
Jam pulang sekolah pun tiba, sesuai janji Fahmi kemarin. Dokter kece itu menunggu Aryana di depan gerbang sekolah dengan pakaian casualnya. Fahmi meski sudah berumur masih sangat keren. Kejadian menghebohkan di depan gerbang sekolah Aryana, siapa lagi kalau bukan om kece kesayangan Aryana sedang berdiri bersandar di mobil sport keluaran terbaru yang hanya bisa dimiliki artis papan atas dan para konglomerat. Fahmi memasukan tangannya ke dalam sakunya dengan gaya coolnya.
"Oh OMG, ada oppa nyasar ke sekolah kita gaes," ucap salah seorang cewek pada beberapa temannya yang sudah keluar dari gerbang sekolah.
Banyak siswa cewek yang berkerumun memperhatikan Fahmi yang sedang berdiri cool di depan mobil sportnya. Aryana akhirnya keluar kelas dan berjalan menuju gerbang sekolah, ia merasa heran kenapa banyak siswa cewek yang berkerumun di depan gerbang.
"Ken, itu para siswa pada kenapa sih berkerumun di depan gerbang sekolah?" tanya Aryana pada Niken.
"Nggak tau, mungkin ada kecelakaan di depan jalan depan sekolah," jawab Niken.
"Daripada kepo kita lihat aja yuk!" ajak Franda.
Aryana, Niken, dan Franda lalu ikut bergabung dengan teman-teman sekolahnya yang lain, betapa terkejutnya Aryana setelah tahu siapa yang menjadi pusat perhatian teman-teman sekolahnya.
"Om Fahmi," batin Aryana terkejut.
Fahmi menyapukan pandangannya ke kerumunan para siswa perempuan yang memperhatikan dirinya. Senyumnya mengembang ketika melihat gadis pujaannya berdiri diantara teman-temannya. Fahmi langsung berjalan menghampiri Aryana, para siswa perempuan sudah histeris sedangkan Aryana hanya berdiri mematung dengan hati yang dag dig dug.
"Hai, Sayang sudah pulang, yuk jalan!" ajak Fahmi yang langsung mengandeng tangan Aryana menuju mobilnya, tentu saja hal itu membuat para siswa perempuan yang berkerumun di situ terperangah termasuk Niken dan Franda.
"Kamu berhutang penjelasan pada kami, Ana" ucap Niken sambil menatap sahabatnya yang langsung di gandeng cowok kece badai yang sudah menggemparkan sekolahnya. Andai mereka tahu siapa Fahmi sebenarnya maka mereka tak hanya histeris tapi juga akan pingsan.
Saat sudah masuk ke dalam mobil, Aryana sedikit cemberut.
"Kenapa cemberut, Sayang?" tanya Fahmi sambil memasangkan seat belt pada Aryana.
"Kenapa sih om keluar mobil?" tanya Aryana sedikit kesal.
"Kenapa hemm?, kamu cemburu?" goda Fahmi
"Aku nggak cemburu, cuma om terlalu menarik perhatian teman-temanku, sekolahanku jadi heboh, besok semua orang pasti kepo sama aku," jawab Yasmin.
"Bilang aja aku pacar kamu, selesai," ucap Fahmi santai sambil mengemudikan mobilnya.
"Sudah jangan cemberut, kita ke mall dulu ya ganti pakaian kamu," ucap Aryana.
"Serah Om aja lah," ucap Aryana sedikit kesal, namun Fahmi malah senang karena Aryana terlihat lucu, Fahmi tau gadisnya cemburu tapi tak mau ngaku.
Kini Aryana dan Fahmi sudah sampai di mall, dan tentu saja mall ini adalah milik Pratama group.
"Ayo Sayang kita masuk!" ajak Fahmi
"Kita mau beli apa Om?" tanya Aryana.
__ADS_1
"Ya beli bajulah buat kamu, masa mau jalan-jalan pakai seragam sekolah," jawab Fahmi.
