Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 114


__ADS_3

Fahmi akhirnya menepati janjinya untuk menemani Aryana membeli perlengkapan bayi yang masih kurang, kehamilan Aryana baru menginjak di minggu pertama bulan ke sembilan, hpl Aryana di perkirakan masih sekitar tiga minggu lagi. Aryana begitu bersemangat ketika memasuki toko khusus perlengkapan" bayi, sampai ia tak sadar sedang hamil.


"Sayang...,hati-hati jalannya jangan buru-buru!" ucap Fahmi ketika melihat Aryana berjalan lebih cepat untuk memasuki sebuah toko pakaian bayi.


"Wah..., ini bagus-bagus Honey, rasanya jadi pingin borong," ucap Aryana dengan mata berbinar sambil memilih-milih baju bayi.


"Beli seperlunya saja, nanti dedeknya kan pertumbuhannya cepat, jadi sayang kalau banyak yang tidak terpakai!" pinta Fahmi sambil membelai lembut kepala bumilnya yang tertutup hijab.


"Iya, papa, bawel banget sih," ucap Aryana sambil masih memilih-milih pakaian bayi.


Setelah satu jam memilih baju perlengkapan bayi, Fahmi dan Aryana sekarang sedang berada di meja kasir untuk melakukan pembayaran. Saat Fahmi sedang melakukan pembayaran, Aryana yang berada di sampingnya tiba-tiba mencengkram kuat lengan Fahmi.


"Astagfirullahaladzim," ucap Aryana sambil mencengkram kuat lengan sang suami yang berada di sampingnya, saat rasa nyeri tiba-tiba menyerang perut bagian bawahnya.


"Sayang!, ada apa?" pekik Fahmi terkejut.


"Ho-Honey, perutku sa-sakit," jawab Aryana sambil memejamkan matanya karena menahan sakit.


"Kamu mau melahirkan?"


Pertanyaan Fahmi hanya di balas anggukan oleh Aryana karena ia sudah tidak bisa menahan sakit.


"Apa!, bukannya hplnya masih tiga minggu lagi?" tanya Fahmi bodoh, dia seorang dokter seharusnya tahu kalau pergeseran hpl itu hal biasa, tapi karena panik ia malah melontarkan pertanyaan seperti itu.


"Ya nggak tahu, kenapa tanya aku sih, aaa...sakit banget ini," ucap Aryana sambil mencengkram tangan Fahmi. Petugas kasir pun juga ikut bingung melihat pelanggannya akan melahirkan di toko nya.


"Ayo Sayang kita ke rumah sakit!" ajak Fahmi yang langsung mengendong tubuh Aryana ala bridal style.


"Pengawal suruh supir siapkan mobil di lobby! perintah Fahmi pada dua pengawalnya yang menjaganya di luar toko.


"Baik Tuan."


Adegan Fahmi mengendong Aryana sampai ke lobby mall menjadi pemandangan yang menarik bagi beberapa pengunjung. Sampai di lobby, Fahmi langsung menuju pintu keluar dengan segala pengamanan, ia langsung mendudukkan istrinya ke dalam mobil.


"Ayo pak jalan!"


"Baik Tuan"


"Honey, sakit sekali aku tidak tahan," ucap Aryana sambil mencengkram lengan suaminya.


"Sabar ya Sayang, kamu pasti kuat sebentar lagi sampai."


"Aku takut, jangan tinggalkan aku!" ucap Aryana sambil menahan sakit di perut dan pinggulnya.


"Yang kuat Sayang sebentar lagi sampai."


Tak lama mereka sudah sampai di rumah sakit ME, dokter Sarah yang sudah di hubungi Fahmi tadi sudah siap di ruang bersalin.


"Bagaimana keadaan istri dan anakku dokter Sarah?, kenapa lahir sekarang bukankah hplnya tiga minggu lagi? tanya Fahmi dengan tidak sabaran.


"Tenang dokter Fahmi jangan panik!, anda juga seorang dokter, anda pasti paham bahwa hpl itu bisa maju ataupun mundur, apalagi untuk kehamilan kembar sangat mungkin akan maju satu atau dua bulan dari waktu normalnya, jadi tenang saja, sekarang tanda tangani dulu berkas operasi cesar yang akan aku lakukan pada istri anda!" pinta dokter Sarah menyerahkan sebuah berkas.


Meski sedikit ragu akhirnya dengan tangan gemetar menandatangani berkas operasi cesar sang istri, entah kenapa hatinya tak tenang seolah akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

__ADS_1


"Ya Allah semoga apa yang aku lakukan ini benar, semoga tidak terjadi sesuatu dengan istri dan anak hamba ya Allah," doa Fahmi dalam hati.


