Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 108


__ADS_3

Di Singapura Yudha dan Yasmin mengunjungi perusahaan fashion yang bermitra dengan DW group, selain itu Yudha juga mengecek beberapa usaha DW group yang berada di negeri Singa tersebut, sedangkan Aryana dan Fahmi menjalani rutinitas seperti biasa, kehadiran Yudha dan Yasmin tak membuat mereka melupakan kewajiban, Fahmi sebagai ceo dan Aryana sebagai mahasiswi kedokteran.


Hanya saja Fahmi dan Aryana mengurangi kegiatan di perkejaanya selama Yudha dan Yasmin di Singapura selama seminggu, agar quality time mereka tetap terjaga. Hari ini hari terakhir kunjungan Yudha dan Yasmin ke Singapura, Fahmi mengajak Aryana dan kedua mertuanya makan malam di restoran ternama di negeri itu juga menikmati suasana malam di Singapura.


"Assalamualaikum," ucap Aryana ketika memasuki rumah, ia baru pulang dari kampus.


"Waalaikumsalam salam," jawab seseorang dari dalam rumah yang ternyata adalah sang bunda.


"Aryana jam segini sudah pulang?" tanya Yasmin ketika melihat Aryana pulang lebih awal dari biasanya.


"Besok 'kan ayah dan bunda mau balik ke Indonesia, maka dari itu nanti malam aku dan mas Fahmi mau mengajak bunda dan ayah makan malam bersama di luar," jawab Aryana tersenyum dan mata yang berbinar.


"Ana, kenapa harus repot-repot sih, bunda nggak mau ya kamu kecapean," ucap bunda Yasmin taka enak dan justru khawatir dengan kehamilan putrinya.


"Nggak, Bunda, kandunganku akan baik-baik saja, justru dengan menyenangkan ayah dan bunda akan membuat kehamilanku di berkahi oleh Allah."


"Kamu ini selalu aja pintar kalau ngomong, ya sudah kamu istirahat dulu, bunda mau ke kamar nyicil beres-beres!"


"Baiklah, Bunda, tapi aku nggak lihat ayah dimana ya?"


"Ayah masih ada urusan di luar, tadi ayah minta bunda pulang duluan sama supir."


"Ok, Bunda, aku ke kamar dulu ya," ucap Aryana kemudian langsung pergi menuju kamarnya.


Seperti yang di rencanakan, jam tujuh malam Fahmi mengajak istri dan kedua mertuanya untuk makan malam di sebuah restoran yang cukup terkenal di Singapura. Mereka memilih tempat duduk yang out door di lantai dua restoran tersebut. Suasana hangat menyelimuti acara makan malam tersebut meski terbersit kesedihan di hati Aryana karena orang tuanya akan segera kembali ke Indonesia.


"Besok ayah dan bunda berangkat dari sini jam berapa?" tanya Aryana sambil membuka-buka buku menu.


"Jam dua siang dari sini, kami naik jet pribadi jadi tidak terburu-buru," jawab ayah Yudha.


"Kenapa, kamu sedih?" tanya ayahnya.


"Tentu saja aku sedih hamil jauh dari orang tua, saudara," jawab Aryana sendu lalu meletakkan buku menu begitu saja di atas meja.

__ADS_1


"Salahkan suamimu kenapa harus membawamu ke Singapura," sinis ayah Yudha.


"Ayah!" tegur bunda Yasmin sambil memegang lengan suaminya.


"Ayo pilih menunya, katanya mau traktir kita makan malam!" ajak bunda Yasmin berusaha mencairkan suasana yang sedikit menegang.


"Ayo, Sayang pilih menunya, benar kata bunda, kita kesini kan mau mentraktir ayah bunda makan malam bukannya malah melow begini!" pinta Fahmi sambil mengelus punggung sang istri sembari menenangkan sang istri.


"Iya, ya kenapa aku jadi melow gini sih, maaf ya ayah bunda jadi merusak moment makan malam ini," ucap Aryana menyesal yang tanpa sengaja jadi baper.


