Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 220. Feeling Aryana


__ADS_3

Makan malam atas undangan Niko sudah selesai, keluarga Fahmi berbincang sebentar dengan Niko sebelum berpamitan untuk pulang.


"Tuan Fahmi, saya perhatikan wajah Alesya sedikit berbeda dengan ketiga saudaranya, terutama matanya yang berwarna hazel?" tanya Niko saat keempat anaknya sibuk melihat ikan koi yang ada di dalam kolam, jadi mereka tak mendengar pertanyaan Niko.


"Alesya secara fisik memang sedikit berbeda dengan ketiga saudaranya, namun dia adalah anak kami," jawab Fahmi tanpa bersedia menjelaskan siapa Alesya karena hal itu adalah rahasia keluarganya yang harus tersimpan rapat.


"Mata Alesya mengingatkan saya pada seseorang," ucap Niko sendu sambil matanya menatap nanar Alesya yang sedang tertawa bersama ketiga saudaranya.


"Oh, Ya, dia pasti seseorang yang spesial," tebak Fahmi.


"Anda benar, seseorang itu sangat istimewa dan sekarang saya hanya bisa menyimpan dirinya dalam kenangan karena ia sudah bahagia di surga bersama Tuhan."


"Maaf, saya tidak tahu," ucap Fahmi tak enak.


"Tidak apa-apa, Tuan, saya berharap keluarga anda selalu sehat dan bahagia," ucap Niko sambil tersenyum.


Fahmi memanggil anak-anaknya agar mendekat dan bersalaman dengan Niko untuk pamit pulang. Niko dengan senang hati menyambut tangan-tangan mungil yang menyalami dan mencium punggung tangannya dengan takzim. Saat Alesya yang menjabat tangannya, Niko menundukkan tubuhnya agar sejajar dengan putri angkat Fahmi itu. Tangannya terulur membelai kepala Alesya dan menatapnya dengan sayang. Ingin sekali Niko memeluk Alesya namun ia berusaha menahan diri, ia tak ingin Fahmi dan Aryana curiga padanya.


"Alesya harus selalu nurut dengan papa dan mama, juga harus rukun dengan saudara-saudara Alesya. Paman selalu berdoa agar Alesya sekeluarga selalu bahagia," ucap Niko sambil tersenyum namun hatinya menahan sesak luar biasa.


"Terima kasih paman, Lesya akan selalu ingat pesan Paman, Lesya juga akan berdoa untuk Paman agar Paman selalu bahagia juga," ucap Alesya dengan suara yang lucu dan mengemaskan membuat Niko benar-benar ingin membawa Alesya pulang.


"Anak pintar, semoga kamu selalu bahagia dan dalam lindungan Tuhan," ucap Niko tulus dan entah kenapa mendengar ucapan Paman di depannya ini Alesya langsung memeluk Niko.


Tentu saja Niko yang mendapat pelukan dadakan sangat terkejut sekaligus senang, bahkan Niko hampir menangis saat Alesya memeluknya.


"Ya Tuhan bolehkah aku memeluk Alesya, rasanya seperti memeluk putri kandungku sendiri," batin Niko dalam hati.


.


Di kediaman Fahmi, anak-anak mulai turun dari mobil dan berjalan menuju rumah disusul Fahmi dan Aryana di belakang mereka.


"Anak-anak segera masuk kamar dan tidur, jangan lupa cuci tangan, kaki dan gosok gigi!" pinta Fahmi ketika mereka sudah memasuki rumah.

__ADS_1


"Ganti baju juga.!" tambah Aryana.


"Iya, Mama," jawab keempat anak itu kompak.


"Honey, aku ke kamar anak-anak dulu, aku akan membantu dan mengawasi mereka agar segera istirahat."


"Ya Sayang, aku tunggu di kamar jangan lama-lama," ucap Fahmi lalu mencium kening sang istri sebelum melangkah menuju kamarnya.


Sekitar lima belas menit, Aryana baru kembali ke kamarnya, di dalam kamar terlihat sang suami sedang duduk bersandar di kepala ranjang sambil memainkan ponselnya, memeriksa beberapa email yang masuk, terutama email yang di kirim asistennya.


"Anak-anak sudah tidur?" tanya Fahmi setelah meletakkan ponselnya.


"Sudah baru saja, aku ke kamar mandi dulu," pamit Aryana.


Tak lama Aryana keluar dari kamar mandi langsung menuju walk in-closet untuk berganti pakaian tidur. Setelah berganti baju tidur yang nyaman, Aryana keluar dari walk in closed menghampiri sang suami yang masih duduk di ranjang.


"Mas, kenapa ya aku merasa aneh dengan sikap tuan Niko pada anak kita Alesya," curhat Aryana pada Fahmi.


"Maksud kamu apa, Honey?"


"Aku rasa kamu terlalu berlebihan, menurut penglihatan ku sikap tuan Niko biasa saja, jangan terlalu di pikirkan, ayo segera tidur!" pinta Fahmi lalu mengulurkan tangannya untuk membantu sang istri naik ke tempat tidur.