Ketika Fahmi melihat dokter Sarah akan memasuki ruangan, ia langsung menemui dokter cantik tersebut.


"Dokter Sarah!, apa boleh aku menemani istriku berjuang di dalam sana?" tanya Fahmi penuh harap.


"Boleh, silahkan, tapi dokter Fahmi harus kuat dan jangan berisik sehingga menggangguku untuk menolong istri dan anak anda!"


Setelah mendapat persetujuan dokter Sarah, Fahmi memasuki ruang operasi, di sana ia melihat sang istri sudah terbaring di meja operasi. Aryana hanya mendapatkan bius lokal jadi ia masih bisa melihat dan berbicara. Melihat sang suami mendekat padanya, bibir Aryana menyunggingkan senyuman.


"Honey, jangan sedih aku pasti baik-baik saja, kalau kamu nggak kuat, kamu tunggu di luar saja!" ucap Aryana sambil tersenyum pada Fahmi.


"Aku kuat, Sayang, aku akan selalu di samping kamu, I Iove you," ucap Fahmi lalu mendaratkan ciuman di seluruh wajah istrinya membuat tim medis yang bertugas menjadi baper.


"Nyonya Fahmi saya akan mulai operasinya, anda bisa baca doa terlebih dahulu!" pinta dokter Sarah.


Setelah beberapa saat, terdengar suara bayi pertama, oek...oek..., selang lima menit terdengar tangisan bayi kedua, selang tujuh menit terdengar kembali suara tangisan bayi ketiga.


"Selamat dokter Fahmi anak anda dua putra dan satu orang putri, bayi anda yang pertama adalah perempuan, kedua dan ketiga adalah laki-laki," ucap dokter Sarah.


Mendengar penuturan dokter Sarah Fahmi menangis haru, apalagi ketika melihat ke tiga anaknya berada dalam gendongan tiga orang perawat.


"Tunggu kami bersihkan dulu baru nanti dokter Fahmi bisa mengadzani," ucap dokter Sarah.


Fahmi mengangguk mengerti, ia kembali pada sang istri yang masih mendapat perawatan pasca melahirkan.


"Honey, bagaimana anak-anak kita?" tanya Aryana lemas.


"Jangan menangis, Honey, aku dan kamu sudah menjadi laki-laki dan perempuan yang sempurna, aku mohon jaga anak-anak kita didik dia menjadi anak yang sholeh dan sholehah agar bisa menjadi aset kita di akhirat kelak. Honey, aku mengantuk, aku sangat lelah, aku ingin tidur sebentar," ucap Aryana kemudian mata wanita yang baru saja menyandang gelar seorang ibu itu pun tertutup disusul nafasnya yang semakin melemah, tentu saja hal itu membuat Fahmi panik.


"Dokter!, kenapa dengan istriku kenapa dia malah tertidur?"


Dokter Sarah segera memeriksa keadaan Aryana, kebetulan perut Aryana sudah selesai di jahit.


"Dokter sepertinya pasien pendarahan juga denyut jantungnya mulai melemah, bahkan hampir hilang," ucap salah seorang perawat.


Mendengat perkataan perawat tadi, Fahmi langsung beranjak dari sisi kepala istrinya, ia berpindah tepat di depan tubuh Aryana, Fahmi memperhatikan layar EKG.


"Sayang... ayo buka matamu, bertahanlah!" ucap Fahmi namun nafas Aryana semakin melemah dan akhirnya bunyi tit... dan gambar garis lurus terlihat di layar EKG. Melihat semua itu Fahmi langsung melakukan CPR dengan alat kejut jantung yang sudah di siapkan sebelumya.


"Sayang, aku mohon bertahanlah demi anak-anak kita, jangan tinggalkan aku, ayo Sayang aku mohon!" ucap Fahmi sambil melakukan proses CPR pada istrinya sendiri.


Dokter Sarah membiarkan dokter Fahmi melakukannya karena dokter Fahmi adalah sepesialis jantung, dan juga suami pasien para tim medis ikut berkaca-kaca melihat perjuangan seorang suami yang berusaha membuat istrinya tetap hidup. Dokter Sarah bahkan sampai menangis melihat bagaimana dokter Fahmi menangani istrinya.


Sedangkan di tempat lain, Aryana berada di bawah pohon yang rindang dan di kelilingi banyak kupu-kupu, ia tersenyum sambil bermain dengan kupu-kupu itu, sampai ada suara beberapa orang anak memanggilnya mama.


"Mama...mama...!, mama di mana jangan tinggalkan kami ma, kami sayang mama."


