Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 223. Kedatangan Afwi dan Nayla


__ADS_3

Kirana benar-benar sangat terhibur dengan kedatangan ibu mertuanya dan sang oma, Yasmin dan oma Dewi memutuskan untuk menginap di rumah dinas Afwa. Sedangkan Nayla dan Afwi baru berangkat sore hari menggunakan pesawat komersial. Sampai di Semarang Afwi dan Nayla tidak langsung ke ke rumah dinas Afwa melainkan menuju rumah pak Mahendra, baru keesokan harinya mereka berencana akan menjenguk Kirana. Kedatangan mereka disambut hangat oleh sang papa.


"Bagaimana kabar papa?" tanya Nayla setelah mengurai pelukannya pada pak Mahendra.


"Alhamdulillah kabar papa baik, Afwi bagaimana kabarmu, Nak?"


"Alhamdulillah baik, maaf setelah menikah baru sekarang bisa menjenguk papa."


"Tidak apa-apa, papa mengerti, sebagai abdi negara memang pastinya sangat sibuk, apa lagi papa dengar kamu baru saja menyelesaikan kasus besar," ucap pak Mahendra sambil berjalan beriringan dengan Afwi, sedangkan Naya berjalan disebelah Afwi, mereka menuju ruang keluarga.


Mereka bertiga kemudian duduk di ruang tengah dan koper mereka sudah di bawa art ke kamar Nayla.


"Iya, Pa, kasusnya cukup rumit dan melibatkan orang-orang intelek dan profesi yang cukup bergengsi. Saya sampai jarang di rumah, saya jadi merasa bersalah sama Dek Nayla, Pa," ucap Afwi.dengan nada sendu.


"Memang seperti itulah rasanya, kau baru merasakan sebentar sudah seperti itu, papa merasakan perasaan dilema, menyesal dan rasa bersalah selama bertahun-tahun. Papa hanya berpesan padamu, memang menjadi abdi negara tak bisa menolak jika sudah ada perintah dari negara, namun bukan berarti kamu tak punya celah di sela kesibukanmu untuk membuat quality time dengan istrimu," ucap papa Mahendra.


"Dan kamu, Nay, jangan cengeng, jadi ibu Bhayangkari harus kuat!" lanjut pak Mahendra yang tak hanya memberi wejangan pada Afwi namun pada putrinya sendiri.


"Iya, Papa, Nay sudah berusaha mengerti pekerjaan abang, papa jangan khawatir," ucap Nayla sambil memeluk lengan sang suami manja.


"Bagus kalau kamu mengerti, sekarang kalian istirahat dulu nanti kita akan malam bersama!"


Pak Mahendra kemudian berdiri lalu berjalan memasuki kamarnya, begitupun Afwi dan Nayla juga berjalan memasuki kamarnya.


,


Keesokan paginya setelah sarapan, Afwi dsn Nayla, pamit pak pada pak Mahendra untuk ke rumah dinas Afwa untuk melihat keadaan Kirana. Pak Mahendra yang mendengar keadaan Afwa pun turut prihatin dan ikut mendoakan agar Afwa bisa pulang dengan selamat.


Setelah menempuh perjalan sekitar setengah jam, mereka berdua sampai di rumah dinas Afwa. Kirana sangat senang dengan kedatangan adik iparnya, apalagi ibu mertua dan oma Dewi masih di sana juga. Ya karena sebelum ke ruman Afwa, Afwi sudah memberitahu bundanya jika ia juga akan ke rumah Afwa.


"Assalamualaikum," ucap Afwi dan Nayla bersamaan saat sampai di depan rumah dinas Afwa.


"Waalaikumsalam," jawab seseorang dari dalam rumah yang ternyata bik Nani.


"Ini pasti aden Afwi ya?" tebak bi Nani.


"Iya, saya Afwi saudara kembar Afwa," jawab Afwi sambil tersenyum karena tahu ia adalah keponakan bi Imah yang ditugaskan menjaga kakak iparnya.


""Mari, Den, nyonya besar, nyonya Yasmin dan non Kirana ada di dalam!"


"Makasih, Bi," ucap Afwi kemudian mengikuti bi Nani masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Di ruang tengah, oma, bunda dan Kirana duduk di bawah sedang menonton televisi.


"Assalamualaikum, Oma, Bunda, mbak Kirana!" ucap Nayla.


Ketiga wanita yang sedang asyik menonton televisi itupun langsung menoleh ke asal suara.


"Afwi, Nayla!" pekik Yasmin terkejut sekaligus gembira.


Afwi dan Nayla kemudian ikut duduk di ruang tengah setelah menyalami Oma Dewi, bunda dan Kirana.


"Mbak Kiran apa kabar?" tanya Nayla yang memilih duduk di sebelah Kirana.


"Kabar mbak baik, Nay hanya kabar mas Afwa yang kurang baik," jawab Nayla sendu.


"Yang sabar ya, mbak, mas Afwa pasti baik-baik saja, dia hanya terluka, sekarang mbak jangan putus berdoa biar nanti mas Afwa bisa pulang dan menemani mbak lahiran," ucap Nayla memberi semangat pada istri kakak iparnya.


