang keamanan. Sewaktu Afwi akan memasuki kelas Faisal tiba-tiba merangkulnya dari belakang.


"Hai, Fi muka kamu kusut amat, nggak senang ya dengan pembelajaran hari ini?" tanya Faisal sambil merangkul pundak Afwi.


"Perasaan muka aku biasa aja, mata kamu aja yang siwer," jawab Afwi cuek sambil terus melangkah dan berusaha melepaskan tangan Faisal dari pundaknya.


Sampai di ruang pembelajaran praktek IT, para taruna menempati meja yang di atasnya terdapat komputer, para taruna mengikuti pembelajaran dari pengajar dengan tertib termasuk Afwi dan Faisal. Dua jam pun berlalu, pembelajaran sudah selesai para Taruna keluar dari ruang komputer dengan tertib, mereka di beri istirahat sepuluh menit sebelum masuk ke pelatihan berikutnya dan saat itulah Faisal memberi tahu sesuatu pada Afwi.

__ADS_1


"Fi, kamu tahu nggak, besok sekolah kita bakal kedatangan beberapa pejabat kepolisian poltabes Semarang," ucap Faisal memberi tahu dengan antusias.


"Dari mana kamu tahu, jangan suka bicara sembarangan!, terus apa coba hubungannya pejabat di poltabes denganku?" tanya Afwi kesal karena ucapan Faisal yang aneh itu.


"Tadi aku nggak sengaja lewat kantor administrasi aku mendengar pembicaraan salah satu staf di sana," jawab Faisal.


"Terus kenapa kamu yang heboh, dan apa pula perlunya hal seperti itu disampaikan ke aku?" tanya Afwi datar.


"Eh kulkas begini ya, salah satu dari pejabat kepolisan itu ada pak pak Kombes polisi Mahendra Bagaskara," jawab Faisal.


"Terus apa hubungannya denganku?"


"Eh ini nih, capol yang nggak up yo date, meski di asrama kita tetap harus up to date informasi, Kombes Mahendra ini kabarnya punya anak perempuan yang cantik banget, tapi semenjak ibunya meninggal karena kecelakaan anak perempuan pak Mahendra sudah tak terdengar lagi, keberadaannya seakan misterius," jawab Faisal memberikan info yang dia tahu.


"Terus apa hubungannya putri Kombes Mahendra sama aku, Sal?" tanya Afwi kesal.


"Ya siapa tahu pas pesiar kita bisa beruntung nemuin anaknya pak Kombes Mahendra," jawab Faisal yang membuat sebuah tonyoran mendarat di kepalanya.


"Dasar taruna sableng, aku kira ada hal penting apa ternyata..., dasar," umpat Afwi kemudian berlalu dari hadapan sahabat soplaknya menuju ruang pembelajaran berikutnya


____________________________________


Maaf segini dulu ya readers, dan maaf juga baru bisa up


Please, Like, Vote, Coment, Rate and Favorit


Thank You

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2