Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 196. Bertemu Fabian


__ADS_3

Adzan subuh sudah terdengar mengema di sekitar tempat tinggal Afwi. Nayla berusaha membuka matanya saat mendengar panggilan shalat subuh terdengar. Setelah nyawanya terkumpul ia membangunkan sang suami untuk shalat subuh berjamaah di masjid.


"Abang, ayo bangun shalat subuh dulu!" ajak Nayla sambil mengguncang-guncang kan tubuh suaminya.


Afwi menggeliat ketika merasakan tubuhnya terguncang, ia pun berusaha untuk membuka matanya.


"Eugghh, sudah adzan ya, Dek?"


"Sudah, Bang, makanya ayo segera bangun nanti keburu iqomah!"


Perlahan Afwi bangun sambil mengucek matanya, ia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sekalian berwudhu. Nayla menyiapkan setelan baju koko dan sarung untuk suaminya. Begitu keluar kamar mandi Afwi langsung tersenyum melihat perlengkapan shalat yang sudah di siapkan oleh istrinya.


"Ah senangnya ternyata begini rasanya punya istri sholehah, Afwi sungguh nikmat Tuhanmu mana yang kau dusta kan," batin Afwi sambil bibirnya menyunggingkan senyum tipis.


"Abang, ini bajunya sudah, Nay siapkan."


"Makasih ya, Sayang."


Afwi segera memakai baju muslim dan bergegas ke masjid, sedangkan Nayla shalat subuh secara munfarid di rumah, selesai shalat tak lupa Nayla membaca Al-Quran. Setelah setengah jam Afwi pulang dari masjid, sampai rumah ia langsung mencari keberadaan sang istri.


"Dicariin ternyata di sini," ucap Afwi yang menemukan istrinya di dapur.


"Memang, Abang cari Nay dimana?"


"Di kamar."


"Abang pikirannya ya, sudah jam lima begini masa di kamar, kok abang baru pulang, dzikir apa saja di masjid?"


"Abang dzikir nya biasa aja, tadi pas mau pulang di ajak ngobrol sebentar sama pak RT, beliau mengucapkan selamat atas pernikahan kita sekaligus minta maaf tidak bisa menghadiri acara pernikahan kita."


"Abang undang pak RT di sini juga?"


"Ia, Dek, cuma pak RT saja, soalnya abang kan termasuk warga baru sekalian pemberitahuan."


"Kalau begitu, nanti sore kita ke rumah pak RT, silaturahmi sekalian kasih oleh-oleh sama souvernir pernikahan kita, kemarin, Nay lihat masih ada beberapa kayaknya."


"InsyaAllah ya, Dek, semoga abang nggak kesoren pulangnya."


"Kamu mau masak apa, Yang?"


"Capcay sama ayam goreng, gimana abang suka?"


"Apapun masakan kamu, abang pasti suka karena dimasak dengan bumbu cinta," ucap Afwi sambil mencubit gemas hidung mancung sang istri.


"Ih, Abang, sakit tau."


"Habis abang gemes sama kamu, Dek."


"Sudahlah, abang mandi dulu, seragamnya sudah aku siapkan, jangan sampai terlambat di hari pertama abang masuk setelah cuti!"


"Siap nyonya Afwi!" ucap Afwi sambil mengangkat tangannya hormat kemudian berlalu dari dapur menuju kamarnya.


Setelah masakan matang, Nayla langsung menatanya di meja makan, karena pak suami belum nongol juga, akhirnya Nayla menyusul Afwi ke kamar. Sampai kamar Nayla melihat sang suami sedang memakai baju dinasnya.


"Ya Allah, Abang, dari tadi belum selesai-selesai sih?" gerutu Nayla sambil menghampiri sang suami yang sedang mengancingkan baju seragamnya.


Nayla langsung membantu Afwi mengancingkan baju seragamnya, Afwi bukannya marah tapi malah senang mendengar omelan istrinya dan ia pasrah ketika proses mengancingkan baju seragamnya diambil alih oleh sang istri.


"Masukkan bajunya sekalian ke dalam celana dong, Yang!" pinta Afwi setelah semua kancing bajunya rapi.

__ADS_1


"Jangan ngadi ngadi ya, Bang!" tolak Nayla karena ia tahu modus polisi kesayangannya itu.


"Ya kalau mau bantuin jangan naggung, Dek!"


"Masukin sendiri, aku mau mandi!" ucap Nayla kesal kemudian berlalu dari hadapan Afwi menuju kamar mandi.


Setelah Nayla masuk kamar mandi, Afwi terkikik geli, ia sungguh menikmati hobby barunya menggoda sang istri.