Yasmin dan oma Dewi merasa bangga dan bahagia kedua menantu perempuannya bisa saling support dan rukun seperti ini. Dalam hati Yasmin berterima kasih pada pak Mahendra yang bisa mendidik putri semata wayangnya dengan baik sehingga menjadi anak yang santun, juga Dinda, meski sahabatnya itu bersikap dingin pada putranya namun Dinda dan Raka mendidik Kirana dengan baik sehingga menjadi wanita yang tangguh.


"Kalian sudah makan?" tanya Yasmin pada Afwi dan Nayla.


"Tadi kami sudah sarapan, Bund di rumah papa," jawab Nayla.


"Belum, Bunda."


"Ya sudah, kalau begitu kita makan di luar saja sekalian jalan-jalan, biar Kiran nggak sedih terus!" ajak Yasmin.


"Itu ide bagus," ucap oma Dewi.


"Kamu bawa mobil kan, Fi?"


"Bawa, Bunda, tadi sebelum sampai Semarang, Om Devan sudah kirim mobil sekalian jemput kami di bandara."


"Ya sudah kita siap-siap, ajak bi Nani juga."


Bi Nani yang mendengar namanya disebut sang majikan untuk diajak makan siang di luar merasa sangat kegirangan.


"Bi siap-siap ya kita mau makan siang di luar!" ajak Kirana yang membuat bi Nani langsung gercep ganti baju dan dandan maksimal.


Semua anggota keluarga sudah masuk ke dalam mobil F*rtuner milik Afwi, dan berlahan mobil melaju pelan meninggalkan kompleks rumah dinas Afwa.


"Kamu mau makan apa Kiran?" tanya Yasmin saat di dalam mobil.

__ADS_1


"Terserah Bunda saja, saya jarang makan di luar kan saya belum lama tinggal di rumah dinas."


"Di restauran Pelangi saja gimana, mbak di sana olahan iga dan seafood nya enak disertnya juga enak?" tawar Nayla.


"Emang kamu pernah makan di situ, Dek?" tanya Afwi sedikit curiga


"Pernah, Bang."


"Sama siapa?"


"Diajakin papa waktu ada pertemuan dengan beberapa teman beliau, soalnya papa kan nggak punya pasangan."


Mendengar jawaban sang istri, Afwi bernafas lega, apa yang ia takutkan tidak terjadi. Yasmin yang paham maksud pertanyaan putranya hanya mengulum senyum.


"Dasar nggak ayah, nggak anak cemburuan dan posesifnya sama aja," batin Yasmin.


"Kita ke restoran itu aja nggak apa-apa, Bund," jawab Kirana.


Setelah mendapat persetujuan dari Kirana, Afwi melajukan mobilnya ke restauran yang di rekomendasikan sang istri, setelah dua puluh menit perjalanan akhirnya mereka sampai di restauran yang di tuju. Mereka berenam turun dari mobil. Restauran yang tak terlalu mewah dengan nuansa pedesaan. Ada pilihan tempat duduk, ada yang lesehan, ada yang ada meja kursi ada juga satu ruangan agak besar yang biasanya di gunakan untuk pertemuan dalam skala kecil.


Kirana memilih duduk di kursi saja karena ia merasa lebih nyaman jika makan duduk di kursi. Mereka pun memesan makanan dengan menu yang berbeda, dan ternyata benar masakan yang di restoran tersebut sangat enak.


"Kamu benar, Dek, makanan di sini sangat enak," komentar Afwi yang memesan iga bakar.


"Iya, buktinya Non Kirana makan banyak, nggak seperti kemarin susah sekali di suruh makan," ucap bi Nani yang memang menjadi agak repot semenjak Kiran mendapat kabar Afwa terluka dalam baku tembak.


"Kami senang melihatmu makan agak banyak hari ini Kiran, jangan terlalu memikirkan Afwa, keadaannya sudah berangsur membaik tadi baru saja ayah chat kalau keadaan Afwa sudah membaik," ucap Yasmin yang memang baru saja mendapat kabar dari Yudha jika Afwa mulai membaik.


Kirana mengentikan suapannya ketika mendengar kabar sang suami dari ibu mertuanya.


"Benarkah, Bunda, mas Afwa baik-baik saja?" tanyanya memastikan.


"Iya, Sayang, Afwa sudah membaik meski masih dalam perawatan," jawab Yasmin.


"Syukurlah, nanti kalau Afwa sudah kembali kita gelas syukuran sekaligus tujuh bulanan kehamilan Kirana," usul oma Dewi.


"Itu ide yang bagus, nanti kita bicarakan lagi," ucap Yasmin.


Mereka melanjutkan makan sambil berbincang ringan, setelah selesai makan mereka langsung kembali ke rumah dinas Afwa. Kirana merasa sangat bahagia ada banyak orang yang mensuport nya ketika ia sedang mengalami kesedihan.


________________________________________

__ADS_1


__ADS_2