Aryana merebahkan tubuhnya di susul Fahmi tidur di sebelahnya dengan posisi miring menghadap Aryana. Di belainya wajah sang istri penuh sayang lalu Fahmi mencium kening dan pipi istrinya.


"Jangan memikirkan hal-hal yang bukan-bukan, aku ingin kamu selalu bahagia, aku hampir berulang kali hampir kehilanganmu, jadi aku mohon demi ketentraman bersama, selalu berpikirlah positif!"


Aryana tersenyum mendengar ucapan suaminya, ia membalas membelai wajah tampan suaminya meski usianya sudah tak muda lagi. Aryana merasa sangat bahagia, tak menyangka dengan semua ujian kehidupan yang terbilang berat untuknya, ia berhasil bertahan hingga sampai di titik ini.


"Maaf, aku sudah membuatmu khawatir, aku hanya menyampaikan apa yang aku rasakan dan pikirkan, aku aka berusaha baik-baik saja,."


"Itu harus, karena kamulah lentera di dalam rumah ini, jika tak baik-baik saja maka rumah ini dan seisinya pun juga tak akan baik-baik saja."


"Ayo tidur, besok pagi kamu akan ke rumah sakit kan?"

__ADS_1


"Iya," jawab Aryana lalu membenamkan wajahnya di dada sang suami, menghirup aroma yang menenangkan nya, membuat Aryana segera tertidur.


.


Keesokan harinya di sebuah hotel seorang pria sedang membaca berkas dan ada seorang pria berusia tiga puluh tahun berdiri di depannya.


"Apa hanya ini yang bisa kau dapatkan?" tanya pria yang memegang berkas.


"Maaf, Tuan, pengamanan rumah sakit ME Internasional sangat ketat hacker yang saya tunjuk tak mampu menembus keamanan cyber di rumah sakit itu."


"Di sini tertulis bahwa dua puluh persen saham rumah sakit ME atas nama Alesya, apa Alesya yang di maksud adalah Alesya putri tuan Fahmi Arya Pratama, ceo Pratama group?" tanya Niko memastikan.


"Iya, Tuan, Alesya yang dimaksud adalah putri tuan Fahmi," jawab orang suruhan Niko.


"Aku merasa ada sesuatu yang aneh di sini, setau saya anak kandung tuan Fahmi dan Aryana hanya tiga, berarti yang keempat bukanlah anak kandung mereka, kalau Alesya bukan anak kandung Fahmi dan Aryana, kenapa dua puluh persen saham rumah sakit ME di atas namakan Alesya?"


"Saya juga merasa aneh dengan hal itu, Tuan, namun tak seorangpun dirumah sakit ME yang bisa memberi informasi yang berkaitan dengan kelahiran putra-putri tuan Fahmi."


"Baiklah, terus selidiki sampai kamu mendapat celah bisa mendapatkan informasi tentang kelahiran anak-anak tuan Fahmi dan Aryana!"


"Baik, Tuan," ucap orang suruhan Niko, kemudian keluar dari kamar hotel yang Niko tempati.


Sepeninggal orang suruhannya, Niko meletakkan berkas yang ia pegang ke atas meja dengan sedikit kasar. Ia benar-benar sangat frustasi karena selalu saja menemui jalan buntu untuk mengungkap siapa sebenarnya Alesya, jika gadis kecil itu bukan anak kandung Fahmi, bagaimana ia bisa di adopsi dan mendapatkan bagian saham yang bernilai fantastis.


" Aku tak boleh putus asa, aku yakin Alesya adalah putri kandungku, meski kami belum melakukan tes DNA," gumam Niko kemdian ia mengambil jasnya lalu keluar kamar menuju suatu tempat.


Di sinilah Niko sekarang berada, di pemakaman elite dimana jasad Pamela di semayamkan. Niko berjingkok di sebelah pusara Pamela, tangannya membelai batu nisan yang tertulis nama wanita yang pernah ia sakiti sekaligus ia hancurkan masa depannya. Matan Niko memerah menahan tangis dan sesak bersamaan.


"Mela...!" lirih Niko menahan tangis.


"Benarkah yang tidur di sini adalah kamu, dimana anak kita, Sayang?" maafkan aku terlambat menyadari semuanya. Andai waktu itu aku bersedia bertanggungjawab, sekarang ini kamu pasti masih hidup dan kita akan jadi keluarga yang bahagia. Benarkah Alesya anak kita, Mela?"


Niko berbicara sendiri sambil membelai batu nisan Pamela seperti orang tidak waras. Ya andai waktu bisa di ulang, semua kepedihan yang Niko rasakan saat ini tak akan terjadi. Penyesalan memang selalu datang paling akhir yang biasanya akan membuat yang bersangkutan merasa bersalah seumur hidup.

__ADS_1


________________________________________


__ADS_2