
Sampai di rumah Fahmi langsung masuk ke kamar dan langsung membersihkan diri, selesai mandi ia segera memakai pakaian kemudian merebahkan diri di tempat tidur. Fahmi meraba bantal yang ada di sebelahnya, wangi aroma tubuh sang istri masih melekat di sana. Fahmi mengambil bantal tersebut lalu mendekapnya erat, seolah bantal itu adalah istrinya. Saat itulah air matanya tumpah, bagaimanapun ia hanya seorang manusia biasa yang punya ambang batas kesabaran. Sekuat-kuatnya seorang laki-laki jika di hadapkan pada masalah nyawa istri dan anaknya maka hatinya akan luluh lantah tanpa sisa, karena rasa lelah yang mendera akhirnya Fahmi terlelap dengan memeluk bantal tidur milik sang istri tercinta.
Di rumah sakit, tuan dan nyonya Pratama sudah berada di sana, begitu di telepon oleh Yudha, tuan Pratama langsung membatalkan semua acaranya sampai beberapa hari ke depan, ia dan sang istri langsung bertolak ke Singapura dengan jet pribadinya.
"Bagaimana keadaan Aryana dan cucu kami?" tanya tuan Pratama begitu sampai di rumah sakit ME.
"Aryana masih di ruang ICU, sedangkan ketiga cucu kita masih di inkubator karena mereka lahir sebelum waktunya.
"Kenapa bisa lahir sebelum waktunya, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya nyonya Miranda.
"Kami tidak tahu, Fahmi belum bisa menjelaskan banyak hal, dia juga terlalu syok dan lelah," jawab Yasmin.
"Sekarang di mana Fahmi?" tanya tuan Pratama yang sedari tadi belum melihat sang putra.
"Kami memaksanya untuk pulang untuk beristirahat sebentar," jawab Yudha.
"Ngomong-ngomong apa jenis kelamin cucu kami?" tanya tuan Pratama antusias
"Cucu kita, satu perempuan dan dua laki-lak, sejauh ini mereka dalam keadaan sehat hanya sedikit perawatan intensif karena lahir sebelum waktunya.
Mendengat jawaban Yudha, tuan dan nyonya Pratama menangis haru, penantian panjang mereka memiliki cucu dari putra satu-satunya sudah terkabul dan langsung kembar tiga, meskipun sang menantu harus berjuang diantara hidup dan mati.
"Cucu kita kembar, Pi, laki-laki dan perempuan," ucap nyonya Miranda sambil menyeka air matanya.
Jika di depan ruang ICU keluarga Dewantara dan keluarga Pratama sedang merasakan bahagia namun juga sedih karena Aryana harus masuk ruang ICU karena koma, di ruang lain seorang wanita sedang memeriksakan kandungannya.
"Bagaimana kandungan saya, Dok?" tanya wanita itu.
"Kandungan anda baik, tapi anda memiliki riwayat darah tinggi, juga kelainan di rahim anda. jika kami tidak hati-hati maka akan membahayakan nyawa bayi anda bahkan nyawa anda sendiri," jelas dokter kandungan tersebut yang ber tag name Leo.
"Jadi saya tidak bisa melahirkan secara normal, Dok?" tanya wanita tersebut.
"Bisa tapi jika anda mengingkan proses kelahiran normal, kemungkinan besar salah satu dari kalian tidak akan selamat."
Mendengar penjelasan dokter tersebut, wanita tersebut hanya bisa menunduk dan meneteskan air matanya. Bagaimana nasib mempermainkannya, hidup sebatangkara setelah kedua orang tuanya meninggal, meneruskan kuliah dengan kerja paruh waktu di cafe. Setelah lulus kuliah di terima bekerja sebagai seorang sekretaris ceo, namun baru beberapa bulan dia bekerja, ia harus mengalami hal yang mengerikan di sepanjang sejarah hidupnya.
"Saya tahu perasaan anda, tapi sebagai seorang dokter saya wajib menjelaskan tentang keadaan pasien yang sebenarnya, anda bisa berdiskusi dulu dengaan suami, atau keluarga anda. Mungkin dengan berbicara dengan orang terdekat kita, beban kita bisa terasa ringan," ucap dokter Leo, sedikit memberi saran pada pasien di depannya ini yang sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.
"Terima kasih dokter, kalau begitu saya permisi," ucap wanita itu setelah selesai memeriksakan kehamilannya dan berkonsultasi dengan dokter Leo.
Sampai di luar ruangan wanita hamil itu terduduk di kursi tunggu, tangannya tanpa sadar mengusap perutnya yang kian membesar.
"Apa yang harus mama lakukan, Nak, bagaimana kalau saat melahirkanmu mama tak selamat. Mama tak mungkin menyerahkan kamu pada papamu karena dia tak pernah menginginkan kamu, sedangkan mama sudah tidak punya siapa-siapa lagi," monolog wanita tersebut sambil mengelus perutnya yang semakin membesar.
.
__ADS_1
Di rumah Fahmi baru saja bangun dari tidurnya, rasa lelah fisik dan mental membuat tidurnya sangat nyenyak, waktu menunjukkan pukul lima sore dan Fahmi hampir saja melewatkan shalat ashar. Ia bergegas bangun dan langsung melaksanakan shalat ashar, tak lupa ia mendoakan istrinya yang sedang berjuang antara hidup dan mati, juga ketiga anaknya yang masih dalam perawatan intensif oleh tim medis. Seusai shalat tiba-tiba perutnya merasa lapar sejak siang tadi ia tak makan apapun.
"Perutku rasanya lapar, oh iya sejak siang tadi aku belum makan," gumam Fahmi dalam hati, kemudian ia segera turun ke bawah mencari bibi Mey.