Afwi masih di kamar saat, Nayla keluar dari kamar mandi dengan memakai bathrobe, melihat penampilan istrinya yang habis mandi dan terlihat seksi membuat Afwi ingin sekali memeluk istri cantiknya itu.


"Dek, kamu kelihatan seksi pagi ini," ucap Afwi sambil mendekat pada Nayla.


"Abang, masih di sini?"


"Lha iya lah kan nungguin kamu."


"Aku pakai baju dulu ya, Bang, nanti aku temani sarapan, terus Abang ke meja makan dulu nanti Nay susul!" ucap Nayla kemudian menuju lemari untuk mengambil pakaian.


Afwi pergi ke ruang makan lebih dulu, ia minum teh hangat makan sepotong cake sambil menunggu sang istri berpakaian. Tak lama Nayla sudah bergabung di meja makan, menemani suaminya sarapan.


"Nasinya seberapa, Bang, segini atau tambah lagi?" tawar Nayla sambil menyendok nasi ke piring Afwi.


"Segitu aja, Dek," jawab Afwi lalu menerima piring nasi dari Nayla, lauk pauk dan sayur Afwu mengambil sendiri.


"Enak gak, Bang?"


"Enak, Dek, sungguh aku tak bohong."


"Alhamdulillah kalau enak."


Sepasang pengantin baru menikmati sarapan pagi dengan senyum kebahagiaan, ini adalah sarapan pertama yang disiapkan Nayla saat suami sudah mulai bekerja. Selesai sarapan Afwi mengambil tas dan berpamitan dengan sang istri.


"Iya, Bang, nanti abang makan siang di rumah atau di kantor?"


"Abang makan siang di kantor aja, Dek, kerjaan abang pasti banyak setelah cuti, pasti nggak sempat pulang."


"Baiklah, hati-hati bang, jangan lupa makan!"


"Siap, Sayangku!"


Nayla meraih tangan Afwi untuk salim, dan Afwi membalas dengan ciuman di pipi kanan, kiri dan kening Nayla. Maklum pengantin baru ciumannya lebay, Nayla pun tersenyum melihat mendapati suaminya menciumnya di tiga tempat.


Mobil Afwi sudah terlihat meninggalkan rumah, Nayla kembali masuk ke dalam rumah untuk membereskan bekas sarapan pagi mereka.


Setelah dua puluh menit perjalanan, Afwi sampai di kantor polisi tempat ia bertugas. Begitu Afwi keluar mobil beberapa pasang mata memperhatikannya dengan seksama, dilihat dari manapun, Ipda Afwi Shakta Yudhatama selalu terlihat tampan dan berwibawa, apalagi setelah menikah aura ketampanannya makin cetar membahana. Afwi memasuki ruangannya yang seminggu lebih tak ia masuki. Ia duduk di kursi kerjanya dan memeriksa beberapa berkas di file. Dua jam lebih Afwi memeriksa dan mempelajari berkas-berkas kasus-kasus yang ada di mejanya, kemudian terdengar pintu ruangannya di ketuk


Tok tok


"Masuk!" titah Afwi dari dalam.


Masuklah Ipda Ahmad dengan senyum mengembang, karena ia akan sedikit mengoda sahabatnya itu.


"Ipda Afwi apa kabar?" tanya Ipda Ahmad nasa basi.


"Alhamdulillah kabar saya baik, maaf satu minggu ini banyak merepotkanmu," jawab Afwi.


"Tidak apa-apa, untuk pengantin baru apa sih yang nggak," ucap Ipda Ahmad.


"Kau ini!, lalu bagaimana perkembangan kasus geng motor dan balap liar yang meresahkan masyarakat di wilayah x?" tanya Afwi.

__ADS_1


"Soal kasus itu sudah tertangani dengan baik, tapi yang membuatku miris adalah kebanyakan mereka adalah para pelajar yang masih aktif, ada juga beberapa mahasiswa," ucap Ipda Ahmad dengan mimik sedih.


"Kita tak bisa menyalahkan mereka sepenuhnya, kalau saja orang tua anak-anak itu tahu hakikatnya mendidik anak dan menjalankan perannya dengan benar maka tindakan penyimpangan sosial seperti ini bisa di hindari," ucap Afwi dengan nada yang menyiratkan keprihatinan.


"Iya ya, sebenarnya orang tua mereka ngapain aja sih, anak bisa sampai melakukan kenakalan remaja bahkan sampai ke tindakan kriminal, cuma senang buatnya aja, giliran mendidik anak ogah-ogahan dengan alasan sudah capek kerja," kesal Ipda Ahmad.