"Nggak apa-apa, Sayang, mungkin itu bawaan bayi yang kamu kandung, itu wajar," ucap bunda Yasmin memberi pengertian agar Aryana tidak merasa bersalah.


Setelah drama melow Aryana, kini mereka mulai memesan menu sesuai selera mereka masing-masing kemudian memulai menyantap makanan yang sudah mereka pesan. Acara makan malam sudah selesai di lanjutkan jalan-jalan menikmati indahnya kota Singapura di waktu malam, beberapa tempat wisata malam di Singapura menjadi destinasi wisata bagi Fahmi and familiy. Puas dengan jalan-jalan dan shoping beberapa barang untuk oleh-oleh, Fahmi mengajak Aryana dan kedua mertuanya untuk pulang.


"Aku senang banget jalan-jalan menikmati wisata malam di Singapura namun yang lebih membahagiakan adalah aku bisa menikmatinya bersama keluargaku," ucap Aryana sumringah saat sudah di dalam mobil.


"Apapun untukmu bumilku yang cantik," ucap Fahmi menimpali sambil melempar senyuman karena ia sedang memegang kemudi.


"Terima kasih ya kalian sudah menjamu ayah bunda dengan sangat baik di sini, apalagi sampai mengajak kami jalan jalan, semoga kalian selalu di limpahi kebahagiaan,"ucap bunda Yasmin penuh harap.


Memberikan sesuatu kepada orang tua bukan masalah si anak orang berpunya atau tidak namun sebuah ketulusan dan kasih sayang sang anak pada orang tua. Meskipun hanya semangkuk sayur akan terasa membahagiakan orang tuanya. Bahagianya orang tua itu sederhana namun sering seorang anak ketika sudah sukses apalagi sudah menikah mereka kurang atau bahkan tidak lagi memperhatikan orang tuanya. Apalagi seorang anak laki-laki ia bertanggung jawab pada tiga orang wanita, yaitu Ibunya, adik perempuannya lalu istrinya.


"Apa yang aku berikan pada ayah dan bunda belum seberapa dibandingkan apa yang sudah kalian berikan padaku, terutama bunda, seandainya kekayaan seluruh dunia ini aku kumpulkan menjadi satu dan aku berikan kepada bunda untuk menganti semua jasa dan kasih sayang bunda padaku, niscaya itu tidak akan bisa," ucap Aryana dengan sorot mata berkaca-kaca, membuat suasana di dalam mobil jadi mengharu biru dengan pembicaraan ibu dan anak tersebut.


Tak terasa mobil yang mereka tumpangi sampai di rumah Fahmi, setelah turun dari mobil mereka langsung masuk ke kamarnya masing-masing untuk segera beristirahat karena waktu sudah sangat larut. Sampai di kamar Fahmi dan Aryana membersihkan diri meskipun hanya mencuci muka tangan dan kaki lalu berganti pakaian. Yudha dan Yasmin juga melakukan ritual yang sama setelah bepergian. Yudha dan Yasmin sudah sangat lelah maka mereka langsung tertidur begitu tubuh sudah menyentuh kasur, sedangkan Fahmi dan Aryana berbincang sejenak sebelum tidur.


"Sayang..., aku bahagia sekali bisa menikah denganmu," ucap Fahmi sambil menyandarkan kepala Aryana di dadanya.


"Kenapa?, perasaan kamu sering sekali mengatakan hal seperti itu, Honey."


"Karena aku yakin kau akan menjadi ibu yang sangat baik untuk anak-anak kita nanti."


"Kamu berlebihan, aku tidak sebaik itu, aku hanya wanita biasa yang penuh dengan kekurangan, apakah aku nanti bisa menyelesaikan tugasku sampai akhir atau tidak dengan gelar ibu, aku tidak tahu."

__ADS_1


Mendengar ucapan istrinya Fahmi mengeratkan pelukannya rasanya begitu sakit mendengar wanita yang menjadi separuh hidupnya mengatakan hal seperti itu.