"Bibi Mey!" panggilnya.
Bibi Mey yang merasa di panggil segera mendekat pada majikannya yang sedang duduk di ruang makan.
"Iya tuan, ada yang bisa di saya bantu?"
"Buatkan aku makanan!"
"Baik tuan, tapi dimana nyonya Aryana tuan sejak pulang saya belum melihat nyonya?"
"Maaf, Bi saya sampai lupa mengabarkan kalai istriku sudah melahirkan tadi siang."
"Syukurlah nyonya sudah melahirkan, bagaimana keadan nyonya dan bayinya, Tuan?"
"Alhamdulillah ketiga bayi kami selamat, hanya saja istriku masih belum sadar."
"Ya Tuhan, semoga nyonya baik-baik saja, kalau begitu saya akan segera siapkan makanan untuk tuan agar tuan selalu sehat dan bisa menjaga nyonya Aryana."
"Terima kasih doanya, Bi."
Kemudia bibi Mey segera ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk Fahmi. Tak lama beberapa menu makanan terhidang dan salah satu menu yang di sajikan bibi Mey adalah sayur soup iga sapi kesukaan sang istri. Fahmi menatap nanar sayur sup itu, rasanya satu suappun tak sanggup ia telan ketika menginggat kondisi Aryana yang belum sadarkan diri, namun bagaimanapun Fahmi harus makan agar ia punya tenaga untuk menjaga sang istri dan ketiga buah hatinya.
"Huh, aku harus bisa menelan makanan ini, aku harus tetap sehat demi istri dan anak-anakku," gumam Fahmi dalam hati berusaha menyemangati dirinya sendiri, kemudian ia mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Selesai makan, Fahmi pergi ke kamar membawa beberapa pakaiannya karena ia berniat menginap di rumah sakit untuk menjaga istrinya. Saat Fahmi selesai mengepak pakaiannya ponselnya berdering, terpampag sana nama papinya.
Fahmi
"Assalamualaikum Pi."
Tuan Pratama
"Waalaikumsalam, papi sudah di rumah sakit, kamu mau balik ke rumah sakit jam berapa?"
Fahmi
"Ini aku mau berangkat ke rumah sakit, papi mami sudah makan belum?"
Tuan Pratama
"Belum, jangan pikirkan papi dan mami, kami nanti akan makan dengan mertua kamu, cepat kamu kesini!"
__ADS_1
Fahmi
"Iya, Pi ini aku mau berangkat, Assalamualaikum.
Tuan Pratama
"Waalaikumsalam."
Setelah menutup panggilan teleponnya Fahmi segera menuju keluar rumah menuju mobil, sang supir sudah menunggunya dari tadi. Dalam kondisi seperti ini memang ia harus memakai supir karena fisiknya yang lelah dan pikirannya yang kacau.
Setelah tigapuluh menit Fahmi sampai di rumah sakit, Fahmi langsung menuju ruang ICU dimana istrinya di rawat. Di sana sudah ada kedua orang tuanya sedang berbicara dengan ayah Yudha.
"Assalamualaikum," ucap Fahmi
"Waalaikumsalam," jawab keempat orang yang berada di sana bersamaan.
"Kamu sudah kelihatan lebih baik daripada tadi," ucap Yudha saat melihat penampilan sang menatu lebih fresh.
"Iya, Yah, maaf tadi aku ketiduran di rumah," ucap Fahmi merasa tak enak meninggalkan kedua mertuanya di rumah sakit terlalu lama meski bagi sang mertua itu bukan suatu masalah.
"Itu justru bagus kamu bisa istrirahat, jadi bisa maksimal jaga istri kamu," ucap papi Pratama.
"Apa keluarga yang lain sudah di beri tahu?" tanya Fahmi.
"Kalau keluarga Dewantara semua sudah tapi kami tidak menyampaikan keadaan Aryana yang sebenarnya, termasuk pada Afwa dan Afwi, kami tak ingin mereka mencemaskan Aryana dan akhirnya menambah beban pikitan mereka, terutama kedua kakak kembar Aryana karena mereka sedang menempuh pendidikan di militer, kami takut mereka panik dan malah jadi kepikiran. Meski kami tahu Afwa dan Afwi pasti bisa merasakannya," jawab Yudha.
"Kalau kakakmu Rendy, dia sudah tahu karena waktu papi mau berangkat ke sini, semua pekerjaan Rendy yang handel untuk sementara," sahut papi Pratama.
"Aku minta tolong rahasiakan kedaan Aryaba yang sebenarnya dari keluarga lain, aku tidak mau mereka kepikiran soal Aryana!" pinta Fahmi.
"Kami juga memikirkan hal yang sama, biarlah hanya kita yang tahu tentang keadaan Aryana yang sebenarnya," ucap Yudha menyetujui permintaan sang menantu.
"Pak Yudha, nyonya Yasmin, sebaiknya kita cari makan dulu, biar Fahmi yang berjaga, kami tak mau anda malah sakit!" pinta papi Pratama yang di iyakan oleh Yudha dan Yasmin.
Empat orang yang berstatus besan itu lalu meninggalkan Fahmi sendiri di ruang tunggu yang berada di depan kamar ICU. Kembali Fahmi hanya bisa memandang sang istri yang terbaring lemah dari balik jendela kaca.
"Sayang, kapan kamu bangun, tak inginkah kau melihat ketiga anak kembar kita, aku merindukanmu," ucap Fahmi dalam hati sambil meneteskan air mata.
_______________________________________
Please Like, Vote, Coment, Rate and Favorit
Thank You
Bersambung...
__ADS_1