Aryana pun menurut, apa yang dikatakan om nya benar, tak mungkin jalan-jalan dengan seragam sekolah. Mereka lalu masuk ke toko yang menjual baju untuk anak muda seusia Aryana. Begitu masuk ke dalam toko, beberapa karyawan toko terpana pada sosok Fahmi. Manajer toko berjalan terburu-buru ketika menerima telpon dari GM mall tersebut kalau sang pemilik mall akan datang berkunjung namun ia tak.mengira bahwa tokonya lah yang pertama di datangi sang pemilik mall.
"Tuan Fahmi apa kabar, suatu kehormatan bagi kami, anda bersedia mengunjungi toko kami," ucap sang manajer toko penuh hormat.
"Kabar saya baik, tolong carikan pakaian wanita untuk gadisku ini!" pinta Fahmi pada manajer toko, sang manajer lalu memerintahkan karyawannya untuk melayani Aryana.
"Mari nona, ikut saya!" pinta karyawan terebut, Aryanapun menurut saja mengikuti arahan karyawan toko tersebut. Sedangkan Fahmi duduk di sofa khusus yang ada di toko.
Beberapa karyawan wanita sesekali mencuri pandang pada Fahmi, sambil berbisik-bisik dengan temannya, mereka bertanya-tanya siapa gerangan gadis SMA yang diajak Fahmi.
Tak lama Aryana sudah keluar dengan baju yang ia beli ditoko tadi, penampilan Aryana lebih terlihat dewasa dari usia yang sebenarnya.
"Kamu cantik sekali sayang, ucap Fahmi sambil menciun kening Aryana.
Pemandangan itu benar-benar membuat para karyawan dan manajer toko melongo, pasalnya tak pernah terdengar kabar putra mahkota Pratama group dengan wanita manapun dan kini tiba-tiba membawa gadis SMA ke publik dan bersikap sangat mesra.
"Om, jangan begitu, nanti mereka salah sangka padaku!" tegur Aryana.
"Salah sangka bagaimana maksudmu?" tanya Fahmi tak mengerti.
"Nanti aku dikira, simpanan om-om, kalau aku dikira anak Om masih mending," ucap Aryana cemberut.
Mereka berdua lalu keluar dari mall menuju sebuah restoran ternama, Fahmi sudah memesan sebuah privat room untuk mereka.
"Mau makan apa Sayang?" tanya Fahmi setelah masuk ke dalam privat room.
"Aku makan ini aja Om," jawab Aryana sambil menunjuk beberapa menu.
Mereka berbincang dari hati ke hati setelah pelayan yang mencatat pesanan mereka pergi.
"Sayang, aku sudah bilang pada bundamu bahwa setelah lulus aku akan melamarmu, dan bundamu sudah memberi lampu hijau, tinggal ayahmu, meski begitu kamu nggak boleh lirik cowok lain!" pinta Fahmi.
"Iya," jawab Aryana singkat membuat Fahmi menjadi gemas.
"Kok cuma iya sih Sayang, irit amat, mirip ayah kamu banget," keluh Fahmi.
"Memang Om pingin aku bicara panjang lebar seperti apa?" tanya Aryana
"Ya tambahain ngomong apalah gitu," jawab Fahmi.
Mereka akan melanjutkan pembicaran namun terhenti karena pelayan mengantarkan makanan. Setelah pelayan pergi, Aryana langsung menyantap hidangan yang sudah ia pesan, tak ada sikap jaim saat Aryana makan membuat Fahmi terlihat keheranan.
__ADS_1
"Sayang, kamu sudah berapa hari nggak makan?" tanya Fahmi.
"Setiap hari aku makan, kenapa?" jawab Aryana yang balik bertanya.
"Kamu makan seperi orang yang beberapa hari nggak makan Yang," jawab Fahmi.
"Aku lagi lapar ya Om, delapan jam menerima pelajaran exsak itu menguras energi, belum makan siang sudah digelandang ke mall," jawab Aryana membuat Fahmi terkejut.
"Astaga Sayang kenapa nggak bilang kalau kamu tadi lapar, tahu gitu tadi kita makan dulu aja sebelum ke mall," ucap Fahmi menyesal.