"Sayang..., jangan bilang seperti itu, hatiku sangat sakit mendengarnya, percayalah kita akan hidup seribu tahun lagi, dokter juga manusia, mereka hanya bisa memberikan analisa sesuai kondisi pasien sedangkan hak paten menyembuhkan dan membuat hidup mati manusia adalah Allah. Jadi aku mohon optimislah, berjuanglah, aku berjanji akan selalu di sisimu dan mendukungmu."


"Maaf, jika perkataan ku menyakitimu, bukan aki tidak percaya pada kekuasaan Allah tetapi aku yang kadang tidak percaya pada diriku sendiri," ucap Aryana sambil mengeratkan pelukannya pada Fahmi, membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya yang juga memeluknya dengan erat.


"Sayang mulai sekarang berfikir lah positif, hilangkan semua prasangka, semuanya akan baik-baik saja, bukankah Allah itu sesuai prasangka hamba-Nya, jadi pengang teguh hadist itu baik-baik, InsyaAllah semua akan baik-baik saja, kita hanya manusia hanya bisa berencana dan berusaha selebihnya Allah yang menentukan, takdir Allah akan tetap berlaku," ucap Fahmi lalu mencium kening Aryana.


Aryana hanya diam dan mengangguk mendengar perkataan suaminya, tak lama terdengar dengkuran halus dari Aryana yang berarti istri kecil kesayangannya sudah tertidur. Fahmi lalu merebahkan tubuh Aryana di tempat tidur dengan posisi yang nyaman. Fahmi menatap lekat wajah polos Aryana, Fahmi mengecupi wajah sang istri yang sudah tertidur pulas dan terakhir Fahmi mencium perut Aryana yang sudah sedikit membuncit.


"Sehat-sehat terus ya sayang di perut mama, jangan buat mama repot ya, kasihan mama ya Nak!" pinta Fahmi pada ketiga calon anak kembarnya yang masih belum terbentuk sempurna di rahim sang istri.


Setelah mengucapkan selamat malam pada ketiga calon buah hatinya yang masih berproses di rahim istrinya, Fahmi merebahkan tubuhnya di samping sang istri, tak lupa tangannya melingkar di tubuh Aryana, pelukan hangat untuk sang istri dan ketiga calon anaknya.


Pagi harinya, Fahmi dan Aryana sarapan bersama dengan ayah dan bundanya, kebetulan jam kuliah Aryana hanya sampai pukul dua belas sehingga ia bisa mengantar kepulangan Ayah dan bundanya, sedangkan Fahmi mengosongkan semua jadwalnya setelah jam dua belas siang agar ia bisa menemani istrinya mengantar orang tuanya ke bandara. Fahmi tak mau mengambil resiko di PHM yang artinya Putus Hubungan Menantu oleh mertuanya, mantan tentara yang posesifnya tingkat dewa.


"Fahmi, Ana, kalau hari ini kalian repot, kalian tidak usah mengantar kami ke bandara tidak apa-apa!" pinta bunda Yasmin setelah selesai sarapan.


"Tidak bunda, kami akan tetap mengantar bunda sampai take off, kebetulan hari ini jam dua belas kuliahku sudah selesai dan mas Fahmi jadwalnya off setelah jam dua belas siang," ucap Aryana sambil tersenyum meyakinkan orang tuanya.


"Ya terserah kalian saja, kalau ayah sih senang-senang saja, kalian bisa mengantar ayah dan bunda ke bandara," ucap Yudha menyetujui keinginan putrinya.


"Baiklah, sekarang sudah jam tujuh sebaiknya kalian segera berangkat nanti terlambat!" pinta Yasmin kepada anak dan menantunya.


"Kalau begitu kami pamit dulu," ucap Fahmi kemudian pergi menuju mobil bersama Aryana untuk berangkat bersama-sama.


Melihat kedua anaknya sudah berangkat, Yudha dan Yasmin pergi ke kamar karena mereka akan mengunjungi suatu tempat sebelum mereka pulang ke tanah air.


___________________________________________


Please Like, Vote, Coment, Rate and Favorit


Thank You

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2