"Suara anak-anak, apa di sini juga anak-anak, tapi di mana mereka, aku hanya mendengar suaranya saja," monolog Aryana dalam hati sambil mencari sumber suara namun ia sama sekali tak melihat wujud anak-anak yang mencari mamanya.


"Kau cari apa, Nak?" tanya seorang nenek tua yang tiba-tiba berada di sampingnya.


"Nenek siapa?, kenapa berada di sini?" ucap Aryana yang malah balik bertanya pada nenek tersebut.

__ADS_1


"Aku memang tinggal di sini, tapi kamu kenapa berada di sini?"


"Aku tidak tahu, tiba-tiba aku di sini, tapi aku suka tempat ini tenang dan damai, sampai aku mendengar suara anak-anak mencari mamanya. Aku berusaha mencari tapi tidak ketemu."


"Kau tak akan menemukan anak-anak itu di sini, karena mereka tidak berada di sini," ucap nenek tersebut.


"Lalu kenapa aku bisa mendengar suara mereka?"


"Karena suara anak-anak yang kau dengar itu adalah sura anak-anakmu," jawab nenek tersebut.


"Apa anak-anakku?, mana mungkin, aku masih muda dan aku tak punya suami bagaimana aku bisa tiba-tiba punya anak?"


"Percayalah mereka adalah anak-anakmu mereka membutuhkanmu, kau harus segera kembali!" pinta nenek tersebut.


"Tapi aku suka di sini."


"Iya, kau akan di sini tapi tidak sekarang, kembalilah, Nak anak-anakmu sudah menunggumu!"


"Bagaimana harus kembali, ke sini saja aku tak tahu caranya?"


"Lihatlah ada dua pohon yang berdampingan itu, kamu berjalan lewatlah di antara kedua pohon itu maka kau akan bisa kembali pada anak-anakmu!" tunjuk si nenek pada dua buah pohon yang berdiri berdampingan.


"Baiklah terima kasih, Nek, aku pergi," ucap Aryana kemudian berjalan melewati jalan yang di tunjukkan si nenek misterius tadi.


Fahmi sudah terkulai lemas, usahanya menolong sang istri gagal, monitor EKG sudah menunjukkan bahwa sang istri sudah tak bernyawa lagi.


"Sayang bangun!, aku tidak akan memaafkanmu kalau kamu pergi, bagaimana kau tega meninggalkanku dan anak-anak kita, aku tidak ridho, kamu harus bangun, Sayang ayo buka matamu!" ucap Fahmi sambil mengguncang-guncang kan tubuh sang istri.


"Dokter Fahmi, ikhlaskan nyonya Aryana, kalau kamu seperti ini justru malah menyakitinya, Tuhan lebih mencintai nyonya Aryana," ucap dokter Sarah sambil terisak.


"Dia tega sekali padaku, Sarah," ucap Fahmi parau.


Dalam keadaan masih tegang dan berduka, mesin EKG yang masih tersambung dengan tubuh Aryana tiba-tiba berbunyi.


"Dokter Sarah, mesinnya bunyi, lihat ini!" pekik seorang perawat yang mulanya akan melepas alat medis yang terpasang di tubuh Aryana.


Mendengat pekikan perawat, dokter Sarah dan dokter Fahmi langsung menghambur mendekat pada tubuh Aryana. Dokter Sarah langsung memeriksa Aryana, memastikan keadaanya.


"Dokter Fahmi ini keajaiban, nyonya Aryana telah kembali, tapi kemungkinan ia akan mengalami koma, jadi aku dan dokter Nick akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui berapa lama koma yang di alami istri anda, sekarang biarkan kami menyelesaikan tugas kami, setelah ini nyonya Aryana akan kami tempatkan dulu di ruang ICU, dan lebih baik dokter Fahmi keluar dan mengadzani bayi-bayi sekalian proses skin to skin karena kondisi nyonya Aryana tak mungkin melakukan hal tersebut!" ucap dokter Sarah.


"Terima kasih, dokter Sarah, yang terpenting istriku masih bisa hidup di sisiku bagaimanapun keadaanya," ucap dokter Fahmi kemudian melangkah gontai keluar dari ruang operasi.


Saat sampai di luar Fahmi sangat terkejut ketika melihat kedua mertuanya sudah berada di depan ruang operasi sambil menatapnya seolah menuntut banyak penjelasan.


________________________________________


Terjawab kan jenis kelamin tripletnya Aryana, author cepetin aja lahirannya soalnya para aunty reader sudah pingin gendong ponakan.


Please, Like, Vote, Coment, Rate and Favorit


Thank You


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2