"Mendidik anak juga perlu ilmu, nggak pasrah bongkoan dan juga jangan seperti menjahitkan baju di penjahit, ini saya setor kain segini dan dijadikan model seperti ini, ongkos jahit berapa saya bayar. Guru di sekolah paling hanya berapa persennya saja dalam mendidik anak, tugas utama mendidik anak ya orang tua, lagian waktu anak lebih banyak di rumah dari pada di rumah, kecuali anak-anak yang ambil kelas boarding school," ujar Afwi membuat Ipda Ahmad tertegun.


"Busyet dah, ini anak kenapa jadi mirip guru gini daripada jadi polisi, kaya sudah punya anak aja," batin Ipda Ahmad


"Setelah nikah, kamu jadi makin pinter aja, seolah-olah sudah pernah didik anak aja."


"Bukan begitu Ipda Ahmad, saya hanya belajar dari bunda saya yang pernah menjadi seorang guru, dan kebetulan murid-murid bunda saya banyak yang berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah, malah banyak ke bawahnya, sampai bikin pusing karena intelegensi mereka juga banyak yang menengah ke bawah, kalau menerangkan murid pintar di jelaskan materi satu kali sudah paham tapi mengajar murid yang intelensi di bawah ditambah di rumah tidak diperhatikan orang tua berdampak buruk saat mereka mengikuti pembelajaran yaitu tidak fokus dalam menerima materi pelajaran dan juga mereka melakukan penyimpangan sosial itu tadi," ujar Afwi.


"Eh kenapa jaid bahas murid sih ini!"


"Kan kita tadi bahas penyebab kenapa anak-anak itu jadi geng motor dengan status pelajar," ucap Afwi.


"Ya sudahlah yang penting balap liar dan geng motor di wilayah x sudah tertangani dengan baik, kalau begitu aku pergi dulu" ucap Ipda Ahmad.


"Terima kasih sudah menyapaku dan membantuku, dan tolong nanti sekalian pangikkan Briptu Fabian untuk menghadapku!" pnta Afwi yang di iyakan oleh Ipda Ahmad.


Ipda Ahmad kemudian keluar dari ruangan Afwi setelah berdiskusi tentang beberapa kasus yang satu bulan ini cukup santer terdengar. Sampai di luar Ipda Ahmad meminta salah seorang anak buahnya memberi tahu Briptu Fabian untuk menghadap Ipda Afwi.


Briptu Fabian cukup terkejut ketika ia diberitahu bahwa dirinya di panggil oleh Ipda Afwi, perasaannya mulai tak enak, namun ia harus menghadap atasannya itu.


"Siang, Pak, ijin menghadap!" ucap Briptu Fabian dengan hormat.


"Siang, silahkan duduk Briptu Fabian," ucap Afwi.


"Siap!"


"Briptu Fabian, apa kamu tahu kenapa saya panggil ke sinim?"


"Siap, tidak!"


"Briptu Fabian, boleh saya tahu sudah berapa tahun usian pernikahanmu?" tanya Afwi terdengar biasa namun tersirat ketegasan.


"Lima tahun, Pak."


"Berepa anakmu?"


"Satu, Pak."


"Apa kamu bahagia dengan pernikahanmu?"


"Siap!, saya bahagia dengan pernikahan saya."


"Bagus kalau kamu bahagia dengan pernikahanmu, saya harap kamu akan terus berbahagia dalam rumah tanggamu, jangan memberi celah sedikitpun pada orang ketiga untuk merusak kebahagiaa keluargamu. Jujur saya sedih ketika melakukan operasi penyakit masyarakat di beberapa penginapan menemukan kasus perzinahan di sana apalagi setelah di selidii si laki-laki sudah memiliki anak dan istri. Dalam hati saya berharap dan berdoa agar saya dan semua rekan-rekan kerja saya tidak tersandung kasus perzinahan seperti itu. Apalagi orang-orang seperti kita yang berprofesi sebagai abdi negara harus bisa menjadi contoh yang baik bagi masyarakat, jangan sampai tersandung kasus seperti itu. Karir kita terlalu berharga untuk dipertaruhkan dengan hal-hal tidak halal seperti itu, kamu mengerti Briptu Fabian?"


"Siap, mengerti!" jawab Briptu Fabian meski ia sedikit binggung kenapa atasannya menasehatimya tentang hal seputar rumah tangga.


"Kamu pasti bertanya-tanya kenapa kenapa saya membahas hal rumah tangga padamu,itu karena saya banyak mendengar berita tak enak tentang dirimu yang berhubungan dengan adanya WIL (wanita idaman lain) dan juga saya sendiri pernah melihatmu bersama wanita yang bukan istri sahmu."


Deg


_______________________________________


__ADS_1


__ADS_2