"Sudah nggak apa-apa kok Om, yang penting aku sudah makan, cuma nahan lapar satu jam lebih nggak bakal buat aku mati meski akau sakit kelainan jantung," ucap Aryana datar setelah meminun segelas air putih, ucapannya barusan membuat dadak Fahmi terasa sesak, ia langsung bergeser duduk di sebelah Aryana dan langsung memeluknya.
"Maafkan Om, Sayang, Om belum menemukan donor jantung untukmu, Om kurang baik menjagamu," ucap Fahmi terdengar parau sambil memeluk Aryana.
"Om, sudahlah, aku akan baik-baik saja, aku akan kuat, aku tak akan mati dulu sebelum membuat Om Fahmi bahagia, aku tak akan mati sebelum membuat Om menjadi ayah dari anakku," ucap Aryana sambil mengelus punggung Fahmi yang sedang posisi memeluknya.
Mendengar pengakuan Aryana, Fahmi menguraikan pelukannya, ia memandang lekat Aryana dengan penuh cinta, rasanya tak percaya gadisnya mengucapkan hal seperti itu padanya.
"Sayang, sungguhkah kamu bersedia melahirkan anak-anakku?" tanya Fahmi yang dijawab anggukan dan senyuman oleh Aryana.
"Tapi Om, aku sampai sekarang belum kenal papi dan mami Om Fahmi, apa mereka tak keberatan, aku menjadi pendamping hidup Om?" tanya Aryana.
"Mulanya mereka kaget, dan meragukan apa kamu bisa menjadi istri Om, namun Om sudah meyakinkan mereka bahwa, mereka bisa menerima keadaanmu apa adanya," jawab Fahmi meyakinkan Aryana meski Fahmi harus sedikit berbohong karena sang mami sebenarnya kurang menyetujui Aryana sebagai menantunya karena kelainan jantung yang di derita Aryana.
"Semoga apa yang Om katakan benar, kalau sampai aku tahu orang tua Om nggak setuju sama aku, aku memilih mundur, aku cukup tau diri, Om berhak bahagia dengan wanita yang lebih segalanya dariku," ucap Aryana santai dan terlihat dia cukup tergar.
Aryana sangat menyadari kondisinya, jadi dia tidak akan berharap lebih pada pria mananapun, termasuk keluarganya sendiri. Aryana belajar ingin berdiri di atas kakinya sendiri. Di luar sana Aryana sudah banyak melihat orang-orang yang memiliki keterbatasan fisik namun memiliki semangat juang yang tinggi dalam bertahan hidup.
Mendengar ucapan sang kekasih Fahmi merasa sangat bersalah telah membohongi Aryana namun ia melakukan itu karena ia tak ingin kehilangan Aryana yang ia tunggu selama tujuh belas tahun. Ia akan berjuang agar memperoleh restu maminya dan restu Yudha.
"Sayang, jangan ngomong gitu dong, kita akan berjuang sama-sama, masa gitu aja nyerah, aku aja nggak nyerah untuk mendapatkan restu ayahmu," ucap Fahmi.
"Aku hanya ingin berfikir realistis dan simpel, aku tuh sudah sakit kelainan jantung, memikul penyakit ini saja sudah berat jadi aku nggak mau menambah beban hatiku yang harus sakit menerima mertua yang tidak menyukai diriku, aku ingin menikmati hidupku dengan kebahagiaan sebelum Allah menginginkan aku pulang ke rumah-Nya. Aku pingin pulang ke rumah Allah dengan tenang, damai tanpa meninggalkan luka pada siapapun," ucap Aryana dengan ekspresi biasa saja namun lagi lagi Fahmi memeluk Aryana dan menangis ia sungguh tak tahan mendengar curahan hati gadis kecilnya yang berusaha tegar di luar tapi rapuh di dalam.
_________________________________________
Author ikut nyeksek pas nulis part ini
Please Like, Vote, Coment, Rate and Favorit
Thank You
Bersambung...
__ADS_1